
Bagaskara dan Aksa keluar dari ruang kerja, setelah tadi Bagaskara menghubungi Kepala Pelayan yang ada di rumah nya, meminta para Pelayan menyiapkan makan malam khusus untuk sang Putra.
Sebelum itu, Bagaskara dan Aksa akan sholat berjamaah terlebih dahulu.
''ini, ayo masuk lah, ini kamar kamu, Nak'' kata Bagaskara seraya membuka pintu kamar yang ada di sebelah kamarnya, kamar yang terdapat di lantai tiga. Kamar yang begitu luas dan mewah dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Kamar yang selama ini tidak pernah di huni sama siapapun, kamar yang telah lama di persiapkan, kamar yang memang di khususkan oleh Bagaskara untuk sang Putra. Kamar itu terlihat bersih dan rapi karena kamar itu di bersihkan 3 hari sekali oleh Pelayan atas perintah Bagaskara, meski tak berpenghuni.
Sering kali Gentala bertanya kepada Bagaskara, menanyakan kenapa kamar itu tidak boleh di tempati, Gentala selalu menawarkan dirinya untuk menempati kamar itu, tapi, Bagaskara selalu punya alasan untuk menolak permintaan sang keponakan.
Di lantai 3 cuma ada 2 buah kamar khusus untuk sang tuan rumah. Sedangkan Gentala dan mamanya menempati kamar yang ada di lantai 2.
''maaf Pa, sepertinya setelah selesai sholat nanti aku harus pulang, aku tidak ingin membuat tuan Aditama khawatir''
''pulang ke mana, Nak? tetap lah di sini, ini rumah mu. Rumah peninggalan kakek dari Almarhumah Ibu-mu, Nak. Hanya kamu satu-satunya pewaris ini semua''
''tapi, bagaimana dengan tuan Aditama, Pa? Aku tidak mungkin menghilang begitu saja dari tanggung jawabku''
''kamu tenang saja, Papa akan mengurus semuanya. Tetap lah di sini, usia Papa sepertinya tidak akan lama lagi di dunia ini, Nak.'' ucap Bagaskara mengiba, seraya memohon.
''Papa jangan bicara begitu, lihatlah, Papa masih sangat tampan dan belum terlalu tua, Papa masih punya banyak peluang untuk sehat seperti sedia kala'' kata Aksa membesarkan hati sang Papa.
''terimakasih, Nak. Karena kamu, Papa jadi lebih bersemangat lagi menjalani hidup ini'' senyum simpul terbit di wajah Bagaskara.
''iya, sama-sama, Pa. Ya sudah, Aksa ke kamar mandi dulu ya, sebentar lagi Adzan Maghrib akan berkumandang''
''iya, Papa tunggu kamu di kamar Papa, kita sholat berjamaah berdua di kamar Papa''
''emmm .... '' ragu Aksa, ingin menanyakan tentang Gentala.
''em, apa, Aksa?''
__ADS_1
''ah tidak, Pa'' Aksa menunda menanyakan tentang Gentala, karena dia yakin nanti Papa nya pasti akan menceritakan dan mengenalkan dirinya secara langsung dengan Gentala.
Setelah berkata seperti itu Aksa masuk ke kamar mandi dan Bagaskara pun berlalu memasuki kamar miliknya, Bagaskara tampak bersemangat, tubuhnya seketika terasa sehat karena kehadiran sang Putra. Bagaskara bersiap-siap untuk sholat, dia merasa sangat senang, biasanya selama puluhan tahun ini dia selalu sholat sendirian di kamarnya, karena sang adik dan keponakan yang tinggal bersamanya selalu menolak ajakannya untuk sholat berjamaah bersama.
*****
Tidak menunggu lama, kini Aksa dan Bagaskara telah sholat berjamaah. Aksa menjadi Imam untuk sang Papa.
Setiap bacaan Ayat suci Al-Qur'an dan lantunan bacaan sholat yang keluar dari mulut Aksa terdengar begitu merdu di telinga Bagaskara, selama sholat, susah payah Bagaskara menahan sesak di dadanya, semua bagai mimpi baginya, Putra yang sudah lama hilang kini telah kembali dengan gagah nya berdiri di depan nya, menjadi Imam sholat untuk dirinya.
****
"Papa mana, Ma?'' tanya Gentala, saat dirinya dan sang Mama tengah duduk di kursi meja makan.
''berhenti memanggil Paman mu dengan sebutan Papa, Gentala.'' protes Hani dengan wajah tak bersahabat, saat ini mood-nya sedang buruk.
Tumben menu masakannya banyak begini, Ma.'' kata Gentala santai seraya menatap menu makanan yang banyak terhidang di maja makan.
''mama nggak tahu juga, mungkin Paman Bagas lagi ada tamu istimewa kali''
Saat Ibu dan anak itu sedang mengobrol, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang mendekati mereka.
