Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Sang keponakan


__ADS_3

Bagaskara, pria tampan, seorang pengusaha yang begitu tersohor pada masa nya, pun sekarang. Dia masih di kenal sebagai seorang pengusaha kaya raya yang memiliki perusahaan dan harta kekayaan di mana-mana, yang cukup di segani. Tapi, semenjak perusahaan milik nya di pimpin oleh sang keponakan dia merasa perusahaan nya tidak mengalami kemajuan. Laporan keuangan perusahaan juga berantakan. Yang membuat dia selalu kepikiran, menambah beban pikirannya siang dan malam. Tapi, dia merasa sungkan untuk menegur sang keponakan, anak dari adik kandungnya sendiri. Dia terpaksa memberikan jabatan CEO kepada keponakan satu-satunya itu karena hanya sang keponakan yang dia punya, keponakan yang selalu memanggil nya dengan sebutan Papa dan keponakan yang dari lahir sudah tinggal bersamanya. Bagaskara sudah berusia senja, dia sering sakit, sehingga tidak kuat lagi untuk bekerja.


''Putraku, Papa harap kita akan segera bertemu, Papa sangat rindu, Papa akan memberikan semua hak mu, semua harta warisan milik keluarga Ibu-mu kepada mu'' gumam Bagaskara, dia berdiri di depan jendela melihat keluar, melihat pekatnya malam. Dia teringat akan kejadian sekitar 30 tahun yang lalu, kejadian yang membuat hidupnya hancur seketika, saat putra nya yang baru berusia satu hari lahir kedunia hilang entah ke mana, saat masih berada di inkubator di rumah sakit. Tidak lama setelah itu sang Istri yang amat dicintainya juga ikut pergi meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat akibat syok, sang istri tidak bisa menerima kenyataan kalau bayi yang baru di lahirkannya telah hilang tanpa jejak.


Selama ini Bagaskara sudah berusaha keras untuk mencari keberadaan sang Putra, tetapi tak kunjung ada kabar baik dan titik terang. Dia selalu berfikir positif menganggap kalau putranya masih hidup, dan sekarang dia merasa sangat lega, detektif yang dia bayar mahal yang berasal dari negeri seberang ternyata sangat bisa diandalkan.


*****


Di tempat yang berbeda, Aksa berhenti di depan sebuah pohon tua. Dia keluar dari kendaraan roda empat miliknya, lalu mendongak keatas, di atas nampak rumah kecil yang berada di dahan pohon tua itu sangat gelap. Dia menghidupkan penerang dari ponselnya, lalu berjalan cepat menaiki tangga.


Begitu sudah berada di atas, dia membuka gembok pintu dengan kunci yang ada padanya. Lalu setelah itu dia menencet seklar, menyalakan lampu penerang, dia duduk di dalam rumah pohon sambil menatap ponsel miliknya, dia membuka album foto, lalu memandang satu persatu foto yang dia ambil saat dia, Mayang dan Raihan lari pagi waktu itu.


''maaf jagoan, paman tidak bisa menjagamu dengan baik. Paman telah membuat kamu pergi, dan membuat mama mu terluka karena kehilangan mu'' batin Aksa dengan dada terasa sesak. Saat Aksa sedang fokus menatap ponselnya, suara seorang wanita terdengar lembut memanggilnya.


''Aksa, apakah kamu di dalam?''


Aksa menghapus sedikit air mata di sudut matanya, lalu menjawab dengan suara serak.


''iya, aku di dalam.''


''boleh aku naik?''


''maaf Gendis, aku sedang tidak ingin di ganggu'' jawab Aksa. Gendis adalah gadis muda yang berusia 20 tahun seusia Mayang, yang merupakan anak ibu panti.


''yahh kok kamu gitu sih?'' kata Gendis tak bersemangat, ''Kamu bisa mendongak keluar sebentar tidak?'' lanjut nya lagi.


''memangnya ada apa? Malam sudah larut, lebih baik kamu pulang. Kamu sama siapa ke sini?''


''iya aku akan pulang, tapi kamu keluar dulu. Aku kesini sama kang Udin'' sahut Gendis. Kang Udin adalah sang penjaga panti.


Aksa lalu keluar, dia duduk di rumah pohon dengan menjuntai kaki nya.


''katakan, ada apa?'' tegas Aksa.


Gendis tidak menjawab, dia melangkahkan kakinya hendak menaiki tangga.


''berhenti! mau apa, Gendis? Lebih baik kamu pulang!'' ujar Aksa menunjuk ke arah Gendis.


''yahhh'' ucap Gendis lesu.

__ADS_1


''padahal aku ingin mengobrol sama kamu. Seharian ini aku menunggu kehadiran kamu di sini.


Oh ya, tadi di panti kedatangan dua orang tamu yang menanyakan tentang asal usul kamu kepada ibu, Aksa''


''siapa? Dan apa kata ibu?'' tanya Aksa penasaran.


''tidak tahu, wajah mereka seperti bukan berasal dari negara kita. Ibu menjelaskan semuanya Aksa, dan Ibu juga mengeluarkan semua peralatan kamu sewaktu masih bayi, karena mereka memaksa ingin melihat nya'' jelas Gendis, berbicara mendongak ke atas melihat Aksa.


''baiklah, terimaksih informasi nya Gendis. Ya sudah sekarang kamu pulang, ya''


''iya, jaga diri baik-baik ya, Aksa'' senyum Gendis mengembang melihat ke arah Aksa.


