Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Identitas Terbongkar


__ADS_3

"Tristan!"


Ketiganya menoleh ke arah sumber suara. Bella datang sendirian menyambangi mereka.


"Oh, iya." Sebelum Bella sampai, Tristan sudah melangkah mendatanginya. Keduanya pergi menjauh.


Mei dan Tama saling berpandangan. Yang mereka tahu, Tristan tidak pernah suka diajak bicara oleh Bella karena pemuda itu tidak suka padanya sedang Bella naksir berat Tristan, tapi kenapa sekarang berbeda? Sekarang kenapa tanpa di panggil dua kali pun Tristan langsung mendatanginya. Bella juga. Ke mana semua pengiringnya?


Tama mengangkat bahu. Ia malah mengambil kentang goreng milik Tristan yang ditinggalkan dan memakannya. Ya, Tristan juga meninggalkan makan siangnya yang baru ia makan sedikit. Ada apa dengan Tristan dan Bella?


----------+++----------


Kenzo sedang makan di restoran miliknya bersama Leka dan Runi ketika seekor kucing masuk ke dalam restoran itu. Runi tampak antusias dan mengejarnya.


"Ucing!"


Leka dan Kenzo tersenyum melihatnya.


"Ini kucing, sering datang ke sini ya?" tanya Kenzo pada Leka.


"Oh, iya. Karena sering dikasih makan di dapur."


"Oh, begitu." Kenzo memperhatikan kucing itu dan Runi. "Bagaimana kalau kita piara kucing juga di rumah?"


"He? Tapi nanti naik-naik ke atas meja makan kalau tidak diawasi."


"Makanannya dibuat sendiri, beda."


"Bagaimana caranya?"


"Kita akan beli kucing yang bagus di Pet Shop(toko binatang). Nanti makannya juga beli di sana, khusus kucing."


"Aku gak ngerti Mas. Buat Runi ya?" Leka menyuap makanannya.


"Iya, dia kan sendirian gak punya teman apalagi adik." Kenzo melirik istrinya. "Aku juga kan gak bisa maksa kamu untuk buru-buru punya anak."


"Aku mau saja Mas, tinggal Allah mengizinkan gak?" ucapnya sedikit malu.


"Inshaallah."


Seusai makan, mereka pergi ke Pet Shop. Ada banyak binatang piaraan di sana termasuk anjing dan hamster. Runi sangat senang di bawa ke toko itu karena ia bisa melihat begitu banyak binatang berbulu tebal.


"Ucing?" Runi menunjuk ke bagian kelompok kucing yang berbulu tebal. Saking tebalnya Runi melongo seakan melihat boneka. "Eh!" Ia menunjuk sambil menatap Kenzo yang menggendongnya.


"Kamu mau Papa bawa kucingnya satu ke rumah?"


Runi mengangguk. "Mau."


Pria itu menurunkan Runi di lantai. "Runi mau pilih sendiri?"


Gadis kecil itu ragu-ragu melihat beberapa kandang kucing di depannya.


"Mas, pilihkan saja," saran Leka.


"Tidak apa-apa. Anak sekecil itu sudah bisa memilih kok agar dia bisa konsekuen dengan pilihannya. Dia harus mengurusnya nanti."


"Eh, Mas. Mana bisa?"


"Ya ... kan nanti kita bantu. Kamu juga bisa membantu mengurusnya."


Runi melangkah mendatangi kandang-kandang kucing di hadapannya itu. Ada bermacam-macam jenis kucing di sana. Ada yang berbulu pendek, panjang, berhidung pesek, anak-anak kucing, kucing kurus dan gendut dengan berbagai macam warna. Ia memperhatikannya satu-satu.


Ia kemudian tertarik dengan satu yang berbulu tebal berwarna kuning kecoklatan dan putih. Memang bulunya paling bagus di antara yang lainnya.


"Kamu suka yang ini?" Kenzo menghampiri kandang kucing itu dan mengeluarkannya. Kucing itu masih nampak bingung melihat ke arah Runi dan Kenzo.


"Kucing ini sudah disteril Pak. Sayang yang mau beli gak jadi ngambil," ucap pegawai toko itu.


"Betina Ya?"


"Iya Pak."


"Mmh ... Jodoh kayaknya sama anak saya." Kenzo mengusap-usap bulunya.


Runi pun mendatangi dan meniru Kenzo.

__ADS_1


"Runi suka?" tanya pria itu sekali lagi.


"Eh!"


"Dozou.(silahkan)" Kenzo meninggalkannya bersama Runi.


Kucing itupun senang di dekat Runi. Sementara Kenzo dan Leka berbelanja peralatan buat kucingnya, Runi bermain dengan kucing itu.


