
Siang hari yang terik.
Karyawan kantor berlalu lalang hendak ke kantin, mereka akan mengisi perut mereka, guna menambah tenaga agar tetap fokus bekerja.
Aksa duduk di kursi kebesarannya, dari tadi dia tak sabar menunggu kedatangan sang istri yang telah berjanji akan membawakan makan siang untuk dirinya.
Setelah menunggu tiga puluh menit lamanya Mayang tak kunjung datang, Aksa mencoba untuk menghubungi ponsel sang istri, tapi tak kunjung di angkat. Aksa merasa gelisah, dia berjalan mondar-mandir di ruangannya.
Setelah itu Aksa berinisiatif untuk menghubungi nomer sang Mama mertua. Hanya dengan sekali panggilan Mama Hanum mengangkat cepat.
''Assalamu'alaikum Ma'' ucap Aksa sopan.
''Iya, walaikumsallam Aksa. Ada apa Aksa? tumben nelpon Mama.'' kata Mama Hanum dari seberang sana.
''Iya, ini Ma. Aku mau nanya, apa Mayang ada dirumah?''
''Mayang enggak ada di rumah Aksa. Katanya tadi dia akan pergi ke Kantor kamu. Dia membawa makan siang untuk kamu Aksa. Apa Mayang belum sampai?''
''Be belum Ma. Kira-kira udah lama enggak Mayang perginya Ma?''
''Udah lama sih, Kalau enggak salah sekitar empat puluh lima menit yang lalu. Duhh Mayang kemana ya? kok belum sampai juga.'' Mama Hanum pun ikut dilanda rasa gelisah memikirkan sang putri.
''Iya itu Ma. Tiba-tiba perasaan ku enggak enak. Ya udah aku tutup dulu ya Ma. Aku akan mencari Mayang. Assalamu'alaikum, Ma.''
''Iya, walaikumsallam Aksa.''
Usai menelpon sang Mama mertua, Aksa mencoba menghubungi supir pribadi Mayang. Tidak butuh waktu lama juga, hanya dengan sekali panggilan telpon langsung di angkat.
''Hallo Den.''
''Pak Yusuf, apa Mayang sedang bersama Pak Yusuf sekarang?''
''Iya Den. Saya sekarang sedang menunggu Non Mayang di kafe Batavia Den.''
''Cafe Batavia? Ngapain Mayang di sana dan sama siapa Pak?''
''Saya kurang tahu juga Den. Saya hanya di suruh menunggu di mobil. Kata Non Mayang hanya sebentar.''
__ADS_1
''Ya sudah Pak Yusuf tunggu di sana, saya akan segera menyusul.''
Aksa mematikan ponselnya cepat, dia berjalan menuju ruang Rangga Asisten pribadinya, Aksa akan mengajak Rangga untuk menyusul Mayang ke Cafe Batavia.
**
Di tempat berbeda, Mayang menyesap jus jeruk pesanan nya. Entah kenapa akhir-akhir ini Mayang suka sekali sama minuman dan makanan yang rasanya asam.
Di depan nya seorang wanita duduk dengan wajah di buat sedih. Wanita itu juga menyesap jus alpukat. Mereka duduk di kursi Cafe, di dekat kaca yang di depan mata mereka terpampang pemandangan yang indah. Gendis telah membuking sebuah ruang khusus hanya untuk dirinya dan Mayang.
''Aku tadi hampir tidak mengenali kamu, kenapa penampilan kamu jadi seperti ini Gendis?'' ucap Mayang memulai obrolan, mimik wajahnya tersirat kekecewaan. Sebenarnya tadi Mayang telah menolak ajakan Gendis untuk ketemuan. Tapi Gendis berulang kali memohon. Gendis mengatakan ia ingin curhat sesuatu sama Mayang. Mayang yang punya rasa empati dan peduli yang tinggi terhadap seseorang akhirnya menurut juga. Meskipun firasat nya merasa ada yang tidak beres.
