
Mayang duduk bersimpuh di depan gundukan kecil, dia menaburi bunga dan menyirami air yasin di atas gundukan itu serta tidak lupa mengirimkan doa, dia berdoa di depan makam sang putra dengan begitu khusyuk.
Mayang tidak sendiri, dia di temani oleh beberapa Bodyguard yang berdiri tidak jauh dari nya. Para Bodyguard terus memperhatikan Mayang, untuk memastikan keselamatan sang Nyonya.
''ma, aku pergi ke makam Raihan dulu ya, soalnya aku kangen banget sama Raihan.'' pamit Mayang tadi sebelum dia berangkat.
''sekarang sudah pukul 5 sore lho sayang, besok saja ya.''
''mayang cuma sebentar kok Ma, boleh ya''
''iya sudah, maaf, Mama tidak bisa menemani kamu pergi Sayang. Soalnya nanti setelah Isya ada teman-teman Mama yang akan datang ke sini, Mama ada arisan soalnya. Mama masih perlu menyiapkan beberapa menu hidangan''
''enggak apa-apa Ma, Mayang bisa sendiri''
''jangan sendiri Sayang. Kamu lebih baik pergi dengan di temani oleh para Bodyguard kita ya. Mama tidak mau kamu kenapa-napa. Area di pemakaman itu sangat sepi setahu Mama, apalagi sore-sore begini'
''mayang sendiri saja Ma. Lagian siapa lagi sih yang punya niat jahat sama Mayang. Mas Ibnu dan Keluarga nya kan sudah di penjara''
''kita tidak tahu isi hati seseorang yang sesungguhnya Sayang. Belum tentu orang yang kita anggap baik selama ini memang benar-benar baik. Mama tidak mau lagi kecolongan. Bisa-bisa Papa kamu murka dan jantungan kalau terjadi apa-apa sama kamu. Kali ini nurut ya, cuma kamu yang Mama dan Papa punya''
''iya deh'' sahut Mayang seraya mengecup pipi sang Mama.
Sedangkan Aditama masih belum pulang dari Perusahaan nya.
********
Gentala terus memperhatikan Mayang dari balik batang pohon beringin dengan wajah di tutupi topeng, dia mencari celah dan kesempatan untuk bisa menangkap Mayang. Setelah menunggu cukup lama masih belum ada juga tanda-tanda Bodyguard itu akan pergi, akhirnya Gentala menyerah.
''sialan, sepertinya para Bodyguard itu tidak akan pergi menjauhi Mayang. Lebih baik aku putar balikkan saja rencana ku. Brengsek gagal lagi deh!'' umpat Gentala kesal seraya membuka topeng, setelah itu dia keluar dari balik pohon beringin, dia berjalan menghampiri Mayang.
Saat sudah berada tepat di belakang Mayang, Gentala menyapa Mayang lembut. Para Bodyguard memperhatikan Gentala dengan intens, selanjutnya mereka melempar senyum ke arah Gentala, karena setahu mereka Gentala adalah orang yang baik.
''hey Mayang,'' ucap Gentala seraya menyentuh bahu Mayang yang di tutupi jilbab panjang.
''iya!'' kaget Mayang terlonjak, dia melihat kebelakang, dengan pelan dia menyingkirkan tangan Gentala yang masih berada di bahunya.
''Gentala, ka--mu di sini juga? Ngapain?'' tanya Mayang heran dengan mata menyipit.
''iya, biasa ....'' jawab Gentala sok cool dengan tangan di masukkan ke saku celana.
''biasa? Kamu ngikutin aku lagi ya?''
''iya, habis kamu aku hubungi dari kemaren kemaren nggak pernah di angkat, terpaksa deh aku diam-diam ngikutin kamu lagi. Aku kangen''
__ADS_1
''kebiasaan. Kangen sama siapa?''
''kangen sama kamu. Kamu kenapa kesini nggak ngajakin aku? Aku 'kan bisa menemani kamu kemana pun kamu mau''
''aku nggak mau ngerepotin siapa siapa''
''Kok gitu? ya sudah, pulang yuk. Udah mau gelap ini''
Mayang hanya mengangguk, Mayang dan Gentala berjalan berdampingan menuju mobil mereka, di ikuti para Bodyguard.
''kamu bareng aku aja ya pulang nya'' tawar Gentala memohon.
''nggak usah, aku sama sopir aja'' tolak Mayang halus.
''pliss, sekali ini saja. Aku masih pengen ngobrol-ngobrol banyak sama kamu'' mohon Gentala sedikit memaksa.
''sebentar lagi waktu Magrib Gentala. Lain kali saja kita ngobrol nya'' ucap Mayang sedikit ketus, dia tidak suka di paksa.
Gentala menarik nafas dalam, dia merasa kesal. Dia ingin melampiaskan kekesalannya tetapi sebisa mungkin dia tahan, ''aku nggak boleh gegabah, aku harus selalu terlihat baik dan sempurna di mata Mayang, supaya aku bisa mendapatkan hati Mayang'' batin Gentala berkecamuk.
