
Hati Mayang terasa bagai teriris, remuk, bercampur menjadi satu, saat melihat kenyataan yang ada, lewat benda pipih berukuran 7 inci yang berada di tangan nya, tangan nya bergetar hebat. Dia tidak menyangka Ibnu dan keluarganya akan bertindak sejauh ini, hingga menyebabkan Raihan tidak sadar kan diri.
''Kenapa aku bisa menikah dengan pria brengsek seperti, Ibnu? Kenapa aku dulu bisa jatuh cinta kepada?! Dia penjahat, tidak punya hati, bahkan darah dagingnya sendiri tega dia sakiti.
Aku malu, malu sama semua orang. Betapa bodohnya aku di masa lalu. Terutama kepada kedua orang tua ku. Aku tahu mereka sekarang pasti sama hancurnya seperti aku, melihat cucu yang begitu mereka sayangi terkulai lemah tak sadarkan diri yang disebabkan oleh papanya sendiri.
Kali ini aku tidak akan tinggal diam, jeruji besi lah yang pantas menjadi tempat orang-orang jahat tidak punya hati seperti Ibnu dan keluarganya itu.'' batin Mayang, terus berkecamuk. Rasanya dia ingin segera sampai di tempat itu memeluk sang putra dan memberi pelajaran kepada Ibnu, mama dan adiknya.
****
Kendaraan roda empat yang di kendarai oleh Aditama dengan kecepatan tinggi itu akhirnya sampai di alamat yang di kirim oleh Gentala. Begitu sampai mereka turun dengan cepat, setelah itu Mayang berlari kencang di ikuti papa, mama nya serta Aksa dan para anak buah Aditama dibelakang.
Di luar tampak mobil polisi sudah terparkir rapi yang berjumlah sekitar tiga buah.
Di sekitar rumah tua terpencil itu terdengar suara tembakan senjata api beberapa kali yang sepertinya berasal dari arah bagian belakang. Yang membuat rombongan Mayang di landa rasa penasaran. 'apa yang terjadi' batin mereka bertanya-tanya.
Saat sudah berada di dalam, Mayang tidak melihat keberadaan sang putra, Gentala pun tidak ada.
Dia hanya melihat mama Reni dan Sari yang tangannya sudah di borgol, dengan kepala menunduk mereka berdua duduk di lantai yang berdebu lagi kotor. Serta tiga orang berbadan kekar yang terbaring terkapar.
''mana putra ku?!'' bentak Mayang menampar pipi Sari dengan begitu kuat, amarah yang selama ini berusaha dia tahan, sekarang dia keluarkan lewat tamparan itu. Sari merasa pipi nya amat perih, sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah, air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.
''dasar wanita sombong, kejam!'' ujar Sari terisak.
''eh Fitri, lepaskan kami!'' teriak Reni, tetap pada sifat tidak tahu dirinya.
''dasar manusia tidak punya hati'' teriak Mayang, dia lalu menampar pipi sang mantan mertua nya lagi dengan keras. Rasa kecewa dan amarah nya sudah mengubur rasa hormat yang dia junjung kepada Reni selama ini.
Reni merasa amat murka, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tangannya yang tak berdaya.
''sayang sudah, nanti saja kita urus mereka. Ayo kita cari Raihan di belakang'' kata mama Hanum.
Kemudian mereka melangkah kaki menuju belakang. Di belakang Mayang dan rombongan nya melihat Ibnu yang berteriak kesakitan dengan wajah babak belur sedang memegang kedua kakinya yang di bagian betisnya mengeluarkan darah segar. Sedangkan Raihan berada di gendongan Gentala masih tak sadarkan diri.
''dia tadi sempat berusaha untuk kabur dengan membawa putra anda nyonya, jadi terpaksa kami melumpuhkan kedua kakinya'' jelas pak polisi menghampiri Mayang.
''tidak apa-apa pak, kalian mau membunuhnya pun aku tidak akan melarang'' balas Mayang, matanya menatap ke arah Ibnu yang terus berteriak.
__ADS_1
Lalu langkah kaki Mayang di ikuti oleh sang mama berjalan ke arah Gentala, begitu pun Gentala dia juga berjalan ke arah Mayang.
Sedangkan Aditama dan Aksa berjalan menghampiri Ibnu.
Aditama lalu menghadiahkan pukulan kebagian pipi Ibnu, yang membuat Ibnu terbaring terkapar.
''kalian kenapa begitu tega sama aku, hah? Padahal aku ini tidak melakukan kejahatan apa-apa, aku hanya membawa putra ku sendiri'' gumam Ibnu lirih tersenyum miris.
Saat Aditama ingin memberi bogem sekali lagi, pak polisi tiba-tiba melarangnya.
''sudah tuan, nanti dia bisa mati. Biar dia kami bawa ke kantor saja. Kami pastikan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal''
''baiklah, lakukan yang terbaik''
Setelah itu tubuh Ibnu di bawa oleh polisi keluar.