Aksa tidak menjawab, dia hanya mengangguk kecil dan membalas senyum Gendis. Setelah itu Gendis berlalu naik ke motor metik yang di kendarai oleh kang Udin.


*****


Di tempat yang berbeda, Mayang baru selesai mengerjakan sholat malam. Dia duduk bersimpuh menaguk kedua tangan. ''ya Allah kuat kan Hamba, beri hamba rasa sabar dan iklas dalam menerima ini semua. Hamba yakin putra hamba pasti sudah berbahagia di sana'' batin Mayang berdoa dengan linangan air mata.


Setelah selesai sholat, Mayang berbaring di tempat tidurnya. Dia memejamkan matanya mencoba untuk tenggelam di alam mimpi, berharap bisa bertemu dengan sang putra, tapi setelah mencoba lima menit lamanya, dia masih belum bisa terlelap. Mayang memutuskan untuk duduk dengan menarik nafas dalam, lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas laci, ponsel yang seharian ini tidak di pegangnya. Dia mengecek satu persatu pesan masuk.


Gentala.


Aksa.


Sekretaris kantor.


Dan banyak lagi pesan yang belum di bukanya. Dia memutuskan membuka pesan dari Aksa terlebih dahulu.


''maaf Aksa, pesan kamu baru aku buka dan baca sekarang.''


''kamu di mana sekarang?'' tulis Mayang, lalu dia mengirimkan pesan itu kepada Aksa.


Tidak menunggu waktu lama, pesan Mayang di balas oleh Aksa.


''coba tebak aku ada di mana, non?''


''aku tidak tahu Aksa. Lebih baik kamu pulang saja ke sini, malam sudah larut, kamu perlu istirahat''


''iya, ini aku akan pulang, non. Non, sekali lagi aku minta maaf untuk keteledoran aku dalam menjaga Raihan''

__ADS_1


''sudah lah, ini sudah menjadi kehendak yang maha kuasa'' balas Mayang. Walaupun sebenarnya dia merasa kecewa sama Aksa, tapi dia mencoba bersikap baik-baik saja terhadap Aksa, dia tidak ingin berlarut-larut.


''tapi, non!''


Mayang tidak membalas lagi, dia merasa matanya sudah terasa sangat berat, lalu dia tertidur dengan ponsel masih berada di genggaman nya. Pesan dari Gentala yang sudah puluhan tidak sempat dia buka.


🍂🍂🍂🍂🍂


Seminggu telah berlalu, Mayang terlihat sudah baik-baik saja, tapi dia masih sering mengurungkan diri di kamar dan dia juga belum ada masuk kantor setelah kematian sang putra, Aksa lah yang seminggu ini mengganti kedudukan nya.


Aksa dan Mayang selama seminggu ini juga jarang sekali bertemu, mereka bertemu hanya saat sarapan. Setelah itu tidak lagi, karena Aksa sangat sibuk mengurus perusahaan.


Aditama dan Mayang sudah mengurus semua urusan mereka sama Ibnu, Mayang sudah melaporkan semuanya. Dia meminta kepada para penegak hukum agar sang mantan suami serta keluarga nya di hukum seberat-beratnya, sesuai sama kejahatan yang mereka lakukan.


Besok rencananya Mayang akan menemui Ibnu, melihat keadaannya sekarang, yang setahunya menurut laporan polisi kalau keadaan Ibnu sudah semakin miris dengan kedua kaki bekas tembakan yang tak kunjung sembuh, lukanya semakin membesar.


****


"Sayang, kapan kamu akan mulai masuk kantor lagi?'' tanya Aditama saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga siang itu.


Mayang menarik nafas dalam, lalu berkata ''tidak tahu pa, Mayang saat ini belum bisa berfikir dengan baik. Mayang masih sering teringat akan Raihan, pa'' Mayang menatap ke arah sang papa.


''itu wajar Mayang, karena Raihan memang putra mu. Papa dan mama pun juga begitu, kami masih sering teringat akan cucu tampan kami. Tapi, apa kamu tahu Mayang, ada orang yang lebih lelah dari kita.'' jeda Aditama lalu berucap lagi, ''Aksa, kasihan sekali dia, papa yakin dia pasti juga merasa begitu kehilangan Raihan, di tambah lagi sekarang dia harus mengurus perusahaan besar milik kita. Papa tidak tega sama Aksa, dia pasti sangat lelah''


''itukan memang tugas dia pa, dia kan kita gaji tidak sedikit'' sahut mama Hanum.


''papa tahu, papa cuma merasa kasihan saja sama Aksa''


''papa ada benarnya juga, besok Mayang akan kembali bekerja. Siapa tahu dengan kesibukan di kantor keadaan Mayang akan lebih baik''


Saat mereka sedang Asyik mengobrol, ponsel Aditama berdering menandakan ada panggilan masuk.


Aditama mengangkat nya dengan cepat.


''hallo tuan, maaf menganggu waktunya sebentar. Ini ada klien dari luar negeri ingin bertemu sama pimpinan perusahaan.''


'' Pak Aksa kan ada di kantor, Renita''


''Pak Aksa tidak masuk hari ini tuan, dari pagi tadi Pak Aksa tidak ada di kantor''

__ADS_1


Aditama terdiam sesaat, lalu dia berkata, ''baiklah. Saya akan segera ke sana, beri pengertian kepada klien kita agar menunggu sebentar''


Setelah itu panggilan terputus. Aditama, Mayang dan mama Hanum di landa rasa penasaran tentang di mana keberadaan Aksa saat ini.


__ADS_2