
Malam hari, di kediaman Ibnu dan Fitri.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat. Adzan Isya sudah hampir sejam yang lalu berkumandang, tetapi Sari masih belum menjemput bayi nya yang dia titip kan kepada Fitri.
Fitri menyelimuti tubuh mungil bayi perempuan itu, Meisya sudah tertidur pulas begitupun Raihan. Setelah tadi dimandikan, lalu di timang sebentar dengan di beri susu formula lewat botol dot akhirnya Meisya tertidur. Anak Sari tidak terlalu rewel, gampang sekali bagi Fitri untuk menjaganya. Raihan pun merasa begitu senang dengan kehadiran bayi Meisya, seharian ini hanya bayi Meisya yang menjadi pusat perhatiannya.
Setelah menyelimuti dua balita itu, Fitri berlalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian dua pintu, semua pakaiannya yang tidak seberapa sudah dia pindahkan ke dalam lemari yang ada di kamar Raihan. Dia membuka satu pintu lalu mengambil tas berukuran sedang yang berada di bagian bawah sekali, setelah itu Fitri memasukkan satu persatu pakaiannya yang bisa di hitung dengan jari kedalam tas, dan dilanjutkan lagi dengan pakaian milik sang putra yang sama sedikit dengan miliknya.
Tadi sore sang mama menghubunginya lagi, mendesak Fitri untuk segera pulang.
''mayang, mama rindu. Mama kepengen melihat kamu dan cucu mama! Mama lakukan panggilan vidio call lewat WA, ya! Kamu aktifkan data di ponselmu, sayang!'' ucap mamanya tadi sore, dengan suara serak. Mama nya Fitri memang gampang sekali menangis kalau sudah berbicara sama anak semata wayangnya itu.
''jangan ma ...!'' jawab Fitri repleks, dia tidak mau sang mama mengetahui kalau sebenarnya ponsel yang dia punya tidak memiliki aplikasi apa-apa. Iya, Fitri masih menggunakan hp nokia biasa, karena hp android milik nya dulu telah rusak menghantam lantai, terjatuh di banting oleh Ibnu.
''jangan? Kenapa mayang, apa kamu tidak merindukan mama sama papa?'' tanya Hanum di seberang sana terdengar heran.
''bukan begitu ma, tapi ... Hp Mayang tidak ada aplikasi WA nya, ma! Kata Fitri ragu, terpaksa dia mengatakan yang sebenarnya, karena kalau tidak sang mama akan kekeh menanyakan terus.
''Ada apa mayang? mama tidak percaya sama ucapan mu, sayang! Suami kamu kan kerja di perusahaan, masak dia tidak sanggup hanya untuk membeli kan anak mama ponsel. mana suami kamu? Panggil dia, Mama mau bicara!''
''benaran ma, itulah kenyataannya! mayang juga sangat merindukan mama dan papa. Tapi, nanti mayang akan menceritakan semuanya, ma!'' kata Fitri sesenggukan, dia tidak bisa menahan rasa sedihnya.
''kamu kenapa menangis, sayang? apa yang telah terjadi sama anak mama selama 5 tahun ini?''
''tidak ma, tidak kenapa-kenapa. Nanti, nanti saja! Nanti malam sekitar pukul sepuluh malam mama suruh supir untuk menjemput mayang ya, ma. Mayang akan kirimkan alamat nya lewat pesan''
''baiklah sayang, mama tunggu''
Begitulah obrolah Fitri dan mama nya tadi sore, yang membut Fitri yakin akan keputusannya, Fitri juga tidak tega mendengar suara sang mama yang seperti manahan rasa rindu dan kecemasan yang mendalam terhadap nya.
*********
Ibnu juga sudah pulang dari waktu magrib tadi, dia sedang berada di kamar. Mereka bertiga sempat makan malam bersama, Fitri memasakan menu kesukaan sang suami, ada ayam kecap, ikan panggang serta tumis sayur kangkung yang begitu di sukai Ibnu. Fitri membeli semua bahan-bahan menu yang tidak murah tersebut menggunakan uang simpanannya, hingga uang simpanannya tak bersisa sedikit pun.
''biarlah, ini makan malam terakhir. Aku akan membuat sedikit berkesan untuk mas Ibnu, sebelum aku dan putraku pergi'' pikir Fitri.
Ibnu merasa heran melihat sikap Fitri tadi, Fitri melayaninya seperti biasa, memasukkan nasi serta air untuknya, serta Fitri juga tidak sudah mau bicara seperti biasa dia akan berbicara saat Ibnu mengajaknya berbicara. Hingga Ibnu menganggap Fitri begitu gampang untuk di taklukkan.
__ADS_1
''katanya kamu tidak punya uang lagi, lalu dari mana kamu dapat uang untuk membeli bahan makanan ini, Fit?'' Tanya Ibnu tadi sebelum dia menyantap makanan yang ada di piringnya.
''sudah makan saja, mas. Semua ini aku beli menggunakan uang modal aku untuk jualan kue''
''lalu, bagaimana lagi kamu akan jualan besok pagi? gaji aku akan keluarnya 2 hari lagi!''
''besok pagi aku tidak akan jualan, mas"
''kenapa?''
''tidak Kenapa-napa''
Itulah obrolan singkat antara Fitri dan Ibnu di meja makan tadi. Sedangkan Raihan hanya diam, anak itu tidak akan banyak bicara saat berdekatan sama sang papa nya.
*********
Ibnu berjalan mondar mandir di dalam kamar. Dia merasa gelisah, tadi Anggia sang kekasih mendesaknya supaya dia segera menceraikan Fitri malam ini juga. Ibnu merasa ragu, entah kenapa dia merasa belum siap untuk melepaskan Fitri.
