
''Raihan, putraku'' sapa Ibnu yang keluar dari rerimbunan bunga yang ada di belakang Raihan.
Raihan yang sedang meloncat kegirangan merasa kaget karena mendengar suara sang papa, suara yang sering membentak mamanya dulu. Dengan cepat dia berlari mendekat ke arah mama dan paman Aksa.
Mayang dan Aksa pun ikut di kagetkan dengan kehadiran Ibnu yang tiba-tiba, Aksa kemudian membawa Raihan kedalam gendongannya.
''Raihan, sini sama papa, nak! Papa sangat merindukan Raihan'' bujuk Ibnu dengan suara lembut. Dia berangsur mendekat membawa langkahnya ke arah Raihan. Sedangkan Raihan memeluk Aksa dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aksa.
''tidak mau!'' sahut Raihan.
''Raihan!'' bentak Ibnu, dia tidak suka dengan penolakan.
''stop, mas!'' timpal Mayang berdiri, dengan tangan dimajukan kedepan.
''Fitri, mas mohon biarkan Raihan ikut bersama mas sebentar saja. Dia juga putraku Fitri, darah dagingku. Izinkan mas memeluknya, dan membawanya bermain bersama mas!'' mohon Ibnu dengan suara dibuat-buat lembut.
''kenapa? Kenapa baru sekarang? Dulu kemana saja saat kesempatan kamu untuk bersama putra mu masih terbuka lebar, kamu sekalipun tidak pernah memperdulikan nya,'' kata Mayang acuh, tersenyum getir.
''maafkan mas, Fitri, setelah kepergian kalian dari hidup mas, mas baru menyadari kalau kalian berdua begitu berarti bagi mas. Mas sangat merindukan kamu dan Raihan''
''omong kosong apa itu! aku dan putraku tidak butuh kamu! Enyah lah dari sini''
''tidak Fitri. Mas tidak akan pergi sebelum Raihan ikut dengan mas'' kekeh Ibnu.
''Baiklah, ayo" ajak Mayang, melangkahkan kaki pergi meninggalkan Ibnu, dia memilih mengalah.
''Fitri!'' bentak Ibnu tidak terima, dia mengejar Mayang, lalu memegang pergelangan tangan Mayang erat.
''lepaskan, Ibnu.'' ujar Aksa tegas, dia tidak suka melihat sikap Ibnu, apalagi Ibnu yang dengan begitu lancang nya memegang tangan Mayang.
''hey, siapa kamu? Kamu hanyalah seorang pria suruhan di keluarga Fitri. Tidak usah ikut campur! Sekarang pergilah kamu, serahkan Raihan kepadaku, biarkan kami bertiga berbicara, kamu hanya orang luar!''
''hah, apa katamu, Ibnu? berbicara? Tidak sudi, sana bicara sama pohon yang bergoyang'' katus Mayang menepis tangan Ibnu keras, hingga tangannya terlepas dari pegangan Ibnu, lalu Mayang dan Aksa pergi meninggalkan Ibnu yang berdiri mematung dengan nafas memburu. Raihan mengintip sang papa sesekali dari pundak Ibnu.
''okey, baiklah. Kalau tidak bisa dengan cara baik-baik maka aku akan menggunakan cara sedikit keras, benar kata mama, aku harus diam-diam menculik Raihan, setelah itu aku akan meminta tebusan kepada Aditama dengan jumlah uang ratusan juta'' batin Ibnu, tersenyum getir.
__ADS_1
Setelah itu dia ikut meninggalkan taman yang nampak sepi tersebut.
*****
''mama, kenapa papa jahat sama kita? Kenapa papa Raihan bukan paman Aksa saja, paman Aksa sangat baik sama Raihan dan juga mama, padahal paman Aksa bukan papa Raihan'' celoteh Raihan terdengar sedih saat Mayang sedang memakaikan pakaian sang putra di kamar, mereka sedang bersiap untuk ikut Aksa ke panti.
Mayang menarik nafas dalam, 'bisa-bisanya Raihan berpikir seperti itu', pikirnya. Mayang tidak menjawab, dia bingung harus menjawab apa, dia lanjut menyisir rambut tebal sang putra, Raihan menatap sang mama lekat berharap perkataannya mendapat balasan.
