Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Mengunjungi Panti


__ADS_3

Piring yang tadi berisi penuh dengan seblak beserta kuahnya, kini telah kosong, ludes tak bersisa. Mayang mengangkat piring itu, ia hendak menjilati bekas kuah seblak, rasanya dia masih belum puas. Aksa yang melihat dengan cepat ia bertindak, menghentikan tingkah konyol sang istri.


''Sayang kamu mau apa?'' tanya Aksa, Aksa memegang bagian ujung piring itu.


''Aku mau jilatin bekas kuah ini Mas. Sayang banget kalau enggak di bersihkan.'' ucap Mayang santai. Tatapan Mayang terlihat begitu memohon dengan senyum simpul.


''Jangan Sayang. Malu!'' protes Aksa, Aksa menarik ujung piring, sedangkan Mayang menarik ujung yang berlawanan. Sesaat terjadi adegan tarik menarik piring antara Aksa dan Mayang.


Rangga yang melihat kekonyolan dua pasutri itu terus tertawa, ''Tuan. Pesan lagi aja seblak nya. Masak istrinya seorang bos besar jilatin piring. Mending jilat yang lain aja,'' goda Rangga.


Aksa mengarahkan tatapannya ke arah Rangga, tatapan tajam seakan menusuk, membuat Rangga terdiam, Rangga pun berpura-pura seakan tidak terjadi apa-apa. Rangga kembali menatap layar ponselnya. Saat Aksa lengah, Mayang pun menarik piring, lalu menjilat piring cepat. Setelah sekali jilatan, Mayang meletakkan kembali piring itu.


''Ah nikmatnya ...'' ujar Mayang seraya mengecap-ngecap lidahnya.


Mulut Aksa terbuka lebar melihat tingkah sang istri. ''Ya ampun, emang gini yah kalau perempuan lagi ngidam.'' batin Aksa. Aksa memegang kepalanya. Dia melihat ke kiri ke kanan, dan ternyata sama, pengunjung yang lain pun juga susah payah manahan tawa melihat tingkah Mayang, mereka menutup mulut mereka masing-masing menggunakan tangan.


Tawa Rangga pun pecah kembali. ''Hahahaha'' sambil memegang perutnya.


''Udah ah, yokk keluar. Enggak usah di pedulikan tatapan dan tertawaan orang-orang. Enggak penting juga. Yang penting itu kemauan aku terpenuhi. Aku puas!'' ucap Mayang santai. Dia berdiri, lalu manarik tangan sang suami, Aksa pun berdiri mengikuti sang istri.


''Kamu bayarin ya. Jangan lama, kami tunggu di mobil'' titah Aksa kepada Rangga. Rangga pun mengangguk. ''Siap Tuan.''


Mayang dan Aksa berjalan berdampingan menuju mobil. Aksa merangkul pinggang Mayang. Rasa sayang nya semakin bertambah melihat tingkah lucu sang istri. Aksa merasa semakin bucin terhadap istrinya.


Mayang ada benarnya, tidak usah di dengarin tanggapan dan omongan orang-orang yang berpikir aneh tentang mu. Yang penting kita tidak meminta makan sama orang.


***


Setelah itu mobil melaju lagi menuju Panti. Mayang sendawa karena kekenyangan dan berulang kali dia menguap. Dia merasa matanya begitu berat. Aksa yang melihat sang istri seperti menahan kantuk, lalu dia merebahkan kepala sang istri di dada bidangnya. Mayang pun menurut. Tidak lama setelah itu terdengar dengkuran halus dari Mayang. Mayang telah tertidur pulas.


''Tuan, istri tuan selain cantik ternyata juga sangat lucu sekali ya. Aku jadi pengen.'' ucap Rangga seraya menyetir. Tatapannya fokus kedepan.

__ADS_1


''Nyari yang kayak gini susah. Udah langka. Saya saja harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan nya.'' jawab Aksa seraya mengusap pucuk kepala Mayang. Sesekali Aksa juga mencium pucuk kepala Mayang. Aksa dan Rangga memang sudah terbiasa ngomong santai, tidak kaku. Karena Rangga merupakan Adik kelas Aksa waktu masih sekolah.


''Nyonya Mayang emang gitu ya Tuan. Lucu gitu tingkahnya?" Tanya Rangga lagi.


