Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kecelakaan


__ADS_3

Seketika hening menyelimuti tempat sepi itu, hanya suara jangkrik dan dedaunan yang saling bergesekan terkena angin yang mendominasi, Gentala tidak tahu harus bagaimana agar ia bisa mengajak gadis yang bernama Rumainah itu bicara. Bukannya su'uzon, tapi, perasaan Gentala mengatakan kalau penyakit yang di diderita oleh sang Mama berasal dari Rumainah. Karena, hanya sekali itu saja Mama nya bersikap sangat kasar kepada seseorang di kampung terpencil ini.


''Aku mohon. Izinkan aku berbicara sebentar sama kamu. Ini penting! Ini menyangkut nyawa Mama aku!'' Gentala memelas dengan ketua tangan mengatup di depan dada. Matanya nampak sendu.


''Apa hubungan dengan aku! Kau menuduhku melakukan itu? Dasar, anak sama Mama sama-sama angkuh dan sombong!'' Rumainah tak terima, perkataan Gentala terdengar menyudutkan nya. Wajah gadis cantik berselendang pink yang sudah usang tersebut sedikit memerah.


''Bu-bukan seperti itu. Maksud aku ....'' belum selesai Gentala berbicara, tiba-tiba.


Bugh!


Tiba-tiba Gentala terhenti berbicara, ia merasakan sakit yang amat di bagian punggungnya. Setelah itu tubuhnya yang tinggi tegap terkulai lemah, seseorang menangkap tubuhnya agar tak terjatuh ke tanah. Punggung Gentala telah di pukul dengan se balok kayu.


Gelap sudah mulai menyelimuti kampung itu, wajar saja, karena waktu sudah menunjukkan pukul enam sore lewat. Tidak lama lagi malam akan datang.


Seorang pria paruh baya yang tubuh nya agak bongkok dan Rumainah membopong tubuh Gentala masuk ke dalam rumah papan tersebut.


''Ayah, kenapa Ayah melakukan ini?'' tanya Rumainah dengan kening berkerut saat tubuh Gentala sudah di letakkan di atas balai kayu yang ada di dalam rumah.


''Nyawanya sedang terancam, Nduk. Pria ini tidak boleh pulang terlebih dahulu malam ini. Di jalan, ada bahaya yang tengah mengintainya.'' jelas pria paruh baya yang berusia sekitar enam puluh tahun. Ingatannya seperti menerawang ke suatu hal.


''Tapi, Ayah. Pria ini menuduh aku yang telah mengirimkan teluh kepada Ibunya. Padahal aku tidak melakukan itu sama sekali. Memang hatiku sungguh sakit saat Mama nya memperlakukan aku dengan kasar waktu itu. Tapi, aku tidak akan sampai hati melakukan itu, walaupun aku tahu caranya, karena rata-rata penduduk di sini juga menguasai ilmu teluh.'' ucap Rumainah sedih.

__ADS_1


''Biarlah, Nduk. Suatu saat kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. Jangan sesekali kamu menggunakan ilmu teluh itu. Ayah sudah mewanti-wanti kamu, lebih baik sekarang kamu ambil wudhu, wudhu di dalam rumah saja. Ambil air yang ada di ember. Di luar sedang tidak aman. Walaupun kita ini miskin harta, tapi jangan sampai kita miskin iman. Kita harus mempunyai bekal untuk kehidupan yang sebenar-benarnya kelak.'' tutur Ayahnya Rumainah. Pria paruh baya itu memakai peci bewarna putih yang telah usang. Wajahnya hitam tapi nampak bersih, matanya juga sangat teduh. Menyiratkan kalau ia orang yang baik.


''Baiklah Ayah.'' Rumainah menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia bersiap kebelakang.


''Kasihan pemuda ini, padahal orang yang mengirimkan teluh kepada nya merupakan orang terdekat nya sendiri.'' gumam Ayahnya Rumainah yang bisa di dengar oleh Rumainah. Lagi-lagi Rumainah bertanya kepada sang Ayah.


''Siapa Ayah?'' tanya Rumainah penasaran.


