
Wanita paruh baya itu tergugu seraya menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan, tangisnya terdengar begitu pilu, sungguh menyayat hati. Bagaimana tidak, putri yang telah susah payah dia besarkan, dia didik dari kecil, serta dia tanam ilmu agama, kini malah semakin menjadi, perangainya sudah keluar batas. Membuat sang Ibu merasa malu tak bertepi.
Bu Aida berdiri di depan pintu kamar Gendis, di dalam kamar pun terdengar suara Gendis menangis berteriak histeris, bersamaan dengan itu terdengar pula benda yang jatuh berserakan, seperti sengaja di banting dan di lempar ke dinding.
Tadi, Rangga Sang Asisten Aksa mengantarkan Gendis pulang. Dia lalu menceritakan kepada Bu Aida tentang onar yang telah di buat oleh Gendis di Cafe. Tentang Gendis yang hampir saja menghabisi nyawa Mayang. Bu Aida tak pernah menyangka kalau Gendis bisa berbuat senekat itu.
Belum habis kekecewaannya dengan perubahan penampilan sang putri, kini dia mendapatkan laporan yang lebih mengerikan lagi. Padahal Bu Aida sudah berulangkali menasehati Gendis, tapi Gendis tal peduli.
''Ya Allah, ampuni Hamba. Apa salah dan dosa Hamba sehingga Hamba bisa mempunyai seorang putri seperti Gendis. Dulu dia begitu penurut, tapi akhir-akhir ini dia berubah menjadi sosok yang mengerikan dan menjijikkan. Sekarang dia telah berubah hanya karena seorang lelaki yang tak menyambut cintanya. Beri aku petunjuk Ya Allah.'' gumam Bu Aida. Doa yang dia panjatkan terdengar begitu sungguh-sungguh.
''Bu sudah, Ibu tidak boleh terus menangis seperti ini. Nanti Ibu sakit.'' kata seorang wanita yang bekerja di panti. Dia menghampiri Bu Aida, lalu membelai punggung Bu Aida lembut.
''Gendis, Nduk! Gendis! Dia telah berubah.'' racau Bu Aida.
''Iya. Ini ujian Bu. Nanti kita coba mengobati nya. Kita bawa dia ke ustadz biar di Rukyah.'' timpal perempuan bernama Hana itu lagi. Hana merupakan salah satu teman Gendis dan Aksa. Mereka sama-sama di besarkan di panti.
Bu Aida mengangguk pelan. Setelah itu Hana membimbing tubuh renta Bu Aida menuju kamar. Meninggal kamar Gendis, yang di dalamnya masih terdengar suara Gendis terus mengamuk dan mengumpat Mayang.
***
Di Kantor.
Mayang dengan sabar menyuapi suaminya, dia menempati janjinya tadi. Wajah Aksa terlihat berseri-seri, dia amat bahagia di manjakan oleh Mayang.
''Minum lagi?'' tanya Mayang begitu makanan habis. Mayang duduk di sebelah Aksa. Di sofa di ruang kerja Aksa.
''Iya.'' jawab Aksa singkat.
Mayang mengambil gelas yang berisi air putih lalu dia menyodorkan ke arah mulut sang suami. Bibir tipis bewarna merah muda milik Aksa terlihat mengkilap terkena minyak makanan. Membuat Mayang menelan saliva. Suaminya nampak begitu seksi.
''Mas, itu mulut nya tolong di bersihkan pake tissu.'' titah Mayang.
''Tolong kamu yang bersihkan Sayang.''
__ADS_1
''Apaan sih, manja banget.'' protes Mayang dengan bibir manyun.
''Becanda doang kok Sayang.'' Aksa mengambil tissu lalu membersihkan mulutnya. Makanan yang di bawa Mayang sudah habis tak bersisa.
''Mas jadi nanti mau mampir ke Panti?'' tanya Mayang.
''Jadi. Sebelum semuanya semakin kacau. Mas akan berusaha membereskan semuanya. Kasihan Ibu. Pasti Ibu sangat tersiksa karena ulah Gendis.'' Aksa berbicara dengan menarik nafas dalam. Dada nya merasa sesak mengingat perubah sikap Gendis, dari yang dulu baik, periang. Kini malah berubah kejam dan tidak tahu malu.
