Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kerja sama baru


__ADS_3

Mayang merasa lega setelah memberi sedikit pelajaran kepada Ibnu dan keluarganya.


''sekarang mereka dengan tidak tahu malunya mengakui, memohon dan memujiku. Ternyata memang benar, harta menjadi tolak ukur bagi sebagian atau seluruh orang untuk bersikap baik kepada sesama manusia lainnya, sungguh miris!


Tapi, aku tidak boleh lengah aku yakin sekali keluarga mas Ibnu akan terus menganggu kehidupan-ku dan putra-ku.'' batin Mayang, dia tersenyum getir mengingat wajah Ibnu dan keluarganya saat di tarik paksa keluar tadi.


Mayang duduk sendirian di sudut ruangan dengan memegang segelas air putih, karena dia tidak suka wine. Dia ingin menyendiri sebentar. Mama dan papanya sedang berbaur dengan tamu undangan yang lain.


Tiba-tiba seseorang datang dari belakang menyapa Mayang.


''hay, ternyata kamu seorang janda!'' ujar Gentala duduk di sebelah kursi yang ada di samping Mayang tanpa meminta izin terlebih dahulu.


''iya, memangnya salah?'' Ketus Mayang, dia tidak suka mendengar omongan Gentala yang terkesan kurang sopan.


''oh tidak, hanya saja kamu kelihatan masih seperti seorang gadis, bahkan kamu lebih cantik dari gadis-gadis yang ada diluaran sana,'' puji Gentala, dia menatap Mayang lekat membuat Mayang salah tingkah.


''pak Gentala, bisakah anda mencari tempat lain saja? Aku lagi kepengen sendiri'' usir Mayang halus.


''wow, janda aja sombong!'' celetuk Gentala meneguk segelas wine. Dia tidak suka di usir oleh Mayang.


''kamu! Aku lagi kepengen sendiri! Masih kurang jelas?'' bentak Mayang, dia mulai terganggu dengan cara Gentala bersikap kurang sopan.


''tapi aku ingin menemani mu, Mayang'' ucap Gentala lirih membisikkan ketelinga Mayang, membuat bulu kuduk Mayang meremang.


''pak Gentala! Sopanlah'' bentak Mayang lagi, dia menjauh kan kursinya dari kursi Gentala.


''ada apa, non?'' tiba-tiba Aksa datang dengan Raihan di gendongan nya. Dari jauh Aksa melihat Mayang sedang tidak baik-baik saja.


''mama,'' panggil Raihan, sedetik kemudian Raihan berpindah ketangan Mayang.


''tidak ada apa-apa Aksa.'' ucap Mayang, kemudian Mayang berbicara sama Raihan, ''Iya sayang, ayo kita pergi saja dari sini. Di sini gerah'' ujar Mayang, kemudian dia berdiri.


''maaf pak, kami tinggal dulu, ya.'' pamit Aksa ramah.


Lalu Mayang, Raihan dan Aksa berjalan berdampingan meninggalkan Gentala yang terdiam di tempatnya. Mayang, Raihan serta Aksa sudah seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia, mereka amat serasi.

__ADS_1


Tidak Mayang pedulikan Gentala, pak Gentala yang menurut Mayang orang yang sedikit aneh, sejak pertama kali bertemu dengan Mayang, Gentala terlihat begitu sombong dan dingin.


Gentala berdiri dengan tangan di masukkan kedalam saku celananya, ''sombong sekali, aku akan membuat kamu bertekuk lutut sama aku Mayang! Tidak ada seorang wanita pun yang berani menolakku'' batin Gentala, menatap Mayang yang hampir hilang dari pandangannya.


*****


Di tempat yang berbeda, setelah sampai di rumahnya Kuncoro tidak sabar ingin memberikan pelajaran kepada Ibnu, begitu keluar dari mobil.


Buk! Buk! Buk!


''sudah pa, Anggia mohon hentikan!'' mohon Anggia dengan air mata membasahi pipinya. Saat satu orang berbadan kekar, orang suruhan papa nya memukul Ibnu secara membabi buta. Ibnu tidak sanggup untuk melawan, tenaga nya masih kalah kuat.


''berani-beraninya pria keparat ini membohongi papa, gara-gara dia tuan Aditama memutuskan kerja sama yang sudah susah payah papa bangun, kerja sama yang sudah kami jalin cukup lama!'' tunjuk Kuncoro, dia menunjuk Ibnu yang terkapar lemah di lantai.


''tapi pa, ini bukan salah mas Ibnu! Ini salahnya si Mayang itu yang terlalu bodoh jadi perempuan. kenapa papa lebih membela orang lain ketimbang anak dan menantu papa sendiri,'' sanggah Anggia tidak terima.


''Anggia lebih baik kamu diam! Bikin malu saja!'' bentak mamanya Anggia, mamanya juga tidak suka sama Ibnu, dan Anggia yang menurutnya terlalu bucin.


''papa nggak mau tahu, mulai malam ini juga Ibnu papa copot dari jabatannya sebagai CEO, memalukan sekali. Semenjak dia masuk ke keluarga kita, sudah berulang kali dia melempar kotoran kewajah papa, membuat papa malu. Lihatlah, dia bahkan juga buang air kecil lagi di celana, menjijikan. Sekarang papa tahu yang menyebabkan dia buang air kecil di celana waktu pesta pernikahan kalian, pasti dia sangat takut tuan Aditama dan putrinya membongkar kebusukannya yang disimpan selama ini!


