
Seketika otak Kenzo terasa kosong. "Are you sure?(apa kamu yakin?)"
"This is the list before the plane took off. I checked the reservation, they are, but they didn't make any confirmation and showed up until the time come. So we gave the seat to others,(Ini daftar penumpang sebelum pesawat tinggal landas. Aku cek reservasi, memang mereka melakukannya, tapi mereka tidak konfirmasi dan tidak datang hingga waktunya tiba. Jadi kami berikan kursinya pada orang lain.)" begitu penuturan dari pihak perusahaan kapal terbang itu.
Kenzo tidak tahu apa ia harus gembira atau bersedih karena walaupun kedua orang tuanya lolos dari kecelakaan pesawat tapi keberadaan mereka masih tanda tanya dan telepon mereka tidak bisa dihubungi. Mereka juga sudah hampir seminggu tidak ada kabar. Apa yang terjadi dengan kedua orang tuanya sebenarnya?
"Thank you.(terima kasih.)" Kenzo menepi keluar dari barisan antrian kemudian mencoba sekali lagi menelepon kedua orang tuanya tapi hasilnya nihil. Tidak ada jawaban dari hp mereka berdua.
Lalu aku harus cari mereka di mana? Kalau aku lapor polisi, masalah ini akan di blow up(diviralkan) ke media. Sebisa mungkin hal itu harus aku hindari karena sekarang saja masalah ini sudah menjadi makanan media di Indonesia, jangan sampai ini juga jadi bulan-bulanan media internasional. Aku harus berhati-hati.
Mmh ... terakhir Ayah sepertinya menghubungiku dari hotel tempatnya menginap. Mungkin aku bisa menyelidiki ini sendiri. Kenzo kemudian menghubungi asisten Arya di Jakarta untuk menanyakan nama dan alamat hotel tempat Ayahnya menginap terakhir kalinya. Kemudian ia bergegas pergi.
-----------+++-----------
Chris keluar ruang kerjanya. "Panggilkan Rojak, Wan."
"Baik Pak."
Beberapa menit kemudian, Rojak mendatangi ruang kerja Chris. "Iya Pak." Ia menutup pintu.
"Duduk dulu Jak. Gimana, perkembangannya sejauh ini."
Rojak menarik kursi di depan Chris. "Aku akan merubah sedikit image(simbol) produk Bapak, dan sedang aku godok ke arah yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya, jadi berangkat dari situ kita akan memulai produksi iklannya dan itu mungkin makan biaya karena menggunakan image baru yang ingin kita tampilkan ke seluruh pasar produk kita. Target pasarnya juga sudah aku ubah menjadi kaum muda terutama ibu-ibu muda karena target pasar ini yang paling banyak dan paling konsumtif. Jaman sekarang beda dengan jaman dulu Pak. Jaman dulu, orang mementingkan kehidupan berkeluarga dan mereka banyak yang bisa berkumpul dengan kaum kerabat tapi sekarang banyak yang Single Fighter berjuang sendiri karena wanita sekarang banyak yang cerdas dan pintar cari uang sendiri. Anak-anak muda sekarang juga banyak yang masih muda tapi punya bisnis sendiri. Berangkat dari situ aku ingin membuat makanan Frozenfood Bapak ini makanan kaum milenial yang sangat mengikuti perkembangan jaman. Menurut Bapak gimana Pak?"
"Mmh, bagus juga konsepmu itu ya? Aku tidak terpikir untuk membuat konsep baru seperti itu. Berarti semua produk akan mengikuti konsep itu. Apa kemasan akan berubah juga nantinya?"
"Mengikuti konsep baru ya?" Rojak menyentuh dagunya, berpikir. "Begini saja. Aku akan ke pabrik sekarang, melihat seluruh kemasan produk. Apa kedua pabrik Bapak memproduksi barang yang sama atau bagaimana?"
"Sama, pilih yang terdekat saja."
"Ok, aku akan ke sana sekarang." Rojak segera berdiri.
"Eh ... bagaimana dengan tim yang sudah kamu bentuk sekarang? Ada kendala?" Chris mengantarnya ke pintu.
"Kendala? Sejauh ini masih bisa ditolerir dan diperbaiki jadi gak masalah Pak."
"Ok, good luck(semoga beruntung) ya?"
"Iya Pak."
Chris menatap punggung Rojak yang pergi meninggalkannya. Ia sangat profesional dalam bekerja, tak salah aku memilihnya. Ia cocok jadi penerus perusahaan. Masalahnya sekarang, apakah ia jodoh Salwa atau bukan, karena sebenarnya jodoh adalah rahasia ilahi yang kita tidak bisa turut campur di dalamnya, walaupun ingin.
