Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Penculik yang sesungguhnya


__ADS_3

Ibnu beserta mama dan adiknya sudah berada di dalam kendaraan roda empat, Ibnu mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah kosong yang telah di persiapkan sebelumnya untuk melakukan penyekapan terhadap sang putranya sendiri ( Raihan ) untuk sementara hanya karena uang. Yang seharusnya dia yang memberi nafkah untuk sang putra, tapi ini malah anaknya sendiri dijadikan umpan untuk mendapatkan uang memenuhi kebutuhan dia, mama dan adiknya.


''duh, mama nggak sabar lagi Ibnu, nanti setelah kita sampai di rumah kosong itu dan Raihan sudah berada di tangan kita, kamu beri perintah kepada orang suruhan mu itu agar menghubungi Aditama secepatnya, supaya proses nya cepat. Mama yakin setelah mengetahui cucu kesayangan nya itu di culik dan sang penculik meminta tebusan, Aditama pasti langsung mentransfer uang nya yang banyak itu ke kita dengan cepat pula, tanpa pikir panjang. Secara dia kan sultan tajir melintir" kata Reni bersemangat, dia duduk di samping Ibnu.


''beres ma. Mama tenang saja, semuanya sudah ada di pikiran Ibnu, ma!'' sahut Ibnu tersenyum tipis.


''huh rasain tuh Anggia, kapok dia! Mas nggak usah kasih jatah ke dia ya, mas. Kalau kita sudah dapat uang itu'' timpal Sari yang duduk di kursi bagian belakang.


''iya betul sekali Ibnu. Eh tapi, suami kamu si Hamka tadi ke mana, Sari? Kenapa dia nggak nongol lagi setelah pamit keluar membeli rokok!''


''nggak tahu juga ma, aku dari tadi juga sudah menghubungi mas Hamka berulang kali, tapi nomor ponselnya tidak bisa di hubungi. Mana Meisya aku tinggal di kamar tamu tadi sendirian lagi''


''ya sudah lah nggak usah dipikirkan Sari, nanti Hamka pasti pulang ke rumah Ibnu, kamu kirim pesan aja ke dia bilang kalau rencana kita sebentar lagi akan berhasil.


Anggia kan ada dirumah untuk menjaga Meisya.'' sahut Reni.


''iya, mama ada benarnya juga'' balas Sari.


Setelah berkendara cukup jauh dengan jalanan yang tidak mulus akhirnya Ibnu dan keluarganya sampai di tempat yang di tujunya pada sore hari. Dia memarkirkan mobilnya di bagian belakang rumah tua itu, karena dia tidak ingin ketahuan.


''belum sampai mereka ternyata, lamban bangat sih orang suruhan mu itu'' celetuk Reni sebel.


Setelah itu mereka melangkah kaki memasuki rumah dengan beriringan.


****


kendaraan roda empat berwarna hitam mengkilap itu melaju melesat menembus jalanan berbatu dengan di kiri kanan jalanan di tumbuhi tumbuhan yang rimbun, semak belukar hampir menutupi jalan. Tidak lama setelah itu mobil itu berhenti.


Sang pengemudi keluar, lalu menyelinap bersembunyi di balik pohon besar melihat dari jarak jauh mobil yang diikutinya berhenti tepat di depan sebuah bangunan bertingkat yang kumuh, yang sepertinya sudah lama di tinggalkan.


Dia juga melihat tiga pria berbadan kekar keluar dari mobil itu, yang satu menggendong anak laki-laki yang terkulai tidak sadarkan diri itu masuk, di ikuti teman yang satunya, sadangkan yang satu lagi menunggu di luar di depan pintu utama.


''sudah, kita berhenti di sini saja.'' ucap Gentala, berbicara sama anak buahnya.


''baik tuan'' jawab anak buahnya.

__ADS_1


Selanjutnya Gentala menghubungi nomor yang sudah seminggu lebih dia simpan di ponselnya itu, tapi belum pernah sekalipun dia hubungi, karena nyalinya belum cukup yakin untuk menelpon wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya panggilan nya di angkat. Gentala merasa amat senang.


****


Ditempat yang berbeda, Mayang, Aksa, Aditama dan mama Hanum masih berada di panti. Mereka tidak tahui harus mencari keberadaan Raihan di mana, karena tidak ada jejak dan saksi yang bisa mereka selidiki.


Mayang menangis di pelukan sang mama, Aditama mengelus punggung sang putri sedangkan Aksa hanya mampu menatap dangan perasaan amat bersalah dan penyesalan, karena melihat wanita yang di cintai-nya menangis dan kehilangan, Aksa berulang kali mengutuk kecerobohan dirinya.


''maaf tuan, ini kunjungan pertama kalinya non Mayang dan Raihan kesini tapi sudah terjadi peristiwa tidak mengenakan seperti ini'' ucap bu Aida, mereka duduk di bangku taman panti.


''ini bukan kesalahan kalian bu Aida, saya yakin ini pasti sudah direncanakan sama seseorang, pasti ada yang berniat jahat sama cucu dan putri saya. Ibu tidak perlu merasa tidak enak. Kami pamit pulang dulu bu, beberapa pengawal saya akan tetap standby di sini untuk mencari keberadaan cucu saya di sekitar panti''


''baik tuan, saya selalu berdoa agar tuan kecil bisa segera di temukan dalam keadaan baik-baik saja''


''amin, terimakasih untuk doanya bu''


Usai berkata seperti itu Aditama, mama Hanum, Mayang dan Aksa melangkahkan kaki menuju kendaraan roda empat yang terparkir di halaman panti.


