
Setelah sempat terjadi keheningan beberapa saat, akhirnya, Bagaskara membalikkan tubuh renta nya, lalu kaget lah Aksa. Aksa diam mematung, menatap Bagaskara dengan berbagai tanda tanya yang bersarang di benak nya.
''P-ak, Bagas? Bagaimana kabar anda?'' tanya Aksa berusaha bersikap santai, meski sebenarnya dia merasa grogi dan ada yang aneh, berulang kali dia menampik di dalam hatinya, menyangkal kalau dirinya bukan lah Putra dari seorang Bagaskara. 'Pak Bagas pasti salah orang' begitulah pikirnya.
''Putra ku! Apa kabar, nak?'' Bagaskara balik bertanya dengan suara lembut lagi serak. Yang membuat Aksa semakin dilanda rasa bingung. 'tidak mungkin, Gentala tidak mungkin adik aku' pikir Aksa lagi.
''alhamdulillah aku baik. Pak Bagas gimana kabarnya? Sudah lama kita tidak bertemu, terakhir kali kita bertemu seingat aku waktu kita meeting di Restoran see food di tengah kota tiga bulan yang lalu 'kan, Pak?!'' ujar Aksa terdengar ramah.
''Aksa ... Bisa kah kau tidak membicarakan hal lain? Duduk lah, ada banyak hal yang ingin Papa bicarakan dengan mu, nak'' kata Bagaskara lagi dengan suara serak, dia menghampiri Aksa lalu membimbing tubuh tinggi tegap Aksa agar duduk di atas sofa yang ada di ruang kerja nya. Aksa hanya mampu menurut, begitulah Aksa, dia pria yang sopan lagi berhati lembut. Tapi, dia sangat cerdas dan berhati-hati, dia tidak mungkin begitu saja percaya dengan seseorang secepat dan semudah itu.
Bagaskara dan Aksa duduk berdampingan dengan sedikit jarak.
''lihatlah, nak'' ucap Bagaskara, Bagaskara mengeluarkan semua bukti. Foto, tes DNA dan hal lain yang menjadi bukti kalau Aksa adalah putranya, dia meletakkan semua bukti itu di atas meja yang ada di hadapan mereka. Bagaskara ingin sekali memeluk Putra nya itu, tapi dia masih menahan dirinya, dia tidak ingin membuat Aksa merasa ilfeel.
Aksa melihat semua Foto dan tes DNA itu dengan teliti, lama Aksa memegang sebuah foto jadul, foto seorang wanita yang terlihat begitu cantik, kecantikan yang alami tanpa polesan.
''wanita ini siapa?'' tanya Aksa.
''itu Ibu mu, nak"
''Ibu? dimana dia sekarang?''
''Ibu mu sudah tiada, dia sudah pergi 30 tahun yang lalu setelah melahirkan kamu, ibu mu tidak bisa menerima kenyataan kalau Putra yang baru dilahirkan nya telah hilang, nak. Ibu mu meninggalkan karena mengalami pendarahan hebat'' jalas Bagaskara dengan mata berkaca-kaca, butiran bening itu meluncur dari matanya, membasahi pipi nya yang keriput. Dengan cepat dia menunduk, menghapus jejak air mata yang tertinggal menggunakan sapu tangan.
Aksa masih terus menatap foto wanita yang di sebut Bagas adalah ibu nya. Aksa merasa hatinya menghangat melihat wanita itu, dia merasa ada daya tarik hebat antara dirinya dan wanita yang ada di foto itu, 'wanita ini begitu mirip dengan wanita yang selalu ada dalam mimpi ku selama beberapa tahun ini. Wanita yang selalu membuat aku merindu. Dia begitu mirip sama Mayang' batin Aksa.
''bagaimana, nak? Apa kau sudah percaya dan yakin sama ucapan Papa kalau kau itu adalah Putra kandung, Papa?
__ADS_1
''iya, Pa. Aku sudah percaya!'' mantap Aksa menjawab. Dia memang sudah merasa yakin setelah dia melihat bukti-bukti yang ada, bukti tes DNA yang dia lihat dengan begitu teliti itu lah yang semakin membuat dia merasa yakin.
''Putra ku, aku sangat merindukan mu. ''ujar Bagas, memeluk Aksa erat. Aksa balas memeluk sang Papa. Mereka berdua sama-sama larut dengan kebahagiaan yang tidak dapat di ungkap dengan kata-kata sambil berlinang air mata.
Di luar seseorang terus saja menguping, mendengar percakapan antara Bagaskara dan Aksa.
