
Selama dalam perjalanan Bu Aida berulang kali memberontak, tapi akhirnya mobil yang di kemudi Gavin sampai juga di pelantaran rumah tuan Bagaskara. Dua orang teman Gavin menurunkan tubuh Bu Aida dengan sedikit kasar. Bu Aida melempar tatapan nyalang ke arah dua orang tersebut. Sedangkan satu orang yang membawa mobil Bu Aida juga sudah sampai.
Sesampainya di dalam rumah, tubuh Bu Aida yang di ikat di dudukkan di sofa ruang tamu. Bu Aida kaget melihat Aksa dan Bagaskara yang ternyata tengah menunggu kedatangan nya.
''Tolong lepaskan perban yang menutupi mulut Bu Aida.'' Aksa memberi perintah. Lalu setelah itu orang suruhan nya menarik cepat perban yang menempel. Bu Aida menundukkan wajahnya. Ia merasa malu sekaligus terhina karena di perlakukan secara tidak manusiawi.
''Gavin, tolong jemput Gendis lagi di Apartemen mu. Untuk tahu akar permasalahan nya, semua pihak terlibat harus ada di sini.'' titah Aksa lagi. Gavin mengangguk cepat, lalu ia berlalu keluar, ia akan menjemput Gendis.
Setelah kepergian Gavin. Aksa menatap Bu Aida dengan berbagai rasa. Ada rasa iba, rasa tak tega, rasa kesal dan rasa tak percaya.
''Bu ...'' panggil Aksa pelan. Tapi Bu Aida semakin menunduk dalam.
''Bu, aku tidak menyangka, kenapa Ibu tega menyiksa Gendis dan memperdaya Gendis agar merusak rumah tanggaku. Dan semalam juga ada orang yang berusaha ingin mencelakai Mayang. Apa orang itu Ibu?'' ucap Aksa lagi, tapi Bu Aida tetap tidak merespon.
Bagaskara yang melihat Bu Aida merasa terpancing emosi nya.
''Bu, Ibu itu Ibu Panti, ketua Panti. Harusnya mengayomi, tapi ini kenapa Ibu bisa bersikap begitu hina dan tercela. Sebenarnya apa yang membuat Ibu bersikap seperti itu! Sudah tua bukannya berubah menjadi semakin baik, tapi ini ... Kami benar-benar tidak menyangka.'' ucap Bagaskara sedikit tegas. Lagi-lagi Bu Aida tidak merespon, membuat kemarahan Bagaskara dan Aksa semakin besar.
''Apa Ibu mau kami jebloskan kepenjara?'' ucap Bagas pelan tapi terdengar begitu menakutkan bagi Bu Aida.
''Ja-jangan! Jangan Pak Bagas! Aksa! Aksa, Ibu melakukan semua ini hanya ingin yang terbaik saja untuk kamu. Ibu ingin kamu menikahi Gendis saja. Ibu lebih setuju itu. Hanya itu Aksa, Ibu tidak ada maksud lain.'' tergugu Bu Aida berucap.
Aksa menghembus nafas kasar.
''Jadi, maksud Ibu, Ibu tidak setuju aku menikahi Mayang? Lalu kenapa Ibu menyiksa Gendis? Alasan Ibu sungguh tidak masuk akal.'' ucap Aksa terdengar kesal.
__ADS_1
***
Gavin berhenti di toko busana muslimah, ia membeli tiga pasang gamis dan jilbab panjang. Gavin ingat kalau Gendis tak punya pakaian. Makanya ia menyempatkan dirinya sebentar untuk berhenti di toko. Selesai membayar, Gavin keluar dari toko dengan langkah kaki lebar. Tangannya telah menentang paper bag. Entah kenapa Gavin merasa begitu peduli terhadap Gendis. Hanya Gendis, sebelum nya tidak ada satu wanita pun yang mampu membuat nya terus kepikiran. Dan terbayang-bayang di ingatan nya.
Setibanya di Apartemen, Gavin masuk kedalam. Lalu langkahnya menuju kamar. Di dalam kamar ia melihat Gendis tengah menyantap makanan yang ia siapkan tadi.
''Baru bangun?'' sapa Gavin dengan ekspresi datar.
''E-eh iya. Kamu sudah pulang ternyata.'' jawab Gendis sedikit grogi. Ekpresi datar yang di tunjukkan Gavin membuat nya merasa sedikit takut dan sungkan.
''Habiskan cepat makanannya, terus ganti bajumu. Tuan Aksa sedang menunggu kamu dirumah Tuan Bagaskara.'' titah Gavin seraya melemparkan gamis yang ia beli tadi ke kasur. Setelah itu ia duduk di sofa di depan televisi. Ia menunggu Gendis. Gendis pun semakin mempercepat suapannya. Setelah selesai ia membawa piring kebelakang.