''mama,'' panggilnya menengadah, saat Mayang meletakkan sisir di atas lemari. Mayang pun akhirnya berjongkok tidak tega sama sang putri, dia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang putra. Lalu berkata pelan,
''sayang, kelak saat Raihan dewasa Raihan akan mengerti segalanya. Pesan mama, Raihan jadi lah pria sejati ya, nak, jangan menyakiti siapapun dengan lisan maupun perbuatan kita, terutama seorang wanita. Karena itu bukanlah sikap seorang jagoan, Raihan bisa belajar banyak sama opa dan paman Aksa. Dan pesan mama juga, mama tidak melarang Raihan untuk membenci papa, itu hak Raihan. Hanya saja Raihan nggak boleh dendam sama papa ya, nak, kerena walau gimana juga papa adalah papa kandung nya Raihan. Raihan mengerti, kan?''
''iya, Raihan mengerti mama'' jawab Raihan mengangguk.
''ya sudah kalau begitu ayo kita turun, paman Aksa sudah menunggu kita sepertinya'' ajak Mayang
''ayo'' jawab Raihan riang.
Mayang dan Raihan turun bersama bergandengan tangan dengan senyum mengembang, mereka memakai pakaian bewarna senada, Mayang dengan dress berwarna putih dibawah lutut yang di padukan dengan jaket jeans sedangkan Raihan atasan kemeja putih, celana jeans panjang. Mereka tampak sederhana tetapi berkelas.
Begitu sampai, Aksa dan Mayang sempat tertegun melihat penampilan mereka yang memiliki kesamaan.
''wah, lihat ma ... Pakaian paman Aksa mirip sama kita'' kata Raihan menubruk kaki Aksa, Aksa dengan enteng nya mengangkat tubuh mungil itu.
''ini kalian kebetulan apa memang sudah janjian sebelumnya'' kata Aditama curiga, melihat ke arah Aksa lalu bergantian melihat Mayang.
''nggak tahu juga pa, kok bisa samaan gini kitanya, kan Aksa? Padahal kita nggak ada janjian lho'' celetuk Mayang merasa heran juga.
''iya, non.'' kata Aksa kaku, dia terlihat begitu tampan dengan celana jeans di padukan dengan kemeja bewarna putih lengan panjang.
''ya sudah sana buruan kalian berangkat, ntar keburu sore'' kata mama Hanum mengalihkan topik pembicaraan.
''baik, ma''
Setelah itu Mayang dan Raihan mengambil tangan Aditama dan Hanum, menyalami mereka bergantian.
__ADS_1
''Sayang, bodyguard akan mengikuti mobil kalian dari belakang untuk jaga-jaga'' kata Aditama.
''tidak usah pa, sepertinya terlalu berlebihan. Kita nggak kemana-mana kok, cuma ke panti aja''
''iya, Mayang ada benarnya juga pa, Aksa kan ada''
''ya sudah, hati-hati ya Aksa, tolong jaga putri dan cucu saya dengan baik'' pesan Aditama.
''baik tuan, kalau begitu kami pamit dulu'' balas Aksa sopan.
setelah mobil yang membawa Aksa, Mayang dan Raihan menghilangkan dari pandangan, Aditama dan Hanum masuk kedalam rumah mereka nan megah.
****
Tidak berapa lama, mobil yang di kemudi Aksa berbelok arah lalu memasuki pagar yang terbuka lebar, di sana tampak begitu asri, pohon-pohon berbaris rapi.
''sudah mau sampai?'' tanya Mayang, yang duduk di belakang menikmati pemandangan sekitar. Dengan Raihan yang terlelap di pangkuannya.
''sebentar lagi, non'' jawab Aksa.
''indah sekali pemandangan di sini, Aksa''
''iya, non. Di sekitar sini aku selalu menyendiri saat weekend atau sedang merindukan seseorang yang mengisi hati ku selama ini, aku tidak dapat memeluknya secara nyata, jadi, aku selalu menyendiri di atas rumah pohon itu, memeluknya dalam sunyi, merasakan kehadiran nya hanya dengan menyebut namanya berulang kali'' ungkap Aksa, menunjuk pohon tua dengan rumah dibagian dahannya.
''oh, kamu so sweet sekali, Aksa. Betapa beruntungnya wanita itu'' kata Mayang tersenyum lebar.
****
"Ikuti terus mobil itu,''
''baik, bos''
''jangan sampai gagal, saya sudah capek membayar kalian mahal-mahal dengan sisa uang yang saya punya. Awas saja kalian kalau sampai gagal!''
''siap bos, bos tenang saja. Pokonya semuanya beres bos''
__ADS_1
''........