
Di kediaman Aditama yang super mewah dan megah dengan beberapa pelayan, penjaga serta bodyguard yang memiliki peran nya masing-masing di rumah itu.
Mareka tampak sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kepulangan Fitri sang putri semata wayang tuan Aditama Mahatmaputra dan nyonya Hanum Adilla.
Tuan Aditama Mahatmaputra terkenal sebagai pengusaha tersukses dan terkaya di negeri nya, dengan pembawaan dirinya yang tegas dan dingin. Membuat siapa saja yang berhadapan dan berurusan dengannya merasa segan. Tapi, di balik sikap dingin dan tegasnya, dia memiliki sifat yang lembut dan sangat menyayangi istri dan putrinya.
Tuan Aditama sedang duduk di sofa empuk di ruang pribadi miliknya yang tampak begitu elegan dan asri, di dalam ruangan itu sengaja di letakkan berbagai macam jenis tumbuhan hidup, seperti bunga dan tanaman hias lainnya, yang harganya bernilai puluhan juta rupiah. Dia duduk dengan di temani sang istri tercinta di sampingnya.
Di usianya yang sudah kepala lima. Tuan Aditama masih kelihatan begitu gagah. Tubuhnya tinggi tegap, dengan perut sixpack, dan bentuk wajah tegas, begitu kentara dengan statusnya sebagai seorang pengusaha tersukses. Dia sangat rajin merawat dan menjaga kebugaran tubuh nya.
Tuan Aditama duduk merenung dengan di temani secangkir teh aroma melati di atas meja. Pikirannya selalu tertuju kepada sang putri yang telah lama pergi.
''apakah supir kita sudah berangkat, sayang?''
''bukan pa, bukan supir kita yang pergi menjemput Mayang, tapi Aksa. Aksa kekeh menawarkan dirinya ingin menyemput Mayang, putri kita''
''baguslah, anak itu memang sudah begitu banyak membantu kita selama ini. Seharusnya dia yang menjadi jodoh Mayang, dahulu''
Aksa adalah merupakan tangan kanan tuan Aditama, yang begitu di percaya nya. Usianya sudah kepala tiga, sampai saat ini dia masih belum menikah. Dia bekerja dengan tuan Aditama dari usianya dua puluh lima tahun hingga sampai saat ini usianya sudah 35 tahun. Aksa memiliki kecerdasan yang luar biasa, dia sangat bisa di andalkan. Aksa juga begitu mengenali sosok Mayang sang putri mahkota.
''sudah lah pa, semua sudah terjadi dan berlalu. Mama harap setelah kepulangan Mayang kita jangan pernah lagi ikut campur masalah pribadinya. Biar dia yang memilih jalan hidup yang menurutnya baik untuk dirinya. Ini semua gara-gara papa juga dulu yang terlalu banyak menjodohkan Mayang bersama pria, tidak ingat kah papa, papa selalu memuji Aksa, terus Alex anaknya teman papa dan pria lainnya, yang membuat Mayang bingung, hingga Mayang memilih si Ibnu itu!'' tutur sang istri, mamanya Mayang.
''kamu ada benar nya juga, sayang! Tapi, mau tidak mau Mayang harus mau menjadi CEO menggantikan papa di perusahaan, karena hanya dia satu-satunya anak kita, putri kita. Mayang akan menjadi wanita pertama yang memimpin perusahaan terbesar di negeri ini''
''tapi, Mayang kan sudah punya suami pa, mengapa tidak suaminya saja yang menjadi CEO?!''
''sudah ma, jangan pernah mama menyebut nama laki-laki itu lagi. Mama tahukan papa selama ini tidak pernah suka sama dia. Apalagi saat tadi papa mendengar obrolan mama dan Mayang lewat ponsel, papa mendengar suara Mayang terdengar sedih, papa yakin sekali Mayang tidak pernah bahagia hidup bersamanya''
''iya, papa benar juga. Ini semua salah papa, papa kenapa dulu tidak memerintahkan beberapa orang suruhan papa untuk memantau keadaan dan kehidupan Mayang dari jarak jauh''
''papa ingin Mayang hidup mandiri tanpa campur tangan kita selama lima tahun belakangan, biar dia belajar. Mayang memiliki sifat keras kepala yang turun dari papa tetapi di balik itu dia juga wanita yang memilik sifat lemah lembut yang menurun dari dirimu, sayang. Papa begitu yakin Mayang sangat dapat di andalkan, papa juga tahu dia pasti sudah menjadi wanita hebat dan kuat sekarang.
Bagaimana apakah semua acara penyambutan Mayang sudah di siapkan?''
''semuanya sudah pa''
''bagus lah sayang, papa sungguh tidak sabar lagi ingin bertemu dan melihat wajah cantik Putri kita serta melihat cucu tampan kita, anak itu pasti mirip sama kakeknya ini''
''bagaimana kalau mirip sama Ibnu, pa?''