''tidak akan aku biarkan pria yang bernama Aksa itu merebut hak Putra ku. Kenapa dulu tidak aku habisi saja itu anak,'' batin Hani geram, setelah itu dia berlalu. Suara klakson mobil terdengar di depan, sepertinya Putra nya sudah pulang, karena sekarang sudah mau magrib.
****
''hay, ma.'' sapa Gentala, begitu keluar dari mobil dia menghampiri sang Mama yang selalu setia menunggu kepulangan nya di depan pintu utama. Setelah sudah saling berhadapan dengan sang Mama, Gentala dan Mama nya tidak lupa cipika-cipiki terlebih dahulu.
''bagaimana hari mu hari ini, Sayang? Apa semua nya baik-baik saja?'' tanya Heni, menatap sang putra dengan penuh cinta.
''baik pasti nya, ma'' jawab Gentala dengan senyum simpul.
''tunggu dulu, ma. Itu mobil siapa, Ma? Apakah ada tamu? Sepertinya aku mengenali mobil itu!'' tanya Gentala menunjuk mobil yang ada di depan mobil miliknya.
''itu ... Sepertinya mobil itu mobil tamu Papa mu, Gentala''
''oh ...''
''yukk masuk''
''mama duluan saja, aku mau menghubungi Mayang sebentar ma. Dari tadi panggilan aku tak kunjung di respon sama dia'' lesu Gentala menjawab.
''baiklah sayang, semoga kali ini di respon sama Mayang'' Sahut Hani, setelah itu dia masuk terlebih dahulu. Hani akan menjelma menjadi wanita yang begitu lembut, perhatian dan pengertian saat sedang bersama dengan sang Putra, karena dia sangat menyayangi Gentala.
__ADS_1
***
"Ah, sialan. Lagi-lagi Mayang tak merespon panggilan aku. Padahal ponselnya aktif. Wanita itu begitu sulit aku taklukkan, selama ini tidak ada seorang wanita pun yang mampu menolak pria setampan dan setajir aku. Aku tidak boleh menyerah begitu saja, kalau aku menyerah pasti seluruh dunia akan menertawakan aku. Masak aku, Gentala, pria yang di kenal sangat tampan ini tidak bisa meluluhkan hati seorang Mayang si janda muda yang begitu cantik'' gumam Gentala sambil menelisik menatap mobil yang membuat dia penasaran.
''di mana ya, aku pernah melihat mobil ini?' pikiran nya menerawang.
******
''gimana, Pa? Apa sudah ada kabar dari Aksa?'' tanya Mayang memastikan, saat sang Papa baru melangkahkan kaki memasuki rumah.
''belum, sayang. Papa sudah mencoba menghubungi Ibu Panti tempat Aksa di besarkan, tapi beliau juga tidak mengetahui di mana keberadaan Aksa sekarang. Papa juga sangat cemas, karena tidak biasanya Aksa menghilang dan berulah seperti ini'' terang Aditama. Aditama dan Mayang berjalan berdampingan. Sedangkan Mama Hanum berada di kamarnya.
''ah, iya. Bagaimana kalau aku cari saja Aksa ke rumah pohon yang dia kasih tahu waktu itu. Siapa tau dia ada di sana.'' batin Mayang. Setelah itu dia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Aditama merasa heran melihat tingkah sang Putri yang tiba-tiba berlari, Lalu berkata, ''hati-hati sayang, nanti kamu jatuh''
Mayang tidak menyahut, dia ingin mengganti pakaiannya dengan cepat, dia ingin segera mencari keberadaan Aksa.
''lebih baik aku sholat Magrib dulu, habis itu baru berangkat.
Ini apalagi sih, Gentala terus saja menghubungi aku dari semalam. Aku merasa kurang srek sama dia, walaupun dia waktu itu sudah menyalamatkan Putra ku, tetapi jangan kira aku akan mudah dia dekati'' gumam Mayang, dia melihat ponsel nya yang menyala dan berdering di atas nakas, nama Gentala terpampang di sana. Mayang mengacuhkan nya.
*****
Di tempat yang berbeda, kondisi Ibnu sungguh sangat menyedihkan. Dia di vonis mengalami penyakit diabetes, yang membuat luka bekas tembakan di bagian pahanya tidak kunjung sembuh, tapi malah semakin membesar, Sekarang dia sedang berbaring di brankar rumah sakit dengan tidak sadarkan diri, dia pingsan di penjara karena tidak kuat menahan sakit yang amat sangat.
Tubuhnya begitu kurus karena menanggung sakit yang di deritanya.
__ADS_1