
Terkadang omongan dan perkataan yang kita anggap biasa saja, bahkan di kemas dalam bentuk becanda, yang sengaja kita tujukan untuk seseorang, menganggap becandaan kita lucu, bahkan kita sering tertawa karenanya. Tanpa sadar mungkin kita telah menyakiti hati orang tersebut, bukan tidak mungkin lagi, katakanlah memang menyakiti karena becandaan yang tidak dalam porsi nya. Kita bersikap santai melalui hari sementara orang yang terluka hatinya karena becandaan kita tadi melalui hari-hari dengan berat, bacandaan kita yang kita anggap hal remeh bisa saja menjadi beban untuk hidupnya. Bahkan tanpa sengaja kita membuat orang itu merubah fisik maupun psikis nya. Maka hati-hatilah dalam berkata. Satu kata yang kita keluarkan dihadapan seseorang, maka kata itu sudah untuk orang tersebut.
**
Bagaskara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia menunduk, lalu setelah itu terdengar isakan tertahan dari dirinya. Bagaskara tak kuasa menahan rasa sakit dan bersalah setelah ia mendengarkan cerita dari Bu Aida. Cerita Bu Aida begitu detail. Memang benar, Bagaskara mengakui kesalahannya dahulu yang sering mengolok-olok Aida dengan kata-kata yang sedikit tidak pantas.
''M-maaf. Maafkan aku Nur.'' ucap Bagaskara tersedu. Suasana haru memenuhi ruang tamu tersebut. Aksa dan Gendis pun sama. Mereka juga tak kuasa menahan air mata. Selama ini Bu Aida telah merawat dan membesarkan mereka dengan sangat baik. Apalagi Aksa, mungkin kalau Aida tidak segera menyelamatkan waktu itu, sudah pasti tubuh Aksa yang masih merah telah habis di gigit serangga.
''Sudah, kalian tidak usah menangis mendengar semua yang aku ceritakan. Cukup aku saja yang menangis dalam diam selama ini. Hahaha ...'' ucap Bu Aida lagi.
''Bu, maafkan aku. Terimakasih karena selama ini Ibu sudah merawat dan membesarkan aku. Tapi jangan paksa aku dan Aksa untuk menuruti kehendak Ibu. Pernikahan tanpa cinta itu tak berarti apa-apa, tak akan bertahan lama. Takkan ada kebahagiaan di dalamnya. Yang ada akan ada hati yang saling menyakiti.'' ucap Gendis. Ia berlutut di kaki Bu Aida yang masih terikat.
''Iya Bu. Biarkan kami tetap berbakti kepada Ibu dengan cara lain. Jangan paksa dan sakiti siapa-siapa lagi.'' ucap Aksa. Aksa memegang kedua tangan Bu Aida yang masih terikat.
''Em ... Em ... Baiklah. Ibu tidak akan memaksa kalian dan menyakiti siapa-siapa lagi. Tapi Ibu mohon biarkan Ibu pergi. Biarkan Ibu menjalani hari tua Ibu sendiri. Dari dulu Ibu memang di takdirkan sendiri, tanpa ada yang peduli. Hahaha ...'' sahut Bu Aida. Bu Aida selalu mengakhiri ucapan nya dengan tawa sumbang yang terdengar menyedihkan.
''Jangan pergi Nur. Tetap lah di sini. Kau tahu Nur. Dulu, beberapa bulan setelah kematian Melati. Aku pernah mencari mu ke Desa tempat tinggal kita. Aku menanyakan keberadaan kamu kepada tetangga, kerabat dan kepada teman kita dahulu. Tapi tidak seorangpun yang tahu di mana keberadaan mu. Kau tahu, waktu itu aku ingin sekali berbagi suka dengan mu. Kau itu pendengar yang baik, kau selalu sabar saat mendengar aku bercerita apa saja. Waktu itu, selain kehilangan Melati, aku juga sangat kehilangan sahabat seperti mu.'' ucap Bagaskara. Ia menatap Bu Aida lekat. Memang benar, wajah Nur yang ia kenal dulu telah jauh berubah dengan yang sekarang.
