
Gendis duduk di ujung kasur miliknya sembari matanya menatap album foto lama, Gendis membuka lembaran demi lembaran foto yang sengaja dia simpan dari zaman dia masih anak-anak, masih berusia 7 tahun kala itu. Album foto anak-anak panti, semua dokumentasi saat mereka masih anak-anak tersimpan rapi di album foto yang berukuran 10 r itu. Gendis terus menatap wajah anak laki-laki yang paling tampan di bandingkan anak laki-laki lainnya. Foto mereka yang sedang berbaris rapi yang berjumlah 30 orang lebih di halaman Panti.
''Cinta ini akan tetap abadi untukmu,'' gumam Gendis, jarinya yang lentik meraba foto wajah polos Aksa yang masih belia yang ada di samping dirinya.
Tadi, begitu Gendis tiba di Panti dengan di antar oleh Aksa dan Bagaskara, Gendis langsung memasuki kamarnya tanpa permisi, tanpa peduli tatapan penuh tanda tanya dari sang Ibu juga yang lainnya. Selama dalam perjalanan pulang pun sama, Gendis hanya diam duduk di kursi belakang mobil bersama sang Ibu dengan tatapan sengaja dia tuju ke arah luar. Gendis tak kuasa untuk melihat pria yang memegang kemudi yang ada di depannya, semakin dia melihat semakin sakit pula yang dia rasa dibagian hati terdalamnya.
Tidak mudah memang, menerima kenyataan seseorang yang sudah lama bersarang di lubuk hati, seseorang yang selalu di sebut dalam doa akan segera menjadi milik orang lain seutuhnya, tiada lagi impian untuk bersama-sama.
Saat Gendis tengah fokus menatap foto-foto Aksa dan dirinya di zaman dahulu, terdengar suara ketukan di daun pintu kamarnya, seseorang sepertinya mengetuk pintu dari luar.
''Gendis, buka pintunya, Nak. Ibu mau bicara,'' seru Bu Aida.
''Besok saja bicaranya Bu, Gendis udah ngantuk ini,'' balas Gendis dengan suara terdengar serak, dia berjalan ke lemari nya, lalu menyimpan kembali album foto ke bagian lipatan pakaian.
Bu Aida yang berada di depan pintu kamar Gendis terdengar menarik nafas dalam, lalu berucap, ''ya sudah, kamu tidur yang nyenyak ya Nak, jangan banyak pikiran'' pesan bu Aida.
''Iya, Bu'' sahut Gendis. Setelah itu terdengar suara langkah kaki menjauhi kamarnya.
Gendis membaringkan tubuhnya di atas kasur, lalu dia menangis tergugu, Gendis bergumam pelan di sela-sela isakan nya sambil memegang dadanya, ''sakit sekali Ya Allah. Ternyata harapku tak nyata. Aku sudah menunggu nya terlalu lama, aku kira wanita yang selalu dia sembunyikan identitas nya itu aku, aku kira wanita yang sudah lama dia cintai itu aku, aku kira wanita yang selalu dia ceritakan itu aku, ternyata aku salah. Harus kah aku katakan kepada Ibu tentang perasaan ku ini, haruskah aku meminta bantuan Ibu untuk menyatukan aku dan Aksa? Lalu menyingkirkan Mayang!'' racau Gendis dengan air mata terus menetes. Malam sudah begitu pekat, tidak lama setelah itu Gendis tertidur dengan nama Aksa yang selalu dia sebut dengan sisa air mata di ujung mata.
****
Pagi pun menyapa, Bu Aida, Gendis dan yang lainnya yang berada di panti sedang menikmati sarapan bersama. Anak-anak berceloteh ria, ''Sudah, sarapannya di makan dulu ya, nanti lagi ngobrol nya'' sapa Bu Aida lembut kepada anak panti.
''iya Bu'' jawab anak-anak bersamaan. Setelah itu mereka mulai berdoa bersama, doa sebelum makan.
Bu Aida melirik ke arah Gendis, mata Gendis nampak bengkak, Bu Aida semakin penasaran hal apa yang membuat Gendis sampai bersedih seperti itu hingga menyebabkan matanya sembab. Karena tidak biasanya Gendis bersikap aneh, dan setau Bu Aida Gendis juga tidak memiliki kekasih, lantas kenapa? Pikir Bu Aida penasaran.
''Mata kakak kenapa bengkak dan sedikit merah gitu?'' celoteh anak panti perempuan yang berusia 7 tahun sembari melihat ke arah Gendis. Makanan di piring nya nampak sudah kosong.
''Mata kakak? Ah, iya. Ini tadi malam mata kakak kelilipan,'' jawab Gendis berbohong dengan sendok di tangannya.
''Oh,'' jawab anak yang masih polos tersebut, percaya saja.
''Ya sudah, kalian main di taman dulu ya seperti biasa,'' titah Bu Aida kepada anak-anak saat makanan mereka semua sudah ludes. ''Iya Bu'','' jawab mareka menurut.
__ADS_1
Gendis berlalu masuk ke kamarnya meninggalkan makanan di piring yang masih tersisa, 2 pekerja di panti penasaran melihat tingkah aneh Gendis yang tak biasa, karena biasanya Gendis selalu ceria ''Gendis kenapa, Bu?'' tanya pekerja kepada Bu Aida.
''Ibu juga tidak tahu, kalian berdua tolong bereskan dulu ini semua ya, Ibu mau menyusul Gendis'' seru bu Aida lembut.