''Iya, kamu benar Mas. Kasihan sekali Gendis ya, Mas. Tapi aku merasa sedikit kesel juga sama ulah nya waktu di Cafe tadi.'' Mayang berucap mengangguk kecil. Aksa merengkuh tubuh Mayang. Merebahkan kepala sang istri yang di tutupi hijab di dada bidangnya.
''Mas, kok aku laper ya? Padahal tadi aku udah makan lo.'' ungkap Mayang seraya mengusap perutnya.
''Tadi kapan Sayang kamu makan nya?''
''Tadi, di rumah.''
''Itu udah lama kali yank. Wajar aja laper. Kamu kenapa enggak makan bareng Mas aja barusan?!''
''Ya udah nanti kita beli ya.''
''Mau nya sekarang.'' suara Mayang terdengar memaksa. Mayang masih saja membelai perutnya. Lalu Aksa pun ikut membelai perut sang istri yang masih rata.
Aksa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tidak biasanya istrinya bersikap aneh begitu kalau soal makanan. Dia pun merasa sedikit curiga. Apa jangan-jangan istrinya sudah hamil? Aksa tersenyum penuh arti memikirkan itu.
***
Pulang dari Kantor. Aksa dan Mayang duduk di kursi belakang, Rangga menyetir di depan.
''Sayang, ini kitanya mau beli seblak dulu atau mau ke panti dulu?'' tanya Aksa. Tangan nya menggenggam tangan Mayang erat.
''Mau beli seblak dulu, Mas.'' jawab Mayang. Lagi-lagi Mayang mengusap perutnya saat kata seblak iya ucapkan. Aksa tersenyum gemes melihat tingkah aneh sang istri.
''Rangga kamu cari Cafe yang menjual seblak kuah yang rasanya enak dan pedas ya.'' titah Aksa.
__ADS_1
''Siap Tuan.''
Mobil melaju membelah jalanan, mencari seblak yang di pinta Mayang.
Tidak lama setelah itu mobil berhenti di depan sebuah Cafe. Di depan Cafe tersebut terdapat tulisan 'Menu spesial Seblak kuah hot poll dan berbagai macam minuman lain'
Begitu mobil berhenti, Mayang keluar dengan cepat, meninggalkan Aksa yang menatapnya heran.
''Tungguin.'' ucap Aksa seraya membuka pintu mobil.
''Ihh kamu lelet banget. Aku udah enggak tahan ini, Mas.'' sahut Mayang yang sudah berdiri di depan pintu kedai.
''Enggak tahan katanya.'' gumam Aksa menggeleng kepala.
Rangga yang masih duduk di kemudi tersenyum simpul melihat tingkah lucu dua pasutri tersebut.
''Ayo Rangga. Kita minum dulu sebentar.'' ajak Aksa. Rangga mengangguk, setelah itu dia juga ikut keluar.
**
Mayang, Aksa dan Rangga duduk menunggu pesanan. Tidak lama setelah itu pesanan mereka datang. Termasuk seblak yang di pesan Mayang. Mayang dengan cepat mengeksekusi seblak yang masih mengepul asap. Setelah di tiup sebentar, dia makan dengan lahap dan tak sabaran.
''Sayang, tiati, masih panas itu. Sini biar Mas tiup dulu.'' tawar Aksa. Netra nya menatap Mayang lekat.
''Enggak panas kok, Mas. Biar aku aja yang tiup. Kamu minum aja jus yang kamu pesan.'' tolak Mayang lembut dengan mulut berisi makanan.
Rangga yang merasa menjadi obat nyamuk memilih fokus dengan benda pipih miliknya. Rangga main Game sejenak, menunggu sang Nyonya selesai makan.
Aksa hanya pasrah melihat tingkah sang istri. Mayang makan tidak ada manis-manis nya. Mulut Mayang nampak sedikit belepotan. Aksa mengambil tissu lalu membersihkan mulut sang istri yang begitu lahap menatap seblak pedas. Bagian mulut Mayang pun nampak sedikit memerah karena pedas.
Meski begitu Aksa merasa amat bahagia melihat sang Istri yang begitu aktif.
''Sepertinya nanti setelah sampai rumah harus di tes pakai tes pack ini.'' batin Aksa. Masih saja Aksa tersenyum mesem-mesem mengingat dirinya yang diduganya sebentar lagi akan menjadi calon Ayah.
__ADS_1