Setelah itu Mayang dan Gentala masuk ke dalam mobil milik mereka masing-masing. Mereka beranjak dari area TPU yang sudah remang-remang, dengan pohon-pohon bergerak- gerak terkena hembusan angin. Sensasi horor mendominasi tempat itu. Gentala merasa amat kesal, berulang kali dia memukul stir mobil nya.
Tidak lama setelah mereka pergi, Aksa datang dengan kondisi begitu cemas. Aksa dan Mayang berselisih jalan.
''ke mana Mayang? Sepertinya Mayang memang habis dari sini.'' kata Aksa dengan tatapan tertuju ke arah gundukan tanah makam yang di penuhi dengan bunga bewarna-warni. ''Jangan sampai Gentala berhasil menodai Mayang. Aku tidak rela, lebih baik aku mencari Mayang ke tempat lain saja'' gumam Aksa, Aksa memegang tengkuknya yang merinding.
Aksa membaca surah Al-fatihah, lalu mengelus nisan yang tertulis nama Raihan, ''maafkan Paman jagoan, Paman hanya mengirim surah Al-fatihah saja untukmu. Besok paman akan berkunjung lagi'' Aksa berkata lirih. Setelah itu dia berlalu dengan langkah kaki lebar. Dia tidak tahan berlama-lama berada di tempat pemakaman umum yang sudah mulai gelap itu dengan suara kicauan burung gagak yang saling bersahutan.
*******
Mayang tiba dirumah, begitu sampai di rumah dia langsung menuju lantas atas, masuk ke kamar. Mayang mengambil ponselnya yang tergeletak di atas laci, yang memang sengaja tidak dia bawa tadi.
''waw ... Kenapa panggilan dari Aksa banyak begini? Ada apa, ya?'' gumam Mayang ketika dia melihat layar ponselnya.
''ah ... Sebelum shalat Magrib lebih baik aku menghubungi Aksa sebentar, kok aku kangen ya sama dia'' batin Mayang tersenyum simpul dengan wajah merona.
Mayang menghubungi nomor Aksa, hanya dengan sekali panggilan saja Aksa langsung mengangkat telpon dari Mayang.
''hallo ... Mayang! Kamu di mana? Kamu baik-baik saja, 'kan?'' cerosos Aksa dari seberang sana dengan nada sedikit keras. Mayang sedikit menjauh kan ponselnya dari telinga.
''walaikumsallam, Aksa. Aku dirumah, iya aku baik-baik saja. Emang kenapa?'' jawab Mayang pelan dengan senyum mengembang. Entah mengapa dia merasa amat bahagia mendengar suara Aksa, berbeda sekali saat dia bersama Gentala, Mayang merasa biasa saja kalau berbicara sama Gentala.
''beneran baik-baik saja?'' tanya Aksa, Aksa berada di dalam mobil di pelantaran Mesjid terdekat, dia berhenti di salah satu Mesjid untuk melaksanakan sholat Magrib. Begitu dia mendapat panggilan dari Mayang dia langsung mengangkat nya cepat.
__ADS_1
''iya, aku baik-baik saja. Kalau nggak percaya, sini, kerumah, lihat sendiri'' goda Mayang.
"Kerumah?'' tanya Aksa memastikan.
''iya'' jawab Mayang.
''malu ah ...''
''hahaha ... Malu kata kamu! Malu apanya, Aksa? Kamu kayak sama siapa saja.''
''emang aku siapanya kamu?''
''kamu kan mantan Asisten nya Papa''
''cuma itu?''
''terus maunya apa?'' tanya Mayang.
''maunya lebih dari itu ...'' balas Aksa. Mereka sama-sama tersenyum dengan ponsel berada di telinga.
''lebih?''
''iya!''
''apa dong?''
''su ...''
Tut!
Belum sempat Aksa melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba ponsel Mayang mati.
''yah ... Lobet. Kira-kira Aksa mau mengatakan apalagi tadi ya?'' gumam Mayang seraya mencolokkan cas ke ponselnya.
''sholat dulu ah'' sambung Mayang lagi menuju kamar mandi.
Di tempat yang berbeda, setelah panggilan terputus Aksa mencoba menghubungi Mayang lagi, tetapi tidak aktif. Akhirnya dia keluar dari mobil.
''sholat dulu lah. Nanti saja urusan hati, sekarang saatnya berinteraksi dengan sang pemilik hati dan maha pemberi. Utamakan dulu kewajiban mu tepat waktu, kerjakan saat waktu nya tiba, maka Allah pasti akan mempermudah urusan yang lainnya,'' gumam Aksa, melangkahkan kaki memasuki Masjid.
******
Selesai sholat, Aksa melajukan kembali kendaraan roda empat miliknya. Setelah melaju cukup jauh, dia berhenti di depan sebuah toko bunga.
__ADS_1
''aku tidak akan menunda-nunda lagi. Sekarang lah saatnya, semakin cepat semakin baik. Aku akan memberikan kembang yang cantik untuk Mayang, secantik dirinya'' gumam Aksa, setelah itu dia berlalu keluar dari mobil, memasuki toko bunga dengan perasaan deg-degan.