Jodohku, Asisten Papa Ku

Jodohku, Asisten Papa Ku
Will You Marry, Me?


__ADS_3

Setelah cukup lama melihat-lihat kembang yang berbaris rapi yang semuanya terlihat sangat indah dengan ciri khas masing-masing, akhirnya pilihan Aksa jatuh pada bunga mawar merah dan putih yang di padukan menjadi satu dalam satu buket, wangi semerbak yang menenangkan menguar dari bunga segar yang sudah berada di tangannya. Setelah membayar, Aksa keluar dari toko bunga dengan senyum mengembang. Jantungnya terus berdetak lebih cepat dari biasanya, dia merasa begitu grogi.


''ini baru pertama kalinya aku merasa se-grogi ini. Aneh memang.'' gumam Aksa seraya memegang bagian dadanya. ''tapi, perasaan ku ini memang sudah seharusnya aku ungkapkan sebelum berkarat dan terlambat. Dengan menjadikan Mayang sebagai istriku, akan semakin besar pula kesempatan untukku, untuk menjaga nya dan melindungi nya dari  marabahaya'' sambung Aksa yang sudah memegang kemudi, berulang kali dia menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan, berharap rasa grogi yang mendera akan sedikit berkurang.


Setelah itu Aksa melajukan kendaraan roda empat miliknya ke arah kediaman Aditama. Tidak lupa sebelum itu Aksa menghubungi sang Papa memberi kabar kepada Papa nya untuk keluar lebih lama lagi, dia tidak ingin membuat sang Papa merasa khawatir karena memikirkan dirinya yang terlambat pulang.


''Papa, Aksa mungkin akan pulang sedikit larut. Papa istirahat di kamar ya, jangan lupa kunci pintu kamar. Aksa takut kalau sampai terjadi apa-apa sama Papa.'' pesan yang dikirim Aksa kepada Bagaskara. Perasaan Aksa merasa tidak enak dari tadi terkait sang Papa, dia merasa bahaya sedang mengintai pria paruh baya yang amat menyayangi nya tersebut. Aksa juga sudah memberi perintah kepada para pengawal untuk menjaga Papa nya dengan ketat di rumah. 


******


Tidak butuh waktu lama akhirnya mobil yang membawa Aksa sampai di depan kediaman Aditama yang megah.  


Aksa masih berada di luar pagar, dia memberhentikan mobilnya sejenak, sebelum masuk dia akan mengabari Mayang terlebih dahulu.


''Mayang, tunggu aku di taman samping rumah mu sekarang juga. Ada yang ingin aku sampai kan bicara kan'' send. Pesan terkirim, tanpa basa-basi Aksa mengetik kalimat tersebut dengan tangan sedikit gemetar.


Aksa membunyikan klakson mobil nya beberapa kali, setelah itu pintu gerbang terbuka lebar. Aksa melajukan kendaraan roda empat miliknya dengan pelan memasuki pelataran kediaman Aditama. Senyum simpul dia tunjukkan ke arah security yang menjaga dan membuka gerbang.


*****


Mayang yang lagi tiduran di kamar sambil membuka media sosial di ponselnya merasa kaget begitu dia membaca pesan dari Aksa.


''sekarang?!'' batin Mayang dengan kening berkerut, dia kemudian berdiri, berjalan menuju jendela kamar untuk memastikan. Saat tatapan terarah keluar, Lalu terlihat lah olehnya mobil Aksa yang berjalan pelan di pelantaran rumah. Cepat Mayang menuju lemari, mengganti piyama tidurnya yang terbuka dengan gamis dan jilbab segi empat jumbo. Ya ... Mayang telah memutuskan untuk berhijrah dengan menutupi auratnya. 


Setelah itu Mayang berdiri di depan cermin, dengan lincah tangan Mayang menari di wajahnya, tidak butuh waktu lama wajah Mayang telah tampak cantik sempurna dengan polesan makeup tipis yang dia ciptakan. Senyum simpul terbit di wajah Mayang disertai jantungnya yang berdetak lebih cepat.Mayang berputar-putar di depan cermin, dengan hati yang bertanya-tanya.


''kira-kira ngapain ya, Aksa ke sini? tumben sekali dia mengajak aku untuk duduk di taman. Dia mau ngomong apa ya?'' gumam Mayang. Setelah itu dia berjalan cepat keluar dari kamarnya menuju taman samping rumah dengan langkah kaki lebar disertai senyum yang menghiasi wajah.


Ketika Mayang melewati kedua orangtuanya, tiba-tiba.


''Sayang, kamu mau kemana? Sudah rapi aja?'' sapa Aditama heran sekaligus senang melihat perubahan penampilan Mayang yang sudah menutupi aurat. Aditama dan Mama Hanum sedang duduk di ruang tamu menunggu tamu.


''e--eh ini, Pa. Mayang mau ke taman sebentar.'' jawab Mayang gugup dengan tangan memilin ujung jilbab, posisinya berdiri di depan kedua orangtuanya.


''ketaman? Taman mana?'' tanya Aditama lagi heran.


''taman samping rumah kita, Pa'' jawab Mayang cengengesan.

__ADS_1


''kok rapi gitu? Kayak mau ke mana aja'' timpal Mama Hanum curiga.


''ah ... Papa sama Mama buang-buang waktu saja, Mayang keluar dulu ya Ma, Pa.'' ujar Mayang, setelah itu dia berlalu, meninggalkan Aditama dan Mama Hanum yang melongo melihat tingkah aneh sang putri. Karena tidak biasanya Mayang bersikap demikian.


