Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kritis


__ADS_3

Diruang tunggu di sebuah rumah sakit ternama di ibukota itu nampak penuh oleh para penunggu, mereka duduk berjejer di kursi tunggu, tidak hanya duduk ada juga yang berdiri berjalan mondar mandir dengan perasaan gelisah, menunggu kabar baik dari sang dokter yang menangani, berharap orang yang sedang sakit, yang mereka kasihi bisa sembuh dan setelah itu pulang, berkumpul kembali bersama dengan anggota keluarga yang lain.


Maka bersyukur lah kita yang masih di beri nikmat dan rizki kesehatan, karena itulah yang paling utama di bandingkan rizki yang lain.


***


Mayang berdiri di ruang tunggu di depan sebuah kamar rumah sakit, dia berada di pelukan sang papa dan mama nya, di apit oleh dua orang yang sangat mencintai nya, begitu juga sebaliknya Mayang juga sangat mencintai kedua orang tuanya itu. Sedu-sedan yang berasal dari isakan Mayang terdengar jelas, membuat siapa saja yang mendengar merasa iba dan ikut bersimpati.


Mereka merasa cemas, panik dan gelisah yang amat sangat, sang penerus selanjutnya yang begitu diharapkan oleh keluarga Aditama sedang dalam masa kritis. Yang menjadi penyebab nya adalah, kata dokter obat bius yang terdapat di sapu tangan yang membuat Raihan tidak sadarkan diri terlalu banyak di hirup oleh Raihan yang masih balita, yang menyebabkan masuk ke paru-paru, Raihan mengalami overdosis. Keadaan balita empat tahun itu sungguh darurat dan gawat.


''nak Gentala, malam sudah semakin larut. nak Gentala lebih baik pulang saja, nak. Nanti orang tua mu panik memikirkan kamu. Terimakasih untuk semua bantuan nya, kami tau nak Gentala pasti sangat lelah'' kata mama Hanum lembut, dia membimbing Mayang duduk di kursi yang ada di samping Gentala. Sedangkan di jarak terpisah sekitar 2 meter terdapat Aksa yang duduk menunduk memegang kepalanya.


''tidak tante, aku akan menemani kalian di sini, hingga aku tahu tentang kondisi Raihan saat ini'' kekeh Gentala, wajah tampan itu tersirat ke cemasan.


''baiklah, sekali lagi terimakasih nak Gentala'' sahut mama Hanum, menatap kagum ke arah Gentala. Sedangkan Aditama melangkahkan kaki duduk di sebelah Aksa.


Setelah menunggu beberapa detik, menit, hingga satu jam lamanya. Akhirnya sang dokter keluar dari ruangan Raihan berada, dengan wajah lesu nan menyiratkan rasa sedih.


''bagaimana keadaan cucu saya, dok?'' tanya Aditama tak sabaran berjalan menghampiri sang dokter.


''tuan dan nyonya lebih baik ikut saya keruangan saya saja, kita bicarakan di sana saja, ya'' kata dokter ramah tersenyum tipis.


Kemudian Mayang, mama serta papanya mengikuti langkah kaki sang dokter laki-laki yang berusia sekitar 48 tahun itu ke dalam ruangannya, berharap kabar baiklah yang akan mereka terima.


***


Di ruang tunggu, dua orang yang gagah lagi tampan dengan ciri khas masing-masing itu dari tadi hanya diam, kebisuan yang mendominasi di antara mereka, sesekali terdengar helaan nafas berat dari Aksa maupun Gentala.


''kenapa kau mengikuti mobil kami ke panti? Bukankah kau seorang CEO? Sejak kapan kau menjadi mata-mata'' kata Aksa bertanya dengan kening berkerut, pertanyaan yang sempat tertahan akhirnya meluncur juga dari mulutnya.

__ADS_1


''Hati dan kemauan ku selalu sejalan, begitu juga ambisi. Sejak aku mengenal Mayang, aku rela menjadi apapun. Aku marasa begitu tertarik sama sosok seorang Mayang, kalau tidak ada kejadian ini rencananya aku akan terus mengikutinya ke mana saja dia berada asalkan aku dapat melihat wajah ayu nya, walaupun aku hanya mampu menatap nya dari jarak yang tak terhingga'' ungkap Gentala jujur, mereka berbicara tidak saling menatap, tatapan dua pria tampan itu fokus kedepan.


''apakah kau menyukai, Mayang?'' tanya Aksa lagi dengan penuh penekanan.


''iya, lebih dari itu! Aku mencintanya sejak pada pandangan pertama. Dan aku tahu kau juga mencintainya, Aksa'' tegas Gentala, tersenyum getir menyindir.


''sok tau sekali kau Gentala. Aku sudah lama bekerja dengan keluarga Aditama, sudah bertahun-tahun aku mengenal dan berbaur sama mereka, jadi wajar kalau aku selalu bersama-sama dengan Mayang karena itu tugas ku, bukan berarti aku menyukainya. Itu sudah menjadi kewajibanku!'' elak Aksa, dia masih tidak percaya diri mengatakan kalau dia sebenarnya memang mencintai Mayang.