---------+++--------
Seorang Kepala Sipir penjara masuk ke sebuah ruang interogasi. Pria berbadan gemuk dan berperut buncit itu duduk di samping sebuah meja yang berada di tengah ruangan. Ia kemudian menunggu.
Tak lama pintu di ketuk. Seorang petugas mengantar seorang tahanan yang tangannya masih di borgol masuk ke dalam ruangan. "Ini Pak."
__ADS_1
"Ok. Lepaskan borgolnya."
Petugas itu terlihat bingung. "Tapi pak ...."
"Tidak apa-apa, dia bukan penjahat kasus pembunuhan dan dia juga akan dieksekusi jadi beri dia keleluasaan."
Petugas itu akhirnya membuka borgol lelaki keturunan Indonesia-India itu.
"Oh ya, jangan ada yang memata-matai kami di balik cermin itu karena kami ingin bicara hal yang serius di sini, dan aku tidak suka dimata-matai saat sedang berdiskusi."
Petugas itu terlihat keberatan tapi dipenuhi juga keinginan atasannya itu. "Oh, iya Pak. Baik." Ia kemudian keluar.
"Silahkan duduk." Kepala Sipir itu mempersilahkan Rafi duduk di hadapannya.
Pria itu kemudian duduk. "Bapak baik sekali sering mengunjungi saya di sini, tapi Bapak mau mendiskusikan apa Pak pada saya? Mengenai hukuman mati itu?" Sorot mata pria itu terlihat kosong, kebingungan dan pasrah.
Kepala Sipir itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mengangkat jari telunjuk mengajak Rafi mendekatkan wajahnya. Pria India itu menurut. Saat mendekatkan wajahnya, Kepala Sipir itu menangkup wajah Rafi membuat pria India itu mengerut kening.
"Sebegitu seringnya kita bertemu, kau tak mengenaliku?" Suara barito Kepala Sipir itu berubah menjadi suara lembut seorang wanita. Seorang wanita yang sangat di kenalnya.
"Anna?" Rafi tersenyum. "Apa ini benar kamu?"
Anna yang sedang menyamar itu tersenyum.
"A-aku pikir kamu tidak akan pernah datang menjengukku. A-aku pikir Papa melarangmu menjengukku hingga aku pasrah dengan keputusan hakim." Mata Rafi langsung menggenang dan satu-persatu air mata jatuh melewati pipi. Ia menyentuh tangan istrinya.
Rafi mengangguk. Ia segera berdiri dan menghampiri Anna. Ia langsung meraih pinggang istrinya dan menyatukan bibir mereka seperti orang yang kehausan. Dengan rakus. Namun kemudian ia segera menghentikannya dan menatap kedua manik mata istrinya yang juga telah berubah warna dengan lebih gelap.
"Rasanya aneh mencium pria."
Keduanya tertawa.
Anna kemudian membuka topeng sambil memaparkan strategi yang harus mereka kerjakan setelah itu. Ia juga membuka pakaiannya, dan menyuruh Rafi memakainya. Sementara ia sudah mengenakan pakaian di dalam baju dinas tadi sehingga setelah di buka terlihatlah baju lain di dalamnya.
Perut buncitnya itu juga buatan di mana ia meletakkan alat make up untuk membuat topeng wajah baru buat Rafi di sana. Ia mencampur bubuk putih dengan air dan menempel adonan itu ke wajah Rafi sedikit demi sedikit. Kemudian ia memberi warna pada wajah kemudian melukis wajah Rafi hingga semirip mungkin dengan Kepala Sipir itu. Karena seringnya ia membuat wajah Kepala Sipir itu, ia dengan cepat menyelesaikan lukisan wajah itu. Peralatan melukis dan membuat topeng kembali dimasukkan ke dalam perut Rafi yang buncitnya menggunakan bahan plastik berbentuk cangkang sehingga terlihat bulat sempurna.
"Kau tampak kurus Anna." Rafi memperhatikan istrinya.
"Kau juga tampak kurus Sayang." Anna mendekat.
"Ok, habis ini kita akan beli burger."
Keduanya kembali tertawa. Anna memeluk suaminya.
"Lalu, ke mana Kepala Sipir yang asli?" tanya Rafi heran.
"Oh kami culik. Sudah 2 minggu ia diculik tanpa ada yang tahu karena ternyata ia masih single. Ada beberapa hari aku perhatikan gaya dia bergerak dan berbicara hingga meniru suaranya. Setelah itu aku culik bersama Romi mantan Asistenmu itu. Ia yang menyembunyikan pria itu di suatu tempat."