Ponsel milik Ibnu berdering, menandakan ada pesan masuk. Ibnu membuka aplikasi berwarna hijau itu.
''belum, ini akan segera mas lakukan!''
''baiklah, tapi kamu tunggu dulu. Aku, mama sama Sari akan kerumah mu, mas. Sari akan menjemput bayi Meisya serta kami juga akan melihat kamu menalak Fitri secara langsung''
''okey, cepatlah. Sepertinya hujan akan turun lagi malam ini''
''iya mas, tunggu sebentar, ini kami akan segera berangkat. Sampai ketemu mas''
''iya"
Setelah selesai berbalas pesan bersama sang kekasih, Ibnu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana, lalu melangkahkan kakinya, dia hendak menemui Fitri, dia membuka pintu kamar. Bertepatan dengan itu, Fitri juga membuka pintu kamar dari luar. Hingga Ibnu sedikit terjengkang karena dorongan dari Fitri yang berhasil membuatnya kaget. Fitri juga akan berbicara, dia akan memperjelas hubungannya dengan Ibnu lalu meminta Ibnu untuk menceraikannya malam ini juga. Tujuan mereka sama.
''Fitri! Kamu ...'' ucap Ibnu sedikit keras.
''maaf mas, tadi aku nggak sengaja''
''ya sudah, tidak apa-apa''
__ADS_1
''mau apa, tumben? Apa kamu sudah merindukan aku?'' ucap Ibnu sinis.
Fitri tidak langsung menjawab, dia berjalan melewati Ibnu. Lalu berdiri di depan jendela, setelah itu dia sedikit membungkuk tubuhnya. ''malam sudah semakin larut, tapi jendela masih belum kamu kunci. Angin malam tidak baik untuk kesehatan mu, mas'' ujar Fitri sambil menutup pintu.
Ibnu hanya diam, dia mengamati Fitri dari belakang. Malam ini penampilan Fitri sedikit berbeda, Fitri tidak lagi memakai daster usang dengan tempelan di mana-mana. Tapi, Fitri memakai dress bewarna merah muda di bawah lutut yang tampak cantik. Tubuh Fitri juga kelihatan lebih press dari biasa. Saat Ibnu tengah fokus memperhatikan Fitri, tiba-tiba Fitri mengeluarkan suara dengan posisi masih menghadap keluar, menyapu pemandangan yang ada diluar, angin sudah berhembus kencang, sepertinya tidak lama lagi hujan akan segera menyusul.
''mas, bagaimana? Aku lelah mas. Lima tahun, lima tahun sudah kita membina rumah tangga tapi kehidupan keluarga kecil kita bisa di katakan sangat jauh berbeda dari keluarga kebanyakan. Satu tahun pernikahan kita, kamu masih bersikap sangat baik dan peduli terhadapku. Tapi, setelah kelahiran putra kita Raihan, kamu berubah mas. Aku seperti sudah tidak mengenali kamu''
''kamu bicara apa, Fitri?'' potong Ibnu.
''aku rela meninggalkan keluargaku, meninggalkan kehidupan yang serba mewah, dan aku rela membantah ucapan kedua orang tuaku, hanya karena aku ingin bersamamu. Aku pikir kita akan menua bersama-sama mas, menghabiskan waktu membesarkan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan. Tapi, aku salah. Impian yang sempat terbesit di pikiranku salah basar, mas.
Jadi begini mas, mari, mari kita akhiri semuanya sekarang, mas! Kamu berbahagia lah dengan wanita itu, dan aku akan pergi''
''pergi? Kamu mau pergi kemana, Fitri? Orang tuamu sudah tidak menganggap kamu lagi!'' sahut Ibnu, dia sempat tercengang mendengar penuturan Fitri. Lalu sedetik kemudian dia tersenyum sinis, dia merasa Fitri tidak akan bisa hidup tanpa dirinya.
''kamu memang benar, mas. Orang tua ku memang sudah tidak menganggap ku lagi. Entahlah, aku akan pergi kemana saja membawa langkahku.''
''kamu yakin? Bagaimana dengan Raihan"
''aku yakin sekali. Raihan akan ikut denganku kemanapun aku pergi''
''kamu tidak akan bisa memberikan nafkah yang layak untuk Raihan, biar Raihan tetap denganku''
Fitri hanya diam, dia lalu beralih menghadap Ibnu. dia menatap manik hitam Ibnu dalam. Sedangkan Ibnu merasa sedikit grogi mendapat tatapan tajam dari sang istri.
''dia putra ku, aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan nya. Tidak seperti kamu, mana? Selama ini kamu tidak pernah memperhatikan tumbuh kembang nya, kamu tidak pernah membeli mainan yang dia suka dan, ah ... Banyak lagi. Sebaiknya kamu ucapkan talakmu sekarang juga mas,'' ucap Fitri dengan penuh penekanan.
''mungkin memang sekarang lah waktunya'' batin Ibnu. Bertepatan dengan itu bunyi pintu di ketuk dari luar terdengar.
Fokus Fitri dan Ibnu teralihkan.
''ah iya, mungkin itu Sari. Aku akan membuka pintu terlebih dahulu'' ucap Fitri lalu berlalu.
Ibnu berjalan di belakang, mengikuti langkah wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Dia tahu kalau yang datang itu adalah, Anggia, mamanya dan adiknya Sari.
Entah kenapa jantung Ibnu berdegub lebih cepat, kedua tangannya saling meremas, ujung jarinya terasa dingin.
__ADS_1