
Bagaskara dan yang lainnya membiarkan Bu Aida terus berbicara. Mereka mendengarkan dengan begitu fokus.
''Kau tahu 'kan Bagaskara, kita dulu adalah tetanggaan, sekaligus teman sekolah. Dari SD kita selalu bersama. Pergi sekolah bersama, saat di sekolah bersama dan bahkan sepulang sekolah kita juga sering menghabiskan waktu bersama bermain di area tempat tinggal kita dengan teman-teman yang lain. Mungkin hanya makan dan tidur saja kita tidak bersama. Kita tumbuh bersama, kita tumbuh tidak dari keluarga kaya, tapi apapun keinginan kita selalu orang tua kita penuhi. Ibu mu dan Ibu ku berteman cukup akrab. Hingga tamat SMA, kau mendapat beasiswa untuk berkuliah di Ibukota, karena kecerdasan mu. Aku senang mendengar kabar baik itu. Setelah itu kau berangkat ke Ibukota. Sedangkan aku masih tetap di Desa, aku membantu Ibu dan Ayah ku mengawasi pabrik kopi milik mereka yang mulai tumbuh maju.
Selepas kepergian mu. Hari-hari aku jalani terasa sangat berat, itu karena mu, ya, tanpa mu. Karena sering bersama membuat aku tak terbiasa tanpa mu. Aku sudah sangat lama memendam rasa suka dan kagum ku terhadap mu. Itu wajar, karena kau pria yang paling tampan di sekolah serta di area tempat tinggal kita.
Selama di Ibukota, kau masih sering menghubungi aku, kau bercerita apa saja tentang kegiatan mu. Karena kau menganggap aku teman, serta sahabat terbaik mu. Kau selalu bilang kalau wajahku tidak cantik dan wajah ku juga terlihat judes. Kau selalu mengolok-olok aku dengan kata-kata itu. Aku tahu kau cuma becanda. Karena kita memang sering becanda. Tapi berbeda dengan ku, aku menganggap mu orang yang paling spesial di hidup ku.
Hingga saat itu tiba, saat kau tamat kuliah dan mendapatkan pekerjaan, kau menghubungi aku lagi, kau bercerita bahwa kau memiliki atasan wanita yang sangat cantik. Kau bilang kau menyukai nya. Kau bercerita dengan di sertai tawa, tapi aku yang mendengar dari seberang ponsel jadul meneteskan air mata, dada ku terasa begitu sesak mendengarnya. Iya, di usiaku yang sudah cukup matang aku masih belum mempunyai kekasih, itu karena aku menunggu mu.
Hingga saat kau sudah mulai mapan, kau pulang ke desa dengan membawa seorang wanita cantik yang bernama Melati. Kau memperkenalkan Melati kepada seluruh tetangga dan anggota keluarga mu, kau mengatakan kalau Melati adalah calon istri mu. Semua orang memuji kecantikannya, aku pun juga. Melati memang wanita yang ayu, sesuai dengan namanya. Ia terlihat begitu anggun dengan tutur katanya yang lembut.
Setelah itu kau bersama keluarga mu pamit pergi ke Ibukota. Kau mengajak keluarga mu tinggal bersama mu. Sehari sebelum kepergian mu, aku mengajakmu untuk ketemuan di pinggir danau. Aku hanya meminta kamu saja yang datang, dan kau pun menuruti nya.
__ADS_1
Di pinggir danau aku mengungkapkan segala rasa cintaku yang sudah lama terpendam. Tapi apa respon mu? Kau malah tertawa terbahak-bahak, menganggap aku hanya melawak. Lalu aku berkata lagi meyakinkan mu, kau pun percaya. Tapi kau menolak ku, kau mengatakan kalau aku tak pantas untukmu dan kau mengatakan wajahku yang tak cantik dan juga judes. Kau mengatakan kalau kita hanya cocok menjadi teman dan sahabat saja. Kau mengatakan kalau kau hanya mencintai Malati. Setelah itu kau pergi meninggalkan aku sendirian di tepi danau, kau meninggalkan aku yang menangis sesenggukan, aku merasa hatiku begitu sakit, bagai tertusuk duri. Kau sama sekali tak peduli.
