
Fitri pulang dengan perasaan yang teramat bahagia, sepanjang perjalanan dia rasa di wajahnya ada yang berbeda, bibir nya tertarik kedalam, sanyum tulus yang sudah lama tidak dia rasakan akhirnya sekarang bisa dia rasakan kembali. Tidak pernah Fitri duga ternyata mama dan papanya masih mengharapkan kehadirannya dihidup mereka.
Raihan bercoteh ria, dengan senyum yang sama seperti sang mama.
''mama, perut aku sekarang sudah jadi besar ma, makanan nya tadi enak. Raihan besok mau lagi makan di sana ma!'' ucap Raihan sambil memegang perut nya, suara kecilnya terdengar sayup karena terbawa angin. Raihan berdiri di depan Fitri diatas motor.
''oh ya? Raihan senang tidak?'' kata Fitri, mata dia fokus kedepan. Melihat jalan yang sudah ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang.
''senang ma, Raihan maunya kita kayak gini terus. Sama-sama terus. Raihan sayang sama mama!'' ujar Raihan dengan suara sedikit cadel. Raihan memang termasuk anak yang cukup pintar, di usianya yang masih begitu belia dia sudah banyak mengetahui kosa kata.
''kita berdua atau sama papa juga sayang?'' tanya Fitri.
''papa? Papa tidak ma, kita berdua saja'' jawab Raihan, sedikit berpikir.
''lho, kenapa papa tidak? papa kan papanya Raihan!''
''papa jahat, sama kayak nini dan ante Sari. Mereka suka galak sama mama. Mereka sering bikin mama nangis'' sahut Raihan, Fitri sedikit kaget dengan tanggapan Raihan. Anak sekecil Raihan saja bisa melihat betapa mamanya selalu menderita karena ulah papa, nini dan tantenya.
''mereka nggak galak kok nak! Raihan jangan galak-galak ya sama siapapun karena nggak baik, nanti allah ....''
''nanti Allah marah ma''
'''anak pintar!'' balas Fitri dengan menciumi pucuk kepala Raihan.
Lalu setelah itu mereka terdiam beberapa saat.
''mobil itu bagus ya ma," tiba-tiba Raihan berucap lagi, sambil menunjuk ke arah mobil bewarna merah.
''mobil yang mana sayang?'' tanya Fitri memastikan.
''itu, mobil bewarna merah yang ada di depan kita. Itu ma!'' balas Raihan lagi sambil menunjuk ke arah mobil yang masih berjarak 10 meter di depan mereka.
''oh itu ...'' ucap Fitri fokus memperhatikan mobil yang di tunjuk Raihan. Ucapan Fitri sedikit terhenti saat mobil itu melintas melewati mereka. Fitri melihat di dalam mobil itu suaminya sedang bemesraan bersama wanita lain. Wanita yang sama dengan yang dia lihat semalam, wanita itu bergelayut manja di lengan Ibnu, dengan menciumi mesra pipi Ibnu.
''bagus kan ma?'' ulang Raihan lagi karena Fitri tidak menjawab.
''i-ya bagus nak. Raihan tadi melihat orang di dalamnya tidak?''
''tidak ma, Raihan kan melihat mobilnya bukan orangnya. Hehehehe,''
''anak mama sekarang sudah pandai berbicara ya,''
''Raihan kan sudah besar ma, Raihan akan menjadi super hero untuk melindungi dan menjaga mama''
''terimakasih sayang, anak mama pintar sekali'' puji Fitri.
Fitri merasa bahagia melihat perkembangan anaknya yang cukup pesat, saat melihat Ibnu tadi Fitri sudah tidak merasa sakit, walaupun jantungnya berdetak sedikit cepat, itu hal yang wajar menurutnya karena status Ibnu yang masih suami sah nya.
__ADS_1
Fitri sudah pasrah, apapun yang terjadi. Karena tidak lama lagi dia akan membawa Raihan pergi ke rumah orang tuanya. Tidak bisa Fitri bayangkan bagaimana reaksi Raihan nanti, saat dia menginjakkan kakinya di rumah mewah dan megah dengan mobil berjejer rapi di garasi. Pastilah Raihan akan meloncat-loncat kegirangan. Raihan lah yang akan menjadi penerus di keluarga Aditama suatu saat nanti, keluarga yang begitu di segani di tanah air karena kekayaan nya yang berlimpah.
**********
Tidak berapa lama akhirnya Fitri dan Raihan hampir tiba di rumah mereka, beruntungnya motor metik butut milik Fitri tadi tidak pernah mogok, Fitri mewanti-wanti juga takut kalau-kalau motor itu mogok di tengah jalan raya, kasihan putranya Raihan.
''itu mobil ante Sari kan, ma?'' Tunjuk Raihan. Di depan pagar rumahnya terdapat mobil warna silver yang terparkir.
''iya, kayaknya'' jawab Fitri, dengan pikiran macam-macam. Baru saja dia merasa bahagia pagi ini, tapi ada-ada saja yang membuat mood nya kembali buruk.
Mobil itu menghalangi jalan Fitri karena terparkir tepat di depan pintu pagar.
Fitri membunyikan klakson beberapa kali, baru lah suami Sari peka, dia melajukan sedikit mobilnya kedepan.
Suami Sari sifatnya sama seperti Sari, angkuh dan sombong.
Fitri masuk, di kursi di teras rumahnya terlihat Sari yang sedang duduk dengan sang anak di dekapannya.
Wajah Sari memerah melihat kedatangan Fitri. Dia berdiri, dengan sang anak yang terdengar rewel.
"Bagus, ya!'' teriak Sari tiba-tiba.
