
.
Dug!
Dug!
Dug!
Suara yang berasal dari arah pintu utama berbunyi keras karena di pukul dari luar. Para penjaga yang berada di dalam rumah di salah satu ruangan menyipit heran dengan kening berkerut mereka kaget mendengarkannya, mereka yang berjumlah 5 orang saling tatap-menatap satu sama lain.
"Woi bro, itu coba lho lihat ke depan. Siapa yang berani gangguin kita malam-malam gini. Nanti Tuan sama Nyonya bangun lagi, bisa-bisa kita kena semprot." Ucap salah satu penjaga yang duduk tidak jauh dari Bagaskara dengan sebatang rokok di jarinya.
"Lho aja yang liat, biar gue sama yang lain aja yang jaga ni Akik-akik di sini. Takut gue, masak malam-malam gini ada yang menggedor pintu," jawab penjaga yang satu sambil menguap lebar dia terlihat menahan kantuk, segelas kopi menemaninya.
Sedangkan Bagaskara berulang kali membaca doa di dalam hati, dengan kepala menunduk. Begitu dia mendengar bunyi gaduh yang berasal dari arah luar, dia mengucap hamdalah, dia merasa sebentar lagi akan ada pertolongan yang datang untuk menyelamatkan nya.
"Ah ... Dasar cemen lho. Kalian tunggu di sini!" Sahut penjaga yang satu lagi, dia berdiri dari duduknya, lalu berjalan keluar.
"Oke, hati-hati lho bro. Mungkin di luar itu neng Kunti yang lagi kesepian, yang berkeliaran di sekitar rumah ini. Tau sendiri lho rumah ini di kelilingi semak belukar, iih serem ... Hahaha ..." ujar penjaga yang satu sambil terkekeh.
"Bacot lho, badan aja yang gedek, huh, tapi enggak ada nyali" ujar penjaga yang satu dengan menepuk keras pundak sang teman. Dia lalu berjalan ke depan bersiap untuk keluar.
****
"Lebih keras lagi!" Ucap Aditama memberi perintah kepada Bodyguard.
"Baik Tuan," jawab Bodyguard menggedor pintu dengan keras menggunakan tangan besar berotot-Nya tanpa jeda.
Setelah beberapa saat, akhirnya.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu terbuka, dengan cepat Bodyguard Aditama mengeluarkan pistol nya, kemudian dia menodong ke arah kepala penjaga yang menyekap Bagaskara. Sedangkan Bodyguard yang satu lagi meringkus tangan penjaga tersebut dengan erat. Hingga penjaga tersebut tidak bisa berkutik.
Aksa, Mayang dan Aditama hanya berdiri diam menyaksikan. Lalu Aksa berjalan pelan menghampiri penjaga.
Plak! Satu tamparan keras Aksa hadiahkan kepada penjaga.
"Berani-beraninya kamu berkhianat! Katakan, mana yang lain? " Geram Aksa dengan wajah memerah sambil menekan pipi penjaga dengan kedua tangannya. Pipi yang nampak memar karena pukulan kerasnya.
"A a ampun Bos, bayaran yang diberikan oleh Tuan, Tuan muda dan Nyonya lebih besar dari yang Bos berikan kepada kami" kata penjaga tergagap dia berkata jujur.
"Brengsek, kalian! Tunjukkan di mana Papa saya kalian sekap dan bawa kami ketemu sama Tuan dan Nyonya yang kau sebutkan itu!" Berang Aksa, tangannya yang putih bersih nampak berurat, dia menekan kedua pipi penjaga itu dengan kuat hingga penjaga itu berulang kali mengaduh memohon ampun. Mayang merasa tangannya begitu gatal, dia rasanya ingin sekali mengelus pundak Aksa, dia ingin sedikit meredam kan amarah Aksa, tapi sebisa mungkin masih dia tahan, dia masih menjaga marwahnya sebagai seorang wanita yang baik.
Bagaimana Aksa tidak marah, ternyata para Bodyguard yang dia perintah dan percaya untuk menjaga Papa nya di rumah telah tega berkhianat. Mereka ternyata yang telah membantu menculik sang Papa dan menyekap para pelayan dan pekerja di rumah nya.
****
Di dalam sebuah kamar masih di rumah yang sama. Seorang pria muda berbaring tak tenang, dia berulang kali merubah posisi tidurnya, mencari posisi tidur yang nyaman. Dari tadi matanya tak mau terpejam, padahal dia sudah mencoba memejamkan matanya berulang kali. Dia melirik jam yang tergantung di kamar, ''aduh, sudah pukul 2 dini hari ternyata. Bisa-bisa aku kesiangan dan susah bangun besok, besok kan aku ingin melamar Mayang, memberikan kejutan kepada nya. Urusan Paman Bagas biar Papa saja yang urus. Kasian sekali Paman Bagas, makanya jadi orang itu harus adil, sudah tua juga, masak Paman mau mewariskan semua hartanya kepada Aksa, padahal orang yang selalu setia menemani nya dari dulukan cuma Mama dan aku, bahkan Mama rela tinggal berjauhan sama Papa hanya karena ingin menemani Paman Bagas. Dasar tidak tau terimakasih, sekarang rasakan sendiri akibatnya!'' gumam Gentala terseyum kecut sambil memijit keningnya.
Gentala baru saja mengetahui kenyataan siapa Ayah kandungnya, tadi siang sang Mama memperkenalkan nya dengan seorang pria Blasteran yang bertubuh tinggi, warna kulit putih, hidung bengir dan mata kecoklatan. Gentala merasa dirinya begitu mirip dengan pria itu. Pria yang usianya seperti sepantaran dengan Aditama.
