Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Episode 72


__ADS_3

Beberapa jam berlalu setelah ijab qobul. Kini di rumah mewah yang megah itu tinggallah Bagaskara dan Bu Aida dengan beberapa pelayan dan perawat yang selalu siap kapan saja bila Bu Aida membutuhkan jasa mereka. Aksa berserta Istri dan mertuanya sudah pulang. Begitu juga Gendis, beberapa jam setelah ijab qobul tadi, Gendis juga telah kembali ke panti. Rencana kedepannya Gendis yang akan mengelola panti. Menjadi ketua yayasan di sana mengganti posisi Bu Aida. Karena sekarang Bu Aida telah resmi menjadi istri seorang konglomerat.


Gendis tidak mungkin meninggalkan panti begitu saja, bagaimana bisa dia meninggalkan tempat di mana ia di besarkan. Bu Aida pun telah menitipkan panti itu kepada Gendis. Begitu juga Aksa, Aksa juga sangat mendukung kalau Panti di urus oleh Gendis.


***


Di dalam sebuah kamar, sepasang pengantin baru tengah bingung apa yang harus mereka lakukan. Selesai mandi dan sholat sunnah bersama, mereka lalu merebahkan diri di atas kasur empuk yang diatasnya di taburi kelopak bunga mawar merah. Gendis dan Mayang yang melakukan itu. Mereka membuat kamar itu terlihat indah, persis seperti kamar pengantin baru kebanyakan. Usia bukanlah patokan untuk tetap mesra bersama pasangan, apalagi Bu Aida yang masih segel, pasti Bu Aida merasa senang karena bisa merasakan rasanya menjadi pengantin baru di usianya yang tak lagi muda.


Bu Aida merasa begitu deg-degan, begitu juga Bagaskara. Meskipun ini bukan yang pertama kali bagi Bagaskara, tapi tetap saja ia merasa begitu deg-degan. Bagaimana tidak, dulu terakhir kali ia melakukan hubungan suami istri hanya bersama Melati. Sudah berpuluh tahun lamanya Bagaskara tidak menggunakan senjata andalannya.


''Bagaimana perasaan mu? Apa kau merasa bahagia, Nur?'' tanya Bagaskara membuka percakapan, ia mencoba menghalau rasa kaku antara dirinya dan Bu Aida.


''Emm .... Aku, bahagia sekali, Mas Bagas.'' sahut Bu Aida sedikit malu-malu. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin kebanyakan. Bu Aida memakai baju tidur yang sedikit terbuka. Walaupun usianya sudah kepala lima, tapi tubuh Bu Aida masih terlihat indah. Wajar saja karena Bu Aida masih menyandang status gadis perawan di usia kepala limanya.


''Syukurlah. Di usia kita yang sudah tua ini, sudah sepatutnya kita berbahagia di dunia yang fana ini. Tidak memikirkan apa-apa lagi yang membuat kita merasa stres dan tertekan.'' ujar Bagaskara. Mereka berbaring terlentang di atas tempat tidur, mata mereka menatap langit-langit kamar.


''Iya. Benar sekali. Maafkan aku Mas Bagaskara. Aku masih merasa begitu bersalah karena kebodohan aku kemarin. Aku yang telah tega menyakiti Aksa, Mayang dan juga Gendis.'' sahut Bu Aida terdengar sedih. Lalu Bagaskara mengalihkan pandangannya ke arah Bu Aida. Bu Aida pun sama, mereka saling tatap beberapa saat. Bagaskara menjulurkan tangannya, ia mengelus pipi Bu Aida yang mulus, Bu Aida menutup matanya, ia menikmati setiap sentuhan lembut yang Bagaskara berikan. Setelah itu tanpa aba-aba, tubuh Bagaskara sudah berada di atas tubuh Bu Aida. Bu Aida merasa kaget dengan ulah Bagaskara. Bu Aida merasa jantungnya begitu dag dig dug. Setelah itu Bagaskara mulai menyentuh bibir Bu Aida dengan bibirnya. Bu Aida hanya diam saja, ia menikmati apa yang Bagaskara lakukan. Ia tidak tahu harus berbuat apa, karena ini pertama kali baginya. Setelah puas menikmati setiap inci tubuh Bu Aida, Bagaskara telah siap menggempur Bu Aida dengan senjata andalannya.