Fitri berhenti di depan Sari dengan wajah herannya, kening nya berkerut karena ucapan Sari.
''ada apa?'' balas Fitri santai.
''mbak dari mana saja? Aku sudah hampir setengah jam menunggu di sini?''
''ah sudah lah aku malas bicara sama mbak, ini mbak jagain anak aku. Aku mau pergi jalan-jalan dan shopping bersama mas Hamka!'' kata Sari, dia memberikan anaknya kepada Fitri begitu saja. Terpaksa Fitri menyambut anak Sari, karena kalau tidak bayi perempuan itu bisa terjatuh.
''hey, kamu apa-apaan sih, Sar?!'' Bentak Fitri.
''aku mau jalan-jalan, mbak itu cocok nya emang pantas untuk jadi babu keluarga kami. Bye ...'' sahut Sari berlalu. Dia melangkahkan kakinya yang menggunakan hells tinggi dengan begitu jumawa.
Tapi, tiba-tiba ...
''awww, mbak. Kaki aku! Sakit ...!'' teriak Sari mengaduh. Dia terjatuh, Sari tidak sengaja mengginjak lantai keramik licin yang terdapat genangan air bekas hujan tadi malam.
Fitri dan Raihan tiba-tiba tertawa melihat Sari yang jatuh terjungkal.
''hahahahaha ...'' tawa Fitri dan Raihan pecah.
Sari merasa amat murka.
''mbak, bantuin aku!'' perintah Sari ketus sambil memegang kaki dan pantatnya yang terasa nyeri dan sakit.
''tidak mau!'' jawab Fitri santai dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
''dasar ipar jelek, melarat dan nggak tahu diri'' umpat Sari.
''lagian kamu, nggak ada sopan santunnya jadi adik. Kamu nggak bisa bicara baik-baik apa!''
''nggak ada gunanya aku bicara baik-baik sama wanita melarat seperti mbak''
''mas ...! Tolongin aku, mas. Kaki aku sakit'' teriak Sari.
Suaminya tidak menyadari, karena asyik dengan ponselnya.
Fitri berlalu, meninggalkan Sari yang berteriak kesakitan. Fitri membuka pintu rumahnya. Setelah itu menguncinya dari dalam dengan anak Sari berada di dalam gendongannya dan Raihan yang bergelayut di bajunya.
''anak ini tidak bersalah dia tidak tahu apa-apa. Biarlah untuk hari ini aku akan menjaganya. Nanti malam aku akan bersiap, besok aku akan pergi meninggalkan rumah ini beserta kenangan buruk yang pernah tercipta di hidupku.'' batin Fitri.
Sementara itu, dari luar pintu di gedor dengan keras. Ternyata itu ulah suami Sari.
''dasar wanita sialan. Berani-beraninya kamu membuat istriku sampai keseleo'' umpatnya.
Setelah beberapa saat terdengar hening. Sari telah di bawa pergi oleh Hamka. Entah kemana perginya mereka.
Shopping, jalan-jalan atau ke tukang urut. Kasihan sekali, kualat kan baru tahu rasa.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sementara di tempat yang berbeda.
Ibnu dan Anggia tiba di hotel bintang lima, mereka melangkah kan kakinya memasuki hotel tersebut.
Setelah selesai check in, mereka melangkahkan kaki memasuki kamar hotel. Tangan Anggia tidak pernah lepas dari tangan Ibnu. Dia bergelayut manja di tangan pria yang masih berstatus sebagai suami orang tersebut.
Begitu tiba di dalam kamar, Anggia melepaskan satu persatu kancing kemeja Ibnu. Ibnu hanya bisa pasrah, begitulah Anggia, dia merupakan wanita yang begitu agresif.
''mas, kenapa diam saja dari tadi?'' kata Anggia sambil membelai dada polos Ibnu, dia duduk diatas pangkuan Ibnu, mereka duduk saling berhadapan, begitu dekat tanpa jarak.
''tadi dijalan mas melihat Fitri dan Raihan. Sepertinya Fitri juga melihat kita'' jawab Ibnu lesu.
''biarkan saja mas, kan bagus kalau Fitri itu tahu. Kamu kapan akan menceraikan wanita itu? Aku nggak sabar ingin memiliki mu seutuhnya, sayang!''
''tapi, rencana kita belum kesampaian, sayang?''
''persetan mas. Aku rasa Fitri akan tetap menjadi benalu untukmu, dia akan bergantung sama kamu selamanya mas, dia sudah tidak di anggap sama keluarga nya. Aku dengar-dengar sebentar lagi perusahaan Aditama group juga akan memperkenalkan CEO baru mereka. Aku yakin pasti tuan Aditama sudah mendapatkan orang lain untuk menggantikan kedudukan nya. Yang pasti bukan si Fitri itu, mas''
''brengsek! Seharusnya aku yang sebagai menantunya yang berhak menjadi CEO di perusahaan besar itu'' umpat Ibnu.
''hey sayang, sudah lah. Fitri itu tidak di anggap apalagi kamu. Lepaskan Fitri, lalu menikah denganku. Kamu akan menjadi CEO di perusahaan milik papa ku, sayang!'' ungkap Anggia yakin.
''sungguh?''
__ADS_1
''iya, honey,''
''kamu memang dapat diandalkan Anggia, mas sangat mencintaimu'' ucap Ibnu dengan nafas sedikit tersengal karena ulah Anggia. Anggia sudah bermain di dada bidang Ibnu, Ibnu pun membalas dengan melepaskan pakaian dan bra milik Anggia. Sebentar lagi akan terjadi pergulatan panas antara mereka berdua.