''Baik Bu'' jawab mereka.
Bu Aida berjalan menuju kamar sang putri, begitu sudah sampai Bu Aida tidak mengetuk lagi, dia langsung memutar kenop pintu lalu masuk. Membuat Gendis yang ada di dalam merasa kaget.
''Gendis,'' sapa Bu Aida lembut. Sedangkan Gendis terlihat gelisah, Gendis yang lagi berdiri di depan jendela seperti sedang berusaha menyembunyikan sesuatu dari sang Ibu. ''kamu kenapa, Nak?'' tanya Bu Aida yang berjalan mendekati sang putri.
''a aku enggak apa-apa, Bu,'' jawab Gendis, dia membalikkan tubuhnya menghadap kepada sang Ibu.
''Itu apa?'' tanya Bu Aida, matanya melihat ke arah sesuatu yang berada di tangan Gendis.
''Ini fo foto, Bu'' terbata Gendis menjawab dengan wajah pias.
''Oh ... Foto apaan? Sini, Ibu pengen lihat,''
Gendis menyerahkan foto berukuran selebar telapak tangan kepada sang Ibu, Bu Aida lalu melihat foto yang sudah berada di tangannya.
''Iya Bu'' jawab Gendis kikuk, menunduk.
''Mm ... Kenapa foto Aksa ada sama kamu, Nak?'' pelan Bu Aida bertanya, lalu Bu Aida membimbing Gendis agar duduk di kasur. Wajah Gendis kentara sekali lagi kelihatan cemas.
''Bu, Gendis mencintai Aksa, Bu'' seru Gendis pasti, saat dirinya dan sang Ibu sudah duduk di tepi kasur. Mata sayunya menatap sang Ibu. Akhirnya Gendis berani jujur.
''Tidak mungkin, itu tidak benar, Nak'' kaget Bu Aida.
''Dari kapan, Nak? Aksa sudah Ibu anggap seperti anak Ibu sendiri, dia itu kakak kamu, Nak'' sambung Bu Aida.
''Sudah lama sekali Bu, i i itu lah sebabnya kenapa selama ini Gendis selalu berusaha menjauhi pria-pria yang mendekati Gendis. Hati aku sudah di penuhi oleh Aksa, sudah tidak ada lagi tempat untuk pria lain'' pengakuan Gendis sedikit membuat Bu Aida marah.
''Gendis, lupakan! Aksa dan Mayang sebentar lagi akan menikah,'' bantah Bu Aida berdiri.
''Kalau Ibu sayang sama aku, tolong ... tolong Ibu bujuk Aksa agar menikahi aku aja Bu, aku jauh lebih baik dari Mayang Bu, aku jauh lebih pantas! Huhuhu'' kata Gendis, dia memeluk Ibunya dari belakang, dia menangis terisak.
__ADS_1
Bu Aida merasa bimbang, dia merasa amat kasihan dan prihatin mendengar pengakuan serta tangisan sang putri.
*******
Di tempat yang berbeda, Aksa lagi bersiul-siul bahagia sembari menuruni anak tangga dengan penampilan sempurna. Kemeja bewarna hitam sudah menempel di tubuh atletisnya, dia terlihat sangat tampan. Di tambah ponsel yang berada di tangannya.
''Tunggu ya, bersiap lah. Aku sebentar lagi akan segera berangkat'' ketik Aksa pada ponselnya, lalu dia mengirimkan kepada wanita pujaannya, wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
''Iya, aku tunggu'' Aksa duduk di sofa ruang tamu membaca balasan yang dikirim oleh Mayang.
''I Love You calon istriku'' tulis Aksa lagi dengan wajah tersenyum bahagia.
''I Love You to calon imanku, hati-hati di jalan ya'' balas Mayang yang berhasil membuat hati Aksa semakin berbunga-bunga. Aksa dan Mayang ada janji, mereka akan ke toko butik ternama untuk memesan busana pernikahan.
''Cieee, yang dari semalam tersenyum aja kerjaan nya,'' goda Bagaskara yang tiba-tiba datang mendekati Aksa. Bagaskara lalu menjatuhkan bokongnya tepat di samping sang putra.
''Papa kayak enggak pernah muda saja,'' ujar Aksa sembari memasukkan ponsel ke saku celana.
''Semoga kamu dan Mayang selalu bahagia, Nak. Papa ikut bahagia melihat kalian bahagia.''
''Amin Pa, Pastinya''
''Papa mau kemana?''
''Papa akan mengunjungi Tante Hani dan Gentala yang masih di sekap, setelah itu Papa akan ke Kantor''
''Kenapa tidak Papa jebloskan saja mereka kepenjara seperti yang telah Papa lakukan kemarin kepada Papa-Nya Gentala?''
Bagaskara menarik nafas dalam, lalu berkata ''Papa tidak tega, selama ini mereka yang sudah menemani hari-hari kelam Papa,''
''Tapi mereka sudah berniat jahat sama Papa, mereka udah keterlaluan''
''Papa tahu, Papa ingin melihat, kalau mereka masih kekeh dan keras kepala tidak mau meminta maaf dan mengakui kesalahan mareka, maka Papa pasti akan menjebloskan mereka kepenjara'' jelas Bagaskara.
Aksa mengangguk pasti, setelah itu mereka berangkat bersama ke tujuan yang berbeda.
__ADS_1