__ADS_1
"Mmh, cerdas sekali istriku." Rafi tersenyum.
"Ayo Sayang, kau harus segera keluar. Aku tunggu."
"Oh, ok. Eh, tapi suaranya?"
"Bikin samar saja. Cepat, kita harus bergerak sebelum ketahuan." Anna mendorong suaminya ke arah pintu.
Pria itu diam sejenak. Ia bukan istrinya yang pandai berpura-pura jadi orang lain. Jantungnya berdetak kencang.
Anna menyentuh lengan pria itu. "Kau adalah Kepala Sipir Penjara dan orang percaya itu."
Rafi menoleh. "Mmh." Ia kemudian membuka pintu dan bertemu dengan 2 orang penjaga. Ia menutup setengah mulutnya. "Aku mau ke toilet sebentar," suaranya terdengar samar.
"Oh, siap Pak," jawab salah satu penjaga.
Rafi berjalan hingga masuk ke dalam toilet. Di sana kebetulan orang terakhir yang masuk ke ruangan itu baru saja keluar. Pria itu segera menutup pintu. Ia segera mengeluarkan 3 rangkaian petasan yang dimasukkan ke dalam perut palsu tadi oleh istrinya dan mengeluarkan sebuah pematik api dari kantong celana. Ia membakar ujungnya dan melempar ke salah satu sudut ruangan. Ia melakukannya terus hingga semua petasan habis di tangan. Suara-suara yang memekakkan telinga mulai berbunyi. Ia berusaha menghindar dengan berlari keluar dari toilet itu.
Tentu saja orang-orang di luar toilet itu panik dan lari kocar-kacir. Rafi kembali ke ruang interogasi di mana kedua penjaganya menjaga dengan was-was. Tak ada yang tahu itu suara apa tapi banyak orang lari keluar gedung.
"Cepat kalian selamatkan yang lain!" perintah Rafi pada kedua penjaga itu.
"Siap Pak." Kedua penjaga itu akhirnya pergi. Ia membuka pintu dan menarik istrinya keluar. Mereka kemudian berbaur dengan orang-orang yang menyelamatkan diri keluar penjara, tapi kemudian mereka berbelok ke parkiran. Di sana telah menanti sebuah mobil.
"Ini mobil Kepala Sipir itu." terang Anna.
Setelah masuk ke dalam mobil, mereka pun tidak kesulitan melewati pintu gerbang yang banyak penjaga itu karena Rafi masih menggunakan topeng Kepala Sipir. Mobil yang di sopiri Anna bisa keluar mulus hingga ke jalan.
"Akhirnya Sayang, kamu bebas," wajah Anna terlihat lega.
"Tapi mereka tetap akan mengejar kita," Rafi menerangkan.
"Tidak kalau kita pulang ke Amerika."
"Tapi bagaimana dengan Lydia? Kita tak bisa menjenguknya lagi kan, kalau kita datang ke Indonesia pasti aku di tangkap."
"Tidak kalau kita bawa ia bersama kita, Sayang."
"Tapi ia takkan mau kalau kita tidak tinggal bersama."
"Bisa, karena aku sudah berhenti bekerja dari sirkus itu. Aku sedang membangun Rumah Yatim Piatu dan Papa akan mendanainya."
"Benarkah?" Kembali mata Rafi menggenang, menggugurkan beberapa bulir-bulir air matanya. Siasatnya berhasil. Ia telah membenamkan dirinya dalam sebuah ide yang berbahaya bersama mantan bawahannya Romi dengan menjebak diri sendiri di mobil bersama narkoba dalam jumlah banyak milik Romi. Anak buahnya itu karena tak tega, ikut pula di dalam mobil itu. Ia berharap istrinya yang mantan mata-mata Amerika itu sadar dan menolongnya. Ia hampir putus asa ketika istrinya tak kunjung menjenguknya dan ia terlanjur divonis sebagai Gembong Narkoba, pekerjaan lamanya yang sudah ia tinggalkan. Romi pun tak memberi kabar, tapi ternyata usahanya berhasil dan ia kini bisa tinggal bersama dengan anak istrinya lagi. Sesuatu yang sudah lama ia rindukan sebagai ayah dan suami bagi mereka, keluarga kecilnya.
_____________________________________________
Author kembali dengan keceriaan. Mudah-mudahan reader juga sehat-sehat semua ya? Jangan lupa vitamin Author, like, komen, vote hadiah dan koin. Ini visual Rafi Akhyar. Salam, Ingflora.💋
__ADS_1