
Tama keluar bersama Mei. Begitu juga Aska. Sebelum Aska sempat bicara pada Leka, Tama menghampiri dan memeluknya. "Kak, makasih ya sudah mampir."
"Eh, iya ...." Aska menepuk-nepuk bahu Tama. Sejak bayi hingga umur 4 tahun, Tama pernah dititipkan pada Chris, ayah angkat Aska saat Ibunya koma, karena itu ia dekat dengan Aska. "Belum ada kabarnya lagi soal orang tuamu?"
Tama melepas pelukan. "Belum Kak, belum ditemukan sampai sekarang." Kesempatan itu dilakukannya agar Leka menjauh dan wanita itu melakukannya.
"Eh, kamu sama siapa?" Aska melihat Mei.
"Oh, ini bodyguard-ku, Mei."
Mei menganggukkan kepala.
"Bodyguard? Sejak kapan kamu butuh bodyguard?"
"Sejak kerampokan kemarin Kak."
"Oya?"
"Dan dia yang nolongin aku jadi aku minta dia jadi bodyguard-ku Kak."
Aska memperhatikan Mei dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Yakin bukan komplotannya?"
Saat itu, ingin rasanya Mei mencekik pria itu, tapi ditahannya.
"Enggaklah Kak, aku udah ke rumahnya. Kakak baru pulang ngajar Wushu?"
Pelatih Wushu? Wah hebat juga Bapak ini, tapi sayang mulutnya ....
"Belum selesai. Mau nengok Runi sebentar."
Mereka kemudian masuk berbarengan.
"Ayo!" Tama mengajak Mei yang masih diam di tempatnya.
Mereka mendatangi meja makan. Di sana ada Leka yang sedang menemani Aiko sarapan yang sedikit kesiangan karena hari Minggu. Juga ada Runi yang sedang asyik makan semangka. Ia mencoba memakan sendiri semangka dengan tangannya. Bajunya basah oleh air dari semangka dan ia begitu menikmatinya.
"Hei, anak Ayah sedang makan ya?" Aska mencoba menyapa Runi dengan senyum lebarnya.
Runi melihatnya dengan cemberut dan kembali asyik makan sendiri.
"Mmh, udah pinter anak Ayah makan sendiri ya?"
"Kayaknya bahagia ya Kak, nikah sama Kak Monique?" ucap Tama melihat wajah berseri Aska.
"Eh?" Segera wajah pria itu berubah salah tingkah. Ia begitu senang karena ia bisa bernapas lega bisa jauh dari Monique. Ia kembali stres bila kembali ke rumah, dan yang paling melegakan, ia masih bisa mencuri-curi waktu ke rumah Kenzo untuk bertemu Leka, saat pria itu tidak ada di rumah.
"Mbak ke kamar dulu ya?" ucap Leka pada Aiko.
Aska yang sudah menarik kursi dekat Runi, kecewa. "Leka kau mau ke mana? Di sini saja, biar Runi merasakan kedua orang tuanya ada di sini," bujuknya.
Tama menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Kakak Angkatnya. "Ayo, ikut aku ke atas," ajak Tama pada Mei.
"Eh, itu siapa?" tanya Leka pada Tama.
"Oh, dia bodyguard-ku sekarang Mbak."
Mei kembali menganggukkan kepala.
"Kamarnya di atas ya Mbak."
"Oh, ya sudah."
Tama menaiki lantai dua lewat tangga diikuti Mei. Setelah beberapa pintu kamar dilewati, pemuda itu berhenti di depan sebuah pintu. "Ini kamarmu. Kamarku di sebelah." Ia menunjuk kamar sebelumnya.
"Eh, kenapa kamarku di sebelah kamarmu?" Mei terlihat heran.
Tama membuka pintu kamar itu. "Di bawah kamar pembantu sudah penuh. Kamu mau sekamar berdua dengan mereka? Dikasih yang enak malah cari yang susah," gumam Tama kesal.
Mei merapatkan mulutnya. Mereka berdua kemudian masuk. Kamar itu cukup besar. Malah lebih besar dari kamar Mei bila di gabung dengan kamar ibunya. Perabotan di kamar itu juga sudah lengkap. Tempat tidur double bed, sebuah lemari berukuran sedang, sebuah meja rias dan sebuah meja belajar.
"Apa di kamar pembantu juga seperti ini?"
"Mmh, mungkin sedikit lebih kecil." Tama mencoba mengingat-ingat.
__ADS_1
"Kalau begitu aku tinggal di kamar pembantu saja deh, gak papa," ujar Mei enggan. Ia melangkah keluar.
