
Jantungku seketika berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat aku melihat Mayang turun dari tangga dengan di dampingi oleh sang Mama. Mayang tampak sangat anggun dengan gamis serta jilbab yang bewarna senada, merah muda. Jilbab lebar yang menutupi setengah bagian tubuhnya. Dia melempar senyum manis ke arah kami yang ada di bawah. Sangat manis menurut ku, membuatku semakin tak kuasa untuk segera memiliki nya, menghalalkan wanita pujaan ku itu.
***
"Maaf kalau lama menunggu,'' Mayang berkata lembut saat sudah berada di hadapan kami, lalu dia duduk sopan mengangkat sedikit gamisnya yang panjang, dia duduk tepat di samping Gendis bergabung dengan kami.
''Tidak lama kok Nak Mayang. Masya Allah, Nak Mayang cantik sekali.'' jawab Ibu Aida lembut dengan pujian serta tatapan yang tertuju lekat ke arah Mayang. Ibu Aida adalah ibu Panti yang merawat serta membesarkan ku di Panti, hingga aku bisa sebesar dan sedewasa ini sekarang. Aku menganggapnya sudah seperti Ibu kandungku sendiri. Tanpa dia aku bukanlah siapa-siapa. Itulah sebabnya aku mengajak serta Ibu dan Gendis-- gadis yang sudah aku anggap seperti Adikku sendiri untuk ikut kerumah Mayang, untuk acara lamaran ku, mereka berhak tahu dan menyaksikan hari-hari penting dan bahagia ku.
''Ah, Ibu bisa saja. Makasih aja Bu atas pujiannya. Itu hidangannya silahkan di icip-icip Pak, Bu dan Gendis'' kata Mayang dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajah nya. Aku sesekali mencuri pandang ke arahnya dengan tetap menjaga sikapku.
''Eemm ... Itu, calon suaminya nggak di tawarin'' celetuk Mama Hanum-- Mama nya Mayang seperti sengaja menggoda.
''Ah iya. Aksa, kamu juga, silahkan. Nggak usah malu-malu'' balas Mayang kikuk, aku melihat wajahnya yang putih bersih tiba-tiba merona.
''Masih manggil Aksa aja, sebentar lagi jadi imam kamu lho sayang, panggil Mas, Abang atau apa gitu yang enak di dengar'' sambung Tuan Aditama yang duduk di samping Papa.
''Papa! apaan sih'' kata Mayang malu-malu terdengar ada penekanan di ucapannya.
Kemudian semua orang tertawa termasuk aku, aku tersenyum seraya melihat ke arah calon istriku yang juga tersenyum, kami saling tatap dalam beberapa detik. Setelah itu aku melempar tatapan ke arah Gendis yang duduk di samping Mayang, aku melihat dia hanya tersenyum tipis seperti di paksakan, dari tadi sikap Adikku itu sedikit berbeda dari biasanya, dia tidak seceria biasa, wajahnya nampak murung.
''Baiklah, kita mulai saja ya acaranya,'' kata Papa saat tawa kami sudah reda.
Aku mengangguk termasuk yang lainnya juga. Kemudian Papa melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
''Sebelumnya terimakasih atas hidangan istimewa dan sambutan baiknya.
Jadi begini, kita sudah sama-sama tahu tentang maksud saya berserta rombongan saya datang kerumah ini. Saya, Putra saya, bu Aida dan juga Gendis datang ke sini ingin menyampaikan niat baik kami. Saya menemani Putra saya Aksa untuk melamar Putri dari tuan Aditama-Mayang. Lamaran yang bertujuan untuk semakin mendekat kan hubungan keduanya yaitu- Mayang dan Aksa. Mereka yang katanya sama-sama memiliki perasaan yang sama yang di namakan cinta, hingga membuat mereka berdua berkeinginan untuk merajut suatu hubungan yang lebih serius, hubungan yang baik lagi suci yang merupakan ibadah terpanjang bagi keduanya, yaitu ikatan pernikahan.'' Papa diam sejenak, lalu setelah itu melanjutkan lagi ucapnya. Aku dan yang lainnya mendengar serius.
''Sekarang Papa mau bertanya secara langsung sama Nak Mayang, Nak Mayang apakah bersedia untuk menjadi bagian dari keluarga kami? Apakah Nak Mayang memang memiliki perasaan yang sama seperti yang Aksa rasakan? dan apakah Nak Mayang benar ingin menjadi istri dari seorang Aksa?'' tanya Papa menatap ke arah Mayang. Kami semua melihat ke arah Mayang, menunggu jawaban nya. Aku merasakan detak jantung ku yang tak kunjung reda, detak jantung ku kali ini malah semakin dalam debarannya yang aku rasakan.
