Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Dalang sesungguhnya


__ADS_3

Mobil yang dikendarai oleh Aksa terasa begitu lambat lajunya, padahal Aksa sudah mengemudi dengan kecepatan tinggi. Gendis duduk dengan gelisah di kursi bagian belakang, ia sudah tak sabar lagi ingin segera sampai di rumah sakit, ia ingin segera melihat kondisi pria yang selalu ia sebut di dalam doanya akhir-akhir ini. Jari-jari tangan nya yang ada di pangkuan saling bertautan, dingin, ujung kakinya pun terasa sangat dingin.


''Lindungi Gavin ya Rabb.''


''Jangan dulu kau ambil dia, panjangkan umurnya.'' Gendis berdoa di dalam hati dengan sungguh-sungguh. Kedua matanya basah, air mata tak mau berhenti menetes, ia menangis tanpa suara.


Mayang yang duduk di kursi bagian depan hanya bisa menatap Gendis pilu, ia melihat Gendis dari spion. Mayang juga sangat berharap Gavin bisa selamat. Mayang ingin melihat Gendis bahagia. Saat ini hanya Gavin yang bisa membuat Gendis benar-benar merasa bahagia, Mayang bisa melihat dari mata Gendis, saat lagi menyebut nama Gavin, dan bercerita tentang Gavin, mata Gendis selalu menunjukkan binar bahagia dan harap. Dan, kalau sampai Gavin meninggal dunia, maka pupus sudah harapan Gendis, Gendis pasti akan menjadi gadis murung yang menyedihkan karena luka kehilangan. Mayang tidak mau itu sampai terjadi pada wanita yang sudah di anggapnya seperti saudaranya sendiri.


Tidak lama setelah itu, mobil berhenti tepat di perkarangan rumah sakit. Gendis membuka cepat pintu mobil, lalu ia keluar dengan cepat pula, ia berjalan dengan langkah kaki lebar. Tak ia pedulikan Mayang dan Aksa yang memanggil nya.


''Gendis, tunggu dulu ...'' teriak Mayang, memanggil Gendis yang sudah hilang di balik pintu rumah sakit.


''Mas.'' Mayang sedikit kesulitan berjalan karena pinggang nya yang terasa mau copot. Bagaimana tidak, sekarang ia lagi mengandung tiga bayi sekaligus. Ia menggandeng tangan Aksa erat. Aksa pun menuntun sang istri yang amat di cintainya itu dengan pelan.


''Kamu tunggu sebentar di sini, ya, Sayang. Mas ambilkan kursi roda di dalam sebentar. Kasihan kamu.'' ucap Aksa, ia mendudukkan tubuh sang istri di atas bangku di depan sebuah ruangan.


''Iya Mas. Jangan lama-lama.''


''Iya Sayang.'' Aksa melempar senyum setelah itu ia berjalan cepat kedalam sebuah ruangan, ia meminta kursi roda kepada seorang petugas rumah sakit. Begitu sudah dapat, dengan cepat ia kembali kepada sang istri. Dengan hati-hati Mayang duduk di kursi roda, Aksa mendorongnya pelan menuju di mana tempat Gavin di tindaklanjuti.


Setelah berjalan melewati lorong-lorong rumah sakit, Mayang dan Aksa melihat Gendis yang tengah duduk di atas kursi tunggu dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Ia menunduk, isakannya terdengar memilukan.


''Gendis.'' sapa Mayang. Mayang ikut duduk di sebelah Gendis. Ia membelai bahu Gendis.


''Mayang, Gavin ... Keadaan Gavin sungguh parah. Huhuhu ...'' tangis Gendis makin berderai.


''Kamu tenang dulu, ya. Kendalikan tangis mu. Lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Gavin.'' Mayang berkata lembut.

__ADS_1


''Iya, Gendis. Benar apa yang dikatakan Mayang.'' timpal Aksa.


Gendis mengangguk kecil. Tangisnya berangsur reda. Lalu ia berulangkali berdoa di dalam hati, memohon kesembuhan Gavin.


Dari tadi, ponsel yang ada di saku gamis Gendis terus berdering. Ia mengambil ponselnya, lalu mengangkatnya cepat. Di layar ponsel, nampak nama Arkan tertera. Gendis mengangkatnya sedikit ragu, tapi, entah dorongan dari mana akhirnya ia mengangkat nya dengan yakin. Ia ingin memperjelas hubungan dirinya dan Arkan.


''Assalamu'allaikum.'' jawab Gendis.


''Walaikum'sallam Gendis. Gendis, kamu kemana saja? Kenapa kamu sulit sekali aku hubungi?'' tanya Arkan dari seberang sana. Mayang dan Aksa menyimak.


''Aku lagi sibuk, Arkan. Maaf.''


