
Ibnu duduk lemah di atas kursi roda dengan tatapan kosong, pikirannya kacau, entah kenapa semenjak di penjara dia selalu teringat sama Raihan dan Mayang, wajah kedua orang yang pernah di sia-sia kannya itu selalu terbayang-bayang di ingatan dan di pelupuk mata nya.
rambut Ibnu acak-acakan, kursi rodanya di dorong oleh petugas, sedangkan mama dan adiknya Sari sudah berjalan ke depan terlebih dahulu.
***
Begitu Reni dan Sari melihat siapa yang datang menjengguk mereka, mereka berjalan cepat menghampiri Anggia dan Hamka, Anggia dan Hamka ternganga prihatin melihat kondisi ibu dan anak yang penampilan nya sungguh telah berubah 70 derajat dari penampilan mereka biasanya. Wajah Sari dan Reni yang sebelumnya glowing karena rutin di rawat dengan memakai skincare mahal kini telah sedikit berubah, wajah mereka sekarang terlihat hitam dan kusam dengan kantung mata terlihat jelas, serta pakaian mereka tampak begitu kumuh, biasanya mereka selalu memakai pakaian bagus dan baru kini mereka terlihat sangat menyedihkan. Apalagi aroma tubuh Reni dan Sari yang menguar begitu mengganggu penciuman mereka, baunya sungguh tidak enak.
''Hamka, Anggia, cepatan kalian bebaskan kami'' ketus Reni, duduk dengan asal di atas kursi berhadapan dengan Anggia dan Hamka, dengan di batasi oleh sebuah meja.
''mas ... Kamu kenapa baru jengguk aku sekarang? Aku kangen mas, mas cepat kamu cari pengacara ternama untuk membebaskan aku dan mama, mas. Aku nggak betah di sini, aku bisa mati kalau semakin lama berada disini, mas'' lirih Sari, dia menggenggam tangan Hamka yang berada di atas meja dengan erat, rasanya Hamka ingin menarik tangan nya dari genggaman Sari, dia merasa jijik di sentuh oleh Sari.
''kalian kenapa diam saja? benar kata Sari Hamka, kamu itu jadi suami harus nya selalu siap kapan saja, harus bisa di andalkan, dan kamu juga Anggia, bantu Ibnu bebas dari tempat ini, jangan mau enaknya saja'' cerosos Reni jutek, yang membuat Anggia dan Hamka sedikit tersulut emosi.
Hamka dan Anggia menarik nafas dalam, mereka ingin membalas perkataan menyakitkan sang mertua, tapi percuma, ''mama Reni ternyata masih sama, masih belum berubah juga'' batin Anggia tersenyum getir.
Tidak lama setelah itu Ibnu datang, Anggia dan Hamka makin melebar kan mata mereka saat mereka melihat penampilan Ibnu yang lebih-lebih berantakan dan menyedihkan dibandingkan Sari dan mama nya, apalagi kedua kaki Ibnu di bagian betis yang di perban semakin menambah rasa prihatin mereka. Begitu juga Reni dan Sari mereka juga merasa begitu kaget melihat penampilan Ibnu, kerena selama mereka dipenjara mereka tidak pernah bertemu karena mereka berada di ruangan yang berbeda.
''mas ...'' lirih Sari.
''Ibnu, ka-mu ... Kamu kurus sekali nak!'' Reni memandang prihatin, dia mengelus paha Ibnu yang di tutupi celana, menatap lekat wajah sang putra dengan mata berkaca-kaca. Ibnu tidak menghiraukan mama dan adiknya, dia menatap ke arah Anggia, wanita yang masih sah menjadi istrinya.
''Anggia'' ucap Ibnu, tatapan nya tertuju ke arah Anggia, lalu dia berkata, ''sayang, kamu ke sini bawa makanan apa untuk mas? Mas lapar, makanan di sini tidak enak dan porsinya begitu sedkit.
Kamu kesini mau membebaskan mas, kan?'' lirih Ibnu berharap, dia berbicara dengan tatapan sayu.
''a--aku tidak membawa makanan apa-apa mas.'' jawab Anggia sedikit gagap.
''dasar istri tidak berguna! Sudah tau suami mu sekarang lagi berada di titik terendah, seharusnya sebelum kamu ke sini kamu membawa bekal. Makanan, pakaian ganti dan perlengkapan Ibnu yang lainnya'' celetuk Reni ketus, menatap tidak suka ke arah Anggia.