''kamu bisa saja, ma'' sahut Aditama dengan menjewer dagu lancip sang istri.
'' mama pun begitu tidak sabar ingin berjumpa dengan Mayang, pa''
Nyonya Hanum lalu merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami, di balas tuan Aditama dengan membelai lembut rambut sang istri dengan penuh kasih sayang.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di kediaman Ibnu dan Fitri.
''cepatan dong, lama bangat'' desak seseorang dari luar sambil menggedor-gedor pintu utama, tanpa mengucapkan salam. Dia bersandar di pintu utama dengan santainya.
''iya, ngapain saja sih mereka di dalam'' lontar Anggia dengan wajah sebel, dia merasa cemburu.
Sedangkan mama Reni berdiri angkuh menunggu pintu di buka.
''Walaikumsallam'' sahut Fitri tiba-tiba, dia membuka pintu, walaupun dia tahu dari luar tidak terdengar seseorang mengucap salam. Hanya suara umpatan yang dia dengar. Dan begitu pintu terbuka untuk yang kedua kalinya Sari jatuh terjungkal, ''aduhhhh ....'' teriak Sari. Membuat Fitri tak kuasa menahan tawa, begitu pun Ibnu, Ibnu tertawa repleks. Tapi, saat mendapati tatapan tajam dari sang mama dan kekasihnya barulah Ibnu bersikap biasa, memasang wajah sok cool nya.
''berani-beraninya kamu tertawa saat melihat Sari terjatuh! Dasar mantu tidak berguna!'' umpat mama Reni sang mertua, sambil membantu Sari berdiri.
''maaf ma, lagian itu memang salah Sari sendiri ngapain dia pakai acara bersandar di pintu'' jawab Fitri.
''hey ipar goblok, aku bersandar karena tidak tahan berdiri terlalu lama. Pantat aku masih terasa sakit karena ulah kamu tadi siang, ini malah kamu tambah lagi, dasar tidak becus'' umpat Sari sambil memegang pantatnya, dia berjalan di papah oleh sang mama menuju sofa ruang tamu.
__ADS_1
Fitri tidak menjawab dia hanya tersenyum sinis sambil menatap lekat kerah Anggia. Fitri memperhatikan penampilan Anggia, menyapu dari atas hingga kebawah. Membuat Anggia marah.
''ngapain kamu melihat aku seperti itu wanita jelek? Apa kamu iri melihat kecantikan peripurna ku? Yang kalau di bandingkan dengan mu seujung kuku aku pun tak sebanding''
''kamu cantik, tapi kamu tidak punya harga diri. Kamu terlihat seperti wanita murahan. Cara berpakaian mu sungguh sangat tidak pantas belum lagi perilaku mu yang mau-maunya menjadi selingkuhan pria beristri'' balas Fitri santai.
''kamu! Mas ...'' tunjuk Anggia kepada Fitri, lalu mengadu kepada Ibnu.
''Fitri! Jaga ucapan mu!'' bentak Ibnu
''dasar wanita benalu tidak tahu diri'' sambung mama Reni.
''mas, sekarang saat nya!'' celetuk Anggia memberi kode kepada Ibnu.
Mereka bertiga masih berdiri, sedangkan mama Reni dan Sari duduk di sofa.
''iya Ibnu, buat dia menangis darah lalu usir dia sekarang juga'' tambah mama Reni memberi dukungan.
''ta-pi ....!'' Ibnu terlihat ragu.
''apalagi mas?!'' ucap Anggia kesal.
''ayo, cepetan mas. Aku juga menunggunya! Ceraikan aku'' tantang Fitri yang membuat mereka murka dengan wajah memerah.
''dasar wanita stres, sombong sekali kamu" celetuk Sari.
''ba-iklah'' ucap Ibnu ragu. Lalu meyakinkan dirinya.
''Visensia Fitri Mayang Sari binti Aditama Mahatmaputra, mulai malam ini aku Ibnu Setyawan menjatuhkan talak 1 atas dirimu, mulai malam ini kita sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi, kamu bukan lagi istri ku.'' kata Ibnu lancar, tapi, suaranya terdengar sedikit serak dan gemetar.
Fitri mengangguk-angguk kepalanya tanpa bisa berucap di menunduk. Dadanya terasa bagai di remas, sakit, berakhir sudah hubungan yang telah dia bina selama lima tahun, hubungan yang banyak mengajarkan nya tentang ketegaran dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Mama Reni, Sari dan Anggia tersenyum bahagia.
Ibnu terlihat marah, dia bagai tertantang. Begitu pun mama, adik dan kekasihnya. Senyum yang sempat terbit di wajah mereka seketika sirna setelah mendengar penuturan Fitri.
''mas, dia ada benarnya juga. Kamu kenapa begitu loyo jadi pria. Cepat ulang sekali lagi kata talak mu, mas. Jatuhkan talak tiga kepadanya, supaya setelah ini kamu dan dia tidak bisa terikat hubungan apa-apa lagi!'' desak Anggia memberi perintah.