Tama segera meraih lengan gadis itu. "Eh, kata siapa kamu boleh pindah gitu saja. Kamu tinggal di sini, aku bilang! Jangan coba-coba pindah lagi."
"Tapi Kak ...."
"Pembantu di bawah itu tukang gosip. Aku gak suka saat aku harus bolak-balik mencarimu, mereka lihat kita, terus ngomong yang enggak-enggak di belakang. Mending kamu di sini aja deh, jadi kerjaan juga cepet selesai."
"Tapi mereka kan tetap lihat kita?"
"Tapi aku kan gak perlu dengerin omongan mereka dan melihat mereka setiap hari."
Mei menyerah. "Tapi apa baik Kak, kamar kita bersebelahan?" ucapnya pelan.
"Memangnya kita tinggal sekamar? Ada-ada saja. Di sebelah sana tadi itu kamar adikku, ponakanku dan Kakak Iparku yang kesemuanya perempuan." Tama menunjuk ke arah pintu-pintu yang tadi mereka lewati. "Apa yang kamu takutkan sih? Rumah ini isinya perempuan semua kecuali aku. Sudah, rapikan barang-barangmu, sebentar lagi kita keluar." Tama melangkah keluar kamar seiring menutup pintu.
Mei meletakkan tasnya di lantai. Sepertinya segala sesuatunya akan berubah sejak hari ini. Kamar yang besar itu akan jadi miliknya entah sampai kapan. Ia syukuri saja hari ini, tanpa tahu apa yang akan terjadi esok. Semoga tuhan selalu melindunginya.
lima belas menit kemudian, pintu diketuk. Mei mendatangi pintu. "Iya Kak."
"Udah selesai? Ayok!" Mei mengekor di belakang Tama yang mendatangi tangga dan menuruninya. Mereka kembali mendatangi meja makan dengan orang yang sama.
"Mbak, mau keluar dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Tama melihat Aska sibuk menggoda Runi, tapi sesekali matanya masih melirik ke arah Leka. Ia mendatangi Aska. "Kak!" Ia menyentuh punggung pria itu.
"Oi!" Aska terkejut.
"Kakakku Kenzo lagi gak ada. Gak baik lama-lama di sini. Apalagi Kakak baru nikah. Apa kata orang. Yuk, keluar bareng aku Kak!" Tama menarik lengan Aska.
"Eh, tapi ...."
"Kakak kalo gak diginiin pasti lupa ngajar. Ayo Kak ngajar dulu. Setelah itu pulang ke apartemen biar Kak Monique gak kelabakan cari Kakak. Kan kasihan, baru nikah di tinggal lama-lama." Tama menyeret Aska keluar rumah.
Hanya dengan Tama, Aska tak bisa marah. Dari dulu. Padahal Tama bukan adik kandungnya. Aska terkenal sangat penyayang pada adik-adiknya termasuk Zack dan Lydia yang juga bukan adik kandungnya. Hanya Salwa yang saudara kandung dan saudara kembarnya, tapi tetap ia juga menyayangi kembarannya itu.
Tama mengantar Aska hingga ke mobil. Ia melambaikan tangan hingga mobil Aska menghilang dari pandangan.
Tama dan Mei kembali memasuki mobil mewah pemuda itu.
"Kita ke Mal ya Mang," perintah Tama.
Mobil mulai bergerak pelan keluar pintu gerbang.
"Mau apa Kak?" Mei menoleh ke belakang.
"Aku mau beli baju kantor soalnya mulai Senin aku harus ngantor di kantor Kakek. Bantu aku memilih baju ya?"
"Oh, iya Kak."
Mobil meluncur mulus di jalanan. Tak lama mereka sampai di Mal yang dituju. Tama segera mencari toko yang diinginkan dan mulai memilih pakaian. "Kamu kenapa bengong?"
"Apa?"
"Kamu akan jadi asistenku di kantor jadi kamu juga cari bajunya yang pantas untuk ke kantor. Jangan bengong dan diam di situ."
"Oh, iya Kak." Mei mulai kelabakan mencari pakaian.
"Pastikan kamu punya beberapa pasang baju dan ..." Tama menoleh ke kaki Mei. "sepatu juga jilbabmu itu."
"Iya, Kak."
Mereka masing-masing mulai mencari pakaian yang cocok untuk ke kantor, kemudian mencoba ke kamar pas. Kadang mereka bergantian mencoba dan menanyakan pendapat lawan bicara. Mei membantu Tama memantaskan pakaiannya dan Tama juga memberikan pendapatnya soal pakaian pilihan Mei.
"Mmh ...." Tama melihat pakaian yang dipakai Mei.
"Gimana Kak?"
"Kayaknya mukanya yang mesti dipermak deh!" Tama tertawa terbahak-bahak.
