Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
SAYANG


__ADS_3

Pov Mayang


Setelah sarapan, aku bergegas ke atas ke kamarku mengganti pakaian, mengambil tas dan juga hal lain yang ku rasa perlu.


Aku akan ke rumah sakit untuk melihat jasad mantan suami ku. Aku begitu kaget sekaligus merasa ikut berduka mendengar kabar meninggalnya m'Mas Ibnu. Ajal begitu cepat menghampiri nya, memang, rahasia yang maha kuasa tidak ada yang tahu. Jodoh, Maut dan Rizki sudah di tetapkan oleh sang pencipta dari kita masih di dalam kandungan. Aku harap dosa-dosa Mas Ibnu semasa hidup akan di ampuni oleh Allah SWT.


Aksa tidak bisa menemani ku pergi ke rumah sakit karena Papa kandung nya sudah menghubungi nya berulang kali. Beliau sudah menunggu kedatangan Aksa dirumahnya.


Aku pergi ke rumah sakit sendiri mengemudi mobil ku. Aku merasa lebih nyaman sendiri, tanpa di temani oleh Sopir. Mama dan Papa tidak mau ikut serta melihat Mas Ibnu, mereka masih menyimpan rasa sakit dan benci terhadap apa yang telah Mas Ibnu perbuat kepada Aku dan Putraku dahulu.


******


Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh dengan di temani macet di beberapa ruas jalan Ibukota akhirnya aku sampai juga di tempat yang aku tuju.


Aku melangkah kakiku masuk ke rumah sakit, jilbab pasmina bewarna hitam dan gamis bewarna senada melengkapi penampilan ku hari ini. Aku melihat penampilan ku di kaca rumah sakit, aku merasa ada yang berbeda, aku terlihat lebih anggun dan dewasa.


Tiba-tiba saja aku teringat sama perkataan Aksa tadi saat aku menuruni tangga hendak berangkat ke rumah sakit, ''masya Allah ... Cantik sekali, calon bidadari surga.'' ucapnya terbata dengan mata berbinar, yang membuat wajahku bersemu seketika, Mama dan Papa tersenyum melihat tingkah konyol Aksa. Aku pun merasa heran, bisa-bisanya dia berkata seperti itu.


Setelah itu saat aku hendak bertanya kepada Aksa, Aksa pergi terburu-buru dengan wajah menunduk seperti malu.


Ada-ada saja tingkah pria tampan itu. Tampan? Ah ... Dasar aku. Saat di rumah sakit pun aku masih teringat sama Aksa, sebenarnya ada apa dengan aku ini.


Beberapa petugas terlihat berdiri tegap di depan pintu sebuah ruangan, aku menuju ruangan tersebut, begitu sampai, ''apakah ini ruangan Pak Ibnu, Pak?'' tanyaku sopan lagi ramah.


''iya, benar sekali. Anda Nyonya Mayang Aditama, 'kan?''


''iya, Pak''


''baiklah, silahkan masuk Nyonya, kami memang sedang menunggu kedatangan anda''


Aku mengangguk sopan, melewati tiga orang anggota Polisi yang berpenampilan seperti Bapak-bapak dengan perut sedikit buncit.


Begitu aku masuk ke ruangan itu, aku mencium aroma yang begitu menusuk indra, bauk tak sedap menyengat membuat aku mual. Aku menutup hidungku menggunakan jari.


''nyonya, silahkan kalau mau melihat jasad Pak Ibnu'' sapa seorang Suster, yang juga tengah memegang hidungnya.


''baik Sus,'' jawabku ramah dengan senyum di paksakan.


Aku menyingkap pelan kain putih yang menutupi seluruh anggota tubuh mas Ibnu, saat sudah terbuka aku bisa melihat dengan jelas wajah mas Ibnu yang begitu pucat dengan bibir balu dan pipi begitu tirus. Wajah itu ... Wajah yang selalu aku tatap dengan begitu hormat dan takut-takut saat aku berumah tangga dengannya selama lima tahun lamanya. Sekarang dia sudah terbaring tak berdaya tanpa nyawa. Terbujur kaku tak berdaya.


''ini kenapa bauk sekali, Sus?'' tanyaku pelan sedikit ragu.


