
Aksa bersama sang kepala pelayan berjalan menyusuri area rumah guna mencari para pelayan yang lain. Tangan Aksa terkepal erat dengan gigi gemeletuk menahan amarah dan rasa kesal. Dia harus mencari saksi yang lain untuk meminta keterangan lebih lanjut menyangkut keselamatan sang Papa.
Mereka berjalan dari ruang ke ruang yang lain yang ada di rumah itu, tetapi tak kunjung mereka temukan keberadaan para pelayan yang menurut dugaannya di sekap. Hingga sampailah mereka di ruang yang paling belakang rumah, di gudang. Pintu gudang terlihat tidak tertutup sempurna, hanya dengan sekali hentakan saja menggunakan tangan pintu gudang terbuka sempurna.
''To to tolong ... !'' lirih seorang pria yang menggunakan seragam security, wajahnya tampak babak belur dengan darah beku di sudut bibir, tangannya terikat kebelakang. Dia tidak sendirian, di dalam ruang gudang yang cukup besar tersebut hampir penuh dengan seluruh penjaga dan pelayan yang bekerja di rumah itu, mereka duduk dengan tangan terikat bahkan ada juga yang terbaring.
''apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa seperti ini?'' cecar Aksa seraya melepaskan ikatan yang mengikat tangan para pekerja satu persatu di bantu oleh Bibik.
Belum ada yang menjawab pertanyaan Aksa, mereka semua tampak tengah sibuk menarik nafas dalam lalu menghembuskan nya perlahan. Mereka masih terlihat syok dengan apa yang barusan terjadi.
Hingga semuanya sudah terlepas, salah satu dari mereka akhirnya ada yang bersuara.
''semua terjadi begitu cepat, Den. Saat kami baru saja hendak beristirahat tiba-tiba orang-orang bertopeng itu datang, mereka menyerang kami satu persatu dan menodong senjata tajam ke arah kami hingga membuat kami tak bisa berkutik. Kalaupun ada yang berani melawan pasti nasibnya akan seperti itu'' jelas security yang menjaga di depan seraya menunjuk ke arah salah satu temannya yang babak belur.
''Den, tuan Bagaskara ... '' ucap salah seorang security lagi dengan suara serak, dia menghampiri Aksa, saat sudah berhadapan dengan Aksa dia bersuara kembali ''maafkan kami, kami tidak bisa menjaga Papa Aden dengan baik, tadi sebelum saya di hajar dan sebelum saya berusaha untuk membantu tuan Bagas, tuan Bagas menyelipkan benda ini ketangan saya'' kata security seraya memberikan benda kecil sebesar kartu ponsel kepada Aksa. Aksa mengambil benda tersebut lalu meneliti nya dengan seksama, setelah dia tahu benda tersebut dia mengambil ponselnya yang ada di saku celana, kemudian dia mengaktifkan kode yang berangka dan berhuruf kecil yang terdapat pada benda tersebut. Dengan benda tersebut Aksa bisa mengetahui di mana keberadaan sang Papa berada lewat Ponselnya. Wajahnya yang tampan tampak sedikit lega karena dia sudah bisa mengetahui di mana keberadaan sang Papa.
''kalian jaga rumah dengan baik, saya akan pergi kesuatu tempat'' kata Aksa seraya berjalan keluar dari gudang di ikuti para pekerja.
''Den Aksa pergi sendirian saja?''
''tidak, kalian doakan saja semoga saya bisa membawa Papa kembali kerumah dalam keadaan baik dan selamat''
''amin'' jawab semua pekerja dengan serentak.
Setelah itu Aksa melangkahkan kakinya lebar menuju kendaraan roda empat miliknya. Tidak lupa setelah itu dia menghubungi Aditama, mengabari Aditama tentang apa yang terjadi di rumahnya dan dengan sang Papa. Aksa juga meminta izin kepada Aditama untuk bantuan para Bodyguard yang ada di rumah nya. Aditama mengiyakan dengan cepat dan Aditama juga akan ikut pergi membantu Aksa.
******
Di tempat yang berbeda, Bagaskara dengan tubuh rentanya di ikat di atas sebuah kursi. Kaki dan tangan nya di ikat dengan mulut di balut perban.
__ADS_1
''sudah, lebih baik anda menyerah saja Bagaskara. Lebih baik cepat tanda tangan surat ini, setelah itu kami akan melepaskan anda dengan selamat,'' tekan seorang pria dengan suara tegas, wajahnya masih ditutupi topeng.
Bagaskara tidak dapat bersuara karena mulutnya yang masih di perban, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya cepat sebagai ungkapan penolakan nya.
Di mana isi surat tersebut adalah perjanjian yang dibuat kalau semua harta Bagaskara termasuk perusahaan nya akan berpindah alih setelah Bagaskara menandatangani nya.
