Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Tidak sadarkan diri


__ADS_3

''haha, maaf nyonya. Saya tadi cuma becanda, wajah anda tampak begitu lesu dan murung, seharusnya anda menyambut tamu undangan dengan bersemangat dan ceria. Apakah anda sedang tidak sehat, nyonya? Kalau iya, lebih baik anda beristirahat saja!'' ucap Aditama sambil tertawa sinis, taktiknya berhasil membuat wajah Reni memucat, seakan-akan jantung Reni hendak terlepas, saking takutnya, Aditama berhasil mengerjai Reni.


Seketika semua orang di tempat itu menarik nafas lega. Wajah yang tadi sempat di landa heran serta ketegangan kini tersenyum ceria dengan menggeleng-gelengkan kepala, sebagian juga ada yang mengelus dada termasuk Ibnu dan keluarga Anggia.


''ini baru pemanasan Reni. Kamu Sudah tegang saja.'' ucap Aditama lirih, sambil bersalaman dengan Reni.


Selanjutnya giliran Mayang.


''apa kabar mama" tanya Mayang lirih sambil bersalaman, wajah cantiknya tersenyum sinis. ''apa mama dan anak-anak mama mau saya permalukan sekarang? Seperti dulu, saat Sari mempermalukan aku?'' tekan Mayang tegas.


Mama Reni tidak bersuara, dia hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya memberi jawaban, lidahnya seakan kelu, dia tidak bisa berbicara apa-apa.


''Baiklah, sekarang bukan saat nya nenek sihir! Lihat aku, apa aku dan anakku Raihan sekarang sudah menjadi gembel seperti yang kalian katakan dan harapkan?!'' tekan Mayang lagi, sebenarnya Mayang tidak tega berkata seperti itu, tetapi dia harus melakukan itu, untuk memberi pelajaran. Mereka harus merasakan apa yang Mayang rasakan dulu, Mayang yang selalu mereka permalukan saat di rumah maupan di tempat umum.


Kini mama Hanum yang berjalan melewati mama Reni dengan Raihan berada di gendongan nya, dia tidak sudi bersalaman dengan orang yang pernah menyakiti cucu dan putrinya, dia memasang wajah ketusnya begitu juga Raihan, Raihan sama sekali tidak melirik sang nenek yang dulu tidak pernah menganggap dia, nenek yang tega mengusir dia dan mamanya dulu.


Selanjutnya tidak terjadi adegan apa-apa lagi. Tuan Aditama menyalami Anggia serta Ibnu dengan sikap biasa saja, Aditama juga memberi kado, sekotak kecil bewarna merah kepada Anggia secara langsung, sebagai hadiah pernikahan mereka. Anggia merasa sangat senang menerima itu.


''terimakasih tuan'' kata Anggia, tersenyum senang.


Aditama tidak menjawab, dia berhenti di depan Ibnu.


Aditama menyempatkan dirinya sebentar memberi peringatan keras kepada Ibnu, dia berbisik kecil, ''sebenarnya kalau kamu berhasil mempertahankan putri saya selama 6 tahun, saya akan berubah pikiran, saya akan menjadi kan kamu sebagai CEO di perusahaan besar milik saya, tapi sayangnya kamu tidak sabaran dan juga kamu telah menyia-nyiakan anak dan cucu kesayangan saya. Tunggu saja pembalasan dari saya Ibnu, saya bisa menghancurkan kamu hanya dengan satu jentikan jari saja. Sekarang belum saatnya. Saya akan menghancurkan kamu dan keluarga mu secara perlahan-lahan, tunggu saja!'' gumam Aditama memberi peringatan di telinga Ibnu, yang berhasil membuat Ibnu merinding dengan tubuh gemetar.


Tiba-tiba, tanpa di duga setelah Aditama mengatakan itu, bau pesing tercium menguar dari arah Ibnu, "om pipis, ya? Ini kok bau, celana om pengantinnya juga basah'' teriak Raihan cukup keras, membuat sebagian orang menatap ke arah Ibnu lalu tatapan orang-orang tertuju kearah celana putih yang dipakai Ibnu, celana itu telah basah, dari bagian ************ hingga ke sepatu meninggalkan bekas air k*nc*ng.


Semua orang tertawa melihat kejadian itu. Anggia, papa, mama serta keluarga besarnya merasa amat malu. ''apa-apaan ini, bodoh sekali suaminya Anggia. Kenapa dia tidak permisi ke toilet saja sebentar untuk buang air kecil. Mau di taruh di mana muka ku ini! Mana dia buang air kecilnya di depan keluarga tuan Aditama lagi. Bikin malu saja!'' batin pak Kuncoro memegang kepalanya.

__ADS_1


''hahaha, ini sungguh hiburan yang mengejutkan. Lihatlah semua orang merasa bahagia karena ulah suamimu'' ujar Mayang tertawa sambil menutup mulutnya ketika melewati Anggia, wajah Anggia memerah, marah, malu bercampur menjadi satu.


Brakkkkk ....


Ibnu terjatuh, dia tidak sadarkan diri setelah Mayang melewati nya, Mayang mengibas sedikit rambut panjang nya ke wajah Ibnu. Rasa takut yang berlebihan membuat Ibnu tak kuasa untuk menahan diri, dia benar-benar pingsan dengan celana yang basah.


Anggia terlihat begitu prustasi.