"Iih!" Mei mencubit lengan pemuda itu.
__ADS_1
"Aduh!"
"Yang serius ...."
"Ini udah dua rius." Tama masih terbahak.
Mei merengut.
"Habis badannya kurus banget kayak istrinya Popeye." Pemuda itu terpingkal-pingkal hingga memegangi pinggangnya menahan sakit perut.
"Ih gitu ...." Mei terlihat kecewa.
"Iya, iya maaf." Tama mengakhiri tawanya. "Habis ini kamu beli kosmetik deh, terserah kamu apa. Aku gak ngerti."
Setelah membayar dengan kartu hitam milik Kenzo, mereka mendapati tas belanja mereka begitu banyak. Kasir menyodorkan tas-tas itu pada Tama.
"Berikan saja padanya." Tama menunjuk Mei.
"Kasihan dong Pak, pacarnya disuruh menenteng tas belanja," protes kasir itu.
Mei senyum di kulum.
"Pacar? Itu ...." Tak ada kata-kata yang sanggup pemuda itu keluarkan karena pada dasarnya memang harusnya lelaki yang membantu wanita membawakan barang dan ia sangat kesal dengan kenyataan itu. Ia terpaksa membawa tas belanjaan yang banyak itu keluar toko dan Mei hanya membawa sisanya saja dan mengekor di belakang.
Tama berhenti di depan toko dan meletakkan semua tas belanjaan di lantai. "Heeeeegh!" Ia geram hingga mengepalkan kedua tangannya di muka. "Kenapa sih kamu perempuan???" tanyanya kesal pada Mei.
Mei kembali menahan tawa. Tama segera menelepon sopirnya agar segera mendatanginya.
"Ada apa Pak?" Setelah mencari-cari, pria itu menemukan Tama.
"Tolong bawa ke mobil belanjaan karena aku masih belum selesai belanja."
"Oh, iya Pak." Sopir itu mengambil semua belanjaan dan pergi.
Saking kesalnya, Tama melangkah dengan langkah lebar meninggalkan Mei. Gadis itu kemudian mengikutinya.
Lalu mereka sampai ke sebuah tempat yang di penuhi dengan gerai kosmetik impor. Tama tertarik dengan beberapa parfum yang dilihatnya. Ia berhenti dan mencoba-coba. Mei hanya diam dan menemani.
"Kamu kenapa tidak cari kosmetik yang kau mau?" tanya Tama heran.
"Sebenarnya gajiku berapa ya Kak, soalnya baju tadi mahal-mahal. Berapa bulan kira-kira aku harus menyicilnya Kak?"
"Hah?" Tama kembali tertawa mendengar pertanyaan Mei. "Tidak perlu. Itu tidak usah di pikirkan. Anggap saja itu hadiah dariku."
"Hadiah?" Mei ingat sekali angka total dari belanja pakaian yang baru saja ia lihat dan jumlahnya sudah jutaan, tapi pemuda itu bilang ini hadiah. Apa bisa begitu? Hadiah? Mulutnya melongo.
"Iya, aku sedang senang jadi sekarang kamu pilih saja kosmetik mana yang kamu suka." Tama memutar tubuh gadis itu dan mendorongnya ke depan. "Apa mau aku bantu mencarikan kosmetik yang cocok untukmu?"
Mei masih melongo saat mereka berhenti di depan sebuah kosmetik remaja.
"Mungkin ini. Kau coba saja." Tama mendorong Mei hingga ke depan counter kosmetik itu. Untuk beberapa saat Mei mendengarkan penjelasan penjual kosmetik itu dan Tama meninggalkannya. Saat ia kembali, ia cukup terkejut dengan penampilan baru Mei.
Ah, manis juga.
"Gimana Kak?"
"Lumayan. Kalau kamu suka, beli aja."
"Satu set?"
"Ya sudah."
"Hadiah juga? Bener-bener sultan ...." Mei tersenyum.
Seperti ada ombak besar yang datang dan ingin menenggelamkan pemuda itu tapi tiba-tiba runtuh dan memercik di kakinya. Tama tidak mengerti perasaan ini. Mengguncang tapi kemudian menyejukkannya. Itulah saat ia melihat pertama kali senyum lepas Mei yang ceria.
_____________________________________________
Kesayangan, author masih semangat menuliskannya. Jangan lupa, like, komen, vote, dan mungkin hadiah atau koin. Ini visual Arunika Wiraguna atau yang biasa di panggil Runi. Salam. Ingflora 💋
Rekomendasi tentang hati yang patah karena cinta segitiga. Cinta Yang Hilang oleh author Momy Ida.
__ADS_1