Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Kabar Duka


__ADS_3

Udara pagi terasa begitu dingin, Mayang membuka jendela kamarnya setelah tadi dia selesai sholat subuh. Lalu dia berjalan ke arah balkon kamarnya, sesampainya di sana Mayang merentangkan kedua tangan seraya memejamkan mata, lalu dia menarik nafas panjang, menghirup udara segar pagi yang begitu menenangkan dengan wajah tersenyum tipis.


''pagi yang menenangkan'' gumam Mayang.


Tanpa dia sadari ternyata seseorang juga tengah berdiri di balkon yang sejajar dengannya. Pria itu menatap Mayang dengan mata berbinar, pagi-pagi setelah sholat subuh dirinya telah di suguhkan dengan pemandangan indah yang menyejukkan mata lagi hatinya.


Kamar Aksa dan Mayang bersebelahan di lantai atas.


''indah sekali'' gumam Aksa menatap lekat ke arah Mayang yang belum menyadari akan kehadiran nya.


Mayang mengalihkan pandangannya ke samping, tatapan nya pun tertuju ke arah Aksa yang sedang fokus melihat nya. Seketika saja debaran di dada dirasakan Mayang saat matanya dan Aksa tidak sengaja bertemu, saling menatap.


Mayang mencoba meredakan debaran di dada, lalu berkata dengan sedikit berteriak, ''hey Aksa, kamu sudah bangun juga ternyata. Lagi apa?'' sapa Mayang berbasa-basi dengan wajah merona.


''aku sudah dari tadi bangun Non, ini aku baru selesai beres-beres pakaian ku. Non sendiri lagi apa?'' sahut Aksa. Aksa terlihat begitu tampan, rambutnya basah. Celana jeans selutut dan atasan kaos bewarna putih semakin manambah ketampanan nya.


''wah cepat juga ternyata kamu bangun, kayaknya kamu begitu kesenangan dan tidak sabar lagi ingin pergi dari rumah ini. Sudah merasa bebas, ya?'' celetuk Mayang, becanda.


''aku emang biasa bangun subuh-subuh gini Non. Non kenapa berkata seperti itu?'' Kata Aksa dengan tak bersemangat, perkataan Mayang di akhir kalimat terdengar sedikit menyinggung nya. Aksa memang bukan tipe lelaki yang suka becanda.


'' ... ternyata kamu memang tipe pria idaman para kaum Hawa, Aksa. Wajahnya jangan lesu gitu dong, aku tadi cuma becanda''


''iyakah?''


''iya. Tapi yang aku heran, kenapa sampai saat ini kamu masih belum laku juga'' celetuk Mayang, di sambut tawa berderainya, ''hahaha,'' mayang menutup mulutnya. Sikap riangnya perlahan mulai kembali lagi yang membuat Aksa ikut tersenyum melihat tingkah Mayang.


''bukan belum laku Non. Tapi, aku masih berjuang untuk merebut hati wanita ku''


''lama amat berjuang nya. Ntar keburu di gaet orang, nyesel lho''


Aksa tidak menjawab lagi, perkataan Mayang ada benarnya juga. Dia tersenyum kaku sambil menggaruk-garukkan kepalanya.


''Kapan? Kapan aku akan menyatakan perasaan ku kepada Mayang.'' batin Aksa.

__ADS_1


Candaan Mayang dan Aksa yang agak keras di pagi-pagi buta terdengar oleh telinga Aditama dan Hanum. Karena kamar mereka juga berada di atas, di sebelah kanan kamar Mayang. Mereka juga senyum-senyum sendiri mendengar candaan Mayang.


''papa ... Kapan Papa akan mengatakan kepada Aksa, tentang perjodohan yang sudah Papa rencanakan jauh-jauh hari?'' ujar Hanum. Hanum dan Aditama berdiri di depan jendela kamar mereka.


''papa merasa sungkan untuk mengatakan nya Ma, takut Aksa dan Mayang menolak''


''kenapa Mama merasa kalau Mayang dan Aksa memiliki perasaan yang sama ya, Pa''


''iya, mereka sama-sama nggak suka 'kan?"


'' ... Kok nggak suka sih! Lihatlah cara mereka mengobrol dan becanda. Suara keduanya terdengar gembira. Mama yakin mereka itu saling suka. Tapi hanya saja mereka belum menyadari perasaan mereka masing-masing''


''papa merasa juga begitu. Lebih baik kita biarkan saja mereka berdua dekat dengan sendirinya tanpa paksaan dari kita. Karena Papa tahu Mayang tidak akan suka kalau kita jodoh-jodohkan.''


''iya Pa, ya sudah, yuk turun Pa. Sarapan sudah siap sepertinya.''


