
Aksa turun, setibanya di lantai bawah, Aksa menyapa satu persatu teman, kerabat dan rekan bisnisnya yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang. Aksa bersalaman sama mereka, satu persatu mereka mengucap selamat dan mendoakan Aksa. Dan enam orang di antaranya merupakan Groomsmens yang akan mendampingi Aksa.
Dan yang terakhir Aksa menyapa Bu Aida. Aksa mengecup tangan Bu Aida lembut meminta restu. Di balas dengan pelukan hangat oleh Bu Aida. Meskipun sedikit rasa kesal masih bersarang di benak Aksa untuk Bu Aida, tetapi Aksa mencoba berdamai. Itu hanya masalah sepele, tidak akan mampu menutup mata hati ku atas semua jasa-jasa Ibu selama ini yang tidak akan terbalaskan. Pikir Aksa.
Setelah itu Aksa melewati tubuh Gendis yang berdiri di samping sang Ibu begitu saja. Gendis tersenyum merekah ke arah Aksa dengan menjulurkan tangannya, tetapi Aksa bersikap acuh. Sosok Gendis seakan tidak terlihat oleh mata Aksa. Gendis menunduk dengan air mata mengenangi pelupuk mendapati sikap dingin dan acuh Aksa terhadap dirinya, ya hanya terhadap dirinya. Mayang merasa amat malu dan terhina di perlakukan seperti itu.
Bu Aida yang menyadari itu dengan cepat membelai punggung sang Putri. ''Sudah, jangan cengeng, anggap saja ini adalah balasan atas sikap ceroboh mu waktu itu. Ibu yakin besok Aksa pasti akan bersikap baik lagi sama kamu, Sayang'' ucap Bu Aida lirih menenangkan sang Putri.
Setelah itu rombongan Aksa berangkat ke kediaman Tuan Aditama, dengan mobil melaju saling beriringan.
***
Mayang yang terlihat telah cantik dengan gaun pengantin beberapa kali melakukan pemotretan di kamar pengantin. Fotografer handal melakukan pemotretan berulang kali.
''Udah ah capek. Nanti lagi aja ya.'' lontar Mayang kepada sang fotografer yang tampan, tetapi ketampanan nya masih kalah jauh di bandingkan Aksa. Mayang duduk di kasur pengantin dengan di temani oleh teman-teman nya semasa SMA, temannya yang sekarang menjadi Bridesmaids nya.
''Oke, aku pun juga sudah capek fotoin kamu sendiri saja terus dari tadi. Nanti kita lanjut foto di kamar pengantin ini lagi tunggu mempelai pria datang dan tunggu sah. Pasti foto nya lebih bagus banget.'' timpal sang fotografer sedikit menggoda Mayang. Mayang pun tersenyum mesem-mesem memikirkan itu.
''Aih dasar pengantin. Di becandain begitu aja mesem-mesem wajahnya.'' ujar sang fotografer becanda.
''Iihh Kakak kayak enggak pernah ngerasain jadi pengantin aja.'' protes Mayang, semua orang di kamar itu tersenyum mendengar celotehan Mayang dan sang Fotografer. Termasuk istri sang fotografer tersebut juga tersenyum mendengar gurauan Mayang dan suaminya. Istri sang Fotografer itu merupakan salah satu teman Mayang waktu SMA.
''Non, mempelai laki-laki nya sudah datang. Non Mayang silahkan bersiap-siap kata Nyonya besar'' tiba-tiba pelayan datang memberi tahu Mayang.
''Iya, baiklah. Terimakasih.'' sahut Mayang. Wajah Mayang seketika berubah grogi.
''Ayukk lah kita kebawah,'' kata teman Mayang hendak membimbing tubuh Mayang.
''Ehh tunggu dulu,'' sahut Mayang, Mayang berlari ke arah jendela, dia melihat ke bawah. Ternyata benar mobil Aksa dan rombongan sudah terparkir di halaman.
Setelah memastikan, Mayang dan teman-teman nya berjalan beriringan kebawah. Mayang berjalan dengan begitu anggun.
