
Mayang memasuki area kantor milik sang papa dengan begitu anggun. Rok hitam panjang lurus di bawah lutut serta atasan putih yang di masukkan kedalam dengan jas kerja bewarna merah muda, Mayang tampak begitu elegan.
Tidak tertinggal, hells bewarna hitam dan rambut di ikat keatas. Sempurna, penampilannya sungguh sempurna. Mayang seperti gadis yang baru tamat kuliah, tidak akan ada yang menyangka kalau dia adalah seorang janda dengan satu orang putra berusia empat tahun.
Tuan Aditama dan Aksa berjalan di sampingnya, dengan sedikit jarak. Banyak yang iri melihat keberuntungan Mayang yang bisa di didampingi oleh dua orang pria tampan dan hebat seperti Aditama dan Aksa. Di hati mereka bertanya-tanya, siapakah perempuan beruntung itu?
Dengan beberapa pengawal berjalan di belakang mereka
*******
''kalian, berkumpul di aula sekarang juga! beritahu teman-teman yang lain'' ucap pengawal memberi tahu kepada karyawan.
'baik'' jawab salah satu karyawan.
Semua karyawan di perusahaan itu tampak sibuk, mereka bersiap-siap, setelah itu mereka melangkah kan kaki menuju aula bersama-sama. perkumpulan mendadak yang di perintahkan oleh sang Atasan.
********
''santai saja sayang, tidak usah tegang seperti itu!'' ujar Aditama, dia menepuk-nepuk punggung sang putri, yang dari raut wajah Mayang bisa di lihat kalau Mayang tidak sedang baik-baik saja, Mayang terlihat gugup.
''papa, ini yang pertama kalinya bagi Mayang,'' jawab Mayang, sambil berusaha meredakan debar-debar di dada. debaran nya melebihi debar waktu aku jatuh cinta'' batin Mayang, asal.
''papa mengerti, lakukan sebisa kamu saja, sayang, dengan kehadiran kamu di sini saja papa sudah sangat senang.
Kamu harus melihat Aksa, kalau kamu melihat penampilan Aksa berbicara di hadapan banyak orang kamu pasti akan terpukau, setelah ini belajar lah dengannya!'' ucap Aditama memuji Aksa, senyum Aditama mengembang, memberi semangat untuk sang putri.
''baiklah pa'' jawab Mayang, matanya tertuju ke arah pria tampan yang ada di sebelah kirinya.
Aksa yang melihat kedekatan antara Mayang dan papanya tersebut merasa senang, senyum itu juga terbit di wajah tampannya.
*****
semua orang sudah berkumpul di aula, duduk di kursi yang berjejer rapi. Mayang, papanya dan Aksa duduk di depan.
Satu persatu acara di mulai, mulai dari memperkenalkan diri Mayang dan jabatannya. Semua orang menyambut dengan raut wajah yang bahagia.
Mayang menyampaikan kata sambutan dengan tenang, dari semalam dia sudah mempelajari semua itu. Tentang cara berbicara di depan umum dengan baik. Usaha mayang tidak sia-sia, dia bisa melakukan itu dengan sangat baik.
Tepuk tangan menggema di ruangan itu setelah Mayang mengucap salam, mengakhiri pidato singkatnya. Kini telah Resmi kalau Mayang adalah CEO baru di perusahaan tersebut, tinggal menunggu pesta peresmian nya saja.
Aksa dan tuan Aditama terseyum bahagia.
Selanjutnya tiba lah di sesi perkenalan diri. Mayang berdiri, setelah itu satu persatu karyawan berjalan berbaris mengambil tangan Mayang satu persatu, sebagai bentuk perkenalan diri secara langsung. Senyum itu tidak pernah hilang dari wajah cantik Mayang. Dia merasa amat bahagia, baru pertama kali bagi Mayang dia merasa sangat di hargai oleh banyak orang.
Sekarang bayang-bayang tentang seorang penjual kue keliling yang selalu di hina dan di rendahkan perlahan pergi, dia sudah menjelma menjadi seorang CEO di perusahaan ternama yang di hormati oleh banyak orang. Tapi, Mayang tetap lah Mayang, wanita dengan kepribadian yang lembut dan rendah hati.
__ADS_1
****
"Aksa, menurutmu bagusnya sekarang apa besok saja, Aksa?'' ucap Mayang meminta pendapat, dia memukul-mukul kecil pulpen ke dagu nya. Tatapannya tertuju ke arah Aksa yang ada dihadapannya.
''bagaimana bagusnya saja, non. Sekarang atau besok sama saja menurut aku, karena pada akhirnya tujuannya tetap satu'' ungkap Aksa. Mayang dan Aksa sedang duduk di ruangan Mayang.
''betul sekali, kamu memang sangat cerdas. Tapi, sepertinya aku akan memutuskan kerja sama antara perusahaan yang di pimpin oleh mas Ibnu setelah acara peresmian perusahaan saja''
''ide bagus, non. Biarkan mereka melihat non Mayang secara langsung berdiri diatas mimbar terlebih dahulu, non. Buat si Ibnu itu kejang-kejang di tempat karena penyesalan!''
''ah, iya. Ternyata pemikiran kita sama, Aksa. Aku juga memikirkan hal yang sama'' ujar Mayang dengan senyum merekah.