''Aksa, kamu bawa mobil sendiri saja ya. Mayang biar satu mobil bersama saya saja'' kata Aditama.


Saat Mayang dan rombongan sudah berada di depan mobil, tiba-tiba ponsel Mayang berdering, Mayang mengabaikan, tetapi semakin di abaikan panggilan itu semakin tidak berhenti berdering. Membuat Mayang penasaran.


''siapa sayang, ayo di angkat dulu siapa tahu penting'' kata mama Hanum.


''baik, ma. Tapi, ini nomor tidak di kenal, ma'' ujar Mayang sambil menatap ponselnya.


''angkat saja, Mayang!'' tegas Aditama.


Mayang mengangkat panggilan itu dengan tangan sedikit bergetar, karena kondisinya saat ini benar-benar kacau.


''dengan nyonya, Mayang?'' Tanya Gentala lewat ponselnya.


''iya, dengan saya sendiri. Ini siapa?''

__ADS_1


''saya tahu pasti anda saat ini sedang panik karena kehilangan putra anda---'' belum sempat Gentala melanjutkan kata-katanya, Mayang memotong begitu saja, dengan nada membentak.


''anda siapa? Pasti anda kan yang telah menculik anak saya, cepat katakan di mana anak saya sekarang berada!''


''tenang dulu Mayang, saya ingin memberi kabar baik, saya dengan beberapa anak buah saya sedang berada di tempat anak anda di amankan. Tadi saya sempat mengikuti mobil orang yang menculik anak anda, saya juga sudah menghubungi polisi, saya akan segera mengirimkan alamat nya lewat pesan''


''anda sedang tidak berbohong, kan?''


''tidak!'' usai berkata seperti itu Gentala memutuskan panggilan, dia merasa Mayang sedang membuang-buang waktu.


Setelah panggilan terputus Mayang lalu menjelaskan semuanya kepada kedua orangtuanya dan Aksa, tidak menunggu waktu lama rombongan Mayang bergerak ke alamat yang di kirim Gentala dengan kecepatan tinggi. Dengan mobil para bodyguard yang mengikuti di belakang.


*****


''Sekarang saja, ayo! Kita lumpuhkan para penculik itu'' perintah Gentala, karena menurutnya kalau menunggu rombongan Mayang tiba pasti masih lama. Lalu mereka bergerak, melangkahkan kaki kerumah itu.


Bertepatan saat Ibnu mau menghubungi Aditama, Gentala masuk menerobos pintu yang sudah sedikit lapuk. Setelah tadi anak buahnya berhasil melumpuhkan preman yang berjaga di luar.


''hey, anda siapa?'' bentak Ibnu dengan suara bergetar, karena kaget ponselnya terjatuh. Raihan masih tidak sadarkan diri berada di pangkuannya yang sedang duduk di sofa usang.


''tidak usah banyak bacot! Ternyata anda biang kerok dari semua ini, dasar orang tua tidak bertanggung jawab, jahat sekali anda Ibnu, binatang saja masih lebih baik dari anda!. Pantas saja Mayang pergi meninggalkan anda!'' geram Gentala.


''anda tidak usah ikut campur! Ini urusan keluarga.'' sahut Reni was-was. Dia saat ini merasa sangat takut.


''iya, bagaimana kalau kita kerja sama saja tuan. Kita peras Aditama, lalu uang nya kita bagi dua'' bujuk Sari dengan suara lembut.


''tidak sudi, hajar mereka sekarang juga!'' teriak Gentala.


Mayang yang sedang di perjalanan melihat semua itu lewat ponselnya, satu orang anak buah Gentala di perintahkan oleh Gentala untuk melakukan panggilan vidio call kepada Mayang lewat ponsel Gentala, lalu merekam semua yang sedang terjadi, supaya Mayang dan keluarganya bisa melihat kejadian yang sebenarnya.


Mayang pun mengangkat panggilan itu dengan cepat.


''Gentala! Bagaimana bisa?!''


''apa .... Ibnu!'' kaget Mayang dengan suara keras.

__ADS_1


Hati Mayang bagai di remas begitu kuat, sakit, hatinya sungguh sakit melihat kenyataan yang sesungguhnya yang dia lihat lewat ponselnya. Dia tidak menyangka Ibnu tega melakukan semua itu kepada putranya sendiri, darah dagingnya. Perasaan Mayang semakin sakit melihat Raihan yang terkulai lemah di sofa usang setelah di letakkan oleh Ibnu secara asal. Karena Ibnu dan Gentala sedang adu jotos, mereka berkelahi. Sedangkan mantan mertua dan iparnya hanya melihat keributan yang terjadi tanpa memperdulikan Raihan.


Mama Hanum pun menutup mulutnya menggunakan tangan karena begitu kaget, sedangkan Aditama semakin melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak sabar lagi ingin memberikan pelajaran kepada Ibnu dan keluarganya.


__ADS_2