Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Bab 71


__ADS_3

Sepertiga malam, Bagaskara duduk terpengkur di atas sajadah dengan kedua telapak tangan di buka menghadap keatas. Setelah selesai sholat sunah tahajjud dan sholat sunah hajat meminta petunjuk kepada Sang Maha Pengasih, Bagaskara berdoa dengan begitu sungguh-sungguh. Bahkan Bagaskara sampai meneteskan air matanya.


''Ampuni aku Ya Allah. Ampuni semua kesalahan dan dosa ku yang telah aku lakukan baik di sengaja maupun tanpa di sengaja. Aku berserah diri pada mu. Berikanlah aku petunjuk untuk hidup ku kedepan nya.'' lirih Bagaskara berucap. Apapun masalah dan keputusan yang akan di ambil nya. Bagaskara selalu melibatkan Allah. Masa mudanya boleh kelam dan nakal tapi ia tak mau masa tuanya masih sama seperti dulu. Bagaskara selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan lagi kedepannya.


Besok adalah hari di mana ia akan mengucap ijab qobul kepada Aida. Bagaskara masih perlu meminta petunjuk kepada yang maha kuasa atas pilihannya itu. Setelah merasa cukup dengan doanya, Bagaskara mengaminkan doanya, ia berdiri, melipat sajadah lalu ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tidak lama setelah itu Bagaskara menutup mata, ia tertidur dengan begitu pulas dalam waktu sekejap. Baru saja Bagaskara tertidur. Ia tiba-tiba bermimpi, mimpi yang ia rasa begitu nyata. Di dalam mimpinya ia melihat Melati tengah berdiri dengan pakaian serba putih di taman penuh bunga. Bagaskara berjalan menghampiri Melati yang nampak sangat cantik, wajahnya tiada ubahnya saat mereka baru pertama kali bertemu dahulu.


''Melati,'' sapa Bagaskara ragu-ragu. Ia sudah berdiri dengan jarak begitu dekat dengan Melati.


''Mas Bagaskara.'' Melati melempar senyum manis kepada Bagaskara.


''Sedang apa kau di sini Melati? Dan apa kabar mu? Mas sangat rindu.'' ucap Bagas seraya membelai pipi mulus Melati.


''Aku sedang menunggu mu Mas. Aku juga rindu. Tapi ada satu hal yang ingin aku katakan Mas, aku ingin melihat kau bahagia, aku sudah bahagia disini. Menikah lah sama Nur Aida. Tebus semua rasa bersalah mu, jaga dia dan sayangilah dia dengan sepenuh hati, karena selama ini Nur Aida telah begitu baik. Ia telah merawat dan membesarkan anak kita. Terlebih dari kelicikan dan kejahatan yang pernah iya lakukan, bukankah manusia tempat nya salah dan khilaf. Bimbing dia agar dia selalu berada di jalan yang benar.'' turur Melati dengan nada lembut dan pelan.


''Baiklah Melati, Mas akan melakukan itu.'' jawab Bagaskara mantap. Lalu setelah itu Melati kembali melempar senyum termanis nya. Tidak berapa lama setelah itu tubuh Melati yang ada di depan Bagas perlahan menghilang. Dan Bagaskara pun kembali terbangun dari tidurnya.


''Astaugfirullahhalazim.'' guman Bagaskara berulang kali ketika ia bangun dari tidur. Keringat membasahi keningnya. Mimpi yang ia rasakan serasa nyata. Lalu setelah itu Bagaskara kembali membaringkan tubuhnya, sebelum tidur ia membaca doa. Tak lama setelah itu ia kembali terlelap, kali ini ia benar-benar tidur tanpa mimpi aneh-aneh lagi.

__ADS_1


**


Keesokan harinya. Di kediaman Aditama.