''diam ma, mama ternyata masih belum berubah dan kapok juga. Seharusnya mama itu menyesal, menunduk malu atas kejahatan yang mama dan anak-anak mama lakukan. Kalian bisa berada di sini juga karena ide gila mama!'' balas Anggia.
''malu? Heh menantu kurang ajar, untuk apa aku malu, hah? Aku melakukan semua itu karena ingin melihat anak-anakku bahagia'' jawab Reni tak terima, hingga terjadi perdebatan kecil antara Reni dan Anggia
''iya, tapi cara mama itu salah! Nenek mana yang tega memberi ide gila untuk menculik cucu nya sendiri hingga cucu nya te ....'' belum selesai Anggia berbicara, petugas tiba-tiba menyapa.
''diam! Harap tenang dan bisa menjaga intonasi suaranya, yang lain mau beristirahat'' sapa petugas, karena terganggu sama suara Reni dan Anggia yang cukup keras saling bersahutan.
''maaf pak'' balas Anggia sungkan, sedangkan mama Reni hanya memasang wajah ketus.
''mas, bagaimana kabar anak kita, Meisya?'' tanya Sari.
''alhamdulillah Meisya baik dan sehat,'' jawab Hamka apa adanya.
''syukurlah, mas. Aku kangen sekali sama putri ku''
''Anggia, apa kalian tahu gi mana kabar Raihan sekarang?'' timpal Ibnu, bertanya.
Anggia tidak langsung menjawab, pandangannya tertuju ke arah Hamka, begitu juga Hamka, hingga tatapan mereka saling beradu pandang, Hamka mengangguk memberi kode kepada Anggia.
__ADS_1
''heh, Anggia, kamu jangan genit ya, ngapain kamu melihat suamiku seperti itu?!'' ketus Sari curiga. Sadar ketika Hamka dan Anggia saling memandang.
''sudah diam Sari!'' tegur Hamka,
''Sari sebenarnya mas dan Anggia ke sini ingin ....''
''ingin apa, mas?''
''Sari ...'' Hamka berkata mantap, menarik nafas dalam, lalu, ''maaf Sari, mulai saat ini aku jatuhkan talak 3 untuk kamu, mulai malam ini kita bukan lagi suami istri Sari'' tegas Hamka, tanpa berbasa-basi lagi.
''a--pa! Mas, kamu apa-apaan sih, mas? Kamu pasti becanda kan, mas? Raung Sari dengan mata berkaca-kaca. Dada Reni naik turun dia tidak terima putrinya di perlakukan seperti itu.
''dasar laki-laki brengsek! Beraninya kamu!'' ucap Reni tak terima, dia berdiri hendak memukul Hamka, tapi Hamka dengan sigap menangkis tangan nya.
''harap tenang! Waktu besuk tinggal 5 menit lagi.'' kata pak polisi yang menjaga mereka.
''mas ... Aku juga mas, aku ingin kamu menjatuhkan talak kepada ku sekarang juga'' sambung Anggia, yang semakin membuat Reni murka.
Ibnu menggeleng lalu berkata, ''tidak ... Aku tidak akan pernah menceraikan kamu Anggia, kenapa kalian memperlakukan kamu seperti ini? Seharusnya kalian berdua berjuang untuk mengeluarkan kami dari sini'' lirih Ibnu, dengan mata berkaca-kaca.
''terserah kamu mas, kalau kamu tidak mau menjatuhkan talak kepadaku sekarang, aku akan mengajukannya kepengadilan agama,
dan sebelum kalian bertindak waktu itu kan aku sudah berulang kali melarang, mencegah agar kalian tudak menculik Raihan, jadi sekarang terima saja konsekuensi ny" ucap Anggia.
''iya, betul sekali'' tambah Hamka.
''dasar kalian menantu tidak tahu diri, sana pergi!'' teriak mama Reni, sedangkan kedua anaknya merasa begitu hancur. Ibnu menangis dalam diam sedangkan Sari menangis terisak.
''iya'' jawab Ibnu serak.
''kamu tahu Raihan sekarang ada di mana?''
''mana kami tahu!'' ketus Reni.
''Raihan sekarang sudah tidak ada lagi mas, putra mu sudah meninggal karena ulah kalian! Kalian bersiap-siap saja karena Fitri tidak akan tinggal diam, aku pastikan kalian bertiga akan membusuk di penjara'' lantang Anggia berucap, membuat Ibnu tak percaya. Ibnu berusaha tidak mempercayai perkataan Anggia.
''tidak mungkin Anggia, kamu pasti berbohongkan. Putra ku tidak mungkin meninggalkan'' sesak, Ibnu berbicara dengan dada sesak, di sertai penyesalan mendalam.