Sari dan mamanya berlari menghampiri Ibnu, mereka menepuk-nepuk pipi Ibnu.


''mas, sadar mas!'' teriak Sari panik.


''huhuhu, putraku, ada apa denganmu?'' racau mama Reni.


Pesta mewah yang menghabiskan biaya ratusan juta itu, yang di impi-impikan keluarga Ibnu seketika hancur berantakan, tamu undangan berhamburan keluar ketika mereka tahu Ibnu pingsan dan p*pis di celana, mereka keluar dengan tawa di wajah mereka.


''aneh, ya. Baru kali ini ada pengantin yang pipis di celana. Itu grogi atau apa?''


Ucap para karyawan kantor milik papa Anggia yang berjalan menuju parkiran.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


''hahahahaha''


Tawa mama Hanum dan Raihan pecah, dengan memegang perutnya, mereka sudah di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Mareka tertawa mengingat kejadian tadi.


Mayang, Aksa dan Aditama pun hanya tersenyum mengingat hal yang sama.

__ADS_1


''papa apakan si Ibnu tadi? Sampai dia pipis dan pingsan di tempat begitu?'' tanya mama Hanum, ketika tawanya sudah reda.


''tidak ada, papa hanya membisikkan sesuatu yang seakan mengancam karirnya! Papa tidak menyangka kalau dia bakal pingsan seperti itu. Bagaimana kalau tadi papa benar-benar mengumumkan tentang status dia sebenarnya dan membatalkan semua kerja sama antara perusahaan kita, papa yakin dia pasti akan kejang-kejang di tempat'' ungkap Aditama.


******


''om? Putra ku memanggil papa nya sendiri dengan sebutan om! Putraku memang sudah sangat pintar, padahal aku sama sekali tidak pernah mengajarinya untuk hal itu, ini semua terjadi karena sikap mas Ibnu sendiri, dari dulu dia tidak pernah menganggap Raihan ada, aku tidak akan menyalahkan Raihan atas sikap nya itu.'' gumam Mayang, dia teringat sama kejadian di pesta tadi.


''puas? Aku rasa belum, ini baru awalnya saja. Aku senang melihat wajah mereka yang seperti ketakutan dan kaget melihatku dan anakku tadi. Apakah aku jahat? Tidak, aku ingin memberi mereka epek jera supaya kedepan nya mereka bisa menghargai dan tidak bersikap semena-mena lagi sama orang yang lebih rendah dan lemah.'' batin Mayang, sambil menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air. Dia duduk dipinggir kolam renang dengan masih memakai gaun tadi.


''apakah non Mayang, sudah merasa lega, non?'' tanya Aksa yang tiba-tiba ikut duduk di sebelah Mayang.


''begitulah Aksa, aku rasa hidup ini tidak akan ada leganya kalau kita masih menyimpan dendam.'' jawab Mayang, matanya tertuju kedepan.


''maka dari itu buang semua dendam itu, non. melangkahlah kedepan mulai hidup yang baru. Non Mayang pantas bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu'' nasehat Aksa.


''aku tidak dendam Aksa, aku hanya ingin mereka merasa kan apa yang dulu pernah aku rasakan. Hanya itu, Aksa! Setelah itu, aku tidak akan pernah mau lagi berurusan sama mereka,''


''baiklah non, itu artinya non Mayang akan memutuskan hubungan kerja sama antara perusahaan papa non dan pak Kuncoro?'' tanya Aksa sedikit menyipitkan matanya yang sipit itu.


''tepat sekali, Aksa.'' jawab Mayang pasti, kemudian tatapan mata Mayang beralih kearah Aksa, ''kamu tidak ke kantor?'' tanya Mayang. Mata mereka sempat bertemu sesaat.


''se-telah ini saya akan ke kantor, non'' balas Aksa gugup. ''baiklah kalau begitu saya pamit dulu'' sambung nya lagi. Dia berdiri dari duduknya. Tatapan Mayang yang hanya sesaat mampu menciptakan desiran halus di dadanya.


''iya baik lah, kerja yang giat, Aksa. Besok lusa aku akan ikut dengan mu ke kantor'' kata Mayang ramah, dengan tersenyum simpul.


''okey, non. Bye'' ucap Aksa, setelah itu dia berlalu dengan senyum mengembang. Dia bagai dapat suntikan semangat mendengar dan melihat senyum yang terbit dari wajah Mayang, yang dia tahu senyum tulus itu khusus hanya untuk dirinya, dari seorang Mayang.

__ADS_1


Saat ini Aksa lah yang menjadi pemimpin pengganti kalau tuan Aditama tidak masuk kantor, Aksa jarang sekali dapat beristirahat dan bersantai. Dia memang sudah mengabdikan diri nya untuk keluarga Aditama. Karena dia tidak punya keluarga lagi, dia tidak punya siapa-siapa. Aksa hanyalah anak panti yang berhasil menjadi kaki tangan tuan Aditama sang pengusaha tersukses karena kecerdasan dan keuletan nya.


Wajah tampan itu, dengan tubuh tinggi atletis, hidung bengir, alis tebal dan bibir kecil. Tidak akan ada yang percaya kalau dia anak panti asuhan yang terbuang, anak yang di besarkan di panti asuhan. Aksa seperti di lahirkan dari keluarga yang bukan dari keluarga sembarangan, karena ketampanan dan kecerdasan nya.


__ADS_2