
''Aaaaaaa ......'' suara jeritan terdengar begitu nyaring, suara itu berasal dari kamar Mayang. Yang begitu mengagetkan seisi rumah. Aditama dan Mama Hanum yang baru saja hendak tidur tiba-tiba membuka mata, bangkit dan berjalan cepat menuju kamar sang putri. Begitu juga para Pelayan.
***
Aksa bersama para Bodyguard telah sampai di panti. Dengan terburu-buru Aksa memajukan langkahnya. Ia berjalan menuju kamar Bu Aida. Saat melewati kamar Gendis, Aksa memeriksa sebentar, dan di dalam kamar Gendis terlihat kosong. Jendela kamar Gendis tertutup rapat. Mungkin Bu Aida sudah menguncinya. Pikir Aksa.
Area Panti terlihat sepi, rumah tempat penginapan anak panti dan tempat penginapan Bu Aida dan Gendis memang berbeda/ terpisah. Bu Aida dan Gendis tidur di rumah yang lebih besar dan bagus di bandingkan tempat anak Panti yang ada di sebelahnya.
''Bu, Ibu ...'' teriak Aksa mengetuk pintu kamar Bu Aida tak sabaran. Beberapa kali Aksa memanggil Bu Aida tapi tak ada jawaban. Kemudian Aksa berjalan kerumah yang sebelah. Saat sudah sampai Aksa bertanya sama penjaga Panti yang lain.
"Hana, apa kau lihat Ibu?'' tanya Aksa, Hana sedang menceritakan dongeng sebelum tidur kepada anak-anak.
''Ibu? Bukankah Ibu ada di kamarnya Aksa? Maaf aku tidak tahu soalnya aku dari tadi disini jaga anak-anak.'' jawab Hana seraya berjalan ke arah Aksa yang berdiri di dekat pintu kamar anak-anak.
''Bukankah tadi Gendis mengamuk dan kabur? Apa kau tidak mengetahui juga tentang itu?'' tanya Aksa lagi menyelidiki.
''Gendis kabur? Ah ... Aku benar-benar tidak tahu apa-apa Aksa. Soalnya tadi Ibu meminta agar aku tetap di sini menjaga anak-anak.'' lagi-lagi jawaban Hana membuat Aksa tidak puas. Hana pun merasa heran sama perkataan Aksa. Karena memang setahu nya baru-baru ini tidak terjadi keributan apa-apa di panti.
''Tuan ... Tuan ....'' tiba-tiba terdengar suara Bodyguard memanggil Aksa, Bodyguard itu berjalan cepat menghampiri Aksa. Kebetulan para Bodyguard tadi memang di perintahkan oleh Aksa untuk berkeliling mengitari area panti. Guna mencari keberadaan Gendis yang kata Bu Aida tadi telah kabur.
''Iya, ada apa?'' tanya Aksa.
__ADS_1
''Tuan, saya mendengar di area belakang, diruangan yang bertuliskan gudang ada suara seseorang dan bunyi yang sedikit mencurigakan.'' lapor Bodyguard itu, setelah itu Aksa pun berjalan cepat menuju tempat itu.
*
''Jauh juga ternyata.'' seru Aksa. Saat ia tengah berjalan kebelakang. Memang jarak gudang dan panti lumayan jauh, gudang terletak di area semak belukar.
''Iya Tuan. Saya tadi berjalan kesini karena melihat lampu di dalam ruang gudang menyala.'' ungkap Bodyguard yang berjalan di samping Aksa.
Saat sudah sampai di depan pintu gudang, pintu nampak di gembok, ukuran gemboknya lumayan besar.
''Bagaimana ini? kita tidak bisa membuka nya.'' ujar Aksa sambil memegang gembok.
''Tenang Tuan, biar kami yang dobrak pintunya.'' jawab salah satu Bodyguard memberi usul. Aksa mengangguk setuju.
Aksa dengan cepat masuk memeriksa apa yang ada di dalam gudang, saat ia sudah berada di dalam ia tidak melihat apa-apa. Lalu setelah itu terdengar suara, ''umm ... Ummm ...'' di balik lemari kayu jadul. Aksa pun berjalan kesana. Mata Aksa melotot melihat pemandangan di depan mata.
''Gendis?!'' seru Aksa. Aksa melihat Gendis duduk dilantai dengan kedua tangan dan kaki terikat. Mulutnya pun dibalut perban bewarna hitam. Tapi sekarang penampilan Gendis sudah kembali ke semula. Ia sudah memakai gamis dan jilbab lagi.
