
''Gendis.'' panggil pria itu dengan nada suara terdengar lembut, ia sudah berdiri tepat di belakang punggung Gendis. Ia menyembunyikan buket bunga mawar di balik punggungnya. Gendis memutar badannya, beralih ke arah sumber suara berasal. Gendis menatap ke arah pria yang tengah berdiri dengan posisi tegap. Pria yang merupakan teman kuliah nya dulu. Gendis menatap kaget akan kehadiran sosok yang telah lama tidak ia lihat.
''Arkan?'' sahut Gendis dengan wajah tersenyum simpul seraya berusaha menyembunyikan kekagetan nya.
''Iya. Ternyata kamu masih mengenali aku. Syukurlah.'' ucap Arkan tersenyum sumringah. Gendis menatap pria yang ada didepannya itu dengan sedikit salah tingkah. Arkan adalah pria yang dulu pernah berjanji untuk menemui Gendis setelah ia sukses. Waktu itu Gendis hanya menjawab iya, iya, saja tanpa tahu apa maksud Arkan sebenarnya. Dan Gendis menganggap kalau Arkan waktu itu hanya becanda saja. Sekarang Arkan benar-benar menemui Gendis dengan pakaian kantoran dan jas yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Arkan terlihat begitu rapi dan tampan. Tapi ketampanan Arkan masih kalah sama ketampanan Gavin yang selalu berpakaian tidak rapi dan apa adanya.
''Adik-adik, kalian masuk dulu, ya. Main di dalam aja. Kakak mau ngobrol dulu sama teman Kakak.'' titah Gendis kepada anak panti yang berjumlah sekitar 15 orang.
''Iya, Kak.'' jawab anak panti secara bersamaan. Setelah itu mereka berlalu ke dalam rumah.
Gendis membawa langkahnya menuju sebuah bangku kayu yang ada di halaman panti. Lalu ia menjatuhkan pantatnya di sana. Arkan mengikuti langkah Gendis, ia masih tetap berdiri dengan tangan yang masih terus di sembunyikan di belakang punggung.
''Apa kabar kamu? Aku nggak nyangka ternyata kamu masih ingat sama aku. Ini udah tiga tahun lho.'' ujar Gendis membuka percakapan. Gendis sedikit mendongak melihat Arkan yang masih berdiri. Lalu Arkan ikut duduk di bangku yang sama dengan menjaga jarak.
''Alhamdulillah, aku baik dan sehat. Kamu apa kabar? Ya ingat lah, kamu adalah satu-satunya wanita yang selalu aku ingat selama ini. Kamu yang membuat aku selalu bersemangat untuk mengejar mimpi ku. Hehehe ... Maaf, selama tiga tahun ini aku berjuang habis-habisan untuk menjadi orang sukses. Sesuai sama janji aku dulu.'' ucap Arkan sedikit grogi seraya terkekeh kecil.
''Alhamdulillah, aku juga baik-baik aja selama ini.'' jawab Gendis singkat seraya menunduk. Tiba-tiba hatinya menjadi nelangsa mendengar pengakuan Arkan.
''Syukurlah. Kamu masih sendiri, 'kan? Emm .... Maksud aku, ah ... Mungkin kamu mengerti apa maksud aku.'' Arkan berbicara sedikit grogi dan salah tingkah.
Gendis tak menjawab lagi, ia hanya mengangguk kecil disertai senyum sumbang.
''Ini, buat kamu.'' Arkan menjulurkan buket bunga mawar tepat di hadapan Gendis.
__ADS_1
''A-apa ini, Arkan?'' tanya Gendis dengan mata menyipit.
''Ini buat kamu. Terima lah Gendis. Gendis, sebelum berangkat kesini, aku sudah memantapkan hatiku, aku ingin melamar kamu. Jujur saja, I love u Gendis. Aku sungguh-sungguh,'' seru Arkan mantap dengan tatapan fokus menatap Gendis, ia berharap Gendis akan menerimanya sesuai yang ia harapkan.
Gendis bingung harus menjawab apa dan bersikap bagaimana. Jujur, ia masih belum siap untuk menjawab sekarang. Rasanya kehadiran Arkan begitu tiba-tiba. Padahal sebenarnya selama seminggu ini Gendis sedang dekat dengan seseorang. Seseorang yang berhasil membuat ia selalu tersenyum akhir-akhir ini. Orang itu adalah Gavin.
''Arkan, em ... Sepertinya aku belum bisa menjawab sekarang. Aku butuh waktu untuk sholat istikharah terlebih dahulu. Kehadiran kamu begitu tiba-tiba, aku masih perlu memikirkan dan memantapkan hatiku.'' Ucap Gendis jujur.