''bauk ini berasal dari ini Nyonya'' ucap sang Suster seraya membuka kain putih yang menutupi bagian kaki mas Ibnu. Saat sudah terbuka Lalu terlihatlah dengan jelas oleh mata ku, kaki mas Ibnu membusuk berair dan bernanah. Kain putih yang tadi menutupi kaki mas Ibnu juga telah basah berubah warna menjadi warna kekuningan.


''tutup, Sus'' ujarku tak tahan lagi melihat nya. Aku begitu jijik melihat luka di kaki mas Ibnu yang dalam lagi besar.

__ADS_1


Sang suster lalu menutup nya kembali.


''suster, hari sudah semakin siang. Kenapa mayatnya masih belum di mandikan juga?'' tanyaku.


''kita lagi menunggu anggota keluarganya, Nyonya. Mama dan Adiknya yang berada di tahanan saat ini sedang di jemput oleh salah satu petugas dan juga anggota keluarganya yang lain juga sudah dalam perjalanan'' jelas sang Suster.


''oh ... Begitu''


''oh, ya Nyonya. Ini buku yang kami temukan di dekapan Pak Ibnu tadi pagi. Ambilah Nyonya Suster mengulur sebuah buku.


Aku mengambil buku tersebut, lalu memasukkan nya ke dalam tas. Nanti saja aku baca. Pikirku.


Tidak berapa lama setelah itu.


''Putra-ku ....'' teriak mantan mertua ku histeris yang baru datang, dia berlari menghampiri tubuh Mas Ibnu yang terbaring kaku di brankar. Mama Reni memakai pakaian bewarna oren.


''mas .... Nggak mungkin. Mas Ibnu masih hidup 'kan, Mas? Jangan berpura-pura. Bangunlah!'' racau Sari yang berada di samping Mama nya.


Dan di belakang mereka menyusul Anggia, Hamka dan Mas Deni. Mereka masuk dengan tangan berada di hidung mereka masing-masing.


Selanjutnya terjadi drama yang begitu memilukan. Mama Reni menangis menjerit menghadap jasad Mas Ibnu, begitu juga Sari. Mereka berdua tampak sangat berbeda. Penampilan mereka telah berubah total, aku merasa begitu miris melihat keadaan mereka saat ini. Setelah puas menangis dan meratapi jasad Mas Ibnu, mama Reni menghampiri aku yang berdiri di sudut ruangan di dekat jendela.


''Fitri .... Kamu disini juga ternyata, Nak! Fit, maafkan kami Fitri, cabut tuntutan mu. Kami tidak ingin nasib kami berakhir tragis seperti Ibnu'' kata Mama Reni berurai air mata, dia bersujud di kakiku dengan kedua tangan mengatup berada di depan dadanya.


Aku tidak bisa berkata apa-apa, semua mata tertuju ke arah kami. Aku berjalan pelan mundur menjauhi Mama Reni. Entah kenapa dadaku terasa begitu sesak.


Aku benar-benar merasa tidak enak karena menjadi pusat perhatian.


''aku sudah memaafkan kalian'' ucapku dengan tatapan lurus kedepan, aku berkata dengan tegas.


''terimakasih Mbak, kalau begitu cepat bebaskan kami'' kata Sari, terdengar sedikit memaksa.


''aku tidak bisa, semua biar berjalan semestinya, sesuai menurut hukum yang berlaku di negeri ini.'' balasku lembut. Aku bukan nya kejam dan tega. Tapi hukuman itu memang pantas mereka dapatkan atas apa yang telah mereka lakukan kepada Putra ku.


''Fitri! Kau memang tega! Apa kau tidak melihat Putraku sudah meninggal, meregang nyawa di penjara. kamu masih belum puas juga? Kamu juga ingin melihat aku dan Sari lagi yang mati membusuk di penjara. Puas! puas ... kamu!'' teriak Mama Reni yang sudah berdiri, dia menunjuk-nunjuk aku.


Anggia dan Hamka menatap prihatin dengan wajah datar. Sedangkan Mas Deni berusaha mencegah Mama Reni.


Pak polisi akhirnya bertindak, mereka memegang tubuh Mama Reni yang seperti hampir kesetanan menatap aku. Setelah itu aku berlari keluar dengan mata berkaca-kaca, entah mengapa air mataku begitu mudah lolos dari mata. Aku menangis sesenggukan, luka masa lalu yang hampir sembuh sekarang terasa sakit lagi. Bayang wajah Raihan yang mereka sekap masih membekas di ingatan.