Kenzo juga membeli bantal untuk kucingnya tidur, makanan, wadah kotoran, sekop dan lain lain. Setelah itu mereka pulang.


Di rumah, Kenzo menyiapkan semuanya. Ia meletakkan wadah di lantai 1 dekat tangga dan memberinya pasir. Ia juga mengajari Leka cara mengurusnya.


"Oh, jadi gak kotor ya? Di dalam rumah," ucap Leka memperhatikan.


"Kucing ini dia tahu membuang kotoran di mana, jadi tidak akan kotor rumah. Kucing biasa, juga bisa kalau dilatih. Kalau kamu sibuk, kamu bisa minta tolong pembantu."


Runi terlalu sibuk untuk memperhatikan yang lain. Ia sedang sibuk mengikuti kucing piaraannya yang sudah masuk rumah. Kadang-kadang ia tertawa karena kucing itu mengelilinginya.


Kenzo segera mengeluarkan makanan kering pada wadah plastik. Kucing itu segera mengetahui dan mendatangi Kenzo. Runi masih mengikutinya.


"Kucingnya makan dulu ya Runi." Kenzo menyiapkan minumannya di wadah yang dipasang botol dengan terbalik.


Kenzo yang duduk di lantai mengangkat Runi ke pangkuannya. Mereka bertiga melihat kucing itu makan dengan lahapnya.


"Mau kamu kasih nama apa Runi Sayang?"


Runi menoleh pada Kenzo. Ia tersenyum sambil memamerkan giginya yang tak banyak.


"Bagaimana kalau Mimi, mmh?"


"Mimi?"


"Iya." Pria itu menyentuh tangan gadis kecil itu.


"Mimi!"


Kucing itu berhenti makan dan menoleh.


"Oh, dia suka diberi nama Mimi ya?"


----------+++--------


Arus pelajar yang pulang mulai mereda seiring kelas yang sudah mulai sepi itu. Sejak jam istirahat tadi Tristan tidak terlihat lagi batang hidungnya. Ia seperti hilang di telan bumi.


"Yuk!" Tama menyandang tas ranselnya dan mengajak Mei untuk keluar. Kali ini ia menyetir sendiri mobilnya karena supir yang dari kantor tidak datang untuk mengantar mereka sekolah.


Baru saja mobil mewah Kenzo yang dibawa Tama keluar pagar sekolah, sebuah mobil berwarna hitam menghalanginya di depan. 4 Orang pria bertubuh besar keluar mendatangi mobil Tama.


"Ini siapa lagi?" Tama dibuat bingung karena masih banyak pelajar yang pulang di jam itu.


Mei sudah waspada. "Hati-hati Kak."


"Aku?" Tama menunjuk dirinya. Ia meneliti lagi ke 4 orang itu yang memang menuju ke arah mobilnya. "Me-Me-Mei," ucapnya gugup.


Sebelum sampai ke sisi Mei, gadis itu sudah membuka pintu secara tiba-tiba sehingga menabrak pria di depannya. Pria itu hampir jatuh ke belakang. Mei segera keluar. Ia menghajar pria itu dengan kepalan tangan dan sikutnya. Juga pria di belakangnya.


Karena melihat kecepatan tangan Mei, kedua pria itu berbuat curang dengan menyerang bersamaan. Yang satu menyerang Mei dan sisanya berusaha menangkap tangan gadis itu saat lengah. Mereka berhasil mengunci tangan kanan Mei.


Gadis itu tak kehilangan akal. Ia melepas ikat pinggang yang terbuat dari kulit dengan tangan kirinya dan memukul mereka dengan sekali kibasan. Tangan kanannya terlepas.


Orang-orang yang lewat beserta pelajar yang ada di dekat situ tak percaya melihat pemandangan ini. Seperti ada syuting film laga di sekolah itu, hanya saja tidak ada kru yang bertugas mengambil gambar mereka. Adegannya cukup menegangkan. Tak ada orang yang berani mendekati mereka.


"Mei!"


Dua orang lainnya berhasil menangkap Tama dan menariknya keluar dari mobil.


Saat itu Tristan keluar dari gedung sekolah dan melihat ada kerumunan. Ia mencoba mengecek apa yang terjadi dan terkejut melihat hasilnya. Mei sedang melawan penjahat sendirian.


Gadis itu menaiki kap mobil Tama guna lebih cepat mendatangi Tama. Untung setiap sekolah ia selalu memakai celana training di dalam rok sekolahnya sehingga ia tidak kesulitan bila harus memanjat dan menendang lawan.


Bletarr!


Mei mengibaskan ikat pinggangnya ke arah bahu salah satu penjahat hingga mengaduh kesakitan. Kembali ia melakukannya pada pria yang satunya. "Awas Kak!"