''Baiklah. Aku akan selalu sabar menunggu kamu. Ambillah dulu bunga ini.'' Arkan menarik nafas dalam. Gendis mengangguk, lalu mengambil bunga itu dengan di sertai senyuman. Bagaimanapun ia harus menghargai pria yang telah jauh-jauh datang hanya untuk menemui dirinya.
Tanpa Gendis sadari, seseorang tengah menatapnya dari pintu pagar. Orang itu menatap Gendis yang tengah duduk dengan seorang pria, seraya menerima buket bunga dengan senyum simpul.
Gavin merasa terluka hatinya melihat kedekatan antara Gendis dan pria lain. Ia berdiri terpaku di pintu gerbang dengan kedua tangan memegang dua kresek besar. Di dalam kresek itu terdapat cemilan dan jajanan untuk anak-anak panti. Gavin memang rutin membawa anak-anak panti makanan ringan.
Gavin tidak jadi masuk, ia kembali kedalam mobil, setibanya di dalam mobil, Gavin membanting kresek berwarna putih di kursi mobil bagian belakang.
***
Di tempat berbeda, di sebuah perkampungan.
Seorang wanita tengah berteriak-teriak histeris karena rasa sakit yang di deritanya. Hani berada di dalam kamar dengan kondisi begitu memprihatinkan. Selama beberapa bulan ini, ia jatuh sakit dengan tiba-tiba tanpa tahu sebabnya. Tubuhnya yang dulu indah dan ideal, kini sudah begitu kurus. Perutnya membesar tanpa tahu apa penyakit nya. Berbagai macam usaha, pengobatan telah di lakukan. Tapi tetap saja, Hani tak kunjung sembuh. Bahkan penyakit aneh yang di deritanya semakin menjadi-jadi.
Gentala duduk di ujung kasur sang Mama dengan air mata mengenangi pelupuk. Ia sungguh tidak tega melihat sang Mama yang terus berteriak kesakitan. Dadanya terasa begitu sesak.
__ADS_1
''Tuan, maaf, sepertinya saya tidak tahu lagi harus mencari orang yang bisa mengobati Mama Tuan kemana. Semuanya sudah kita coba, dari berobat ke Dokter, ke orang pintar, tapi hasilnya tetap nihil.'' ucap seorang pria yang berusia sekitar empat puluh lima tahun. Pria itu adalah orang yang bekerja di rumah Gentala dan orang yang di percaya Gentala untuk mengurus kebun-kebun yang baru di beli Mama nya di Desa.
''Aku harus bagaimana lagi, Pak Kardi.'' ucap Gentala putus asa. Suaranya terdengar serak. Iya menangis dalam diam.
Pak Kardi menggeleng lemah. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk membantu menyembuhkan penyakit aneh sang majikan.
''Aduuhhh .... Tolong! Sakit! Sakit sekali.''
''Aku mau mati saja ... Huhuhu ...'' racau Hani dengan suara lirih seraya memegang perutnya yang besar. Perut yang seperti sedang mengandung di usia tujuh bulan.
Gentala semakin terluka mendengar rintihan sang Mama.
''Paman, Bagas. Apa Paman Bagas akan menerima aku kalau aku berkunjung ke rumahnya. Sepertinya aku harus memberi tahunya tentang keadaan Mama. Aku sungguh tidak tahu harus berbagi masalah kepada siapa. Bagaimana pun juga, Paman Bagas adalah Kakak kandung Mama.'' ucap Gentala di dalam hati.
Tapi, tiba-tiba Pak Kardi bersuara lagi.
''Tuan, maaf kalau saya lancang. Sebenarnya selama ini praduga saya ini sudah lama bersarang di benak. Em ... begini, apa sebelum nya Mama, Tuan pernah berlaku kasar sama warga kampung ini? Maksud saya begini, saya takut Mama Tuan ada yang sengaja mengirimkan penyakit ini. Maklum warga setempat masih sangat kental dengan ilmu-ilmu yang kurang saya mengerti juga, karena saya juga selama ini sudah lama tinggal di kota. Mereka mungkin saja menggunakan ilmu hitam untuk membalas rasa sakit hati terhadap Nyonya Hani.'' jelas Pak Kardi sedikit hati-hati.
Gentala pun terdiam mencoba mencerna ucapan Pak Kardi, dan mencoba mengingat apa-apa saja yang telah Mama nya lakukan sebelum terjatuh sakit dulu.
Bersambung.
Aksa dan Mayang kita skip dulu di part ini ya.
__ADS_1
Kira-kira ada yang tahu tidak, Hani kenapa?
Like, komen, subscribe dan follow aku aku ya. Biar aku nya terus semangat buat lanjutin.