Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Tertangkap


__ADS_3

Pagi hari.


Mama Hanum berjalan memasuki kamar Mayang, ia membawa nampan berisi makanan. Ada bubur ayam dan buah-buahan. Sebelum masuk Mama Hanum mengetuk pintu terlebih dahulu.


''Sayang, ini Mama bawa makanan buat kamu.'' seru Mama Hanum. Tidak lama setelah itu Aksa membuka pintu, dan mempersilahkan sang Mama Mertua untuk masuk. Aksa telah rapi dengan pakaian kantorannya.


''Aksa, kamu di tungguin Papa di meja makan, gih sana sarapan bareng sama Papa. Mayang biar Mama saja yang suapin.'' ucap Mama Hanum ketika ia sudah duduk di pinggir kasur di dekat tubuh Mayang.


''Baiklah Ma.'' jawab Aksa sopan.


''Makan yang banyak ya Sayang,'' pesan Aksa kepada sang Istri, Mayang mengangguk seraya tersenyum. Setelah itu Aksa keluar dari kamar menuju meja makan. Sedangkan Mama Hanum menyuapi Mayang dengan begitu pelan. Mama Hanum merasa sangat senang karena sang putri yang telah mengandung.


''Nanti setelah bubur ini habis, kamu makan buah lagi ya Sayang. Dan nanti biar Mama suruh Aksa berbelanja membeli susu hamil dan vitamin lainnya.'' ucap Mama Hanum lancar. Mayang yang mendengar pun lalu terbatuk.


''Uhukk ... Uhukk ...'' Mama Hanum memberikan air putih kepada Mayang dengan cepat.


''Makanya hati-hati Sayang.'' ucap Mama Hanum dengan wajah sedikit panik.


''Ma, emang siapa yang hamil Ma?'' tanya Mayang polos seakan tidak tahu apa-apa. Karena ia sebenarnya memang belum mengetahui kalau dirinya tengah mengandung.


''Ya kamu lah Sayang, masak Mama. Emang Aksa belum kasih tahu kamu?''


''Belum Ma.''


''Aih dasar menantu Mama itu.''


''Ma, beneran Mayang hamil?'' lagi Mayang bertanya dengan wajah haru.


''Iya. Tadi malam Dokter Irwan yang memeriksa kamu, saat kamu tidak sadarkan diri Sayang. Tuh obatnya.'' jawab Mama Hanum seraya menunjuk obat yang masih tergeletak di nakas.

__ADS_1


''Ya ampun, Alhamdulillah ya Allah.'' mata Mayang berkaca-kaca seraya mengelus perutnya yang masih rata. ''Pantesan saja dari kemarin tubuh aku tuh enggak enak banget rasanya.'' Mayang merasa amat bahagia.


''Iya. Kamu jaga cucu Mama dengan baik ya Sayang. '' Mama Hanum membelai rambut Mayang.


''Pasti Ma.'' jawab Mayang mantap.


**


Aksa berjalan menuruni anak tangga seraya menatap ponselnya. Aksa menulis pesan kepada Gavin agar pagi ini Gavin kembali ke Panti untuk mengawasi pergerakan Bu Aida. Aksa takut suatu waktu Bu Aida kabur. Aksa juga bertanya tentang keadaan Gendis, dan akhirnya Gavin mengirimkan sebuah foto Gendis kepada Aksa. Foto Gendis yang tengah terlelap.


Aksa menatap prihatin melihat sebelah wajah Gendis yang bengkak dan merah. Aksa tidak menyangka Bu Aida bisa setega itu. Aksa juga sedang mencari tahu apa motif Bu Aida sampai berbuat setega itu terhadap Gendis. Karena setahu Aksa, dulu, Bu Aida begitu menyayangi Gendis.


**


Setelah shalat subuh, Gendis terlelap kembali. Gendis memakai baju kaos oblong milik Gavin, karena ia tak punya pakaian lain.


Gavin yang telah rapi menatap lekat kearah Gendis yang terlelap. Gavin menyelimuti tubuh Gendis. Saat tidur, Gendis bahkan masih memakai hijabnya. Karena Gendis tahu ia sedang tinggal satu rumah bersama seorang pria yang bukan muhrimnya.