''ehmm ...'' berdehem Bagaskara memberi kode, dengan Aksa yang berada di sampingnya. Lalu Gentala dan Hani berdiri, memang begitulah kebiasaan di keluarga mereka. Mereka masih begitu segan terhadap Bagaskara.
Bagaskara duduk di kursi utama, Gentala belum menyadari akan kehadiran Aksa, berbeda dengan Aksa yang hanya dengan menatap bagian punggung Gentala saja dia sudah bisa mengenali sosok laki-laki bertubuh tegap yang sedikit mirip dengan tubuh nya.
''duduk di sini, Nak. Di samping Papa'' kata Bagaskara, saat dia melihat Aksa masih berdiri diam di belakang Gentala.
Aksa lalu berjalan pelan, saat sudah berada di kursi yang di tunjuk oleh sang Papa, Pelayan mau menarik kursi, dengan cepat Aksa berkata, ''tidak usah, saya bisa sendiri,'' sopan Aksa berkata kepada Pelayan, yang semakin menambah rasa kagum di hati Bagaskara.
__ADS_1
Sementara di depannya, Gentala menatap tak percaya. Berulang kali Gentala mengucek matanya, ''ka--mu ... Ngapain kamu di sini?'' terbata Gentala bertanya.
''Gentala ... Perkenalkan ini kakak kamu, anak Papa yang selama ini hilang, kini telah kembali, dia sudah ditemukan.'' ucap Bagaskara santai, dengan senyum simpul.
Gentala memandang tak suka dengan wajah memerah begitupun Mama-nya. ''kenapa harus laki-laki sok baik itu, heh ... Pasti Papa telah di kibulin, dasar laki-laki tukang Caper, mungkin memang ini kerjaannya, mendekati para pengusaha kaya dengan sikap sok cool nya, cepat atau lambat kedok mu itu akan terbuka dengan sendirinya, Aksa'' batin Gentala dengan dada bergemuruh dengan praduga yang salah.
Sementara Aksa, juga telah salah menduga. Dia menganggap kalau wanita yang ada di depannya adalah Ibu tirinya dan Gentala adalah saudara satu Ayah berbeda Ibu dengannya.
Beberapa saat terjadi adegan saling tatap menatap antara Aksa dan Gentala begitu juga Hani.
''kita makan dulu ya, nanti Papa akan menjelaskan semuanya'' ujar Bagaskara yang menyadari akan suasana yang tercipta, tegang dan kaku.
********
Di tempat yang berbeda, Mayang telah sampai di depan rumah pohon yang tampak remang, hanya cahaya rembulan yang menerangi. Dia datang ke tempat itu dengan di temani oleh seorang Sopir.
''tunggu di sini dulu ya, Pak. Aku akan ke atas dulu''
''baik, Non. Hati-hati''
Mayang dengan hati-hati menaiki satu persatu anak tangga dengan di temani alat penerang. Setelah itu dia sampai di atas, dia duduk di atas teras rumah pohon yang berukuran kecil, sesaat dia menormalkan tarikan nafasnya yang ngos-ngosan.
''yah, di gembok'' lesu Mayang berucap, penerang yang berasal dari Ponselnya dia arahkan ke arah Pintu rumah Pohon.
Mayang kembali menghubungi nomor Aksa, tetapi masih sama jawabannya. Membuat Mayang di landa rasa gelisah yang tak berkesudahan.
''aku sudah kehilangan Raihan Putra-ku, sekarang Aksa sang pria yang begitu baik yang sangat mengerti aku juga tidak tahu di mana keberadaannya dan sedang apa dia sekarang. Ya Allah, jangan uji aku lagi, aku menganggap Aksa sudah seperti kakak-ku sendiri. Aku merasa sangat nyaman saat mengobrol dengannya,'' gumam Mayang dengan mata berkaca-kaca, susah payah Mayang menahan air matanya agar tidak terjatuh. Tetapi, akhirnya bulir air mata itu terjatuh juga dari mata indah nya, turun membasahi Pipi mulusnya. Mayang menangis terisak, dia teringat dengan momen saat terakhir kalinya dia bersama Raihan melewati tempat itu, saat Aksa menceritakan tentang tempat itu. ''waktu itu aku, Aksa dan Raihan masih baik-baik saja, aku merasa sangat bahagia hari itu. Tapi, dalam sekejap kebahagiaan-ku lenyap. Kapan aku akan bahagia,'' racau Mayang menangis tersedu-sedu.
Saat Mayang tengah sibuk menghapus air matanya yang terus mengalir, matanya tidak sengaja menatap tulis tangan yang di sinari oleh penerang yang berasal dari Ponsel nya. Mayang mendekati tulisan yang terdapat di dahan Pohon tersebut, saat sudah dekat Mayang membaca tulisan itu dengan teliti. ''MAYANG AKU MENCINTAI MU'' kaget Mayang membaca tulisan itu, Dadanya berdesir, seketika air mata berhenti menetes. ''siapa yang menulis tulisan ini? Aksa? Ah ... Tidak mungkin.'' batin Mayang berkecamuk.
__ADS_1