*****


Mayang, Aksa, Hanum dan Aditama duduk di depan meja makan. Mereka semua terlihat sudah rapi dengan pakaian yang melekat di tubuh mereka.


''iya dong Sayang. Hari ini hari terakhir Aksa tinggal bersama kita. Jadi kita harus melepaskan kepergian Aksa dengan sangat istimewa supaya berkesan bagi Aksa dan supaya Aksa sering-sering main kesini'' ujar Mama Hanum dengan senyum mengembang.


''nyonya bisa saja'' jawab Aksa kaku.


''nyonya? Panggil Tante saja ya, Aksa. Biar enak di dengar''


''baik Tan.''


Saat Aksa hendak menyendok nasi kedalam piringnya, tiba-tiba Mama Hanum kembali bersuara.


''Mayang .... Itu, kamu masukkan nasi untuk Aksa. Semuanya harus kamu mulai sejak dini Mayang'' celetuk Mama Hanum seraya memasukkan nasi kedalam piring Aditama. Aditama tersenyum simpul mendengar ucapan sang Istri.


Sedangkan Mayang yang hendak memulai suapan pertama nya ternganga mendengar ucapan sang Mama.

__ADS_1


''apaan sih Ma?!'' ketus Mayang dengan wajah memerah.


''iya kamu bantu Aksa, Mayang.'' celetuk Aditama.


Mayang dan Aksa saling tatap dengan debaran di dada. Lalu akhirnya Mayang turun dari kursinya, dia berjalan berpindah ke arah Aksa, ''aku bantuin ya'' ucap Mayang lembut sambil mengambil piring yang masih berada di tangan Aksa. Aksa mengangguk gugup, Mayang memasukkan nasi serta lauk kedalam piring Aksa dengan begitu lihai. Membuat Aksa semakin terkagum-kagum akan kecantikan dan kebaikan Mayang.


Setelah itu mereka makan dalam diam, tidak berapa lama, ponsel Mayang yang tergeletak di meja makan di samping piringnya bergetar. Mayang mengangkat panggilan tersebut.


''assalammualaikum'' jawab Mayang ramah.


''walaikumsallam nyonya Mayang. Kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan kabar duka terhadap saudara Ibnu mantan suami anda.''


Aditama, Hanum dan Aksa menatap Mayang dengan tatapan tanda tanya. Lalu Mayang meng-loudspeaker panggilan nya. Supaya Mama, Papanya dan Aksa bisa ikut mendengarkan.


''iya, ada apa, Pak?'' tanya Mayang penasaran.


''bagini Nyonya, Pak Ibnu kami dapati pagi ini sudah meregang nyawa. Dia sepertinya sudah meninggal dari semalam nyonya. tubuhnya begitu kurus dan luka di kedua kaki nya sudah semakin parah berair dan bernanah yang mengeluarkan aroma tidak sedap. Mungkin itulah penyebab nya nyonya, pak Ibnu sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya'' jelas Pak Polisi dari seberang sana.


''innalillahi wainnailaihirrojiun'' ucap Mayang kaget seraya menutup mulut.


''dan kami juga menemukan sebuah buku yang ada di pelukan Pak Ibnu, di halaman depan buku itu tertulis kalau buku itu terkhusus untuk anda Nyonya Mayang. Kami sangat berharap nyonya Mayang sudi kiranya datang kesini karena banyak hal yang ingin kami tanyakan tentang tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.''


''baiklah, aku ... Akan segera kesana pak'' jawab Mayang. Lalu panggilan pun terputus.


''itu pantas dia dapatkan'' kata Aditama.


''iya, Mama tidak pernah menyangka kalau Ibnu akan menerima karmanya begitu cepat''


''ma, Pa ... Sudah lah, tidak baik membicarakan keburukan orang yang telah tiada. Lebih baik kita doakan yang baik-baik. Setelah ini kita ke rumah sakit ya.'' ucap Mayang lirih. Dia juga tidak pernah menyangka kalau mantan suaminya yang zolim itu begitu cepat meninggalkan dunia, menyusul sang Putra.


*****


"Huhuhu ... Tidak mungkin, Ibnu tidak mungkin meninggal. Dia tidak mungkin pergi meninggalkan aku,'' Reni histeris duduk di lantai di dalam penjara. Sari pun sama, tubuh kurusnya serasa hendak jatuh saat mendengar kabar yang begitu mengejutkan.

__ADS_1


''izinkan kami keluar sebentar Pak Polisi, aku dan Putri ku ingin melihat Ibnu untuk yang terakhir kalinya'' racau Reni dengan deraian air mata.


Like dan komentarnya di tunggu ya pembaca setia. Supaya author makin semangat ngetiknya.


__ADS_2