Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kepergian Raihan meninggalkan duka mendalam


__ADS_3

Begitu dokter yang bernama dokter Indra yang berusia 48 tahun itu masuk ke ruang rawat Raihan, Mayang dan Gentala di minta untuk keluar terlebih dahulu. Karena dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi Raihan.


Mayang dan Gentala pun keluar dari ruangan itu dengan berat hati, Mayang melangkahkan kaki gontai.


Setibanya diluar ruangan, Mayang mondar mandir berjalan dengan gelisah di depan ruangan sang putra, dia menyempatkan waktu sebentar untuk menelepon sang papa. Memberi tahu tentang keadaan Raihan.


Tidak menunggu lama, begitu panggilan nya terhubung. Aditama langsung mengangkat panggilan dari sang putri.


Mayang berbicara dengan dada terasa begitu sesak, ''papa, ke rumah sakit sekarang ya, pa'' pinta Mayang, dengan suara serak.


''putra ku sedang tidak baik-baik saja, pa,'' kata Mayang lirih.


Usai mengatakan itu dan mengucap salam, panggilan pun Mayang akhiri. Lalu setelah itu tangisan nya pecah, Mayang terisak.


''Mayang sudah, tidak apa-apa. Ayo duduk dulu, Raihan anak yang kuat'' kata Gentala, menenangkan Mayang, dia ikut sedih melihat tangisan Mayang. Dia lalu merangkul Mayang ke dalam dekapannya. Mayang hanya bisa menurut saat Gentala membawa tubuh letihnya kedalam dekapan Gentala, karena saat ini memang itu yang dia butuhkan, dia butuh orang-orang yang mau menguatkannya.


''Gentala, tidak Gentala! Katakan kalau ini semua hanya mimpi belaka Gentala. yang kita lihat di dalam tadi hanya mimpi 'kan, Gentala?'' jerit Mayang, sambil memukul-mukul dada bidang Gentala, Gentala membiarkan Mayang melakukan apa saja yang dia mau untuk melampiaskan rasa dan mengeluarkan kata yang terperangkap di hati Mayang. Berharap agar Mayang sedikit lebih tenang setelah itu.


''Aku tidak akan pernah memaafkan Ibnu kalau sampai terjadi apa-apa sama Raihan, akan aku buat mereka menyesal seumur hidup. Dia sudah banyak sekali menghancurkan hidup ku dan putraku. Dia penjahat, Reni dan Sari penjahat!'' racau Mayang di sela-sela isakan nya.


Aditama, mama Hanum dan Aksa berjalan dengan langkah kaki lebar di pelantaran rumah sakit setelah tadi Aksa membawa kendaraan roda empat itu dengan kecepatan tinggi. Mereka tergopoh-gopoh ingin secepatnya sampai ke ruang Raihan.

__ADS_1


Begitu sudah dekat, dari jarak sekitar 5 meter mereka melihat Mayang dan Gentala yang berdiri di depan kamar rawat Raihan dengan Mayang berada di pelukan Gentala. Mama Hanum dan Aditama merasa sedikit lega karena ternyata Mayang tidak sendirian, mereka tadi sempat mengira Mayang hanya sendirian di rumah sakit, karena mereka belum sempat mengirim pelayanan yang ada di rumah, karena saat mereka memberi perintah kepada pelayan untuk menyusul Mayang, Mayang menelpon terlebih dahulu memberi kabar yang tidak mengenakan.


Aksa melihat pemandangan di depan matanya dengan amarah, tangannya mengepal erat. ''ternyata aku terlambat lagi, kurang ajar sekali dia, berani-beraninya dia memeluk Mayang, mengambil kesempatan di saat Mayang rapuh. Aku saja tidak berani melakukan itu, menyentuh Mayang. Ah sudah lah, aku tidak boleh egois, Raihan ku sekarang tidak sedang baik-baik saja'' batin Aksa, terhenti sesaat dari langkahnya. Lalu begitu dia tersadar dia menyusul Aditama dan mama Hanum dengan cepat, yang ternyata sudah jauh meninggalkan nya.


*******


Diruangan yang serba putih itu, dokter berulang kali mencoba memberi alat bantu perangsang penguat jantung ke pada Raihan.


Tapi, tetap saja Raihan tidak merespon, semua anggota tubuhnya tidak ada lagi yang merespon, kehidupan sudah tidak terlihat lagi di tubuh mungil itu. Alat pendeteksi detak jantung itu terlihat jelas tinggal garis-garis lurus horizontal.


''sudah tidak ada lagi. Lepaskan semua alat yang menempel di tubuh nya'' kata dokter dengan suara serak, bulir air mata jatuh setetes membasahi pipi sang dokter, begitu juga para suster yang berjumlah dua orang yang berada di ruangan itu.