''Aku akan tetap pergi! Hahaha ...'' sahut Bu Aida dengan menggoyang-goyangkan anggota tubuhnya.
''Apa yang bisa aku lakukan agar kamu tidak jadi pergi?'' tanya Bagaskara serius. Bagaskara sang pengusaha sukses rela merendah agar sahabat masa lalu dan masa kecilnya tidak pergi.
__ADS_1
''Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Keputusan aku sudah bulat'' jawab Aida lesu.
''Em .... Bagaimana kalau kita menikah saja.'' ucap Bagaskara sedikit ragu. ''Aku memang harus menikahi Nur Aida, aku harus menebus kesalahanku di masa lalu. Akan aku buat rasa sakitnya karena ulahku perlahan memutar di hari tua kami. Aku tidak mau mati dalam rasa bersalah. Dan Nur juga tidak boleh mati dalam kesendirian nya.'' batin Bagaskara meyakinkan dirinya.
Aksa, Gendis, Gavin serta tiga orang teman Gavin begitu kaget mendengar ucapan Bagaskara.
Aksa menatap ke arah sang Papa.
''Pa?'' ucap Aksa menatap Papa nya, tatapan yang berarti tanda tanya.
''Iya. Papa serius Aksa. Bagaimana Nur, apa kau mau menikah sama aku? Aku yakin Melati juga tidak akan keberatan kalau aku menikahi mu. Dia pasti senang, karena selama ini kau telah merawat dan membesarkan Putra kami.'' ucap Bagaskara lagi. Sedangkan Bu Aida masih tetap diam. Bu Aida bingung harus menjawab apa.
**
Aksa merasa begitu bersyukur, karena sekarang permasalahan itu sudah selesai dan menemukan titik akhir penyelesaian nya. Untuk sementara waktu Bu Aida dan Gendis akan tinggal bersama Bagaskara. Aksa juga telah mengirimkan dua orang perawat handal untuk merawat Bu Aida, sekalian untuk menjaga Bu Aida kalau-kalau Bu Aida bersikap aneh lagi.
**
''Mas kamu sudah pulang,'' sapa Mayang, Mayang berdiri dari kasur, lalu Mayang mengambil tangan sang suami begitu sang suami masuk kamar.
''Iya Sayang.'' jawab Aksa seraya mencium kening Mayang. ''Bagaimana keadaan kamu, apa udah mendingan?'' tanya Aksa dengan suara lembut.
__ADS_1
''Aku masih sedikit mual aja Mas. Rasa-rasanya aku pengen makan yang asam-asam.'' sahut Mayang sambil bergelayut manja di tangan kekar sang suami.
''Itu wajar. Karena di sini telah tumbuh mahluk kecil penerus Mas. Kamu yang sabar dan kuat ya Sayang. Nanti Mas akan meminta rangga untuk membeli 'kan kamu mangga muda Sayang.'' ujar Aksa seraya membelai perutnya Mayang. Mereka duduk di pinggir kasur.
''Oke, baiklah. Kamu kok tumben pulangnya cepat Mas?'' tanya Mayang heran.
''Itu karena Mas merindukan kamu Sayang.'' balas Aksa seraya mengecup perut sang Istri bertubi-tubi. Mayang merasa geli karena ulah sang suami.
''Mas jangan nakal ya. Beberapa bulan ini libur dulu ya. Kamu enggak dapat jatah selama beberapa bulan ini.'' goda Mayang tersenyum jail.
''Yahh .... Kok lama banget sih Sayang.'' protes Aksa.
''Iya memang begitu harusnya, supaya anak kita enggak terganggu karena itu mu Mas.'' ujar Mayang dengan senyum nakal.
Aksa hanya bisa pasrah mendengar penuturan sang istri.
Mayang belum mengetahui apa-apa tentang permasalahan Bu Aida dan Papa Bagas. Aksa rasa ia akan menceritakannya lain kali saja. Saat waktu itu tiba. Saat Bagaskara akan mengucapkan ijab qabul kepada Bu Aida.
Bersambung.
Hai, hai pembaca setia. Kalian setuju tidak kalau Pak Bagaskara dan Bu Aida menikah?
__ADS_1
Like, komen ya.