
Tangis bayi terdengar menggema di dalam sebuah ruangan rumah sakit ternama di Ibukota, suara itu menggema memecah keheningan malam. Pukul satu dini hari, Mayang telah berhasil melahirkan tiga bayi kembar sekaligus. Ia melahirkan tiga bayi itu secara normal. Selama proses persalinan, Aksa selalu setia mendampingi sang istri, membelai pucuk kepala sang istri, mengecupnya dan membacakan doa serta ayat pendek agar sang istri di berikan kemudahan dalam melahirkan buah hati mereka.
''Kamu wanita yang hebat, Sayang.'' puji Aksa dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya, lalu air mata itu turun, jatuh ke kening Mayang. Berbagai macam rasa tengah ia rasakan sekarang, ia merasa sedih, takut, bahagia dan merasa begitu terharu melihat perjuangan Mayang dalam melahirkan buah hati mereka.
''Terimakasih, Sayang. Kamu telah menghadirkan bayi-bayi yang lucu ke dunia ini. Pengorbanan mu begitu besar.'' ucap Aksa lagi sambil menghapus keringat yang ada di kening sang istri. Mayang mengangguk mendengar perkataan sang suami. Setelah itu Aksa berjalan menghampiri bayi-bayi mungil mereka, ketiga bayi itu baru selesai di bersihkan. Aksa menatap lekat ke arah bayi yang ada di inkubator. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Dua orang berjenis kelamin laki-laki dan satu orang berjenis kelamin perempuan. Mengetahui itu, Aksa merasa begitu bersyukur. Baginya, cukup sekali ini saja sang istri melahirkan, karena ia merasa, mereka sudah memiliki bayi yang cukup dan lengkap. Harapannya kedepan, bayi-bayi nya yang mungil akan tumbuh dengan sehat, dan menjadi anak yang sholeh serta sholehah di masa depan.
Orangtua Mayang yang menunggu di luar ruangan sudah di perbolehkan masuk. Mereka masuk dengan sedikit tergesa-gesa, mereka sudah tidak sabar lagi ingin melihat cucu mereka. Cucu-cucu yang akan membuat ramai rumah megah mereka dan tentunya cucu-cucu yang akan merepotkan mereka setelah ini. Hanum senang di repotkan, begitu juga sang suami.
''Alhamdulillah, selamat Sayang. Kamu anak Mama yang hebat, Mama bangga padamu.'' kini Hanum lagi yang memuji Mayang. Mengucap selamat kepada sang putri semata wayang. Ia mengecup pipi Mayang berulang-ulang.
''Terimakasih, Ma.'' balas Mayang seraya tersenyum simpul.
''Beristirahatlah Sayang. Mama tahu rasanya melahirkan, rasanya sungguh sakit. Mama yang melahirkan satu bayi saja merasa begitu besar perjuangan nya dulu, apalagi kamu yang melahirkan tiga bayi sekaligus secara normal. Kamu memang anak yang kuat.'' ucap Hanum lagi.
''Ah, Mama terlalu berlebihan dalam memujiku.'' balas Mayang.
''Itu karena Mama merasa begitu bangga terhadap mu.''
__ADS_1
''Aku tahu, Mama memang selalu bangga terhadap aku. Hehehe ....'' ucap Mayang terkekeh. Baru saja habis bongkar mesin bisa-bisa nya Mayang terkekeh, kekehan yang membuat ia merasakan rasa sakit yang teramat pada perutnya.
''Aw ...'' rintih Mayang.
''Makanya kamu jangan banyak gerak, banyak omong dan jangan ketawa dulu.'' pesan sang Mama. Setelah itu Mayang hanya mengangguk memberi jawaban.
Setelah itu Hanum berjalan menghampiri Aksa yang berada di dekat inkubator, Aditama juga tengah berdiri di sana melihat cucu mereka.
''Mama ambil dulu, ya, biar cucu-cucu Mama ini merasakan hangatnya dekapan Mamanya sebentar.'' ucap Hanum. Lalu ia menggendong bayi perempuan terlebih dahulu. Hanum meletakkan bayi itu di atas perut Mayang. Mayang merasa bahagia menerima nya, lalu setelah nya bayi mungil itu mulai mencari put*ng susu sang Mama, bayi itu akan belajar menyusui untuk yang pertama kalinya. Setelah bayi perempuan itu sudah merasa puas menyusu, lalu Mama Hanum mengambil bayi laki-laki lagi. Hingga ketiga bayi itu terlelap di inkubator dengan perut yang telah berisi asi sang Mama.
