
Begitu mama Reni naik ke atas, mamanya Anggia dengan cepat menghubungi suaminya, dia mengatakan kepada Kuncoro kalau mamanya Ibnu lagi ada di rumah mereka.
Kuncoro yang sedang berada di perusahaan Mayang, pamit pulang lebih awal.
***
''ya ampun Ibnu, kenapa nasib kamu begini bangat sih, nak. Kasihan sekali kamu!'' ucap mama Reni sedikit keras, begitu dia tiba di kamar Anggia dan Ibnu. Dia menyentuh kening Ibnu, membuat Ibnu yang sedang tiduran di atas kasur kaget. Anggia yang baru selesai mandi hendak menggantikan pakaiannya di buat kaget juga akan kedatangan mama mertuanya. Mama Reni main masuk saja tanpa permisi terlebih dahulu.
''ih mama main masuk-masuk saja, nggak sopan bangat! Untung saja aku dan mas Ibnu sedanf tidak ngapa-ngapain,'' batin Anggia dengan wajah merenggut.
''mama sudah sampai rupanya, sama siapa kesini, ma?'' tanya Ibnu dia duduk bersandar di dinding kepala sofa dengan wajah masam, di wajahnya terdapat memar merah di mana-mana akibat pukulan yang dia terima tadi malam.
''mama naik ojek kesini! Uang mama sudah habis, habis kamu nya nggak pernah transfer lagi sih'' ucap mama Reni berbisik lirih mendekat ke arah telinga Ibnu.
"Ssttt jangan ngomongin uang di sini ma, tuh lihat nanti anggia kedengaran, nanti dia marah'' balas Ibnu dengan mengerling mata ke arah Anggia yang berdiri di depan lemari pakaian.
''alah sejak kapan mama ngajarin kamu untuk takut sama istri,'' protes mama Reni tidak suka.
''kalian lagi ngomongi apaan sih? Kok bisik-bisik gitu?'' celetuk Anggia, yang dari tadi melihat mertua dan suaminya yang berbisik-bisik tidak jelas, membuat nya sedikit curiga.
''nggak kok sayang, kata mama, mama begitu prihatin melihat keadaan mas!'' jawab Ibnu berbohong.
Anggia menarik nafas dalam, setelah selesai mengenakan pakaian-nya, lalu setelah itu dia duduk bergabung sama Ibnu dan mama Reni.
''mas, bagaimana ini? Sepertinya mama dan papa masih marah sama kita, lihat saja mereka bahkan tak memanggil kita saat sarapan tadi!'' kata Anggia lesu.
''apa? Jadi, kalian belum sarapan! lihat sekarang sudah pukul 10 pagi lewat, udah mau siang lagi ini, keterlaluan. Bisa-bisa anakku mati tinggal di sini,'' sahut mama Reni kaget, dia berdiri berkacak pinggang.
''mama dan papa nggak marah sama kamu ya Anggia, kami kecewa dan malu karena ulah kalian!'' sambung mamanya Anggia tidak terima, yang rupanya dari tadi dia menguping pembicaraan Anggia, mama Reni dan Ibnu dari balik pintu. Dia berjalan menghampiri rombongan Anggia.
''ini sudah terjadi ma! Sekarang kita jalani aja semuanya dari awal, Anggia dan mas Ibnu minta maaf, ma'' mohon Anggia menunduk.
''gampang sekali kamu ngomong ya Anggia, kamu kami besarkan bukan untuk jadi bodoh begini, Anggia!" sahut pak Kuncoro yang tiba-tiba muncul ikut menjawab.
''terus mau nya papa sama mama apa sekarang?'' tanya Anggia sedikit berteriak menentang kedua orang tuanya.
__ADS_1
''kamu sekarang pilih Anggia, kamu mau tetap tinggal di sini sama kami atau pergi ikut bersama suami kere mu itu?'' tantang pak Kuncoro manatap sang putri.
''a--ku,'' ucap Anggia ragu, dia menatap ke arah papa, mama nya kemudian beralih ke arah Ibnu dan mama Reni, ''aku akan ikut suami aku, pa!'' jawab Anggia akhirnya.
''pak besan, tidak bisakah pak besan mengembalikan jabatan Ibnu di kantor? Kasihan dia, kasihan juga Anggia. Mau makan apa mereka!'' kata mama Reni tiba-tiba, berbicara dengan tidak tahu malu.
''tidak bisa, keputusan saya sudah bulat! Mau makan ya usaha'' jawab pak Kuncoro angkuh.
Setelah melewati perdebatan cukup panjang akhirnya Anggia pergi dari rumah orang tuanya, dengan membawa sedikit pakaiannya, dia ikut Ibnu kerumah yang Ibnu tempati dulu saat bersama Mayang.
Selama dalam perjalanan Mama Reni berulang kali merutuk di dalam hati, dia memikirkan nasib dia selanjutnya. Karena Ibnu dan suami Sari sekarang sudah tidak punya pekerjaan lagi. Dia tidak tahu harus meminta uang kepada siapa lagi, anak tertuanya jauh tinggal di luar kota yang tidak gampang di porotin.