''Pa, putri kita kenapa sih, Pa?''


''mungkin ada temannya di luar, Ma.''


''teman apaan teman sih, Pa. Tingkah Mayang aneh gitu, cengengesan nggak jelas, tidak seperti biasanya putri kita bersikap seperti itu. Kita intip yuk Pa lewat jendela''


''ide bagus, Ayuk Ma. Papa juga merasa ada yang berbeda dengan Mayang''


Mama Hanum dan Aditama kemudian berjalan menuju jendela samping rumah yang berhadapan dengan taman. Rasa penasaran begitu mendominasi pasangan yang tidak muda lagi itu.


*****


Di salah satu bangku taman yang panjangnya muat untuk tiga orang duduk di atasnya, Aksa duduk sendiri, termenung seraya memegang buket bunga mawar. Dia menunggu Mayang dengan perasaan campur aduk. Gelisah, gugup, senang bercampur menjadi satu. ''jagoan, doakan Paman, semoga saja Paman berhasil merebut hati Mama mu. Paman akan menjaga Mama mu dengan baik dan membahagiakan nya'' gumam Aksa dengan tatapan tertuju ke langit, dia melihat bintang bertaburan di sana. Dio seolah-olah lagi berbicara sama Raihan, meminta dukungan Raihan.


''eehhmm .... Sudah lama menunggu nya?'' sapa Mayang yang sudah berdiri tepat di samping Aksa tanpa Aksa sadari.


''hey ...'' ujar Mayang lagi dengan tangan di kipas-kipas di hadapan wajah Aksa.


''iya. Lu-mayan,'' jawab Aksa berusaha bersikap santai.


''sorry'' kata Mayang.


''tidak apa-apa. Duduk'' sahut Aksa seraya menepuk bangku disebelahnya.


Mayang duduk di bagian ujung bangku, sedangkan Aksa duduk di bagian ujung yang berlawanan. Hingga di bagian tengahnya tampak kosong melompong, mereka seperti pasangan yang sedang tidak baik-baik saja.


''ada apa?'' tanya Mayang dengan tatapan lurus kedepan dengan dagu berpangku pada tangan.


Aksa menarik nafas dalam, lalu berucap. ''ini untuk-mu,'' ujar Aksa seraya mengacungkan buket bunga ke arah Mayang. Tanpa basa-basi terlebih dahulu, kerena untuk soal yang satu ini Aksa memang belum berpengalaman sama sekali.


''untuk aku?'' heran Mayang dengan mata menyipit, tatapannya tertuju ke arah Aksa lalu jatuh ke buket bunga yang ada di depannya.


''iya, ambil'' lembut Aksa berucap.

__ADS_1


''nggak mau'' jawab Mayang sedikit ketus.


''kenapa?''


''iya, kamu ngasih bunga itu untuk aku buat apaan, Aksa? Aneh aja, nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba kamu ngasih bunga ke aku'' sahut Mayang.


Aksa mulai beraksi, dia memberanikan dirinya untuk bersikap romantis seperti drama di film dan video-video yang sering dia lihat di ponselnya, dia berdiri lalu berjongkok di hadapan Mayang, lalu berucap pelan namun terdengar tegas.


''Mayang, maaf mengejutkan mu. Mawar ini aku beli khusus untuk dirimu, sebagai ungkapan terdalam dari lubuk hatiku. 


Mayang ... I Love U, Will You Marry, Me?'' ungkap Aksa mendongak dengan tatapan bersungguh-sungguh. Wajahnya nampak mengiba penuh harap.


Mayang begitu kaget di buatnya, Mayang menutup mulutnya dengan kedua tangan, wajahnya seketika merona dia tidak percaya akan ucapan Aksa.


''ka-mu jangan becanda,'' sahut Mayang terdengar tidak percaya.


''tidak, aku sungguh-sungguh.''


''tapi, katamu waktu itu kamu sudah memiliki wanita idaman sejak lama''


''iya, orang itu kamu Mayang.''


''sungguh? bagaimana bisa?''


''iya. Perasaan kagum dan cinta datang begitu saja tanpa bisa kita cegah. Rasa ini sudah sangat lama bersarang di hati. Aku tak kuasa lagi untuk memendamnya.


Ambil bunga ini kalau kamu memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan ke kamu. Kalau tidak ... Kamu bisa pergi dari hadapan ku tanpa mengambil mawar ini'' tutur Aksa.


Mayang tidak langsung menjawab, matanya berkaca-kaca karena merasa terharu mendapatkan perlakuan manis dari seorang Aksa, Aksa pemuda yang masih perjaka sedangkan dirinya sudah berstatus janda.


*****


Aditama dan Mama Hanum yang mengintip lewat jendela yang tidak jauh dari taman merasa amat bahagia melihat pemandangan di depan mata. Mereka juga sama, mereka merasa deg degan menunggu jawaban dari Mayang. 


''Pa, '' lirih Mama Hanum seraya menjatuhkan kepalanya di bahu sang suami, mata Mama Hanum berkaca-kaca.


''iya, Ma. Papa juga tidak menyangka. Aksa memang anak muda yang luar biasa, dia sanggup menyimpan perasaannya selama bertahun-tahun lamanya. Semoga Mayang mau menerima dirinya'' ucap Aditama mengelus pucuk kepala sang istri dengan lembut. 

__ADS_1


__ADS_2