Mayang telah siap dengan gamis dan jilbab bewarna putih yang nampak sangat elegan. Begitu juga Aksa, Aksa juga memakai kemeja putih dan celana panjang. Mereka telah tengah bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan Bagaskara dan Bu Aida. Aksa sudah menceritakan semuanya kepada Mayang. Awalnya Mayang kaget dan merasa tidak percaya, setelah Aksa menjelaskan yang sedetail-detailnya baru lah Mayang percaya. Mayang pun turut berbahagia atas pernikahan Sang Papa mertua dan Sang Ibu Panti yang sudah Mayang anggap seperti ibunya sendiri.


''Sudah, kamu sudah sangat cantik Sayang.'' puji Aksa memeluk Mayang dari belakang. Sekarang mereka tengah berdiri di depan cermin.


''Em ... Terimakasih Mas.'' ucap Mayang tersenyum mengembang. Setelah itu mereka berjalan berdampingan keluar dari kamar, lalu mereka menghampiri Papa Aditama dan Mama Hanum di ruang keluarga. Papa Aditama dan Mama Hanum juga telah siap. Setelah itu mereka berangkat bersama-sama ke kediaman Bagaskara. Untuk menghadiri pernikahan Bagaskara yang di selenggarakan dengan sederhana.


Di tempat berbeda, di rumah Bagaskara.


''Ibu terlihat sangat cantik.'' puji Gendis yang berdiri tepat di belakang Bu Aida.


''Terimakasih Gendis. Tanpa kamu Ibu tidak akan seperti ini.'' sahut Bu Aida tersenyum simpul. Gendis memang telah membantu memoles wajah Bu Aida dengan makeup. Gendis melakukan apa yang ia bisa. Dan ternyata Gendis memang pandai dalam merias wajah.


''Ayo Bu kita keluar, Om Bagaskara dan tamu yang lain telah menunggu di depan.'' ajak Gendis.

__ADS_1


''Baiklah. Ah ... Ibu merasa malu dan grogi, Nak.'' ujar Bu Aida sambil berjalan ke luar kamar.


''Tidak apa-apa Bu. Santai saja.'' Gendis memberi semangat.


Setelah itu Gendis dan Bu Aida berjalan berdampingan menuju tempat ijab qobul. Sesampainya di tempat ijab qobul semua pasang mata menatap ke arah Bu Aida dan Gendis. Mereka terkagum-kagum melihat Bu Aida yang masih sangat cantik di usianya. Bu Aida memang masih terlihat cantik dan lebih muda di usianya, karena wajahnya yang telah di oplas sedikit mirip wanita korea. Saat semua orang tengah fokus memperhatikan Bu Aida, seorang pria tampan diam-diam memperhatikan Gendis. Siapa lagi kalau bukan Gavin. Entah kenapa dari saat pertama kali bertemu, Gavin merasa Gendis adalah wanita yang sungguh istimewa di matanya.


Mayang yang juga telah datang pun ikut mendampingi Bu Aida. Lalu Mayang dan Gendis duduk di samping Bu Aida dan Bagaskara. Bagaskara dan Aida telah duduk berdampingan, sebentar lagi ijab qobul akan segera di mulai.


Aksa menatap dua orang yang sangat berjasa di hidup nya itu dengan begitu haru. Dia masih tidak menyangka akan sampai di saat-saat seperti ini. Melihat orang yang begitu dekat dengannya sebentar lagi akan menjadi suami istri, terikat dalam suatu hubungan yang sakral.


Tidak lama setelah itu, Bagaskara berjabat tangan dengan seorang pria yang akan menjadi wali nikah pengganti dalam menikahkan Bu Aida. Karena Bu Aida yang memang sudah tidak punya saudara laki-laki sedarah lagi.


''Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Bagaskara bin Usman saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Nur Aida binti Ismail dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar dua puluh juta rupiah di bayar tunai.''


''Saya terima nikah dan kawinnya Nur Aida binti ismail dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.'' Bagaskara berucap dengan lancar.


''Bagaimana para saksi, sah?'' tanya penghulu.

__ADS_1


''Sah ...'' jawab para saksi bersamaan.


Bersambung.


__ADS_2