Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Dimana Raihan?


__ADS_3

Orang suruhan Ibnu yang berbadan besar, berkulit gelap, berwajah seram itu tersenyum mengembang saat tubuh Raihan terkulai lemah tak sadarkan diri karena pengaruh obat yang terdapat disapu tangan yang di bekap kemulut Raihan. Setelah itu dia dengan cepat membawa tubuh mungil Raihan kedalam dekapannya, lalu berlari menjauh dari panti. Tanpa Aksa sadari.


****


Mayang sedang asyik di dalam panti, mengombrol bersama ibu panti dan ibu-ibu yang lainnya yang berjumlah 2 orang. Mayang membantu mereka membereskan makanan dan mainan yang di bawa nya tadi yang masih berada di ruang tamu, sebentar lagi mereka akan makan siang bersama-sama.


''sudah nak Mayang, tidak usah, biar kita saja yang membereskan semuanya. Nak Mayang beristirahat saja'' kata bu Aida lembut, ibu panti yang berusia 67 tahun itu.


''tidak apa-apa bu, ini mah kerjaan gampang bagi Mayang'' jawab Mayang ramah tersenyum simpul.


''kamu sudah cantik, baik hati dan tidak sombong. Tuan Aditama pasti sangat bangga memiliki putri seperti kamu, nak'' puji bu Aida.


''ah tidak juga bu, dulu aku tidak seperti ini, bu. Aku dulu adalah putri mereka yang keras kepala''


''manusia tidak ada yang sempurna nak Mayang, semua berproses. Sekarang nak Mayang menurut pandangan ibu sudah menjadi wanita yang sangat baik dan rendah hati''


''ibu bisa saja a--'' tiba-tiba ucapan Mayang terhenti saat mendengar teriakkan beramai-ramai dari luar.


***


Selesai berbicara sama seseorang lewat ponselnya, Aksa kembali melihat kearah di mana Raihan berada tadi, ''ke mana perginya Raihan, perasaan tadi masih di sini,'' gumamnya, saat tatapannya tidak melihat keberadaan Raihan, berulang kali dia mengecek tempat itu, Raihan tetap tidak dia temukan. Aksa kemudian berlari cemas, menanyakan tentang keberadaan Raihan kepada anak-anak panti yang tadi bermain petak umpet bersama Raihan.


''kalian melihat keberadaan, Raihan? Dimana dia?!'' tanya Aksa cemas dan panik, dengan wajah tegang saat sudah sampai di kerumunan anak-anak yang berjumlah sekitar lima belas orang.


''tidak kak, kami juga tidak melihat Raihan, kak Aksa. Aku sudah menemukan semua teman-temanku ditampat persembunyian mereka. Tapi, Raihan tidak ada, padahal aku sudah menelusuri seluruh area panti'' jawab Ismail, yang bertugas menjaga tiang tadi.


Usai mendengar perkataan Ismail, Aksa dilanda kecemasan yang luar biasa, dia lalu mencari Raihan lagi ke seluruh area panti tapi tetap tidak menemukan keberadaan Raihan.


''Raihan ... Jangan becanda jagoan! Ayo keluarlah'' teriaknya, dengan nafas ngos-ngosan.


''Raihan ...!


''Raihan ...!


Teriak anak panti beramai-ramai, dengan kepanikan yang melanda.


Hingga teriakan mereka terdengar ketelinga Mayang, seketika hati Mayang ikut dilanda kecemasan, dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


''ibu dengar, tidak? kenapa mereka memanggil Raihan beramai-ramai begitu'' heran Mayang.


''Ibu tidak tahu juga nak Mayang, ayo kita lihat keluar'' sahut bu Aida yang sama herannya.


Mayang dan ibu Aida melangkahkan kaki lebar, di saat mereka sudah sampai di pintu utama, bertepatan Aksa ingin masuk, mereka berpas-pasan. Wajah Aksa yang putih terlihat sedikit pucat.


''Aksa, ada apa? Raihan mana?'' tanya Mayang, melihat Aksa lekat, setelah itu celingukan matanya menelusuri lapangan bermain di panti. Bu Aida pun menunggu jawaban Aksa.


''non, non Mayang ... Raihan tidak ada disini non, kami sudah mencarinya di sekitar panti, tapi tetap tidak kami temukan.'' jelas Aksa dengan suara bergetar.


''apa? Kamu jangan becanda Aksa ...!'' teriak Mayang sedikit membentak.


''non, non yang tenang, non. Aku akan segera mencarinya! Non tenang, ya. Aku tadi juga sudah mengabari rumah, para pengawal dan bodyguard sudah tuan Aditama perintah kesini'' kata Aksa, menenangkan. Setelah Aksa selesai berkata, Mayang berlari, mancari sang putra dengan dada yang terasa sesak, semua bagai mimpi, Raihan menghilang secara tiba-tiba.