''terserah, mau percaya atau tidak. ayo Hamka kita pulang.'' kata Anggia, lalu mereka berdiri, melangkahkan kaki meninggal tiga orang yang berbeda usia yang tampal syok dan begitu menyedihkan.
''mas ...! '' teriak Sari, menjerit menangis, Reni berusaha menenangkan nya.
''tidak mungkin, putra ku tidak mungkin meninggal ....'' gumam Ibnu, memegang kepalanya dengan kedua tangan dia menunduk menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah kepergian Anggia dan Hamka, kini giliran Deni anak tertua Reni yang masuk untuk menjenguk mama dan adik-adiknya.
**********
Di ruang keluarga di rumah Aditama, nampak sudah sepi, hanya ada mama Hanum, Aditama, dan Aksa. Sedangkan Mayang begitu pulang dari pemakaman tadi dia langsung naik masuk ke kamarnya, mengurungkan diri di sana.
__ADS_1
''om, tante, aku pamit pulang dulu'' kata Gentala, seharian hingga waktu malam tiba dia masih betah berada di rumah Mayang.
''iya, terimakasih nak Gentala karena kamu selalu ada saat Raihan butuh pertolongan dan hingga saat ini'' jawab mama Hanum, memandang Gentala dengan rasa kagum.
''sama-sama tante, kalau begitu aku pulang dulu.''
''iya, hati-hati'' balas Aditama tersenyum tipis.
''baiklah om,'' usai berkata seperti itu Gentala pergi dari hadapan mama Hanum, Aditama dan Aksa. Tidak lama setelah kepergian Gentala, Aksa lagi yang bersuara.
"Kalau begitu aku juga pamit, tuan, nyonya.''
''kamu mau ke mana, Aksa?''
''aku mau keluar sebentar, mau mencari udara segar''
''baiklah, segera kembali ya kalau kamu sudah selesai sama urusan mu''
''iya tuan''
Setelah itu Aksa melangkahkan kaki keluar dari rumah megah itu, saat sudah berada di luar dia memasuki mobil miliknya. Sebelum berangkat dia menatap ke arah jendela kamar Mayang yang cahayanya tampak redup. ''aku tidak tahu sedang apa Mayang saat ini, aku harap Mayang tidak berlarut-larut dalam kesedihannya, semoga Mayang baik-baik saja'' batin Aksa.
Lalu dia berinisiatif untuk mengirim pesan kepada Mayang.
''sudah tidur, non? Kalau belum, non mau ikut aku tidak? Aku ingin pergi ke suatu tempat.''
Send. Pesan terkirim, centang dua muncul di sampingnya, tapi cetang itu tak kunjung berubah biru.
Setelah menunggu beberapa saat, Aksa merasa pesannya tidak akan di balas oleh Mayang, lalu dia memutuskan pergi sendiri ke tampat yang menjadi tujuannya saat dia merasa terpukul dan sedih.
*****
Diruang kerja, di rumah yang sama megahnya dengan rumah milik Aditama.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan titik terang tentang keberadaan putra saya yang hilang sekitar 30 tahun yang lalu?'' ucap pria paruh baya serak di sertai batuk.
''sudah tuan, kami sudah menemukan titik terangnya. Tapi, kami masih perlu melakukan penyelidikan khusus, palingan sekitar 2 hari lagi''
''baiklah, aku tunggu kabar baik dari kalian. Aku sudah semakin tua, aku butuh putra kandung ku, hanya dia yang berhak mendapatkan semua harta kekayaan ku''
''iya tuan, kami akan bekerja dengan baik'' sahut sang detektif yang berjumlah 2 orang.
Sementara di balik pintu, wanita dengan dandanan menor mendengar dengan perasaan geram dan was-was.
''hanya putra ku dan aku lah yang pantas mendapatkan semua harta kekayaan mas Bagas, aku sudah lama berjuang untuk mendapatkan semua ini, aku tidak mau semua yang telah aku lakukan selama ini menjadi sia-sia'' gumam wanita itu, setelah itu dari luar dia mendengar bunyi klakson mobil di bunyikan beberapa kali.
''Gentala sudah pulang sepertinya'' katanya, berjalan keluar untuk menyambut sang putra yang begitu di cintai dan di sayangi nya.
****
__ADS_1
Kalian tim Aksa atau Gentala?
Ikuti terus, karena cerbung ini akan menjadi cerbung yang panjang, seru dan tentunya tidak membosankan. Pastinya di akhir cerita Mayang sudah bahagia bersama cinta sejatinya.