''semoga saja kamu jodohku, wanita yang telah aku nanti-nanti selama ini, bagian dari tulang rusukku yang hilang, Visensia'' batin Aksa. Aksa hanya mampu menahan gejolak yang ada di dadanya, melihat orang yang sudah lama di kagumi tersenyum bahagia di hadapannya, dia juga merasa bahagia. Rasanya Aksa ingin mendekat tubuh itu, memeluk nya erat, menumpahkan segala rasa yang tertahan. Rasa yang dia pendam bertahun-tahun lamanya. Tapi, entah kapan rasa itu akan berlabuh, Aksa tidak punya keberanian untuk mengungkapkan itu.
''hey Aksa, kamu kenapa melihat aku seperti itu, apakah ada yang aneh dengan wajahku?'' tanya Mayang heran karena tatapan Aksa yang tertuju lekat kearahnya.
''ti-dak, non!'' jawab Aksa gugup, tersadar dari lamunannya.
''pria aneh'' gumam Mayang lirih. Tetapi sedikit kedengaran oleh telinga Aksa.
''kenapa, non?'' tanya Aksa.
''ah tidak, Aksa! Bagaimana kalau kita minum-minum sebentar di kantin Aksa? Tubuhku rasanya sedikit lelah, dan kaku karena terlalu lama duduk di kursi ini!''
''baiklah, ayo non''
Buuggg
''aw ...'' kaget Mayang, dia hampir terjatuh kerena menabrak seseorang saat mereka keluar dari lift. Untung Aksa dengan sigap membantunya.
''maaf nyonya saya tidak sengaja!'' ucap seorang pria dingin dan datar, pria yang menabrak Mayang.
Pria dengan tubuh tinggi tegap, dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celana nya. Dibelakang nya terdapat tiga orang pria berbadan kekar.
Kemudian pria itu berjalan begitu saja melewati Mayang.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di tempat yang berbeda, Ibnu menarik nafas panjang, ''brengsek, mereka sepertinya sudah bosan bekerja di kantor ini! Tunggu saja, kalian yang telah mengolok dan menertawakan aku akan merasakan akibatnya!'' geram Ibnu. Ibnu sekarang sedang di kantor, saat dia berjalan memasuki area kantor tadi, beberapa karyawannya ada yang tertawa mengejek nya secara terang-terangan.
''permisi, pak'' ucap seseorang dari luar.
''masuk!''
''pak, ini ada undangan dari perusahaan Aditama group'' ucap sang sekretaris memberikan undangan.
__ADS_1
''baik, sini! Sana kamu keluar''
''baik pak''
Setelah itu Ibnu membuka undangan itu, '' undangan khusus untuk petinggi perusahaan ......, Pesta peresmian CEO baru?'' kata Ibnu sambil membaca undangan tersebut.
''baiklah, sepertinya aku akan datang! Aku penasaran siapa CEO baru itu. Aku harus terlihat baik-baik saja ketika bertemu dengan Aditama, kalau dia berani membuka jati diriku, akan aku katakan kepada semua orang tentang perhiasan imitasi yang dia berikan, supaya dia malu. Masak seorang pengusaha sukses hanya memberi kado imitasi. Dasar!
Aku juga akan mencari cara untuk bertemu dengan Fitri dan putra ku Raihan, entah kenapa aku merasa rindu sama mereka'' batin Ibnu.
********
"Sari, kamu temani mama, ya?!'' ucap mama Reni, dia berkunjung kerumah Sari pagi itu.
''kemana sih, ma? Sari malas keluar, gara-gara mas Ibnu tu, banyak yang mengolok-olok aku!'' ketus Sari, sambil memberi dot kepada bayi Meisya.
Kemudian sang mama berbisik ketelinga Sari. ''bagaimana, kamu mau kan?'' tanya nya, ketika dia sudah membisikkan ide gila kepada sang putri.
''iya, aku mau, ma!'' jawab Sari tersenyum senang.
*****
''mama, yakin? Tanya Sari saat dia dan mamanya sudah berdiri di depan gerbang.
''iya, pokoknya kita harus berakting. Pura-pura menyesal, kamu harus mengeluarkan air mata mu Sari, mama juga. Biar bagaimanapun Raihan itu adalah keponakan kamu dan cucu mama. Kita punya hak atas dia! Terserah kalau si Fitri itu tidak mau menerima kita, mama tidak peduli, yang mama mau hanya Raihan'' terang mama Reni.
''mama betul sekali, iya sudah ayo ma''
Kemudian Sari dan mamanya menekan bel yang terdapat di gerbang tinggi menjulang tersebut. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya gerbang di buka oleh seseorang dari dalam.
''kalian siapa?'' tanya satpam yang menjaga.
''anu, perkenalkan saya neneknya Raihan dan ini tantenya. Kami kesini ingin bertemu dengan Raihan, sudah selama hampir 2 bulan ini dia tidak mengunjungi kami, saya sebagai neneknya sangat merindukan cucuku itu'' jelas mama Reni menunduk pura-pura bersedih.
''maaf, lebih baik anda pulang nyonya! Karena setahu saya, den Raihan sudah tidak memiliki keluarga lain selain tuan dan nyonya besar.''
''kalian tidak percaya? Saya punya bukti nya? Mau lihat?'' tantang Reni.
''tidak usah, kalian menganggu saja. Den Raihan tidak ada dirumah, dia sedang pergi bersama nyonya besar!''
''ke mana?''
''saya tidak tahu!'' bentak satpam dengan perut sedikit buncit tersebut, dia berlalu dari hadapan Reni dan Sari. Kemudian dia menutup pintu, menguncinya dari dalam.
Reni dan Sari merasa amat murka.
__ADS_1
''dasar belagu, baru jadi satpam saja sudah sombong!'' umpat Sari kesal.
''kita tunggu di mobil saja Sari, begitu kita melihat Raihan pulang, kita cegat dia'' usul mama Reni.