
Entah kenapa Mayang merasa begitu gelisah saat dia mendapatkan kabar tentang Aksa yang tidak tahu di mana keberadaannya sekarang. Mayang berjalan mondar mandir di dalam kamarnya, dia mencoba menghubungi nomor Aksa berulang kali, tapi tidak aktif. Begitu juga Aditama, selama dalam perjalanan ke kantor Aditama merasa begitu gelisah dengan berbagai praduga dan tanda tanya, karena tidak biasanya Aksa menghilang dari tanggung jawabnya.
*****
Di tempat yang berbeda, di kediaman Bagaskara, terjadi perdebatan kecil antara kakak beradik yang berbeda jenis kelamin tersebut.
''mas, ngapain sih repot-repot nyari keberadaan anak Mas yang menghilang 30 tahun yang lalu? Percuma Mas! Mas tidak akan menemukan nya!''
''jaga mulut mu Hani, kamu tidak perlu ikut campur. Biar semua ini menjadi urusan Mas''
''Hani kasihan sama mas, mas sudah tidak muda lagi dan sudah sering sakit-sakitan, lebih baik mas beristirahat total, nggak usah banyak pikiran. Lagian perusahaan kan juga sudah di urus sama Putraku
''Tapi Mas yakin Hani, putra Mas masih hidup sampai saat ini''
''iya, kalaupun masih hidup, di mana dia berada sekarang, Mas?! Dari dulu Mas selalu meng-halu, menganggap kalau putra mas masih hidup, tapi mas tak kunjung menemukan nya. Makanya apa kata aku dulu, lebih baik mas menikah lagi dengan perempuan lain, supaya mas bisa memiliki keturunan, dan melupakan semua peristiwa 30 tahun yang lalu''
''mas tidak bisa mengkhianati mendiang istri mas!''
''ah sudah lah, selalu saja itu jawaban mas dari dulu-dulu. Padahal saat mas masih muda dulu banyak sekali wanita cantik dan kaya raya yang mengejar mas. Aku tidak tahu mas di kasih apa sama Melati hingga mas cinta mati sama dia, mas sangat keras kepala!''
''diam Hani! Kamu semakin lama semakin lancang saja berbicara sama mas.''
''terus saja mas, terus saja cari anak mu itu.'' teriak Hani berlalu dengan perasaan marah. Sedangkan Aditama masih duduk santai di sofa ruang keluarga.
Putranya Hani, yang bernama Gentala sedang tidak berada di rumah, dia berada di kantor.
******
__ADS_1
"Cepat, bawa putra ku sekarang ke sini! Katakan saja yang sebenarnya kepadanya kalau dia memberontak'' kata Bagaskara, berbicara sama seseorang lewat ponselnya.
''baik tuan Bagaskara, dia sekarang lagi ada bersama kami.''
''kerja bagus'' kata Bagaskara, lalu dia menutup panggilan nya. Di ruang kerjanya yang luas itu, Bagaskara terus memperhatikan satu persatu foto sang putra serta tes DNA yang di kirimkan oleh orang suruhanannya beberapa hari yang lalu, dia bergumam kecil, ''ternyata memang benar feeling aku selama ini, dia putraku, anak muda yang selalu aku kagumi akan kecerdasan dan kedisiplinan di perusahaan Aditama adalah putra ku. Dia sangat tampan, wajahnya persis seperti perpaduan antara aku dan Melatiku'' gumam Bagaskara dengan mata berkaca-kaca.
***
Di tempat yang berbeda, Aksa duduk di dalam sebuah mobil mewah di apit oleh dua orang berbadan kekar, dengan perasaan marah sekaligus penasaran, Dia marah karena tadi orang-orang yang berbadan kekar yang ada di samping kiri-kanan dia sekarang sempat menahan langkah nya, mencegat mobilnya, yang membuat dia tidak dapat datang ke kantor, padahal hari ini ada meeting penting. Tapi, Aksa juga merasa begitu penasaran sama apa yang di jelaskan oleh orang berbadan kekar tersebut, orang itu mengatakan kalau mereka akan membawa Aksa bertemu dengan Ayah kandung Aksa, yang membuat Aksa tidak percaya.