Plak
Tamparan keras Bagaskara terima saat dia kekeh tidak mau menandatangani surat tersebut. Tubuh renta yang baru pulih itu menunduk lemah tak berdaya saat mendapati tamparan di wajahnya, dia hanya bisa berdoa di dalam hati, seraya mengharapkan kedatangan sang putra.
''cepat! Tanda tangan sekarang juga!'' teriak seorang pria itu lagi memaksa.
''mmm ... Emmm ...'' gumam Bagaskara menggeleng cepat.
''kurang ajar, mau ini lagi?'' kata pria itu mengangkat tangan nya lagi. Saat dia hendak mendarat kan pukulannya lagi kepada Bagaskara, seorang wanita yang masih memakai topeng dengan gaun bewarna merah terang berjalan berlenggak-lenggok menghampiri.
''sudah, kasihan. Ini sudah tengah malam, besok lagi kita paksa dia untuk menandatangani ini, sekarang lebih baik kita beristirahat saja yuk'' bisiknya pelan.
*****
''Pa, Mayang mau ikut.'' renggek Mayang memohon kepada Papanya. Dia merasa cemas mendengar kabar tentang penculikan sang calon mertua, serta dia juga sangat takut terjadi apa-apa sama Aksa.
''tidak usah sayang, ini sudah larut. Kamu di rumah saja ya, Papa akan pergi menyusul Aksa bersama para Bodyguard. Kamu itu anak perempuan harus di rumah saja, kamu bantu dengan doa saja ya,'' ujar Aditama sambil mengenakan jaket kulitnya,
''tapi, Pa. Mayang tidak akan merepotkan kalian'' mohon Mayang lagi dengan wajah memelas.
''baiklah, ayo cepat. Aksa sedang menunggu kita di persimpangan, kasihan dia kalau menunggu terlalu lama'' kata Aditama mengiyakan permintaan sang putri keras kepala nya.
''iya'' sahut Mayang.
__ADS_1
''hati-hati kalian, Sayang kamu nggak usah ikut campur, lihat dari jarak jauh saja ya,'' nasihat Mama Hanum lembut, dia membelai wajah Mayang.
Setelah itu mereka berangkat, dengan diikuti para Bodyguard yang berjumlah 5 buah mobil di belakang mereka, yang masing-masing di dalam mobil itu berjumlah 6 orang Bodyguard berbadan tegap dan kekar dengan otot besar. Mereka siap membantu Aksa menindas para penculik yang menyekap Bagaskara.
*****
Di tempat yang berbeda, di rumah yang megah di ruangan khusus yang pengap, Bagaskara bersusah payah melihat benda yang ditempelkan nya tadi di perutnya, dia ingin mengecek apakah benda itu masih melekat atau tidak di perutnya.
''semoga saja Aksa datang menyelamatkan aku dengan cepat, dengan bantuan alat ini'' batin Bagaskara penuh harap, tarikan nafasnya tak beraturan. Dia merasa begitu sesak, pipi nya terasa perih karena bekas tamparan.
Sementara orang-orang bertopeng menjaganya dengan begitu ketat, mereka berdiri tegap di depan pintu tempat Bagaskara di sekap.
***
"semoga ini kali terakhir nya aku berurusan sama para penculik, orang-orang yang tidak punya hati yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta benda yang bukan miliknya, orang yang tidak mau berusaha, mau enaknya saja. Aku benar-benar sudah lelah dan muak berurusan sama orang-orang rakus. Aku harap aku bisa menyelamatkan Papa dalam keadaan baik-baik saja, setelah itu aku akan menjalani hari-hari yang bahagia bersama Papa, Mayang dan keluarga nya." batin Aksa seraya memegang setir mobil dengan erat, dia menunggu kedatangan Aditama dan yang lainnya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Aditama bersama para Bodyguard nya datang mendekati mobil milik Aksa.
Aksa pun melajukan kendaraan roda empat miliknya, di ikuti Aditama dan mobil para Bodyguard di belakang.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh selama 1 jam lebih perjalanan akhirnya rombongan Aksa tiba di tempat tujuan. Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah rumah megah yang jauh dari pemukiman penduduk.
"Kamu ikut juga, Mayang?" Ucap Aksa sedikit kaget melihat Mayang yang keluar dari mobil.
" Dia bandel Aksa, Mayang memaksa untuk ikut" celetuk Aditama seraya melirik sang putri.
"Iya, aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan Papa dan aku juga merasa begitu cemas sama keadaan pak Bagas, padahal aku kan belum pernah bertemu dengan Pak Bagas sama sekali" jawab Mayang menatap Aksa lekat.
Aksa menarik nafas dalam, lalu berkata.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu tetap berada di sisi aku ya, jangan ke mana-mana. Dan untuk kalian semua, sebagian kalian kepung rumah ini dan sebagian ikut aku dan tuan Aditama" kata Aksa pelan tapi terdengar oleh semua para Bodyguard yang berdiri tidak jauh darinya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, dan seperti nya para penculik sudah tertidur pulas di kamar mereka.