Di lantai bawah yang luas, nampak sudah ramai. Tempat itu sudah di penuhi tamu undangan dan anggota keluarga. Aksa pun sudah duduk, di hadapannya ada Tuan Aditama dan Pak Penghulu.
Mayang melempar senyum simpul dan sedikit menunduk ketika ia berjalan melewati tamu undangan dan anggota keluarga. Mama Hanum menyambut sang Putri dengan rasa amat bahagia. Pernikahan kedua sang Putri yang dirayakan dengan begitu meriah, dan Mama Hanum berharap ini akan menjadi pernikahan terakhir untuk Mayang.
Setelah itu Mayang duduk tepat di sebelah Aksa. Dibelakang Mayang duduk Mama Hanum dan di belakang Aksa duduk Bu Aida dan Gendis.
''Baiklah semuanya, apakah acaranya sudah bisa kita mulai?'' kata Pak Penghulu.
__ADS_1
''Sudah Pak, silahkan Pak.'' kata Papa Bagaskara mewakili.
Pak penghulu membaca doa terlebih dahulu. Setelah itu ijab kabul pun di mulai. Tuan Aditama berjabatan tangan dengan tangan Aksa. Aditama menarik nafas dalam lalu berucap lancar.
''Bissmillahirrohmanirrohim. Saudara Aksa bin Bagaskara, saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan anak perempuan saya Visensia Fitri Mayang Sari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu milyar rupiah di bayar tunai.''
''Saya terima nikah dan kawinnya Visensia Fitri Mayang Sari binti Aditama Mahamatputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.'' Aksa pun berucap dengan lancar.
''Bagaimana para saksi, sah?'' tanya Pak Penghulu.
''Sah!'' jawab para undangan bersamaan.
''Alhamdulillah.'' ramai terdengar.
Aksa menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, dia menangis haru, susah payah dia menahan isakan. Begitu juga Mayang.
Kedua orang tua mereka pun meneteskan air mata bahagia.
Lalu Mayang duduk menghadap ke arah Aksa, dia mengambil tangan Aksa lalu mencium nya takzim, sedangkan tangan Aksa berada di kepala Mayang, menyentuhnya lembut. Aksa balas dengan mencium kening Mayang. Kedua mata pasangan yang telah resmi menjadi Suami Istri itu saling menatap lekat, binar bahagia terpancar dari keduanya. Dengan saling memuji dalam diam.
Di belakang mereka Bu Aida terus saja membelai punggung Gendis, Gendis juga menangis terisak. Entah air mata apa yang Gendis keluar kan. Dia merasa bahagia melihat Aksa bahagia, tapi setitik rasa sakit masih juga dia rasa di sudut hati terdalam nya.
''Cinta itu bukan soal kebersamaan apalagi memiliki. Melainkan melekat pada ingatan yang diletakkan di hati kita masing-masing, pun dalam doa-doa yang dipanjatkan dalam senyap, melihat orang yang aku cintai bahagia, aku turut bahagia. Insya Allah aku akan belajar iklas.'' batin Gendis berkecamuk. Ingin mengamuk, tapi siapa peduli. Pikirnya.
***
Pesta pernikahan Aksa dan Mayang di siarkan langsung di televisi maupun sosial media. Bagaimana tidak, Aksa dan Mayang merupakan Putra dan Putri tunggal dari Pengusaha sukses. Semua orang merasa senang menyaksikan nya.
Mayang mengundang seluruh kenalannya, tidak terlupakan tetangga kompleks nya waktu masih bersama Ibnu. Para tetangga nya dulu terlihat hadir semua, mereka menatap kagum pesta Mayang yang megah dan meriah. Mereka yang rata-rata ekonomi nya menengah kebawah merasa senang di undang oleh keluarga Aditama.
''Fitri, ehh ... Maaf, Mayang maksud saya. Selamat ya. Semoga kamu selalu bahagia. Terimakasih untuk undangan dan makanan gratisnya.'' ucap salah satu pemilik warung yang sering Mayang titip kue-kue nya dulu.