''Raihan ... Sayang, kamu di mana nak ...,'' teriak Mayang, air mata terjatuh begitu saja membasahi pipinya. Saat teriakannya tidak di indahkan, tidak terbalas kan, biasanya dengan sekali panggil saja Raihan akan segera menyahut panggilan sang mama. Aksa mengikuti langkah Mayang dari belakang.


''jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi Aksa? Kenapa kamu tidak bisa menjaga Raihan dengan baik!'' bentak Mayang, beralih kebelakang melihat wajah Aksa, mengharap sedikit penjelasan.


''non, tadi den Raihan bersama anak-anak panti yang lain bermain petak umpet, aku masih terus memantau keberadaan tuan kecil yang bersembunyi di rerimbunan bunga itu, setelah itu tiba-tiba handphone aku bergetar non, aku mengangkat panggilan itu. Aku ... Maafkan aku, non!'' jelas Aksa dengan penyesalan dan kekesalannya karena dia merasa tidak becus menjaga Raihan.


*****


Kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan tinggi, tawa keberhasilan membahana di dalamnya.


''hahaha, cepetan telpon bos sekarang juga, sekalian foto anak ini sebagai buktinya. Bos pasti senang mendengarkan kabar baik ini'' kata sang ketua preman yang menculik Raihan.


''tentunya, dan kita akan mendapatkan tambahan uang yang banyak dari bos, ini anak bukan anak sembarangan, ini cucunya tuan Aditama yang kaya raya itu'' balas yang satu lagi. Sedangkan yang satu lagi fokus dengan ponselnya, setelah selesai mendapatkan foko Raihan yang terbaring lemah tak sadarkan diri, dia mengirimkannya kepada Ibnu.


''bos, ini anak bos sudah berhasil kami bawa, sekarang kami lagi di dalam perjalanan'' kirim sang penculik kepada Ibnu.


''kerja bagus, bawa anak saya ke alamat ini, xxxx.'' Balas Ibnu, tersenyum senang di rumahnya. Kemudian dia, mamanya dan Sari pergi ke rumah kosong yang telah mereka siapkan untuk menyekap Raihan untuk sementara. Sementara itu Anggia sudah kabur bersama Hamka, Anggia pergi tanpa sepengetahuan Ibnu, Anggi keluar lewat jendela kamar. Ibnu dan keluarganya sangka Anggia masih berada di kamar dirumahnya.


****


''baik bos'' balas sang penculik memutuskan panggilan.


Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengikuti mobil mereka dengan kecepatan yang tinggi.

__ADS_1


Tidak hanya satu mobil, bahkan ada 3 buah mobil lainnya.


Gentala dengan mobil mewah miliknya dan beberapa anak buahnya, mengikuti mobil yang menculik Raihan dari belakang.


Tadi, ternyata Gentala juga diam-diam mengikut mobil yang membawa Mayang, Raihan serta Aksa ke panti, Gentala merasa rindu dengan sosok Mayang.


Dia terus memantau keberadaan Mayang dari jarak jauh di panti itu, tapi bersamaan dengan itu para penculik itu juga sedang memantau Raihan dari tempat yang berbeda yang di sadari oleh Gentala. Karena merasa curiga Gentala masuk kembali kedalam mobil miliknya, memantau pergerakan para pria berbadan besar yang dicurigai nya, tidak lupa dia menelepon anak buahnya untuk berjaga-jaga membantunya kalau terjadi apa-apa.


Dan ternyata benar dugaannya, tidak berapa lama setelah itu para pria berbadan besar itu berhasil menculik Raihan. Gentala dengan cepat pula mengejar mobil yang membawa Raihan.


****


Aditama dan mama Hanum dilanda kecemasan yang luar biasa, Aditama merasa sangat geram, emosi juga sudah menguasai dirinya, ''awas saja, siapa yang berani-beraninya mengganggu cucu-ku, kalau memang benar cucu aku di culik, aku tidak akan segan-segan untuk memenggal kepala penculik tersebut'' batin Aditama tegas, mama Hanum mengelus punggung sang suami.


''sudah pa, papa yang tenang, ya!''


''Aksa kenapa tidak bisa menjaga Raihan dengan baik! Padahal papa sudah sangat mempercayai nya''


''papa, lebih baik kita berpikir positif saja ya, pa. Tidak baik dalam keadaan begini saling menyalahkan''


''mama ada benar juga, mama mau ikut papa?'' tawar Aditama.


''ke mana, pa?''


''papa akan menyusul Mayang ke panti''


''iya, mama ikut''


****


"Bagaimana tuan? Sekarang apa nanti saja?'' tanya anak buah Gentala yang berada di mobil yang berbeda lewat ponselnya. Gentala menerima panggilan dari anak buahnya dengan handset di telinga.


''nanti saja, aku tidak suka membuat keributan di jalan. Kita ikuti terus mobil itu sampai ke markas nya, kita hajar mereka di sana saja. Sekalian telpon polisi juga'' jelas Gentala dengan begitu berwibawa dengan tatapan fokus ke depan.


****


Yang mampir tinggalkan like dan komen nya dong, emot senyum. Biar author makin semangat.

__ADS_1


__ADS_2