Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Dalam Bahaya


__ADS_3

POV Aksa


Setelah mengantar wanita istimewa ku pulang, aku lanjut pergi ke Perusahaan milik Papa. Di Perusahaan Papa sebentar lagi akan mengadakan rapat besar-besaran, begitulah katanya, aku mendapat kan pesan dari Papa.


''disini saja, ya. Maaf'' kataku sungkan menatap Mayang lekat. Mayang sudah keluar dari mobil, kami mengobrol dengan di pisahkan oleh jendela mobil.


''iya, tidak apa-apa, aku tahu kamu sangat sibuk. Terimakasih dan hati-hati di jalan, ya'' balas Mayang, dia tersenyum manis.


''baiklah, masuklah''


''okey ...'' jawab Mayang. Lalu dia berlalu, setelah itu tubuhnya menghilang di balik pintu pagar yang menjulang tinggi.


Aku hanya mengantarkan Mayang sebatas pintu pagar saja, karena aku memang begitu terburu-buru. Mayang ku hari ini nampak sangat cantik dan Anggun dengan gamis panjang dan hijab yang menutupi kepalanya. Senyum melengkung terbit di wajah ku dan juga dia. Aku merasa hubungan aku dan Mayang mengalami kemajuan selangkah. Setelah semua urusan di perusahaan selesai, aku akan segera menyatakan tentang perasaan ku yang sesungguhnya kepada Mayang. Perasaan yang selama ini seakan membunuhku. Tak peduli dia akan menyambut uluran tangan ku dengan baik atau tidak, yang terpenting ungkapan hatiku yang sesungguhnya kepada dirinya, supaya aku bisa bernafas lega.


Mobil yang aku kendarai melesat cepat menembus jalanan, berulang kali ponselku berbunyi, Papa pasti sudah sangat menanti kedatangan ku di Kantor.


''tidak semudah itu, brengsek! aku akan menyingkirkan kamu secepatnya''


Aku teringat sama perkataan Gentala tadi saat aku sedang di rumah ku, ya rumahku, begitulah kata Papa.


Aku sama sekali tidak pernah takut sama ancaman dari Adik sepupu ku itu. Kerasnya hidup sudah aku jalani sedari belia, lalu apalagi yang perlu aku takutkan di dunia, aku hanya takut akan murka sang maha kuasa.


*****


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh akhirnya aku sampai di pelantaran Perusahaan milik Papa, Perusahaan MB Group. Akhirnya sekarang aku tahu apa itu MB group, MB group yang selalu aku pertanyaan di dalam hati artinya dulu saat aku berkunjung ke Perusahaan ini saat ada meeting. MB group, Melati Bagas, gabungan antara nama Mama dan Papa. Begitu lah kata Papa. Wanita yang telah melahirkan aku mempunyai paras yang sangat cantik, aku sangat merindukan nya. Kenapa takdir begitu cepat memisahkan aku dan Mama ku dahulu? Saat aku belum sepenuhnya merasakan hangatnya dekapan seorang Mama kandung.


Aku akan mengungkapkan semua kasus 30 tahun yang lalu, kasus hilangnya diriku di rumah sakit yang membuat Mama meregang nyawa. Aku yakin semuanya telah di rencanakan oleh sebagian orang yang tidak suka akan Mama dan juga kehadiran aku.


*******


Aku masuk ke dalam perusahaan yang tidak kalah besarnya dengan Perusahaan milik tuan Aditama, begitu sampai di dalam, para Karyawan menunduk hormat kepada ku, aku balas melempar senyum simpul nan hangat kepada mereka.


''tuan, rapatnya sudah mau di mulai, tinggal menunggu kedatangan anda lagi tuan'' ucap seorang wanita muda berpakaian formal yang begitu ketat, dia seperti sepantaran dengan Mayang, dia adalah sekretaris baru aku kata Papa, dia berjalan di belakang, mengikuti langkah kaki lebar ku.

__ADS_1


''iya, saya tahu'' jawab ku datar dan acuh.


Saat sudah berada di depan pintu ruang rapat, sekretaris baru itu bersuara kembali.


''biar saya saja yang membuka pintunya, tuan,'' tawarnya, menetap ku lekat dengan wajah malu-malu. Aku mengangguk kecil, Aku menjadi risih karena sikap nya. Jujur, sebenarnya aku tidak pernah suka dengan rekan kerja seorang wanita kecuali wanita itu adalah Mayang.


******


Aku melihat kursi yang berjajar rapi yang mengelilingi meja panjang itu sudah di penuhi oleh Pria dan sebagian darinya adalah wanita yang berpakaian rapi dengan jas yang melengkapi penampilan mereka.


Mereka semua berdiri dari duduknya begitu aku masuk, termasuk Papa. Tetapi tidak dengan Gentala, Gentala masih duduk di tempatnya semula dia melempar tatapan sinis kearah aku. Apa peduliku.


Aku duduk di kursi di dekat Papa, di samping Gentala. Setelah itu rapat pun di mulai.