''Besok kamu akan tahu sendiri. Sudah, sana, berwudhu lah. Ayah tadi sudah berwudhu di sungai.'' ucap Ayahnya Rumainah, setelah itu Rumainah berlalu kebelakang.


***


Tidak terasa sebentar lagi Aksa akan memiliki bayi, ia berjanji, ia akan menjamin biaya hidup anak panti hingga mereka besar. Sebagai ungkapan rasa syukur nya kerena saat ini kehidupan nya merasa sudah begitu bahagia. Bertemu dengan orangtua kandung, mempunyai istri yang amat cantik dan baik, dan sebentar lagi ia akan mempunyai bayi kembar tiga. Tapi satu hal yang terus Aksa cemaskan, yang menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini, ia takut terjadi apa-apa sama sang istri saat melahirkan bayi-bayi nya.


''Mas, kenapa melamun?'' tanya Mayang sedikit menepuk bahu sang suami, mengagetkan sang suami yang tengah menerawang ke masa lalu dan memikirkan nya.


''Tidak apa-apa Sayang. Mas merasa bahagia sekali melihat wajah anak-anak yang ceria.'' jawab Aksa lembut.


''Itu karena kalian. Kalian begitu baik dengan mencukupi segala kebutuhan anak-anak. Dan sekarang kalian menyempatkan diri untuk makan malam bersama di panti.'' timpal Gendis.


''Em ... Gavin kok lama, ya?'' ujar Mayang lagi mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


''I-iya.'' sahut Gendis singkat dengan senyum malu-malu. Ia sungguh tidak sabar lagi menunggu kehadiran Gavin, ia ingin segera bertemu Gavin dan menceritakan perihal mimpinya. Sedangkan Aksa juga ikut tersenyum. Tadi, Mayang sudah menceritakan semuanya kepadanya tentang kedekatan antara Gendis dan Gavin. Aksa merasa senang mendengar kabar baik itu. Karena ia tahu Gavin adalah pria yang baik.


Saat mereka tengah membicarakan Gavin. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di saku celana Aksa berbunyi nyaring. Aksa mengambil ponselnya cepat dan hendak mengangkatnya dengan cepat pula.


Di layar yang menyala tersebut, terdapat nama Gavin.


[Halo Vin.] Aksa menjawab dengan ramah dan sedikit pelan.


[Maaf Tuan, apakah anda ini atasannya pemilik ponsel ini? Maaf menganggu waktu nya. Sekarang keadaan sungguh darurat, pria yang memiliki ponsel ini di temukan kecelakaan, mobil yang di kendarai nya menabrak pembatas jalan, hingga mobil nya terbalik. Sepertinya ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sekarang pasien sedang di rumah sakit Permata Hati, kondisinya kritis. Kami mohon tuan berkenan datang ke sini sebagai penanggungjawab supaya kami bisa mengambil tindakan lebih lanjut untuk menyelamatkan nyawa pasien. Karena di ponsel pasien, kami hanya menemukan nama anda di daftar panggilan terakhir nya.] jelas seorang wanita di seberang sana. Wanita itu merupakan seorang petugas rumah sakit.


Aksa dan Mayang sungguh kaget mendengar kabar buruk tersebut. Tangan Aksa yang memegang ponsel terasa begitu gemetar.


[B-baiklah, secepatnya saya akan kesana] ucap Aksa, lalu panggilan tersebut terputus.


Seketika dunia Gendis seakan runtuh, matanya seketika berkaca-kaca, kristal bening itu berlomba-lomba turun membasahi pipi nya. Dadanya terasa sesak. Ia sungguh kaget mendengar kabar tentang Gavin yang mengalami kecelakaan hebat.


''Ayo, kita kerumah sakit sekarang juga.'' ajak Aksa dengan suara sedikit gemetar.


Mayang dan Gendis berdiri dari duduk, lalu mereka berjalan beriringan menuju mobil. Anak-anak mereka titipkan kepada Hana.


Rasanya Gendis sudah tidak sabar lagi ingin melihat pria yang berhasil merebut hatinya. Gendis tidak tahu apa yang akan terjadi kepada nya kalau sampai Gavin pergi meninggalkan nya untuk selama-lamanya.

__ADS_1


__ADS_2