Gentala terus terbayang-bayang tentang kejadian tadi siang, dia merasa begitu terkejut sekaligus senang. Sosok seorang Ayah yang begitu dia idam-idamkan selama ini sudah berada di dekatnya, sudah tinggal se-atap dengannya.
Gentala samar-samar mendengar suara kegaduhan di luar, dia berdiri menajamkan pendengarannya, setelah itu dia mengambil topeng yang tergeletak di atas nakas, dia memasang topeng tersebut ke wajahnya, karena dia harus menyembunyikan identitasnya di depan Bagaskara. Gentala berjalan cepat ke arah ruangan tempat penyekapan sang Paman, karena dia mendengar suara itu berasal dari arah sana.
Begitu dia sudah berada di depan pintu, dia mengetuk pintu keras dan berulang kali, pintu tertutup rapat. Gentala kesusahan membuka nya. Dia tidak berani bersuara karena takut ketahuan oleh Bagaskara.
Gentala mendobrak pintu dengan kuat, setelah itu pintu terbuka lebar. Begitu dia sampai di dalam, dia terperangah dengan kedua mata melotot. Para penjaga yang bertugas menjaga sang Paman telah tumbang semuanya, sekarang giliran mereka yang terbaring tak berdaya dengan tangan terikat dan mulut di perban.
Gentala celingukan melihat ke kiri dan ke kanan lalu berputar, tidak dia temukan keberadaan siapa-siapa. Bagaskara pun sudah tidak ada lagi di tempatnya. Dia mengambil ponselnya yang berada di saku piyama tidur, lalu dengan cepat dia menyentuh nomor sang Mama. Dia begitu panik lagi gelisah, dia sangat takut semua perbuatan dia dan kedua orang tuanya ketahuan.
Plak, belum sempat Gentala melakukan panggilan kepada sang Mama, seseorang menepuk punggung nya dari belakang. Begitu Gentala mengalihkan tubuhnya, bug, bug, bug! Pukulan bertubi-tubi dia terima di bagian wajahnya yang masih memakai topeng. Gentala mencoba untuk melakukan perlawan tetapi dia kalah cepat, pergerakan Aksa lebih lincah dari nya.
__ADS_1
Setelah itu Gentala terjatuh, terkulai lemah di lantai, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dia meminta ampun.
''Ampun, jangan pukul lagi'' lirih Gentala memohon.
Aksa menarik topeng yang menutupi wajah Gentala, lalu terlihatlah oleh nya siapa yang sebenarnya ada di belakang topeng itu. Aksa tidak begitu kaget, karena dia sudah menduga sebelumnya siapa dalang di balik penculikan sang Papa.
Lalu dengan membabi buta Aksa memukul Gentala lebih brutal lagi. Dia seakan gelap mata, dia tidak terima sang Papa di perlakukan seperti itu oleh keponakan nya sendiri.
''Sudah Aksa, dia bisa mati!'' teriak Mayang yang berdiri di belakang Aksa dengan Aditama dan Bagaskara yang ada di dekat nya.
''Orang seperti dia pantas mendapatkan ini! Bahkan lebih!
Mana, mana kedua orang tua mu, brengsek?!'' teriak Aksa.
''Kami di sini anak muda! Berhenti memukuli putra ku, atau kamu mau wanita ini mati menyusul putra nya?''
Aksa mengalihkan pandangannya ke belakang, dia melihat Mama nya Gentala menodong kan pistol ke kepala Mayang, bagian ujung pistol itu sudah menyentuh kepala bagian belakang Mayang yang tertutup hijab. Mayang memejamkan matanya, dia merasa sangat takut, sedangkan Aksa berjalan santai ke arah sang Tante dengan tangan di masukkan ke dalam saku celana. Aditama nampak geram dan cemas melihat nyawa sang putri yang sedang terancam. Sedangkan Bagaskara merasa begitu hancur, kaget, dan marah. Dia mengelus dadanya. Dia tidak pernah menyangka kalau Adik kandung serta sang keponakan yang telah dia jamin hidup mereka selama ini tega bermain curang dan menusuknya dari belakang.
Aksa mengangkat kedua tangannya tinggi, lalu menepuk tangannya sebanyak 2 kali, setelah itu para Bodyguard yang berjumlah 25 orang datang, mereka mengelilingi Mamanya Gentala dengan pistol yang berada di tangan mereka masing-masing, setelah itu para Bodyguard yang berjumlah 5 orang datang lagi membawa Papa nya Gentala yang telah babak belur dengan tangan terikat.
''Lihatlah! Apa masih mau melawan?'' kata Aksa.
''Heh jangan sombong dan merasa menang dulu kau anak wanita sialan, lihatlah wanita ini, aku tidak akan mati sendirian! Hahaha ... '' jawab Mama nya Gentala terkekeh.
''Hani! Jangan konyol, apa yang kau inginkan dari, Mas? Apa semua yang telah Mas berikan selama ini tidak cukup?
Dasar kalian manusia serakah, tidak tahu terimakasih!
Dan pria itu? Bukankah dia sudah punya istri! Ngapain kalian tinggal serumah, kalian belum menikah'' ujar Bagaskara tegas.
''Dia itu Ayahnya Gentala, Mas!''
__ADS_1
''Mas tau, tetapi kalian belum menikah! Gentala anak Haram, dia datang saat Gentala sudah sedewasa ini! pria ini pasti hanya ingin memanfaatkan kamu dan Gentala. Kamu jangan bodoh!''
''Diam Mas!'' teriak Hani lantang dengan suara gemetar, jarinya yang memegang pelatuk pistol bergerak lebih dalam. Dia merasa amat murka karena mendapat penghinaan dari sang Kakak.