''baik dokter'' jawab sang suster.


Raihan terbaring kaku dengan bibir sedikit tertarik kedalam. Dia sudah bahagia, bukti nyata dia melihat kehidupan nyata di sana, melihat teman-teman seusianya yang berlarian di tempat indah yang kekal abadi, yang kalau di bandingkan di dunia tidak ada bandingannya, padang salju yang luas yang berada di tanah korea pun akan kalah sama ke indahan abadi di surga.


*****


Dokter keluar dengan langkah kaki gontai, tak bersemangat. Selalu saja begitu, selama kurang lebih 20 tahun dia menjadi dokter, menangani barbagai macam pasien. Dia selalu saja rapuh saat pasien yang di tanganinya tidak dapat di selamatkan, apalagi setelah dia memberi kabar buruk kepada anggota keluarga pasien, dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jerit tangis takkan pernah dapat terelakan, jerit tangis akan menggema di rumah sakit yang megah.


***

__ADS_1


Dokter membuka pintu, memaksa senyum lalu berkata kepada Mayang, Aditama, mama Hanum, Aksa dan Gentala yang sudah berkumpul di depan pintu dengan dada berdebar.


"Maaf, anak tampan, putra mahkota kalian tidak dapat kami selamatkan tuan Aditama dan non Mayang, Allah lebih sayang sama dia.'' kata dokter pelan, namun begitu menusuk bagi mereka yang bersiap mendengar kan.


Dunia Mayang seakan runtuh seketika, kedua kakinya terasa lemah tak bertenaga, ''apa, putra ku?!'' Kata Mayang, tubuhnya hendak luruh ke lantai, secepat mungkin Aditama menopang.


''tidak, ini tidak mungkin. Raihan ku tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri di dunia ini'' teriak Mayang histeris.


''Mayang, kamu kuat Mayang.'' kata Gentala.


Mayang berlari menuju jasad sang putra yang terbaring di brankar dengan tak sabaran.


Begitu juga mama Hanum, Aditama, Aksa serta Gentala. Mereka semua di landa rasa sedih yang amat sangat serta rasa kehilangan yang luar biasa.


''sayang, ayo bangun nak! Kamu jangan becanda gini sayang'' racau Mayang, memeluk tubuh mungil Raihan, mengelus pipi mulus yang terasa dingin, menatap mata yang tak terbuka lagi, mengecup bibir yang tak bersuara lagi. Berharap Raihan akan kembali hidup, bercoteh ria seperti biasanya.


Aksa pun merasa tidak percaya menerima kepergian Raihan yang terlalu cepat. Dia berlalu dari ruangan itu, berlari sepanjang lorong rumah sakit, lalu dia masuk ke toilet yang ada di ujung rumah sakit, setelah itu dia melampiaskan semua rasa sesak yang bersarang di dada nya.


''bodoh, dasar bodoh. Karena aku, semuanya karena aku! Andaikan waktu itu aku selalu memperhatikan Raihan, memantaunya, selalu berada di dekat nya, ini semua tidak akan terjadi. Aaaaaa ......'' teriak Aksa di toilet rumah sakit, memukul-mukul dirinya sendiri, memecahkan cermin yang berada di toilet, dia merasakan penyesalan yang luar biasa, menyalahkan dirinya atas kepergian Raihan, dia menangis dalam diam.


''Aksa, keluar lah nak. Kamu jangan begitu, ada seseorang yang lebih sakit dan terluka dari kita, ayo kita kuatkan Mayang! Kamu ingat, Raihan selalu menyebut kamu sebagai papa nya, saya harap kamu mau berjuang memberi kebahagiaan untuk Mayang, karena saya tahu setelah ini Mayang pasti akan menjadi wanita yang rapuh, dia akan terjatuh dalam duka yang dalam, dia akan terpuruk, dan mungkin juga dia tidak akan mau lagi hidup di dunia setelah ini. Jadi, bantu kami, hanya kamu yang saya harapkan'' kata Aditama bersuara di depan pintu yang tertutup rapat. Aditama berusaha kuat, meskipun dia terluka, baru saja dia dan Istrinya bertemu dengan cucu semata wayangnya sekarang mereka harus kehilangan Raihan, cucu yang sudah lama mereka nanti-nanti kan kepulangan nya.

__ADS_1


Ternyata tadi Aditama mengikuti langkah Aksa dari belakang, karena dia juga tahu Aksa pasti juga sangat terluka, dia bisa melihat dari raut wajah Aksa yang sempat memerah dan berusaha menahan tangis.


Sedangkan Gentala dan mama Hanum masih setia menemani Mayang, berada di samping Mayang.


__ADS_2