''Terkadang ada masanya kita merasa bosan, begitu juga dengan penampilan. Aku mau mencoba penampilan yang berbeda. Selama belasan tahun aku sudah menutupi tubuh indahku ini dengan gamis dan jilbab lebar, aku merasa semua itu tak ada gunanya. Aku merasa begitu gerah. Aku sudah menuruti semua perintah Ibu dan Allah, tapi tetap saja semua permintaan aku dan keinginan aku tak terpenuhi. Sesekali aku ingin menjadi orang yang ingkar. Aku merasa muak sama apa yang ada di dunia ini.'' Gendis mulai berbicara dengan netra menerawang entah kemana.
''Kenapa kamu berbicara seperti itu? Hidup ini hanya sementara. Dengan perpakaian seperti itu kamu akan mendapatkan dosa karena dengan sengaja mengundang syahwat kaum pria.'' timpal Mayang.
''Dosa? Dosa itu nanti saja lah aku pikirkan, besok-besok kalau aku sudah mendapatkan yang aku inginkan aku bisa bertaubat.''
''Maksud kamu? Kamu menginginkan apa?'' tanya Mayang dengan mata menyipit.
''Aku menginginkan suami mu Mayang. Aku mau tanya sama kamu, pelet apa yang kamu kasih ke Aksa hingga Aksa bisa begitu tergila-gila sama kamu yang hanya seorang janda. Kamu lihat, lihat ini. Aku jauh lebih cantik dan seksi dari kamu. Aku masih perawan sedangkan kamu bekas istri orang. Aku yakin kamu pasti telah mengguna-guna Aksa 'kan?'' Gendis berdiri dari duduknya, lalu dia memutar-mutar kan tubuhnya di depan Mayang. Lekuk tubuhnya begitu terpampang jelas. Mayang merasa risih karena tingkah konyol Gendis. Setelah itu Gendis kembali duduk.
''Mayang, aku tahu kamu itu wanita yang baik. Maukah kamu berbagi suami dengan aku? Aku sudah mencoba dengan sangat untuk melupakan Aksa, tapi itu tak bisa Mayang. Semakin aku ingin melupakan Aksa, semakin besar pula keinginan aku untuk memiliki nya. Aku bisa gila Mayang. Hiks. Aku begitu tersiksa.'' Gendis menunduk sedih, kedua tangan nya memegang tangan Mayang yang ada di atas meja. Mayang beberapa kali tercengang mendengar pengakuan Gendis. Sangka nya Gendis telah merelakan Aksa, tapi ternyata Gendis malah semakin menjadi-jadi.
''Maaf Gendis. Aku tak bisa melakukan itu. Suamiku juga tak mencintaimu. Bertaubat lah Gendis, kamu itu cantik, aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari suami ku. Kamu jangan merendahkan harga diri mu seperti ini.'' Mayang menarik tangannya dari tangan Gendis, setelah itu Mayang berdiri, Mayang bersiap hendak pergi.
Tapi saat Mayang mau melangkah, Gendis menarik ujung jilbab nya.
''Aw lepas!'' protes Mayang. Mayang menarik kembali ujung jilbabnya hingga ujung jilbabnya terlepas dari tangan Gendis. Mayang berjalan dengan langkah kaki lebar menuju pintu. Tetapi Gendis mengejar nya.
''Tidak semudah itu Mayang, aku sudah berbicara dengan baik-baik tapi kamu malah meremehkan perasaan aku yang sangat dalam ini. Kamu sama seperti yang lainnya. Tidak ada seorang pun yang mengerti akan perasaan ku.'' Gendis berhasil lagi menarik ujung jilbab Mayang. Setelah itu Gendis menekan tubuh Mayang ke dinding. Gendis lalu meletakkan kedua tangannya di leher Mayang cukup keras. Hingga Mayang terbatuk-batuk karena nya.
