Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Lolos


__ADS_3

Aku pergi meninggalkan area panti dengan begitu terburu-buru. Mobil ku pacu dengan kecepatan tinggi, para Bodyguard yang duduk di belakang berulang kali menawarkan diri untuk menyetir, tapi tak ku hiraukan. Pikiranku selalu tertuju kepada Istriku. Aku sangat takut sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi kepada Mayang.


Penjelasan Gendis tadi benar-benar membuat aku syok, bagaimana tidak, ia mengatakan kalau Ibu lah dalang di balik semua ini. Aku masih berusaha untuk menyangkal. Aku belum bisa mempercayai nya seratus persen sebelum aku menemukan bukti yang nyata dan akurat.


Setelah mengemudi hampir tiga puluh menit lamanya, akhirnya aku sampai di kediaman mertua ku.


Aku keluar dari mobil, lalu melangkah kaki cepat masuk ke dalam rumah, lalu naik lagi keatas, menuju kamar aku dan istriku.


Di dalam kamar, terlihat ramai. Ada mertua ku dan para pelayan. Tidak tertinggal seorang pria berjas putih. Seperti nya pria itu seorang Dokter.


''Assala'mualaikum. Permisi,'' ucapku, ketika aku melewati beberapa pelayan. Sebisa mungkin aku menahan rasa khawatir ku terhadap Istriku.


''Walaikumsalam.'' jawab semua orang yang ada di kamar secara bersamaan.


Aku melihat Istriku, Mayang terbaring kaku di ranjang dengan kedua mata tertutup. Wajahnya terlihat begitu pucat. Aku membelai kepala Istriku.


''Ma, Mayang kenapa Ma?'' tanyaku kepada mertua perempuan ku. Wajah Mama terlihat sedih.


''Mama juga tidak tahu Aksa. Tadi begitu kami masuk Mayang sudah tidak sadarkan diri. Tadi dia sempat berteriak keras, Ma-mama takut Mayang kenapa-napa.'' jelas Mama dengan suara terdengar serak.


''Dok,'' aku melihat Dokter yang berusia sekitar empat puluh lima tahun.


''Menurut pemeriksaan Saya, kabar baiknya Nyonya Mayang sekarang tengah mengandung.'' ucap Sang Dokter tersenyum simpul.


''Alhamdulillah.'' jawab kami serempak. Aku tersenyum senang mendengar nya.

__ADS_1


''Dan kabar buruknya, Nyonya Mayang seperti ada yang mau mencelakai nya barusan. Lihat saja ini lehernya,'' Dokter menunjukkan kearah leher istri ku yang merah. ''Dan tadi kata Nyonya Hanum, Nyonya Mayang di temukan dengan bantal menutupi wajahnya, ini sudah jelas sekali ada orang yang berniat menghabisi nyawa Nyonya Mayang. Sekarang Nyonya Mayang hanya syok karena baru saja mengalami serangan mendadak. Di tambah lagi kondisi fisik dan psikis nya yang tak stabil kerena hormon mengandung. Kalian harus menjaga Nyonya Mayang dengan baik. Dan awasi area sekitar, mungkin ada orang asing atau orang yang paling dekat dengan kalian menyusup secara diam-diam ke kamar ini, Hingga membuat keadaan Nyonya Mayang seperti ini.'' jelas Dokter dengan sungguh-sungguh. Aku mengepal kedua tanganku. Berani nya orang itu menyentuh istriku. Benar saja bagian pangkal leher Mayang terlihat merah, seperti ada yang menekan kuat di area itu.


Setelah itu Dokter pamit pulang, para pelayanan juga sudah keluar, kini tinggal Aku, Mama dan Papa di kamar.


''Pa, apa tadi para security sudah diperintah untuk menjaga pagar dan menyusuri area rumah ini?'' tanyaku.


''Sudah Aksa. Tadi kata salah satu Security memang ada bayangan seperti seseorang keluar dari pagar, begitu mereka mengejar orang itu menaiki sebuah mobil dengan cepat, hingga Security kehilangan jejak.'' Papa pun berkata dengan suara sedikit gemetar, kentara sekali kalau Papa sedang tidak sedang baik-baik saja.