''Iya, aku bersedia, Pa. Aku juga mencintai Aksa. Aku mau menjadi istrinya.'' jawab Mayang lancar.
''Alhamdulillahh,'' ucap kami bersamaan tersenyum lega.
''Jadi, kapan kita akan mengadakan acara pertunangan?'' kata Papa lagi.
''Aku terserah Mayang saja, mau nya kapan. Bagaimana bagusnya saja'' jawabku.
Setelah Mayang mengatakan seperti itu, kami semua menyetujui saran dan keputusannya. Kami berdiskusi menyangkut hari dan tanggal pernikahan yang akan di adakan, beberapa saat setelah itu kami memutuskan akan mengadakan acara pernikahan sebulan lagi. Sebenarnya aku yang memutuskannya, Mayang ingin lebih cepat, tetapi aku masih perlu menyiapkan semuanya. Ini pernikahan pertama dan juga terakhir ku yang sudah lama aku harapkan, aku ingin mengundang seluruh relasi, teman dan semua kenalan ku, termasuk para karyawan di perusahaan. Aku akan membuat pesta pernikahan yang mewah dan berkesan, aku ingin membuat Mayang merasa dihargai, Mayang akan menjadi ratu sehari, aku ingin membuat perlahan luka di masa lalunya yang menyakitkan terhapus, terkikis karena kehadiran aku.
''Mmm ini, bagaimana? Bukankah tidak ada acara pertunangan, apa boleh aku memakai kan cincin ini ke jari manis mu sekarang, Mayang? Aku ingin di antara kita ada simbol pengikat, walaupun pernikahan kita akan di adakan sebulan lagi'' kata ku seraya mengeluarkan kotak beludru bewarna silver dari saku kemejaku.
''boleh'' jawab Mayang lirih.
Papa, tuan Aditama, Mama Hanum, bu Aida menyaksikan dengan senyum. Sedangkan Gendis sibuk sendiri dengan ponsel yang ada di tangan nya, dia menunduk, tidak menampakkan wajahnya.
Aku lalu mengeluarkan cincin berlian indah yang harganya begitu fantastis, yang khusus aku pesan untuk Mayang. Aku menghampiri Mayang, begitu aku sampai di depannya, aku meminta Mayang untuk menjulurkan jarinya yang lentik. Saat aku hendak memasukkan cincin ke jari manis Mayang, tiba-tiba Gendis bersuara.
__ADS_1
''Toiletnya di mana?'' tanyanya yang membuat aku sedikit gagal fokus dengan cincin di tangan yang masih menggantung di udara.
''Kamu mau ke toilet Gendis?'' balas Mayang lembut.
''Iya!'' jawab Gendis, suaranya terdengar serak. Dia menutup sebagian wajahnya menggunakan jilbabnya.
''Tunggu sebentar Gendis. Aku panggil Bibik dulu'' ucap Mayang. ''Bik ...'' teriak Mayang memanggil Bibik, ''biar bibik aja yang menemani kamu ke toilet ya, soalnya toiletnya jauh di belakang, takut kamunya nyasar'' ucap Mayang dengan senyum simpul.
Gendis tidak bersuara, dia hanya mengangguk kecil, aku melihat ke arahnya, dia berusaha menyembunyikan wajahnya dari kami. Entah kenapa aku melihat mata Gendis merah dengan air mata mengenang.
Tidak lama setelah itu Bibik datang, Gendis berdiri dari duduknya.
''Hiks ...''
Suara isakan tertahan yang berasal dari Gendis terdengar oleh kami yang ada di ruangan. Gendis melangkahkan kakinya cepat dengan di dampingi Bibik-- wanita paruh baya yang merupakan kepala pelayan di kediaman Aditama. Kami menatap heran punggung Gendis yang semakin menjauh.
''Gendis kenapa, Bu?'' tanyaku, mataku menatap ke arah wanita yang membesarkan ku.
''Ibu juga enggak tahu, Aksa. Gendis emang berubah menjadi pendiam dari tadi siang saat kamu menggabari akan mengajak kami datang kesini'' jelas Bu Aida.
Kami semua yang ada di ruangan itu saling menatap satu sama lain dengan pertanyaan yang sama. Kenapa Gendis? Apa yang terjadi?
Setelah itu aku lanjut memasang kan cincin ke jari manis Mayang. Mayang pun sama, dia memasang cincin ke jari manis ku. Sedangkan Gendis belum kembali dari toilet.
__ADS_1
Aku merasa sangat bahagia, aku sudah tidak sabar lagi ingin memiliki Mayang seutuhnya.