''Iya, nggak apa-apa. Em ... Gendis, aku cuma mau menanyakan tentang jawaban mu, maaf, soalnya kedua orangtuaku terus saja mendesak, mereka ingin berkenalan sama calon istriku.''


''Baiklah. Aku akan jawab sekarang.'' Gendis menjeda beberapa detik, menarik nafas dalam, lalu kembali berbicara, ''Arkan, maafkan aku, selama beberapa malam ini aku sudah melakukan sholat istikharah, tapi, sayangnya ... Aku tidak mendapatkan petunjuk kalau kamu jodohku. Maafkan aku Arkan. Aku tidak bisa menikah dengan mu.''


''Gendis? Kamu becanda?! Padahal aku sudah menunggu mu terlalu lama. Aku sudah berjuang untukmu selama ini! Teganya kamu!'' protes Arkan dengan nada suara terdengar kecewa.


''Alaaahh ... Sudah lah. Mari kita saling melupakan setelah ini. Aku benar-benar kecewa sama kamu.'' panggilan terputus. Suara Arkan terdengar serak dan bergelegar. Arkan begitu marah sama Gendis. Gendis kembali menyimpan ponselnya.


''Apa aku jahat karena telah menolak, Arkan?'' ujar Gendis lirih.


''Tidak Gendis. Tindakan kamu sudah benar. Terkadang kita memang diharuskan bersikap tegas dan jujur, dari pada terus memberi harapan kosong terhadap seseorang. Sekarang, fokus saja sama Gavin, ya.'' sahut Mayang.


''Iya Mayang, terimakasih. Karena kamu dan Aksa sudah menemani aku. Padahal kamu lagi hamil. Maaf merepotkan.''


''Tidak apa-apa. Aku masih kuat kok.'' balas Mayang. Aksa dari tadi terus membelai punggung sang istri.

__ADS_1


Setelah itu, tiba-tiba seorang Dokter keluar dari ruangan tempat Gavin ditindaklanjuti. Mayang, Aksa dan Gendis berdiri cepat menghampiri sang Dokter.


''Bagaimana keadaan pasien, Dok?'' tanya Gendis tak sabaran begitu sudah sampai di hadapan sang Dokter. Dokter yang berusia seperti empat puluh tahunan.


''Alhamdulillah, keadaan pasien sudah kembali stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami sudah menjahit luka keningnya yang sedikit robek. Setelah itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Detak jantung nya juga sudah normal. Mungkin setelah beberapa jam pasien akan sadarkan diri.'' jelas Dokter dengan sebuah senyuman.


''Alhamdulillah.'' jawab Aksa, Mayang dan Gendis secara bersamaan.


''Em ... kalau boleh saya tahu apakah kalian ini keluarga nya? Kami, pihak rumah sakit perlu seseorang untuk menjadi penanggung jawab selama pasien di rawat inap.''


''Iya, kita keluarga nya, Dok. Aku akan menjadi penanggungjawab semua nya.'' sahut Aksa cepat. Setelah itu Aksa di minta oleh Dokter untuk mengikuti nya keruangan nya. Sang Dokter akan menjelaskan tentang kondisi Gavin secara detail, dan sekalian mengatakan tentang biaya yang harus di bayar.


Gendis dan Mayang sudah masuk ke kamar Gavin. Gendis menatap Gavin dengan perasaan pilu. Wajah tampan Gavin nampak pucat.


''Hey, cepatlah sadar. Aku akan selalu ada di sisi mu.'' lontar Gendis dengan senyum simpul. Iya merasa amat senang, karena Gavin sudah melewati masa kritisnya.


***


Di tempat berbeda, Hani masih terus berteriak kesakitan. Menanggung rasa sakit yang tak berkesudahan.


''Aku sudah tidak kuat lagi.''


''Rasanya aku mau mati.''


''Gentala ... kamu di mana.'' ucap Hani lirih. Ia sendirian di kamarnya.


''Mas Bagaskara, Aksa ... maafkan aku.'' lagi-lagi Hani berucap, air mata membasahi pipi tirus tinggal tulang nya.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.


''Heh ... terimakasih wanita sombong. Aku sebentar lagi akan menjadi orang kaya. Aku sudah mengambil semua surat-surat berharga, perhiasan, dan uangmu. Aku pergi. Selamat menikmati kesakitan mu, sebentar lagi ajal akan segera menjemput mu. Hahahaha. Jangan harap putra mu yang bodoh itu, yang gampang sekali di kibulin itu akan datang menolong mu, karena dia tidak akan pulang dengan selamat. Aku juga akan menghabisi nya.'' Ucap pria itu terkekeh, pria yang merupakan orang kepercayaan Gentala. Ternyata selama ini ia yang telah mengirimkan teluh kepada Hani.


__ADS_2