''Visensia Fitri Mayang Sari ....... '' ucap Ibnu mengulangi, dia telah menjatuhkan talak tiga kepada Fitri dengan lancar. Bersamaan dengan itu hujan turun dengan begitu deras.
''alhamdulillah'' ujar Fitri.
''hahahahahaha rasain kamu, selamat menjadi janda dan gembel'' ucap Sari menghina dengan tawa terbahak-bahak.
''iya, sekarang silahkan angkat kaki mu dari rumah ini'' perintah mama Reni.
''tunggu ...! Hujan begitu deras di luar. Tunggu besok saja, Fit!'' celetuk Ibnu. Membuat Anggia cemburu mendengarkannya.
''tidak, aku akan pergi malam ini juga, mas''
''dengan Raihan? Kamu akan kemana?''
''jangan pedulikan aku dan Raihan''
''terserah kamu,'' sahut Ibnu. Kemudian dia dan Anggia duduk di sofa bergabung bersama sang mama.
''kita harus merayakan ini besok'' sorak Sari.
''kamu benar'' sambut Anggia.
Fitri melangkahkan kakinya memasuki kamar, dia akan mengambil tas nya dan juga Raihan.
Ternyata di dalam kamar Raihan sudah terbangun, dia berdiri di depan pintu kamar, dari tadi dia mengintip, saat mendengar suara keributan di luar. Raihan tidak tahu yang sebenarnya terjadi antara papa dan mamanya. Yang dia tahu mamanya sedang terluka, karena dia melihat air mata sang mama yang sempat menetes.
__ADS_1
Tangan kecil Raihan sedikit mengepal.
''papa jahat'' batinnya tadi.
*******
"Sayang, kamu sudah bangun rupanya'' kaget Fitri, saat dia masuk kamar mendapati Raihan sudah berdiri.
Raihan tidak menjawab dia hanya mengangguk.
''Raihan ikut mama ya, kita pergi dari rumah ini. Raihan mau, kan?''
''mau''
''ya sudah, ayo'' ajak Fitri. Dia membawa Raihan kedalam gendongan nya, lalu mengambil tas nya.
Bayi Meisya masih tertidur begitu lelapnya.
Fitri melangkahkan kakinya melewati Ibnu, Anggia, mama Reni serta Sari. Mereka tersenyum merekah melihat kepergian Fitri.
''bayi mu sedang tertidur didalam'' celetuk Fitri saat melewati mereka.
Entah kenapa Ibnu merasa kasihan melihat sang mantan istri serta putranya, suara hujan diluar masih terdengar begitu deras.
Sari dan mama Reni sama sekali tidak menyapa Raihan, yang di dalam darah Raihan juga mengalir darah yang sama dengan mereka.
Mereka mengikuti langkah kaki Fitri dari belakang, sengaja untuk menghina Fitri dan melepaskan kepergiannya.
Fitri membuka pintu utama.
''Raihan nggak apa-apa kan kalau harus terkena hujan sebentar'' bisik Fitri ketelinga Raihan saat mereka akan melangkahkan kakinya keluar.
''nggak apa-apa, ma. Asalkan Raihan tetap bersama mama'' sahut Raihan.
Lalu, Fitri berjalan menerobos derasnya hujan. Air matanya terjatuh bersama air hujan yang turun. Raihan memeluk tubuh sang mama dengan begitu erat.
''selamat tinggal'' batin Fitri.
Ibnu melihat kepergian sang mantan istri dengan perasaan sedih, entah kenapa hatinya merasa sakit.
Mama Reni, Sari, serta Anggia merasa lega atas kepergian Fitri.
''selamat menjadi gembel'' ucap Mama Reni, Sari dan Anggia tertawa lepas.
Diluar pagar, seseorang ternyata sudah menunggu Fitri cukup lama. Mobil di parkir cukup jauh dari rumah, atas perintah Fitri.
Saat Aksa melihat seorang wanita berjalan kearah mobil yang di tungganginya, dia keluar dengan cepat, membuka pintu untuk sang majikan.
''Silahkan masuk, nyonya Mayang''
''iya, terimakasih''
Fitri duduk di belakang kemudi. Mobil yang berharga ratusan juta itu sedikit basah karenanya.
''mama'' sahut Raihan heran dia ingin bertanya.
''tidak apa-apa, sayang''
Fitri menghapus sisa air mata di sudut matanya nya.
''sekarang tidak ada lagi yang namanya Fitri. Yang ada sekarang hanya MAYANG dengan kehidupan barunya'' batin Mayang tersenyum simpul.
''jalan'' perintah Mayang.
__ADS_1
Kemudian mobil melaju pergi membawa Mayang bertemu dengan cinta pertamanya. Yaitu, kedua orang tuanya.