''Tidak juga. Istriku bersikap aneh baru hari ini saja. Biasanya dia kalem. Aku juga kaget dengan tingkah konyolnya hari ini.'' ujar Aksa dengan wajah tersenyum.


**


Mobil yang membawa Aksa dan Mayang berhenti tepat di halaman panti. Aksa bersiap keluar, Mayang yang tidur pun terbangun karena merasakan tubuh Aksa yang bergerak.


''Mas, udah sampe ya?'' tanya Mayang sambil mengusap matanya yang masih kabur.


''Udah yang. Kamu mau turun atau tetap di sini saja Sayang?'' tanya Aksa.


''Aku mau turun Mas. Aku mau ketemu Bu Aida.'' jawab Mayang,


''Ya udah yuk.''


Saat melewati kamar Gendis, Aksa dan Mayang mendengar teriakkan Gendis yang tidak bosan-bosannya mengupat Mayang.


''Dasar wanita penggoda.''


''Dasar janda murahan!''


''Dasar Mayang sok baik. Kedatangan kamu mengubah segalanya, kamu mengambil Aksa dari aku.''


''Kamu membuat impian ku hancur, Mayang!''


''Kamu membuat aku di kurung di kamar ini.''


Setelah itu terdengar suara benda di lempar ke dinding.

__ADS_1


''Mas, a-apa benar ini semua karena aku?'' Mayang merasa bersalah, seketika wajah nya berubah sedih.


''Ya enggak lah Sayang. Ini terjadi karena Gendis sendiri yang belum bisa menerima kenyataan. Karena dia tidak bisa bersyukur.'' Aksa berbicara membesar hati sang istri.


''Ya udah yuk ke kamar Ibu.'' Aksa lalu merangkul pinggang Mayang menuju kamar Bu Aida.


Aksa mengetuk pintu pelan, lalu mengucap salam ketika sudah berada di depan pintu kamar Bu Aida. Tidak lama setelah itu Bu Aida membuka pintu.


''Masya Allah, Nak. Kalian rupanya. Ibu kangen sekali sama kalian.'' Bu Aida berbicara dengan suara terdengar serak, matanya pun nampak sembab.


Mayang dan Aksa menyalami tangan Bu Aida. Setelah itu mereka duduk di ruang keluarga.


Bu Aida menceritakan semua yang telah terjadi akhir-akhir ini. Tentang sikap Gendis yang sudah begitu keterlaluan, di luar batas. Padahal Bu Aida sudah berulangkali menasehati.


Aksa pun mengusulkan agar Gendis segera di obati. Aksa menyarankan agar Gendis di bawa ke psikiater atau kalau perlu di rukyah.


''Sepertinya Gendis tidak akan mau kalau Ibu ajak dia berobat. Dia pasti akan semakin marah dan tersinggung.'' keluh Bu Aida dengan wajah memelas.


''Besok aku akan memerintahkan dua orang Bodyguard ku ke sini Bu. Kalau Gendis tidak mau di ajak secara baik-baik, terpaksa kita gunakan cara yang agak keras sedikit. Sebelum semuanya terlambat.'' ucap Aksa, memberi saran.


''Iya. Ibu sih bagaimana bagus nya saja Aksa. Ibu benar-benar lelah. Apalagi Ibu harus mengurus anak-anak panti yang sedang aktif-aktifnya. Rasanya Ibu mau stres menghadapi semua ini'' timpal Bu Aida dengan suara lirih.


Aksa mengambil sesuatu dari balik jas nya, yang memang telah dia siapkan ''Ya udah Bu. Ini ada sedikit dana dari aku untuk membantu biaya pengobatan Gendis, sekalian untuk uang belanja anak panti bulan ini. Kalau kurang Ibu hubungi saja aku,'' Aksa menyerahkan amplop bewarna kuning yang di dalamnya terdapat uang lima puluh juta rupiah.


Dengan cepat Bu Aida mengambil amplop itu, dia tersenyum penuh arti saat menerima amplop.


"Terimakasih Aksa. Terimakasih atas kebaikan kamu selama ini.'' ucap Bu Aida.


Bersambung.


Like, komen dan kalau mau kasih vote dan hadiah nya dong.

__ADS_1


__ADS_2