Perdebatan yang cukup alot terjadi saat rapat, Gentala berteriak tidak setuju saat Papa memutuskan aku yang menggantikan kedudukan nya sebagai CEO baru di perusahaan. Tetapi tidak dengan yang lain, para petinggi perusahaan bertepuk tangan menyambut kedatangan aku di Perusahaan itu dengan senyum mengembang.


''selamat tuan, Aksa. Saya yakin perusahaan ini akan maju pesat saat sudah di bawah kepemimpinan anda''


''tuan Aksa, selamat. Perusahaan ini pasti akan sama majunya dengan perusahaan tuan Aditama. Semua orang tidak meragukan lagi kemampuan anda''


Pujian demi pujian aku terima seraya berjabat tangan dengan para petinggi dan staf perusahaan. Mereka mengacuhkan Gentala yang sudah di turunkan jabatannya yang kini hanya menjadi manajer biasa.


''Paman! Kenapa Paman tidak adil? Dulu saat Aksa belum di temukan Paman begitu menyayangi dan menyanjung ku. Tapi sekarang ... Paman sama sekali tidak mendengarkan protes ku dan ketidaksukaan ku akan jabatan baru ku!'' teriak Gentala seraya memukul meja dengan tangan nya, hingga mengeluarkan suara yang sedikit bising.


''Paman sudah memberi mu kesempatan Gentala, tapi ... Kinerja kamu selama memimpin sungguh membuat paman kecewa. Sekali lagi maafkan paman.'' lirih Papa meminta maaf kepada Gentala seraya mengatupkan kedua tangan di dada.


''aku tidak terima, aku akan mengadukan kepada Mama tentang semua ini,'' ujar Gentala berlalu keluar dari ruangan dengan langkah pongah nya.


Semua orang di ruangan termasuk aku hanya menggeleng-geleng kan kepala melihat tingkah Gentala.


''anak Mama ternyata,'' celetuk salah satu wanita yang berada satu ruangan dengan kami.


*******

__ADS_1


Sore hari, aku dan Papa telah pulang. Kami duduk di ruang keluarga mengobrol tentang Mama dan apa saja.


Gentala dan Mama nya tidak terlihat di rumah, sepertinya mereka sedang keluar.


Papa terlihat sudah sehat, dia tampak begitu bersemangat hari ini. Aku sangat senang melihat perkembangan kesehatan papa yang cukup pesat.


''Aksa, kapan kamu akan menikah, Nak?'' tanya Papa yang membuat ku sedikit kaget, aku diam sejenak sebelum akhirnya menjawab.


''papa kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?'' sahutku.


''usia mu sudah cukup matang untuk menikah Nak, dan Papa juga sudah tidak sabar lagi ingin menerima seorang menantu dan menimang seorang cucu''


''papa tenang saja, tidak lama lagi Aksa akan memperkenalkan calon istri Aksa kepada papa''


''sungguh?''


''iya, Pa''


''syukurlah. Papa sangat senang mendengar kabar baik ini.''


Saat aku dan Papa tengah mengobrol sambil menatap televisi, tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk.


''lihatlah, Aksa. Lihat siapa wanita yang ada di dalam foto ini! Aku telah kehilangan jabatan yang begitu aku bangga-banggakan selama ini. Tidak ada pilihan lain lagi, sebentar lagi aku akan menodai wanita yang begitu kamu cintai ini. Dengan begitu aku bisa mendapatkan jabatan CEO lagi di perusahaan Aditama. Hahahaha ... Kamu tidak usah kesini, karena kamu tidak akan bisa menolong Mayang. Tidak lama lagi aku dan Mayang akan segera menikah dan mempunyai seorang bayi, sedangkan kamu akan menjadi perjaka tua selamanya. Hahahaha ...'' pesan dari Gentala aku baca dengan begitu geram dan was-was. Di dalam pesan yang dikirim Gentala nampak foto Mayang yang tengah duduk di hadapan gundukan tanah kecil. Mayang sedang berada di makam Raihan.


''jangan sakiti dia, Gentala. Ambil, ambil jabatan yang begitu kamu idam-idamkan ini. Aku tidak peduli, asalkan kamu jangan menyakiti dan menyentuh Mayang. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu kalau kamu sampai berbuat nekad kepadanya'' balasku geram, lalu aku berdiri dari duduk ku.


''papa, aku pamit keluar dulu. Jaga diri baik-baik Pa.'' Pamit ku seraya menyalami tangan Papa.


''kamu mau pergi ke mana, Nak?'' Tanya Papa dengan kening berkerut.


''ada saja. Aku pergi Pa. Ini darurat Pa'' jawabku dengan suara cepat, aku berlalu dari hadapan Papa dengan langkah lebar.


Aku melajukan kendaraan roda empat milikku dengan kecepat tinggi ke arah pemakaman.

__ADS_1


Dengan di temani oleh beberapa pengawal.


Berulang kali aku mencoba menghubungi Mayang, tapi tak kunjung di angkat oleh nya. Aku sungguh cemas di buatnya, aku tidak mau Mayang kenapa-napa.


__ADS_2