''Aksa, setelah ini kamu jangan pergi kemana-mana lagi, ya, apapun alasannya. Jaga anak Mama dengan baik. Hanya dia yang kami punya saat ini.'' pesan Mama mertua ku. Beliau membelai pipi Mayang dengan lembut.


''Iya Ma.'' jawabku mantap.


Tidak lama setelah itu Papa dan Mama keluar dari kamar. Aku menatap istri ku lekat, lalu aku membaringkan tubuhku di sebelahnya. Aku memeluk nya dengan penuh kasih sayang, mengecup pipinya berulangkali, serta membelai lembut perut nya yang masih rata. Aku sangat menyayangi istri ku dan janin yang aku tanam di rahim istriku.


Entah kenapa bayang-bayang wajah Ibu selalu terlintas di ingatan. Aku ingat jelas bagaimana perlakuan Ibu terhadap aku dan Gendis saat kami masih anak-anak. Ibu memang sangat mengistimewakan aku dan Gendis, tapi kalau dengan anak panti yang lain, terkadang Ibu suka membentak dan berkata sedikit kasar. Sehingga banyak di antara teman-teman sebaya ku di panti yang minggat. Hanya tersisa aku, Gendis, Hana dan dua orang lainnya.


''Tolong kamu ajak beberapa orang anak buahmu untuk menyelinap ke area panti, pantau area panti secara diam-diam. Tolong kamu pastikan area panti dalam keadaan aman. Kalau sampai terjadi keributan tolong hubungi Saya.'' aku berkata dengan seseorang di seberang sana.


''Baik Bos.'' jawab orang itu, setelah itu aku mematikan ponsel dengan cepat.


**


Entah sudah berapa lama aku tertidur dengan jaket kulit yang masih melekat ditubuh. Aku melirik arloji, ternyata sekarang sudah pukul dua dini hari.


Aku melihat istriku, istriku masih tertidur pulas. Mungkin efek karena suntikan dari Dokter tadi.

__ADS_1


Aku mengambil ponselku di atas nakas, saat mataku sudah cukup jelas menatap ponsel, betapa kagetnya aku melihat panggilan dari orang suruhan yang begitu banyak. Panggilan yang tak terjawab itu ada sekitar dua puluh lebih. Pesan pun juga sudah menumpuk. Aku membuka yang paling atas.


''Bos, gawat Bos. Ibu panti mengamuk Bos. Beliau menyeret seorang wanita seusia Nyonya Mayang kedalam gudang. Wanita itu di tampar dan terdengar suara pecutan di tubuhnya, wanita itu berteriak histeris. Setelah itu wanita itu di kurung di gudang. Apa yang harus kami lakukan Bos?''


''Bos,''


''Bos. Kami bingung harus melakukan apa kalau Bos belum memberi perintah.''


Pesan itu aku baca dengan tangan gemetar. ''Jadi benar Ibu sejahat itu? Apa orang yang Ibu siksa itu Gendis?'' batin ku bertanya-tanya.


''Apa kalian sempat mengambil foto saat wanita itu disiksa?''


''Kalau ada tolong kirim cepat kesini.'' Balas ku lagi tak sabaran.


''Ada Bos, ini Bos, tapi kurang jelas.'' Aku menerima balasan dari orang suruhan ku dengan cepat. Begitu foto itu masuk kedalam ponselku, aku menatap nya seksama.


Degh!


Orang yang disiksa dan berteriak itu beneran Gendis, tapi orang yang menyiksa itu tidak bisa aku pastikan dengan jelas. Karena wajah orang itu tertutup masker, di tambah lagi cahaya lampu yang remang. Semakin sulit untukku mengenali wajah orang jahat itu.


Lalu tanpa pikir panjang lagi, aku memutuskan untuk menelpon Ibu. Bagaimana reaksi Ibu ketika menerima telpon dariku.


....


Bersambung lagi.

__ADS_1


Maaf ya telat update dan kurang panjang part nya. Soalnya aku nya lagi enggak enak badan. Insya Allah besok akan di update lebih cepat. Selamat malam mingguan reader tersayang.


__ADS_2