Ibnu terus berteriak meminta ampun dan memanggil Mayang berulang kali.
''Fitri, ayo kita sama-sama seperti dulu ...''
''maafkan mas, mas hanya sedang butuh uang ...'' teriak Ibnu lirih dengan suara terputus-putus.
**
''ayo cepat, lebih baik bawakan putra mu ke rumah sakit terlebih dahulu Mayang, dia tidak sadarkan diri sudah cukup lama. Aku berulang kali mencoba untuk membangun nya, tapi dia tidak memberi respon sama sekali'' kata Gentala panik.
''a--pa? iya, ayo!'' Mayang semakin panik mendengar penuturan Gentala. Bagitu juga yang lainnya.
Kemudian Mayang dan Gentala berjalan beriringan dengan langkah lebar. Raihan masih berada di dekapan Gentala. Mama Hanum, Aditama dan Aksa berjalan di belakang mereka.
Mobil mereka melaju cepat di ikuti mobil polisi yang membawa Ibnu dan komplotannya.
Mayang dan Gentala berada dalam satu buah mobil, sekarang Raihan sudah berada di dekapan Mayang, Mayang duduk di samping Gentala. Hanya mereka berdua yang berada di dalam mobil itu.
''sayang, bangun lah.'' kata Mayang, membelai wajah pucat Raihan. Dia memandang Raihan dengan mata berkaca-kaca.
''maafkan mama, nak'' menciumi wajah Raihan berulang kali.
__ADS_1
''mama tidak bisa menjaga mu dengan baik''
Gentala yang mendengar merasa ikut terluka, isakan tertahan Mayang semakin menambah keprihatinan nya. Dia dengan refleks membelai rambut Mayang, membuat Mayang marah dan tidak nyaman.
''singkirkan tangan mu itu dari kepala ku, Gentala'' kata Mayang dengan suara serak.
''maaf Mayang, tanganku tiba-tiba repleks, aku merasa kasihan kepada mu'' jujur Gentala.
''terimakasih, maaf sudah merepotkan mu, terimakasih juga karena kamu sudah menyelamatkan putra ku, tapi aku rasa kamu tidak punya hak untuk menyentuh ku''
''sama-sama, Mayang. Maafkan aku'' jawab Gentala. Mendengar ucapan ketus Mayang kepada nya semakin menambah rasa kekaguman nya terhadap Mayang, karena biasanya wanita akan mengejar dan meminta lebih kepadanya, tapi Mayang tidak. Dia merasa Mayang adalah wanita yang berbeda, yang begitu istimewa.
***
"Seharusnya aku''
''ah, aku tidak boleh egois, kenapa aku masih sempat-sempatnya memikirkan perasaanku di saat den Raihan dan non Mayang sedang tidak baik-baik saja''
Gumam Aksa, dia mengemudi mobil sendiri. Rasa cemburu tumbuh begitu saja saat dia melihat Mayang sedang bersama dengan pria lain, apalagi saat dia mengetahui kenyataan kalau Gentala lah yang menyelamatkan Raihan, semakin menambah rasa kekesalan dan kecemburuan nya.
*********
malam hari Gentala dan Mayang baru sampai di rumah sakit ternama, begitu sampai Gentala mengambil alih Raihan dari dekapan Mayang, setelah itu dia menggendong Raihan lalu berlari menuju instansi gawat darurat di ikuti Mayang di belakang, Gentala berteriak memanggil dokter.
sedangkan rombongan Aditama masih belum sampai, mobil mereka jauh tertinggal karena Gentala membawa mobil dengan kecepatan tinggi, apalagi mobilnya memang lebih canggih dari mobil yang lainnya.
********
"Mas, ponsel mas mana? Cepat hubungi mas Hamka?'' ucap Sari lirih, saat mereka di dalam mobil di dalam perjalanan. Mereka duduk di bagian belakang mobil dengan tangan di borgol dan di jaga oleh 2 orang polisi.
''ti--dak ada, ponsel mas sudah remuk, lagian tangan kita juga di borgol. Bodoh sekali kamu Sari'' sahut Ibnu, yang terbaring asal di atas lantai bak mobil.
''Bagaimana ini, mas, ma? Bagaimana dengan putriku Meisya?'' ucap Sari lagi dengan keadaan yang begitu berantakan.
''mama juga tidak tahu, kenapa rencana kita bisa gatot begini? Hancur sudah, mama ingin ke mall Ibnu, mama tidak mau masuk penjara''
''sudah diam kalian berdua, ini semua karena ide gila mama'' teriak Ibnu lemah, disela-sela rasa sakitnya.
__ADS_1
Polisi yang mendengar menggeleng-geleng kan kepala mendengar obrolan Ibnu dan keluarganya.
''diam! Kalian berisik sekali! Masih sempat-sempatnya. Dasar sinting!'' bentak polisi perempuan marah.