Kamu juga, mau-maunya kamu jadi selingkuhan pria kere ini! Papa sudah capek-capek mendidik kamu, menyekolahkan kamu tinggi-tinggi Anggia, tapi hanya pria model begini yang kamu dapat,'' teriak Kuncoro begitu emosi, dia kemudian melangkahkan kakinya kedalam meninggalkan Ibnu dan Anggia yang masih berada di teras di luar rumahnya, sang istri selalu setia mengikuti langkahnya.


''m-as nggak apa-apa! Bawa mas masuk'' sahut Ibnu berbicara serak dengan suara terputus-putus.


Lalu Anggia membantu Ibnu berdiri, memapah Ibnu masuk.


****


Mama Reni, Sari dan Hamka mereka berada didalam satu mobil. Berpisah dengan rombongan Ibnu. Dari tadi Hamka terus mengupat Sari, dia meluapkan kekesalannya kepada Sari. Hingga terjadi perdebatan kecil antara Sari dan Hamka di dalam kendaraan roda empat milik Hamka itu. Mama Reni merasa amat pusing mendengar anak dan menantunya yang bertengkar tak berkesudahan saling menyalahkan. ''bagaimana nasib Ibnu setelah ini, hancur semuanya.'' batin mama Reni kesal, sambil memikirkan bagaimana caranya agar harta milik orang tua Mayang jatuh ketangannya. Mimpi mama Reni terlalu tinggi.


''semua ini gara-gara kamu Sari, kamu dulu bersikap terlalu tega sama si Fitri itu!'' teriak Hamka menyalahkan sang istri. Mereka berdua duduk di depan sedangkan mama Reni sendirian di belakang.


''mas! Kamu kan juga mendukung aku dulu untuk tega sama dia, kamu jangan salahin aku dong, mas!'' balas Sari tak terima.


''terus sekarang bagaimana, Sari? Mas sudah tidak punya pekerjaan lagi, mau makan apa kita? Mau shopping pakai apa kamu Sari!'' teriak Hamka. Dengan tatapan fokus kedepan.

__ADS_1


''ya, mana aku tahu mas! Itu urusan mu, bukan urusan ku'' sahut Sari.


''sudah, lebih baik kalian diam! Bikin pusing saja. Mama punya ide bagus,'' ucap mama Sari menengahi.


''ide apa lagi sih, ma? Kemarin saja ide gila mama itu gagal'' ketus Sari.


''mama yakin sekali, ide kali ini tidak akan gagal lagi Sari!'' ungkap mama Sari tersenyum penuh arti membayangkan ide yang sudah ada di dalam kepala nya berhasil.


Ternyata mama Reni tidak ada kapoknya, dia tidak sadar dengan usinya yang hampir menginjak kepala enam.


****


Ke esokan harinya di kantor perusahaan Mayang.


''bagaimana pak Kuncoro? Apa anda menerima tawaran saya?'' ucap Mayang, ketika Kuncoro menemui nya secara langsung di kantor.


''baiklah, saya memang sudah sangat membenci pria itu. Sebenarnya saya memang telah mencopotnya dari jabatannya sebagai seorang ceo saya juga memecat dia dari perusahaan milik saya. Nanti saya akan mengusir Ibnu dari rumah saya, terserah Anggia mau ikut dengannya atau tetap tinggal di rumah milikku, aku tidak peduli'' jelas Kuncoro.


''Anggia sepertinya sudah tertular penyakit saya dulu pak Kuncoro, mungkin dia akan sadar ketika dia di sakiti'' ucap Mayang berbasa-basi, di ruangan itu hanya ada Mayang dan pak Kuncoro. Aksa lagi ada pekerjaan lain, sedangkan Aditama beristirahat di rumah bermain dan berkumpul bersama Raihan.


''mungkin si Ibnu itu punya ilmu pelet kali'' sahut Kuncoro, tersenyum.


''ah pak Kuncoro ada-ada saja'' balas Mayang, mereka sedikit tertawa setelah mensepakati kerja sama baru.


Iya, tadi Mayang menawarkan kepada pak Kuncoro untuk kembali bekerja sama lagi denga perusahaan miliknya dengan syarat Kuncoro harus mencopot jabatan Ibnu sebagai ceo dan tidak memperkerjakan lagi Ibnu di perusahaan itu. Setelah berpikir panjang tadi malam Mayang merasa kasihan sama pak Kuncoro, karena menurut laporan yang di terima nya Kuncoro adalah orang yang gigih dalam bekerja, Kuncoro juga dapat di percaya. Kuncoro tidak salah dalam hal itu, yang salah adalah Ibnu dan Anggia.


*****


''Ibnu ... Ibnu!'' panggil mama Reni memencet bel berulang kali, dia berkunjung kerumah orang tua Anggia setelah mendapat kabar kalau Ibnu di pukul tadi malam, membuat mama Sari merasa begitu khawatir. Ibnu mengabari mamanya memberi tahu semunya.


''apa sih, nggak sopan bangat'' jawab mamanya Anggia saat pintu terbuka.


''bu besan, mana putra saya? Kalian apakan dia!'' Tanya mama Reni sedikit marah.


''dia ada di dalam, Ibnu pantas mendapatkan itu bu'' balas mamanya Anggia.

__ADS_1


Kemudian tanpa permisi dan di izinkan terlebih dahulu mama Reni nyelonong begitu saja, dia melangkahkan kakinya kedalam rumah megah keluarga Kuncuro, mencari keberadaan Ibnu sambil berteriak-teriak.


''manusia model apa besan ku ini! Anggia di mana bisa ketemu sama orang aneh seperti Ibnu dan keluarganya'' gumam mamanya Anggia menggeleng-gelengkan kepala mengikuti langkah kaki mama Reni yang berjalan menaiki tangga.


__ADS_2