''Terimakasih atas doa dan sudah berkenan hadir Bu.'' jawab Mayang ramah dengan senyum merekah.
''Iya sama-sama geulis. Nak Mayang, ini uang hasil jualan kue Nak Mayang dulu yang tak kunjung Nak Mayang jemput. Uang ini selalu Ibu simpan.'' kata Ibu itu lagi seraya memberikan uang ketangan Mayang. Mayang kaget di buatnya.
''Ehhh, enggak usah Bu. Ini uang nya buat Ibu aja ya.'' tolak Mayang halus.
''Beneran?''
__ADS_1
''Iya Bu.'' jawab Mayang, Ibu itu tersenyum senang.
Setelah nya Ibu itu turun dari pelamin, sebelum turun berulang kali Ibu itu mengucapkan terimakasih kepada Mayang.
Aksa semakin terkagum-kagum sama kebaikan dan kelembutan sang Istri.
''Capek enggak Sayang?'' bisik Aksa di telingan Mayang. Aksa merasa kasihan melihat Mayang yang terus saja berdiri, begitu juga dengan dirinya. Tangan Aksa merangkul pinggang Mayang yang langsing.
''Enggak Mas!'' jawab Mayang berbohong. Padahal kaki nya sudah terasa pegal karena dari tadi mereka berdiri terus menyalami tamu undangan yang tak putus-putusnya.
Setelah itu rekan bisni Aksa lagi yang naik kepelamin. Mereka merupakan para karyawan Aksa di Kantor.
''Selamat ya Tuan muda.'' kata Sekretaris Aksa di Kantor. Aksa pun membalas ucapan nya.
''Duhh beruntung sekali wanita ini bisa mendapatkan Pak Bos Aksa yang tampan lagi kaya raya.'' batin sang Sekretaris iri saat dia bersalaman dengan Mayang. Banyak kaum hawa yang patah hati melihat pernikahan Aksa dan Mayang, begitupun sebaliknya.
Setelah itu di lanjutkan lagi dengan acara foto-foto. Tuan Aditama dan Mama Hanum bergitu bersemangat berfoto bersama pengantin, begitu juga Bagaskara.
''Gendis, sini. Foto yuk.'' kata Mayang ramah. Mayang memanggil Gendis yang dari tadi hanya duduk diam di kursi tamu dengan wajah murung. Hanya dia yang belum berfoto-foto bersama pengantin. Bu Aida pun sudah.
''Enggak usah.'' sahut Gendis.
''Kok gitu? Ayukk lah'' Mayang berjalan menuju tempat di mana Gendis duduk lalu membimbing tubuh Gendis agar mau berfoto dengan dirinya dan juga Aksa.
Akhirnya Gendis menurut. Aksa manarik nafas dalam. Memandang Gendis dan Mayang dengan tatapan tidak bisa di artikan. Aksa takut suatu saat nanti Gendis berbuat nekat lagi kalau di beri celah.
''Dasar Istriku, kamu terlalu baik.'' batin Aksa.
***
Malam hari semua tamu undangan sudah pulang. Kediaman Aditama sudah terlihat sepi. Hanya beberapa para pekerja lagi yang sibuk membereskan sisa-sisa pesta.
Mayang sudah masuk ke kamar pengantin, dirinya sudah mengganti gaun pengantin dengan piyama tidur.
Sedangkan Aksa masih di bawah, mengobrol dengan sang Papa yang hendak pulang.
Mayang menatap dirinya di cermin, dia merasa amat grogi malam ini. Dari tadi jantung terus berdetak lebih cepat menunggu kedatangan Aksa di kamar.
Bersambung.
__ADS_1
Vote dan kasih hadiah seikhlasnya saja supaya novel ini bisa muncul di beranda.
Dan jangan lupa like dan komen. Pasti udah nggak sabar nunggu malam pertama Aksa dan Mayang. Ya 'kan? ngaku aja deh.😅ðŸ¤