''masih jauh lagi?'' tanya Aksa sinis.
''tidak tuan muda, sebentar lagi kita akan sampai''
''aku sungguh tidak percaya sama bualan kalian'' ujar Aksa remeh.
Aksa tidak menjawab lagi, sekarang pikirannya tertuju kepada wanita pujaannya.
''sedang apa Mayang ku sekarang? Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini kepada tuan Aditama! Jangan sampai tuan Aditama memecatku karena kesalahanku ini,'' batinnya memejamkan matanya yang terasa lelah, karena akhir-akhir ini dia sangat jarang sekali memejamkan mata itu, dia terlalu sibuk sama pekerjaan yang di berikan oleh Aditama.
Setelah mobil yang membawa Aksa berjalan cukup jauh, akhirnya mobil itu berbelok memasuki pagar tinggi menjulang, rumah mewah dan megah terdapat di dalam nya.
''apakah ini rumah Papa ku yang kalian katakan itu?''
''iya tuan muda. Ayo silahkan keluar tuan''
Aksa melangkahkan kakinya, dia keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Pandangan nya menyapu seluruh area rumah itu. ''aneh, aku sudah sedewasa ini, kenapa baru sekarang Papa ku mencari keberadaanku, kenapa mereka dulu tega membuang ku ke panti asuhan. Ah, lebih baik aku ikuti saja permainan mereka'' batin Aksa berdiri di depan teras dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana nya, dia terlihat sangat cool.
''mari masuk tuan muda'' ucap bodyguard lembut. Aksa lalu memasuki rumah megah itu, dia berjalan di belakang bodyguard dengan jantung sedikit berdebar.
***
Hani, mamanya Gentala berdiri di depan jendela kamarnya yang berbeda di atas, dia mengupat kesal, memandang ke bawah.
''shittss. Dasar, punya kakak kok keras kepala banget. Mana orang suruhan ku juga bodoh sekali, bisa-bisanya mereka babak belur, kalah melawan orang suruhan mas Bagas. Hancur semuanya, rencana yang aku bangun bersama mendiang mama ku selama ini hancur semuanya. Posisi putraku di perusahaan juga terancam.'' kata Hani membanting semua bantal yang ada di atas kasurnya.
***
Tok ... Tok ... Tok ...
''permisi tuan, kami sudah membawa apa yang tuan minta selama ini''
''masuk, pintunya tidak di kunci.'' jawab Bagaskara dari dalam dengan suara terdengar berat dan serak.
Sedikit kemudian, pintu itu terdengar berderit. Bagaskara yang berada di dalam menunggu dengan perasaan campur aduk. Bagaskara memakai pakaian rajut tebal dan sal yang melilit di lehernya, sesekali dia batuk.
Di belakang nya Aksa sudah berdiri dengan gagah, para bodyguard sudah permisi keluar.
''assalammualaikum tuan'' sapa Aksa lembut, terdengar begitu merdu di telinga Bagaskara. Mata Bagaskara berkaca-kaca. Kerinduannya selama ini akan segera terobati.
''walaikumsallam Putra ku'' serak suara Bagaskara menjawab, dengan posisi masih membelakangi Aksa.
Tatapan Aksa menyapu ruang kerja yang terlihat luas dengan berbagai barang antik terpajang di setiap sudut. Lalu tatapan itu berhenti pada sebuah bingkai foto yang terpampang di dinding dengan ukuran besar. Foto seorang bayi bersama ibunya sedang barbaring di brankar rumah sakit. Dada Aksa bergemuruh hebat memandang foto ini, ''itu seperti fotoku masih bayi yang pernah ibu panti perlihatkan dulu'' batinnya.
__ADS_1