Biar mereka saja yang mengurus jasad Mas Ibnu. Aku tidak punya urusan apa-apa lagi sama mereka.


Saat aku sedang barlari di lorong rumah sakit dengan kepala menunduk. Tiba-tiba.


Bug! Aku merasa tubuhku menabrak sesuatu.

__ADS_1


Aku mendongak ke atas, ''Aksa'' kagetku, aku menarik tubuhku yang sempat menempel beberapa saat di tubuh tinggi tegap Aksa. Wangi parfumnya menguar, membuat ku merasa sedikit lebih tenang.


''apa yang terjadi, Non? kenapa Non berlari, dan itu mata Non kenapa?'' tanya Aksa seperti khawatir, dia menatapku intens.


''ti, dak ada Aksa, aku cuma ingin cepat pulang saja. Karena aku akan ke perusahaan bersama Papa.


Dan ini ... Ah sudah, lupakan saja'' balasku beralasan, aku menghapus sisa air mataku dengan cepat.


''apa semuanya sudah selesai? Bagaimana dengan jasad Ibnu?''


''anggota keluarganya sudah berada di sana semua, biar mereka saja yang urus semua. Aku tidak punya urusan lagi. Tadi aku sudah memberi uang yang tidak sedikit kepada petugas, aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk membantu biaya pemakaman Mas Ibnu.


Kamu sendiri ngapain ke sini? Bukankah kamu harus masuk perusahaan Papa mu untuk yang pertama kalinya hari ini?'' kataku.


''tadi aku izin sebentar ke Papa aku, Non. Aku merasa khawatir sama Non''


''kamu nggak perlu repot-repot, Aksa. Dan berhentilah memanggil aku dengan sebutan Non. MAYANG aja ya''


''baiklah 'SAYANG' ...''


''apa?!'' tanyaku kaget dengan wajah bersemu.


''maaf, MAYANG maksudnya, tadi M nya kepleset menjadi S'' jawab Aksa santai. Dia tampak begitu cool hari ini.


''Iihh kamu Ada-ada saja'' balas ku, aku tersenyum mengembang. Aku mencubit kecil perut Aksa. Aku dan Aksa mengombrol sambil berjalan di lorong rumah sakit saling berdampingan dengan jarak cukup dekat. Lalu, aku merasa sebuah jari tangan menaut di jari telunjukku, tidak sampai disitu, sekarang bukan jari lagi yang aku rasa menaut, tetapi aku marasa tanganku telah berada di genggaman tangan Aksa. Entah kenapa aku hanya menurut saja di perlakukan seperti itu, Aku melihat ke arah Aksa, Aksa berjalan pelan seraya bersiul-siul kecil dengan tatapan lurus ke depan dengan tangan yang satunya di masukkan ke satu celana.


Sedangkan aku, aku merasa jantungku berdegub lebih cepat dari biasanya.


''Mayang, kamu aku saja yang antar, ya'' tawar Aksa saat kami sudah berada di parkiran.


''terus, mobil aku gimana?''


''nggak usah di pikirkan. Nanti mobil kamu biar Bodyguard yang bawa''


''baiklah,'' jawabku manut.


Setelah itu Aksa melepaskan genggaman tangan nya dari tangan ku dengan begitu pelan. Dia membuka pintu mobil untukku, aku masuk ke dalam mobil miliknya dengan perasaan yang amat bahagia. Aku merasa seperti baru pertama kali jatuh cinta.


Sikap lembut, perhatian dan ketampan Aksa telah berhasil menghipnotis aku. Tapi, apa Aksa memiliki perasaan yang sama terhadap aku? Bukankah katanya waktu itu dia sedang berjuang untuk wanita yang begitu spesial yang sudah lama di cintai nya.


*******


''kenapa diam saja dari tadi? Biasanya bawel banget'' celetuk Aksa, saat ini kami sedang berada di dalam mobil.


''pria itu sukanya wanita yang bagaimana menurut mu, Aksa?'' tanyaku tak nyambung dan tiba-tiba.

__ADS_1


''yang apa adanya saja, jadi diri sendiri''


Aku mengangguk mendengar ucapan Aksa, setelah itu antara aku dan dia tercipta kebisuan lagi, hanya suara hiruk pikuk kendaraan yang terdengar.


__ADS_2