Awalnya Bu Aida mengaduh, meminta ampun. setelah Bagaskara bekerja keras dengan keringat bercucuran, akhirnya ia berhasil membobol bagian intim yang ada pada tubuh Bu Aida dengan usaha yang tak mudah. Setelah itu Bagaskara turun naik menggoyangkan pinggulnya dengan pelan. Lama kelamaan Bu Aida menikmati itu. Suara halus nya terdengar keluar dari bibir bersamaan dengan gerakan yang di lakukan oleh Bagaskara. Bagaskara semakin bersemangat melihat Bu Aida yang menikmati gerakannya. Bagaskara semakin mempercepat goyangannya, hingga tiba-tiba saja saat belum mencapai *******, Bagaskara mengaduh kesakitan dengan memegang pinggangnya. Ia mencabut senjata andalannya dari bagian intim Bu Aida dengan cepat.

__ADS_1


''Aduuhh .... Sepertinya pinggang Mas encok ini,'' ucap Bagaskara yang sudah berbaring terlentang di atas kasur seraya memegang pinggangnya.


''Mas, makanya pelan-pelan saja. Kita kan udah tua, jadi harus hati-hati melakukan itu.'' ujar Bu Aida. Bu Aida bangkit lalu memijit pinggang sang suami. Ia merasa khawatir.


"Iya. Tadi Mas kelepasan, terlalu bersemangat, hingga tak sadar dengan umur.''


''Bagaimana Mas, apa masih sakit?''


''Masih.''


''Bagaimana kalau aku mintak tolong sama pelayan buat ngobatin encok mu Mas.'' tawar Bu Aida.


''Emm ... Terus bagaimana Mas?''


''Sepertinya dengan di bawa istirahat seperti ini rasa sakit di pinggang Mas akan berangsur hilang dengan sendirinya.''


''Ya sudah. Kalau begitu kita istirahat saja ya Mas. Besok kita lanjutkan lagi.'' ucap Bu Aida dengan wajah bersemu.


''Iya. Kamu tidurlah.'' Bagaskara mengusap punggung bu Aida. Setelah itu Bu Aida berbaring di samping Bagaskara. Mereka telah siap untuk tidur.

__ADS_1


***


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa sekarang usia kandungan Mayang sudah memasuki usia enam bulan. Perutnya yang dulu datar, kini sudah membuncit, pipinya yang dulu tirus, kini sudah bulat berisi. Mayang akhir-akhir ini juga merasa tubuhnya gampang lelah kalau berjalan dan melakukan sesuatu.


Hari ini hari Minggu. Semua orang tidak ke mana-mana. Aksa dan Mayang menghabiskan waktu di kamar saja.


''Mas, ini, anak mu udah nakal, ia sudah mulai gerak-gerak. Ia sudah menendang perutku.'' ucap Mayang tersenyum simpul. Ia mengelus perut buncitnya. Aksa yang baru selesai mandi lagi pada pukul sembilan pagi, karena ia habis lari pagi di dekat komplek rumah dengan sang papa mertua. Tubuhnya berkeringat makanya ia mandi lagi. Ia menghampiri sang istri yang duduk di pinggir kasur dengan handuk yang masih melilit pinggang.


''Mana, sini biar Mas elus. Mas rasanya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan anak kita.'' Aksa mengelus perut sang istri dengan pelan. Di dalam perut itu tengah tumbuh mahluk kecil bernyawa hasil kerja keras mereka. Aksa dan Mayang sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan malaikat kecil mereka. Apalagi saat mereka tahu malaikat kecil mereka sangat lucu dan tumbuh dengan baik di rahim Mayang. Mereka telah melakukan USG beberapa hari yang lalu. Dan hasilnya sangat memuaskan dan mengejutkan semua orang.


***


Di tempat berbeda, Gendis bermain di halaman panti dengan anak-anak panti yang lain. Mereka bermain kejar-kejaran, tawa di antara mereka pecah berderai. Gendis nampak sangat menikmati profesi baru nya itu. Ia sangat menyayangi anak Panti.


Tanpa Gendis sadari, seseorang tengah menatap nya dari balik pintu pagar. Orang itu memegang buket bunga mawar merah. Ia ingin memberikan itu kepada Gendis sebagai ungkapan perasaannya. Tidak peduli nanti Gendis akan menerimanya atau tidak, yang terpenting ia sudah berani jujur. Terkadang lebih baik jujur dari pada memendam rasa terlalu lama, rasa yang perlahan akan membunuh dan menyiksa.


Bersambung.


Kira-kira kalian maunya Anak Aksa dan Mayang kembar berapa? atau nggak usah kembar saja?

__ADS_1


Like, komen, subscribe dan follow akun aku ya manteman.


__ADS_2