Setelah itu, enam bulan seiring berjalan nya waktu. Kau mengirimkan undangan pernikahan mu. Aku membacanya dengan tangan gemetar. Sulit sekali bagiku untuk melupakan dan mengikhlaskan mu.
Kedua orangtua ku begitu antusias ingin pergi ke pesta pernikahan mu. Tapi tidak dengan aku. Berulang kali mereka mengajak aku untuk ikut serta, tapi aku bersikap tak peduli. Hingga mereka pergi berdua saja. Aku yang merupakan anak tunggal, setelah kepergian kedua orangtua ku, aku mengurus semua pekerjaan mereka. Siang malam aku bekerja tanpa lelah. Aku sengaja melakukan itu, agar aku bisa menghapus bayang-bayang wajah mu dengan kesibukan ku.
Beberapa hari setelah itu, aku mendapat kabar buruk. Dunia ku seakan runtuh. Kedua orangtua ku mengalami kecelakaan waktu hendak pulang. Mereka meninggal di tempat, mobil yang di kemudi ayah ku menabrak pohon di pinggir jalan. Aku merasa benar-benar kacau. Aku sendiri, aku hidup tinggal sebatang kara.
Beberapa minggu setelah kedua orangtua ku di makamkan, aku menjual pabrik serta kebun kopi milik mereka. Entah apa yang aku pikir waktu itu. Pikiranku benar-benar kacau. Aku mendapatkan uang yang banyak dari hasil penjualan itu. Aku lalu pergi keluar negeri. Di luar negeri aku merubah wajahku. Wajah ku yang kata mu jelek dan judes aku ubah menjadi wajah wanita yang cantik dan lembut. Kita pun tidak pernah lagi berkabar. Berita tentang mu dan keluarga mu seakan tenggelam.
Aku baru tahu kalau Melati ternyata anak konglomerat. Aku melihat kalian di dalam televisi, aku melihat perut melati yang sudah membuncit. Berita tentang kelahiran anak kalian pun menjadi sorotan.
Hingga malam itu, aku pergi kerumah sakit tempat Melati akan melahirkan. Aku ingin melihat wajah mu secara langsung, walaupun sekilas tapi aku rasa cukup untuk mengobati rasa rinduku.
__ADS_1
Saat aku sudah sampai di rumah sakit, aku kebelet ingin buang air kecil. Aku berjalan mencari toilet. Saat aku masuk toilet, kau tahu siapa yang aku lihat? Aku melihat Ibu dan adik mu. Aku bersikap seperti tak mengenali mereka, meraka pun sama. Iya itu karena wajah ku yang telah berubah. Saat sedang buang air kecil aku mendengar Adik dan Ibumu mengobrol, mereka merencanakan sesuatu, mereka akan menculik anak mu dan Melati lalu mereka akan membuangnya. Karena mereka ingin mengambil alih harta kekayaan Malati, itulah yang aku dengar. Aku sungguh kaget mendengar rencana jahat mereka, aku tidak menyangka ternyata ibu dan adik mu setega itu.
Setelah itu aku mengikuti mereka secara diam-diam, aku mengawasi setiap pergerakan mereka. Benar saja. Saat bayi mungil itu sedang di inkubator, aku melihat Hani mengambil nya secara diam-diam saat sedang sepi. Setelah itu Hani menuju mobil, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Aku mengikuti mobil nya dari belakang. Saat sudah sampai di semak belukar di tepi jalan, mobil yang membawa Hani berhenti. Aku pun berhenti dengan jarak cukup jauh. Setelah itu aku melihat Hani keluar dari mobil dengan menggendong bayi mu. Ia meletakkan bayi mu di dalam semak belukar, setelah itu ia masuk lagi kedalam mobil dan mobil yang membawa nya melaju kencang.
Setelah kepergian Hani, aku menghampiri tempat Hani berhenti tadi, lalu melihat kearah semak belukar. Bayi mu menangis hebat, serangga kecil sudah mulai menaiki tubuhnya, aku yang merasa tak tega lalu menyelamatkan nya.