Saat Gavin tengah menatap wajah Gendis dengan lekat, tiba-tiba bel Apartemen berbunyi, Gavin membuka nya cepat. Di luar nampak seorang kurir yang membawa makanan. Gavin menerima nya cepat.


Gavin ke dapur, memasukkan makan itu kepiring. Lalu ia berjalan lagi menuju kamar.


Gavin meletakkan makanan dan segelas minuman di atas nakas, lalu ia menulis sesuatu di atas kertas. ''Makanlah. Supaya kamu cepat sembuh. Aku keluar sebentar karena ada tugas dari Tuan Aksa.'' tulis Gavin. Lalu ia meletakkan di dekan piring makanan yang ia siap untuk Gendis.


Gavin akan kembali ke panti, mengawasi Bu Aida sesuai dengan perintah Aksa.


**


Setelah melewati perjalanan yang cukup menyita waktu, akhirnya Gavin bersama tiga orang temannya sampai di area Panti. Mobil nya ia berhentikan agak jauh dari pagar. Gavin akan mengawasi dari jarak sedikit jauh agar tidak ketahuan.

__ADS_1


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Gavin melihat sebuah mobil keluaran tahun delapan puluhan keluar dari pagar. Gavin lalu mengikuti mobil tersebut.


**


Bu Aida menyetir sendiri, ia akan keluar kota, ke sebuah kampung terpencil di Surabaya. Rencananya ia akan menetap di sana.


Saat ia tengah fokus menyetir, tiba-tiba sebuah mobil menyalip mobilnya. Hingga terpaksa ia menginjak pedal rem di area yang kiri kanannya di tumbuhi oleh pohon-pohon berdaun lebat dan semak belukar.


''Ah siapa itu? Menyebalkan sekali. Mengganggu waktu ku saja.'' umpat Bu Aida. Bu Aida menyalakan klakson beberapa kali.


Gavin keluar dari dalam mobil, lalu menghampiri mobil Bu Aida.


''Buka pintunya cepat!'' ucap Gavin dengan suara keras seraya mengetuk kaca mobil.


''Si-siapa kamu? Kamu mau apa?'' tanya Bu Aida. Bu Aida merasa sangat takut. Ia kira Gavin sekelompok preman atau begal.


''Udah cepetan buka, dan keluar cepat. Apa kamu mau ini.'' Gavin berbicara seraya mengacungkan pistol nya. Sebenarnya pistol itu tidak berisi peluru, pistol itu hanya ia gunakan untuk menakut-nakuti saja.


Bu Aida yang merasa takut pun hanya mampu menurut. Bu Aida membuka pintu mobil, ''Ini ambillah semuanya. Asal kalian jangan sakiti aku. Aku ini sudah tua, apa kalian tidak merasa kasihan. Biarkan aku pergi.'' ucap Bu Aida sedikit gemetar seraya menyodorkan beberapa keping uang.


"Hah, kami tidak butuh uang mu! Ini yang kami mau.'' Gavin berbicara angkuh, lalu dengan cepat Gavin menangkap Bu Aida. Gavin dan teman-temannya mengikat tangan Bu Aida dengan cepat menggunakan tali, lalu menempel mulut Bu Aida dengan perban, agar Bu Aida tidak berteriak.


''Mmm ... Mmm ...'' Bu Aida melakukan perlawan dengan menggoyang-goyang tubuhnya.


''Percuma, kamu tidak akan mampu melawan. Ini belum seberapa, dibandingkan rasa sakit yang kamu torehkan kepada Gendis. Tua-tua kok tega!'' ucap Gavin. Bu Aida yang mendengar nama Gendis di sebut pun merasa begitu murka. Bu Aida mengira kalau ini semua atas perintah Gendis.


Bu Aida duduk di kursi belakang dengan di apit oleh dua orang teman Aksa. Sedangkan satu orang membawa mobil Bu Aida. Gavin menyetir mobil, membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju sebuah tempat yang telah Aksa perintah.


Aksa telah menunggu kedatangan Bu Aida di rumah Papa nya. Aksa akan mengajak Bu Aida berbicara, mengorek motif yang membuat Bu Aida bisa bersikap licik di usianya yang tak lagi muda.

__ADS_1


Bagaskara pun kaget bukan main saat mendengarkan penuturan Aksa, tentang kejahatan yang telah Bu Aida lakukan. Bagaskara merasa tidak percaya.


__ADS_2