****
Ditempat yang berbeda, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang lewat. Mayang dan Aksa duduk di kantin, mereka makan siang berdua.
Setelah terciptanya kebisuan cukup lama antara Mayang dan Aksa, akhinya Mayang mencoba untuk memulai obrolan mencair-kan suasana, ''Aksa, kenapa sampai saat ini kamu masih betah aja melajang?'' tanya Mayang tiba-tiba di sela kunyahan terakhirnya, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama ingin di tanyakannya, tapi takut membuat Aksa marasa tersinggung, tetapi pada akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Mayang.
Aksa tersedak minuman yang sedang di minum nya saat mendengar pertanyaan mengejutkan dari Mayang.
''padahal kamu tampan, cerdas dan sudah mapan lho, aku yakin di luaran sana pasti banyak wanita yang suka sama kamu! Buruan gih pepet gadis-gadis itu Aksa, keburu kamunya tua ntar'' kata Mayang sambil mengaduk minuman di gelasnya dengan senyum mengembang.
''non bisa saja, sepertinya aku harus bersabar non menunggu jodohku datang'' sahut Aksa menatap lekat ke arah Mayang.
''iihh payah banget sih. Ganteng doang. jodoh tu di kejar dan di usahankan Aksa, bukan malah di tunggu'' tukas Mayang, karena terbiasa berdua membuat Mayang sedikit ceplas-ceplos berbicara sama Aksa.
''aku anggak mau terburu-buru non, anu, takutnya saat aku menyatakan cinta ku ke si dia, dia malah semakin menjauh dari-ku, jadi, lebih baik aku pendam dulu perasaan aku ini, non. Aku nyaman begini,'' ungkap Aksa.
''wow, jadi kamu sudah ada naksir sama seorang wanita, Aksa?
''iya, non, ada seorang wanita yang sudah bertahta dihatiku cukup lama''
''siapa? Kasih tahu aku dong! Kamu anggap aja aku teman kamu kalau kita lagi tidak sedang bekerja'' tanya Mayang begitu penasaran, dia menatap manik mata kecoklatan itu lekat. Membuat Aksa salah tingkah, karena merasa tidak percaya diri.
''ada pokoknya non, rahasia'' jawab Ibnu mantap.
__ADS_1
''ih, dasar plit'' kata Mayang merenggut.
Aksa tersenyum mengembang melihat tingkah Mayang, tingkah Mayang remaja sudah mulai kembali dengan sendirinya.
Tingkah cerianya, dan tingkah sedikit jahilnya yang dulu sangat di rindukan Aksa.
***
"Kamu setuju kan Ibnu sama rencana yang mama usulkan?'' tanya mama Reni di saat hanya ada mereka berdua di ruang keluarga. Anggia sedang keluar berbelanja di warung depan, karena stok makanan di rumah itu sudah tidak ada.
''i-ya ma, tunggu keadaan aku membaik dulu. Aku akan melakukan apapun untuk membuat hidup kita kembali berjaya'' jawab Ibnu mantap.
Kemudian ibu dan anak tersebut tersenyum penuh arti membayangkan semua rencana mereka berhasil.
***
"Istri barunya Ibnu, ya?'' tanya seseibu yang duduk di warung. Ibu-ibu yang suka nge-gibah, begitu mereka melihat kedatang Anggia, mereka berbisik-bisik lirih.
''sombong bangat!'' celetuk ibu satunya lagi yang bertubuh gempal.
''apaan sih! Norak banget'' ketus Anggia menatap mereka jijik.
''dia-kan yang sedang viral saat ini, yang menjadi selingkuhan nya Ibnu. Tidak di sangka-sangka ya ternyata si Fitri itu anak orang kaya, pengusaha sukses'' kata seseibu yang satu lagi ikut menimpali.
''iya, nyesal aku dulu pernah menghina Fitri''
''hey, hati-hati kamunya, ntar kamu bernasib sama seperti Fitri dulu, cuma di jadikan babu sama Ibnu dan keluarganya''
''bisa diam tidak, aku tidak bodoh ya seperti si Fitri itu!'' bentak Anggia, sambil memasukkan barang belanjaan nya kedalam kresek, setelah itu dia membayarnya.
Kemudia dia berjalan capat meninggal-kan warung itu, menjinjing kresek yang berisi belanjaannya. Meninggalkan ibu-ibu yang masih heboh menggibahnya.
''tidak akan, aku tidak bodoh seperti si Fitri.'' batin Anggia sambil berjalan kaki, jarak warung dari rumahnya tidak terlalu jauh.
''duh, tapi aku kok tadi bego banget ya, mau-maunya aku di suruh sama mas Ibnu dan mama jalan kaki begini. Di rumahkan ada mobil,'' gumamnya lagi di bawah teriknya matahari.
__ADS_1