Aku membawanya kerumah, aku membelai bayi laki-laki mu dengan penuh kasih sayang. Keesokan harinya, berita tentang hilangnya bayi mu menyebar luas. Aku yang melihat wajah bayi mu merasa sedang menatap mu. Aku tak mau mengembalikan bayi itu kepada kamu dan Melati. Aku telah berjanji untuk merawatnya. Aku lalu memberi namanya, Aksa, iya, Aksa. Aku lalu berniat mendirikan panti, aku membuat label panti di halaman rumah ku. Agar apa, agar aku tidak merasa kesepian. Aku sangat menyayangi Aksa, bersama Aksa aku merasa aku sedang bersamamu Bagaskara. Aku pun mendengar kabar tentang kematian Melati, tapi sepertinya aku tak peduli lagi terhadap kamu. Karena aku telah memiliki Aksa.
Setelah beberapa bulan, banyak sekali orang-orang yang berdatangan menitipkan bayi, bahkan anak kecil. Donatur pun mulai berdatangan. Saat usia Aksa sudah menginjak delapan tahun, aku menemukan lagi di depan pintu rumahku, seorang bayi perempuan yang amat cantik. Dan bayi itu adalah Gendis. Saat bayi, Gendis memiliki wajah yang begitu imut dan menggemaskan. Lalu timbul lah ide gila ku, aku sudah menjodohkan Aksa dan Gendis sedari kecil. Pokoknya apapun yang terjadi mereka harus menikah. Aku sangat menyayangi Aksa dan Gendis. Setelah dewasa mereka tidak boleh saling menyakiti satu sama lain. Aku telah berjanji, aku akan menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalang hubungan Gendis dan Aksa. Aku begitu terobsesi. Hingga waktu itu aku juga pernah menghubungi Hani untuk bekerja sama menyingkirkan Mayang. Tapi Hani tidak mau, katanya ia sudah kapok, karena kamu sudah mengasingkan dia ke kampung.
Waktu aku melihat Gendis menangis saat Aksa hendak menikah. Aku melihat di dalam diri Gendis ada diriku. Aku ikut terluka. Rasanya aku ingin menghabisi Mayang. Hahahaha ... Sekarang kalian tahu 'kan. Aku memang sudah tidak waras. Hahahaha. Semua ini gara-gara kamu Bagas. Kamu telah melukai hatiku begitu dalam, hingga membuat aku menjadi perawan tua. Padahal dulu banyak sekali orang yang tergila-gila sama aku. Hahaha, huhuhu ... Aku bukan menyiksa Gendis, tapi aku menyiksa kebodohan nya, karena ia tidak bisa merebut Aksa dari Mayang. Hahaha. Rasanya aku ingin kabur, aku ingin hidup sendiri lagi, lagian aku juga sudah punya banyak uang. Hahahaha .... Aksa dan Gendis dasar kalian anak tak tahu terimakasih. Huhuhu .... Aku merasa dengan melihat Aksa dan Gendis menikah, aku seperti melihat aku dan dirimu Bagas. Dengan begitu rasa sakit hatiku yang kamu torehkan begitu dalam akan membaik. Hahaha ... Aku susah payah mencari cara untuk membalas kan dendam ku kepada mu Bagas. Aku tidak mungkin menyakiti Aksa karena aku menyayangi nya. Hahahaha. Aku sudah gila. Huhuhu ....'' tutur Bu Aida begitu panjang, omongan terdengar ngelantur dan tidak jelas.
Bagaskara yang mendengarkan merasa begitu terluka. Mata Bagaskara berkaca-kaca. Begitu juga Aksa dan Gendis. Mereka merasa dada mereka terasa sesak. Lalu Gendis pun menangis terisak-isak. Bu Aida terus tertawa, tertawa sumbang. Lalu ia menangis lagi setelah itu.
__ADS_1
Bersambung.
Like, komen, vote dan kasih hadiah nya juga ya.