''iya itu Aksa, aku saja yang baru sekitar dua minggu mengenali sosok Mayang sudah begitu terhipnotis sama kecantikan dan keanggunan nya, apalagi kamu yang sudah bertahun-tahun lamanya. Jangan munafik kau Aksa, hah dasar'' ledek Gentala dengan bibir bagian atas tersungging.


''kalau iya kenapa?!'' bentak Aksa dengan nada sedikit keras. Dia tidak suka Gentala yang usianya lebih muda dari nya berani-beraninya meledek diri nya.


''kalau iya, bersiaplah, dan bersikaplah gentleman karena aku akan manjadi orang pertama yang akan menyaingi mu untuk mendapatkan hati Mayang'' gertak Gentala.


''heh, tidak semudah itu anak muda.'' sinis Aksa. Sedangkan Gentala hanya diam tak lagi menanggapi.


Di tempat yang berbeda, tempat yang tidak di inginkan semua orang, tempat yang khusus untuk menampung dan mengurung para narapidana yang terjerat kasus kriminal dan kejahatan yang merugikan orang lain. Tempat yang begitu dingin.


Dua wanita yang berbeda usia itu tiada henti-hentinya mengupat, di sela itu juga terdengar isakan kecil. Di tambah suara telapak tangan yang beradu dengan kulit anggota tubuh mereka terdengar ramai.


''ma, aku pengen pulang ma! Lihatlah tubuh mulus ku sudah di penuhi bintik-bintik merah akibat gigitan nyamuk'' kata Sari, terisak menggaruk tangan dan pipinya.


''diam lah Sari, kamu kira mama tidak ingin pulang. Mama juga kangen sekali dengan kasur mama yang lembut lagi empuk'' sahut Reni sang mama yang sama sedang sibuk menggaruk anggota tubuhnya.


''mama, sampai kapan kita akan berada di tempat terkutuk ini, ma? Ini semua gara-gara ide gila mama!''


''berhenti lah menyalahkan mama Sari, ini semua gara-gara pemuda yang bernama Gentala itu, semua rencana kita hancur berantakan''


''kalau aku sudah keluar dari tempat ini aku akan memberi pelajaran kepada pemuda itu ma''

__ADS_1


''pelajaran? Pelajaran apa Sari, apa kau tidak lihat tadi, dia itu pria yang begitu tampan dengan pengawal yang banyak, pastilah dia orang kaya. Lebih baik kau goda dan dekati dia''


''tidak mau ma, mama sudah semakin gila saja karena harta''


''jaga omongan mu Sari, mama melakukan ini demi kebaikan kamu dan mas mu juga. Lagian apa yang kau harap kan dari Hamka? Mana dia hah? Kenapa dia belum menemui kita di kantor polisi?''


''mungkin mas Hamka lagi sibuk mengurus Meisya ma. Ma ... aku kangen putri ku''


''diamlah, berhenti merengek Sari''


****


''Fitri, Raihan .... Kasihanilah papa, papa sangat merindukan kalian. Maafkan papa,''


''Anggia, di mana kamu? Kenapa kamu tidak menjenguk mas di sini!''


Racau Ibnu, terbaring meringkuk di bagian sel yang lain di atas dinginnya lantai tanpa alas dengan kedua kaki di perban.


Sedangkan ke tiga preman suruhannya merasa risih mendengar racauan Ibnu, mereka bertiga sedang duduk berbaris saling pijit satu sama lain, tubuh mereka terasa begitu remuk akibat pukulan anak buah Gentala, belum lagi memar di mana-mana yang terdapat di bagian tubuh mereka.


''diam lah, berisik sekali kamu. Sekarang sudah dini hari, tidur lah. lebih baik kamu bersiap-siap untuk hukuman yang telah menanti mu besok!


Makanya sebelum berbuat dan bertindak sebaiknya berfikir lah terlebih dahulu akan akibatnya. Hukuman ini belum seberapa dibandingkan kejahatan yang telah kamu lakukan terhadap anakmu sendiri'' bentak sang polisi yang menjaga.


****


Mayang berdiri di depan tubuh lemah Raihan, lalu sedetik kemudian dia duduk menatap lekat wajah pucat yang seperti tiada kehidupan dengan alat bantu pernapasan yang terdapat di bagian hidung dan mulutnya.


''sayang, bertahanlah. Mama tidak akan sanggup kehilangan kamu nak, mama bisa gila kalau kamu tiada di dunia ini'' racau Mayang dengan memegang erat tangan sang putra, air mata membasahi pipi mulusnya, dadanya terasa begitu sesak, ''kehidupan kita sekarang sudah begitu bahagia sayang, kita sudah punya segalanya sekarang. Kamu bisa meminta kepada mama apapun yang kamu suka, bangunlah ... Kalau kamu bangun mama berjanji akan membawa kamu ke padang salju yang luas, yang sering kamu idam-idamkan kan dulu saat kamu menonton serial kartun kesukaan mu. Bangunlah malaikat kecil mama, ayo kita liburan bersama, berseluncur, tertawa bahagia'' kata Mayang lagi dengan suara serak, dia menciumi kening sang putra beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2