''Cepat buka mulutnya.'' Aksa memberi perintah. Bodyguard membuka perban yang menutupi mulut Gendis dengan cepat, setelah itu Aksa mulai melontarkan tanya.
''Gendis, siapa yang menyekap kamu di sini? Setahu aku kamu tadi kaburkan dari kamar mu 'kan?'' tanya Aksa tegas. Mimik wajahnya begitu serius.
__ADS_1
''Hiks, hiks, hiks ...'' Gendis terisak dengan kepala di gelengkan. Air mata jatuh membasahi pipinya. Aksa yang melihat merasa heran.
''Kamu kenapa? Cepat katakan yang sesungguhnya? Kamu jangan membuat masalah lagi Gendis, kasihan Ibu dan yang lain.'' seru Aksa.
''A-aku tidak kabur Aksa. Hiks ... A-ku diikat oleh Ibu disini.'' ucap Gendis terbata. Aksa semakin penasaran mendengar pengakuan Gendis. Aksa merasa dirinya tengah dipermainkan.
''Apa maksud mu?'' Aksa membentak.
''Aksa, baiklah aku akan jujur. Aku akan mengatakan semua kebenaran, sebelum terlambat. Aksa sebenarnya semua ini perbuatan Ibu. Aku tidak sejahat dan segila itu untuk menghancurkan rumah tangga mu.'' Aksa mendengar begitu fokus. Gendis melanjutkan kembali ucapannya. ''Jadi begini Aksa, waktu itu sebelum kamu menikahi Mayang memang aku yang punya ide untuk memeluk mu waktu di kamar, jujur aku memang sangat mencintai kamu. Tapi, saat kamu resmi mengucapkan ijab Kabul pada Mayang, saat itu pula aku sudah ikhlas, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga kalian. Aku akan mencari kebahagiaan aku sendiri. Karena aku tahu kamu begitu bahagia karena sudah menikahi orang yang kamu sayang dan cinta. Aku pun ikut bahagia melihat kamu bahagia.'' Gendis menjeda ucapannya. ''Kalau soal aku yang ingin menjadi sekretaris kamu di kantor, yang membuat penampilan aku terbuka dan menjadi genit, yang membuat aku ingin mencelai Mayang waktu di cafe, yang membuat aku berteriak seperti orang gila. Itu ... Bukan mau aku Aksa. Aku juga tidak mau dan merasa malu Aksa. Aku dipaksa oleh Ibu untuk melakukan semua hal gila itu, itu semua rencana jahat Ibu, bukan aku! Kalau aku tidak melakukan semua yang Ibu perintah, Ibu akan menghabisi nyawa ku! Karena katanya, aku .... Bukanlah anak kandungnya! Huhuhu .... Aku sama seperti mu, anak yang ia rawat dari bayi. Tapi aku dan kamu memang lebih ia sayang dan perlakukan berbeda dari yang lain. Karena ia ingin aku dan kamu menikah. Ibu ingin menguasai harta kamu dan Papa mu! Ibu udah lama bersekongkol dengan Mama nya Gentala. Ibu punya banyak rahasia Aksa. Aku sering kali mendengar Ibu menelpon secara sembunyi-sembunyi membicarakan kalian! Dan Mayang .... kamu bilang Ibu tidak ada dan kamu di sini, jangan-jangan nyawa Mayang dalam bahaya.'' jelas Gendis dengan isakannya dan praduga nya.
Aksa menggeleng mendengar perkataan Gendis, Aksa merasa tidak percaya. Setelah itu ponsel Aksa yang berada di saku terdengar berdering, Aksa mengangkatnya cepat.
''Hallo.''
''Iya, Mayang kenapa?''
''Mayang! Tidak mungkin!'' Aksa mematikan ponselnya cepat, setelah itu ia pergi meninggalkan gudang dengan terburu-buru, wajahnya terlihat begitu panik. Para Bodyguard membantu Gendis membuka tali yang mengikat kaki dan tangan Gendis, setelah itu Bodyguard mengejar langkah Aksa.
.....
Bersambung.
__ADS_1
Hai, hai para reader. Yuk vote dan kasih hadiah nya, supaya aku makin semangat ngetiknya.
Pada penasaran 'kan sama kelanjutan nya.