''Letakkan saja di wastafel, biar aku saja yang mencucinya nanti. Kamu menghabiskan waktu terlalu lama.'' ucap Gavin ketika Gendis berjalan melewatinya.
''Baiklah.'' jawab Gendis lirih.
''Aku sudah siap.'' kata Gendis kepada Gavin yang tengah menonton televisi. Gavin mengalihkan pandangannya ke arah Gendis.
''Baiklah. Ayo.'' ucap Gavin.
''Emm ... Kamu punya masker tidak. Apa aku boleh minta? Aku merasa tidak percaya diri sama pipi ku yang sedikit bengkak.'' ucap Gendis hati-hati.
''Kamu merepotkan saja. Tunggu sebentar!'' sahut Gavin, lalu ia masuk ke kamarnya. Ia mengambil masker yang di pinta Gendis.
Gendis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa heran melihat sikap Gavin. Omongannya galak dan pedas tapi sikapnya begitu baik dan peduli. ''Ada ya manusia aneh kayak Gavin.'' batin Gendis.
__ADS_1
**
Setelah melewati perjalanan yang tidak terlalu memakan waktu. Akhirnya Gavin dan Gendis tiba di rumah Bagaskara. Gavin keluar dari mobil, lalu ia memutari mobil, ia membuka pintu mobil untuk Gendis. Gendis keluar dari mobil. ''Terimakasih.'' ucap Gendis kepada Gavin. Gavin hanya memasang wajah datar setelah itu mereka berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah.
''Assalamu'alaikum.'' ucap Gendis saat memasuki rumah. Aksa, Bagaskara dan dua teman Gavin menjawab salam Gendis. Hanya Bu Aida saja yang diam.
Saat Gendis menatap Bu Aida yang tengah duduk di sofa, Gendis merasa sedikit takut, ada rasa trauma saat ia melihat wajah Bu Aida. Gendis masih berdiam diri di tempatnya semula.
''Gendis. Duduk di sini.'' ucap Bagaskara seraya menepuk sofa di sebelah nya. Gendis pun mengangguk kecil. Lalu ia menjatuhkan pantatnya di sana.
Sedangkan Bu Aida masih tetap menunduk.
''Bu, lihat Gendis! Lihat wajahnya, karena perbuatan Ibu wajah Gendis menjadi bengkak. Sekali lagi aku tanya, apa yang membuat Ibu sebegitu tega?!'' Ucap Aksa tegas.
''Ma-maaf ...'' ucap Bu Aida dengan air mata berlinang.
''Maaf saja tidak cukup Bu!'' balas Aksa.
"Aksa! Kamu jangan jadi anak durhaka, kamu sama saja dengan Gendis, suka membantah! Sudah untung kalian aku pungut saat kecil hingga kalian bisa tumbuh sebesar ini! Dasar kalian anak tidak tahu terimakasih!'' teriak Bu Aida tiba-tiba. Semua orang yang ada di ruangan itu merasa heran dan kaget melihat keberanian Bu Aida. Gendis pun lagi-lagi menjatuhkan air matanya. ''Bu Aida begitu tega berucap demikian, ia seperti tidak ikhlas saja merawat dan membesarkan aku, Aksa dan anak Panti lainnya.'' batin Gendis.
''Kalian mau tahu apa motif aku bisa setega ini? Mau tahu? Hahahah .... Asal kalian tahu saja ya, aku tu sudah lelah mengurus panti. Di usia ku yang tidak lagi muda ini aku hanya ingin bersenang-senang dengan membalas dendam ku. Cukup saat aku muda saja aku sengsara. Bagaskara, coba kau tatap wajah aku, apa kau mengingat siapa aku?'' racau Bu Aida. Bagaskara menggeleng.
''Ini aku! Aku adalah Nur! Wanita yang pernah kau tolak dulu karena kau ingin menikahi melati! Dan karena kau juga sempat bilang, aku ini miskin dan tidak pantas bersanding dengan mu! Apa kau ingat!''
''Nur Aida.'' ucap Bagas pelan.
__ADS_1
''Hahahaha iya. Rupanya kau masih ingat dengan namaku. Tapi tidak dengan wajah ku. Itu wajar, karena aku sudah merubah wajahku. Aku merubah wajahku yang jelek dan sedikit judes menjadi wajah wanita lugu seperti melati. Dan juga seperti Mayang. Aku benci sama wanita yang seperti itu. Dan kau Gendis, kau itu bodoh lebih bodoh dari aku dahulu, kau begitu cepat menyerah saat cinta mu di tolak. Seharusnya kau terus berusaha untuk mendapatkan Aksa. Habisi Mayang. Makanya aku menyiksaku, karena kau tidak becus.'' racau Bu Aida di sertai tawa. Bu Aida terlihat seperti orang gila.
Bersambung.