Tama memiringkan kepalanya menjauh.

__ADS_1


Bletarr!


"Aghh!"


Tama terlepas dan menjauh.


"Panggil polisi Kak!" teriak Mei.


Tama langsung melakukan dengan mencari hp-nya di saku celana.


Penjahat yang pertama menyerang Mei, ingin kembali curang dengan menyerang Mei dari belakang. Ia menahan kaki Mei yang masih berada di kap mobil dan temannya mencoba menyerang gadis itu dengan ikut naik ke atas kap mobil. Mei menendangnya jatuh.


2 temannya yang lain ikut geram dengan aksi gadis itu karena membuat Tama lolos. Mereka mencoba menangkap kaki Mei yang satu lagi tapi pecutan dari ikat pinggang gadis itu membuat mereka kembali gagal. Berkali-kali mereka mencoba menangkap kaki Mei dan mencoba menyerangnya tapi tetap gagal walaupun mereka sudah menyerang secara bersamaan. Mei berada di atas angin karena pihak lawan sudah mengaduh kesakitan sambil memegang bahu mereka yang terkena pecutan.


Bantuan kemudian datang dari arah dalam sekolah yaitu dari klub pencak silat yang kebetulan sedang latihan. Tak lama, semua penjahat berhasil dilumpuhkan. Polisi kemudian datang menggiring ke empat penjahat itu.


Di kejauhan Tristan memperhatikan Mei kagum, di antara penuhnya kerumunan siswa, pegawai sekolah dan orang umum yang kebetulan berada di situ. Mulai banyak yang menggosipkan Mei saat itu terutama siswi sekolah di sana.


"Eh, tuh anak kan anak baru kan ya?"


"Iya. Katanya sepupunya."


"Sepupu dari hongkong! Ngak ada mirip-miripnya gitu. Itu mah Bodyguard pribadinya tuh cowok. Siapa namanya? Tama ya, orang Jepang yang suka bolos jam pelajaran itu kan?"


"Dia nongkrong, ngerokok di belakang sekolah. Anak kelas satu."


"Tapi asyik juga punya temen seumuran kita yang ternyata Bodyguard. Bisa gue bawa ke Night Club atau Mal tuh!"


"Yang gak bisalah. Dia kan berjilbab!"


"Bisa aja. Tergantung bayarannya, aku rasa."


"Emang bayarannya berapa?"


Gadis berambut pendek sebahu itu mengangkat bahu. Mereka kembali memperhatikan kerumunan.


Mei, aku semakin kagum padamu. Tak salah hatiku memilihmu, tapi maukah kamu menerimaku juga bila kau tahu identitasku?


Tristan mendatangi mobil Tama. Tama dan Mei baru saja selesai diinterogasi polisi.


"Aduh, Mei. Kap mobil gue rusak. Gimana gue mo ngomong sama Kak Jo nih!" Tama melipat tangannya di belakang kepala, bingung melihat kap mobil mewahnya penyok sedikit di tengah akibat diinjak-injak Mei tadi.


"Terserah ...." jawab Mei santai.


"Uuuh ...."


"Kalau gak sanggup, biar nanti gue yang bayar. Bilang aja bengkel mana yang betulin mobil lo!" Tristan ikut bicara.


"Apa lu bilang?"


Tristan tak peduli. Ia menatap Mei. "Kamu gak apa-apa kan Mei?"


"Oh, aku gak apa-apa kok Tris."


Tristan mengambil tangan gadis itu. Ia melihat buku-buku jari gadis itu mulai membiru. "Ini gimana?"


Tama ikut melihat sebelum dengan segera Mei menarik tangannya.


"Beneran gak papa kok, beneran enggak."


"Aku bawa ke klinik ya?" tawar Tristan.


Mei menyembunyikan tangannya ke belakang punggung dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ngak papa kok Tris, besok juga hilang."


Tama melihat perhatian Tristan hanya pada Mei. Ia kesal menjadi penonton mereka dan mendorong pemuda itu ke samping. "Eh, maaf ya, gue mau pulang. Yuk, Mei!"


Ia memasukkan Mei ke dalam mobil dan dirinya dibagian mengemudi. Ia segera membawa mobil keluar dari daerah itu.


______________________________________________


Tetep semangat walau puasa. Ayo bulan berkah dengan memberi hadiah pada Author, like, komen, vote, hadiah atau koin untukku. Ini visual Kenzo dan Mimi. Salam, Ingflora 💋



Author Lena Laiha menulis cerita tentang pengantin pengganti dengan versi berbeda. Tiba-Tiba Menikah. Kuy kepoin yang kenceng!

__ADS_1



__ADS_2