''Kalau aku tidak bisa mendapatkan Aksa. Maka tidak akan aku biarkan kamu hidup bahagia bersama nya.'' ucap Gendis yang seperti orang kesetanan.
''Le ... Lepas Gendis. Kamu bisa membuat a aku mati!'' ucap Mayang terputus-putus.
''Memang itu yang aku inginkan. Hahahaha ...'' sahut Gendis dengan tawa menggelegar.
__ADS_1
****!
''Dasar perempuan gila!'' umpat Aksa keras. Aksa menarik tangan Gendis yang berada di leher Mayang, setelah itu Aksa mendorong tubuh Gendis dengan cukup keras, hingga Gendis terpelanting. Tubuhnya terjatuh di lantai. Pantatnya membentur lantai cukup keras. Hingga dia mengaduh kesakitan.
Aksa datang tepat waktu. Matanya memerah, kedua tangannya mengepal erat. Dia sungguh tidak terima istrinya di perlakukan seperti itu. Aksa menatap Gendis dengan tatapan se akan membunuh.
''Rangga. Bawa perempuan gila itu pulang kerumahnya. Beritahu Ibu nya tentang apa yang di lakukan nya. Atau kalau perlu suruh Ibu nya mengurungnya di kamar. Nanti aku akan menyusul.'' titah Aksa. Rangga pun mengunci tubuh Gendis dengan erat. Dengan mengikat kedua tangan Gendis. Setelah itu Rangga membawa tubuh Gendis keluar. Gendis berteriak keras tidak terima. Teriakan Gendis mengundang pengunjung Cafe yang ada di ruangan lain. Gendis jadi pusat perhatian.
Uhuk ... Uhuk ... Uhukk ...
Mayang terbatuk-batuk, lehernya terasa masih sakit.
''Sayang.'' Aksa membereskan jilbab Mayang yang sedikit berantakan. Lalu dia mengelus bagian leher dengan lembut.
''Udah aku enggak apa-apa Mas. Maafkan aku Mas karena aku tadi mau ketemuan sama Gendis enggak kasih tahu dulu sama kamu.'' Mayang berkata dengan wajah menunduk. Dia sadar akan kesalahannya.
''Ya sudah, lain kali jangan begitu lagi. Kamu itu sudah bersuami. Jadi kalau mau pergi kemana-mana itu harus minta izin dulu sama suami ya.'' ucap Aksa lembut.
''Iya Mas. Maaf.'' Aksa dan Mayang berdampingan berjalan menuju mobil.
''Ya sudah ayo pulang. Kamu tahu Mas tadi sudah tidak sabaran menunggu makan siang dari kamu. Tapi ternyata ...''
''Makan siang nya ada kok Mas di dalam mobil. Aku kira Gendis mengajak aku ketemu cuma sebentar. Eh ... Ternyata dia senekat itu. Sekali lagi maaf ya Mas.''
''Ya sudah kamu Mas maafkan. Asalkan nanti kamu suapin Mas sampai makanan nya habis tak bersisa.''
''Baiklah. Itu soal gampang Mas. Eh ... Tapi ada lagi Mas, kamu jangan bilang masalah ini sama Mama dan Papa ya Mas. Nanti aku bisa di marahin.''
''Iya. Tapi ada lagi syarat nya Sayang. Nanti malam kamu harus memanjakan Mas sampai puas.''
''Ihh apaan sih!''
''Tiga ronde aja cukup.''
''Mas ...''
''Hahaha ...'' tawa Aksa pecah melihat wajah sang istri yang telah merah merona. Ucapan Aksa tak main-main. Nanti malam dia akan meminta jatahnya itu.
__ADS_1
Akan ada hikmah di balik kejadian yang terjadi.
Setelah itu mobil melaju meninggalkan area cafe. Dengan Pak Yusuf menyetir. Aksa dan Mayang akan ke Kantor. Karena masih ada pekerjaan yang belum Aksa selesai kan.