Selesai mengurus cucu-cucunya, Hanum dan Aditama pamit pulang, besok, pagi-pagi sekali mereka akan datang lagi dengan membawa Babysitter agar Mayang tidak merasa kerepotan, Mama Hanum juga akan membawa beberapa barang Mayang yang Mayang butuhkan.
Keesokan paginya, di kediaman Bagaskara. Bagaskara dan Bu Aida tengah bersiap-siap, mereka akan mengunjungi rumah sakit untuk melihat cucu mereka. Mereka juga merasa sangat bahagia mendengar kabar baik sekaligus kabar mengejutkan itu. Mereka tidak menyangka Mayang akan melahirkan tiga bayi sekaligus.
Setelah itu mereka sarapan sebentar dan selesai sarapan mereka langsung meluncur menuju rumah sakit.
Tidak lama setelah itu mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran rumah sakit. Tadi, Bagaskara dan Bu Aida duduk di kursi belakang, di kursi depan seorang supir yang bekerja dengan mereka yang menyetir.
__ADS_1
Mereka berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, setelah melewati lorong-lorong rumah sakit, akhirnya mereka menemukan kamar Mayang. Mereka masuk ke dalam kamar itu, begitu Aksa melihat Papa nya dan Bu Aida yang datang, Aksa menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.
Tidak lama setelah kedatangan Bagaskara dan Bu Aida, kali ini Gendis dan Gavin yang datang. Mereka membawa sebuah bingkisan untuk ketiga bayi kembar Aksa dan Mayang. Gavin telah sembuh, setelah melewati masa pemulihan selama hampir sebulan lamanya, akhirnya kini ia sudah bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala. Ia dan Gendis juga sudah bertunangan, sepasang cincin couple tersemat di jari manis mereka. Beberapa minggu lagi mereka akan segera menikah.
Setelah kedatangan Gendis dan Gavin, kali ini kedua orang tua Mayang yang datang dengan membawa Babysitter dan beberapa kebutuhan Mayang.
Dan setelah itu, terdengar suara pintu di ketuk dari luar lagi, dengan cepat Aksa berseru meminta orang yang mengetuk pintu agar segera masuk.
''Gentala, Rumainah, akhirnya kalian datang juga.'' ucap Aksa.
''Pasti datang lah, kami 'kan ingin melihat keponakan kami yang lucu-lucu ini. Wah, kalian hebat sekali, langsung tiga sekaligus, bolehlah kasih tahu resepnya.''
''Oke, nanti kita bisik-bisik resepnya.'' balas Aksa lagi. Lalu tawa mereka yang ada di ruangan itu pecah. Ruangan itu sudah ramai, semua telah berkumpul di sana. Dan semua telah bahagia dengan pasangan dan kehidupan mereka masing-masing.
Gentala dan Rumainah juga telah menikah sebulan yang lalu. Waktu itu Rumainah dengan setia menemani Gentala kembali ke rumahnya, meskipun ada beberapa rintangan selama dalam perjalanan pulang, Rumainah dan Gentala bisa mengatasi rintangan tersebut bersama-sama. Begitu Gentala dan Rumainah tiba di rumah yang paling bagus di desa itu, Gentala cepat-cepat menghampiri Mama nya. Tapi saat ia masuk ke dalam rumah, ia melihat rumah begitu berantakan. Dia juga tidak menemukan orang kepercayaannya, orang yang di tugaskan olehnya untuk menjaga sang Mama selama ia pergi. Gentala masuk ke dalam kamar sang Mama dengan cepat, begitu ia sudah sampai di kamar sang Mama, begitu kagetlah dirinya saat ia melihat sang Mama telah tak bergerak lagi. Detak jantung nya telah berhenti, nadinya pun tak berdenyut lagi. Setelah itu Gentala dengan di bantu oleh Rumainah membersihkan rumah, setelah rumah itu bersih, mereka memanggil para tetangga untuk mengurus, memandikan, men sholatkan lalu mengubur jasad sang Mama, jasad sang Mama yang meninggal dalam kondisi begitu mengenaskan. Kurus tinggal tulang dengan perut membuncit.
Setelah kematian sang Mama, Gentala dan Rumainah yang sudah memiliki hubungan cukup dekat dan memiliki rasa sama suka akhirnya melangsungkan pernikahan dengan sederhana. Lalu setelah beberapa hari menikah, Gentala membawa Rumainah ke kota untuk bertemu Pamannya. Bagaskara pun menyambut kedatangan Gentala dengan senang hati. Gentala juga mengatakan kalau Mama nya telah meninggal, mendengar itu Bagaskara merasa sangat sedih.
__ADS_1
Selesai.