Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Cinta Pertama


__ADS_3

Tama memasuki sebuah restoran Itali dan segera menemukan Chris. Ia bersama seorang pria keturunan Arab dan seorang gadis cantik berkulit sedikit gelap. Tama segera mengenali pria itu. "Om Alex!"


Pria itu menoleh dan tersenyum pada Tama. "Kamu sudah besar ya sekarang? Om sampai ngak ngenalin kamu. Ini Istrimu?" Tanya pria itu saat Tama sudah berdiri di hadapannya.


"Oh, iya Om. Ini Istriku, Mei." Tama mengenalkan Mei yang mengikutinya di belakang.


"Mei." Gadis itu menjabat tangan Alex.


Alex tersenyum dan beralih pada Tama. Ia menepuk-nepuk lengan pemuda itu. "Om tak menyangka, bocah kecil yang suka mengejar-ngejar Anjali kini telah berubah menjadi pria tampan dan mapan." Ia tertawa.


Chris ikut terkekeh. "Oh, iya. Anjali sampai kesal karena baru kenalan sudah main cium pipinya saja."


Alex kembali tertawa. "O iya, benar." Ia menggerak-gerakkan jari telunjuknya tanda setuju.


"Daddy!" Wajah gadis di samping Alex, bersemu merah.


"Oya, ini Anjali. I bet you didn't recognize her.(aku pastikan kamu juga ngak ngenalin dia)" Alex memperkenalkan gadis yang berada di sampingnya.


"Oh, Anjali?" Tama langsung menyodorkan tangannya pada gadis cantik itu.


Dengan malu-malu gadis itu menjabat tangan Tama.


"Anjali kamu berubah ya?"


"Kenapa? Makin cantik?" Goda Chris pada Tama.


"Papa bisa aja. Oya, istriku, Mei." Tama memperkenalkan Istrinya pada Anjali.


Mereka bersalaman. Anjali dengan malu-malu dan Mei dengan kakunya.


"Ayo, duduk ... duduk. Kita akan membicarakan masalah bisnis sekarang sekaligus bernostalgia," ucap Alex mempersilakan Tama dan Mei duduk.


"Ini restorannya Om Alex lho!" ucap Tama pada Istrinya saat mulai duduk.


"Oh."


"Juga Mal ini."


"Mmh." Mei melirik Alex sekilas.


Pria itu tersenyum.


"Begini, Papa panggil kamu ke sini karena Om Alex mau membuat cabang dari restoran ini, tapi bukan itu saja. Dia juga mau membangun hotel di Jakarta. Selama ini Om Alex kan hotelnya baru di luar kota saja, jadi dia sekarang tertarik untuk buat yang di Jakarta. Kamu bisa bantu dia kan? Ini pure(murni) bisnis kok," terang Chris.


"Oh, boleh. Tinggal ajukan saja ke perusahaan biar nanti aku lihat perencanaannya."


"Om Alex kebetulan bawah desainnya, mungkin kamu mau lihat."


"Oh."


Alex meminta gambar desainnya dari Anjali. Gadis itu mengeluarkan dari sebuah tas panjang berbentuk tube(pipa). "Ini." Ia membuka gulungan kertas di tangannya dan menyodorkannya pada Tama.


Pemuda itu mempelajari gambar itu. "Desainnya bagus Om. Ini restorannya dibuat sama dengan yang ini ya?"


"Iya, ini cabang restoran ini jadi harusnya sama kan?"


"Gak selalu sih Om. Tergantung kita maunya bagaimana. Ukuran restoran juga bisa merubah desain selain dari menghindari suasana yang monoton. Kalau restoran cabang punya desain tersendiri selama masih mengusung tema yang sama malah lebih bagus Om, biar pengunjung gak bosan jadi bisa pindah-pindah tempat. Orang jaman sekarang sangat mementingkan suasana tempat mereka makan. Selain bisa buat berfoto-foto, bisa membuat pengunjung betah berlama-lama."


"Waduh, bicaranya sudah seperti seorang profesional ya? Om sampai-sampai gak sadar sedang bicara sama anak SMA." Alex terkagum-kagum.


"Wah, gak juga Om. Ini saja masih belajar Om sama bawahan. Melihat cara mereka bicara, analisa mereka dan pertimbangan yang mereka sampaikan. Semuanya masih baru buat aku Om." Tama merendah.


"Mmh, menurutmu apa kita bisa kerjasama, sebab Om hanya mau bekerja dengan orang yang Om kenal selain tentunya Om mau titip anak Om."


"Titip?"


"Oh, begini. Desain restoran dan hotel ini dibuat oleh teman Anjali dan Anjali sendiri sekarang masih kuliah di Jurusan Tehnik Sipil. Kebetulan Om akan membuat bangunan restoran dan hotel dan mau melibatkan anak sendiri dalam proyek itu, biar dia bisa magang. Jadi aku menyerahkan proyek ini padamu Tama, tanpa pertimbangan apapun. Aku akan mengeluarkan semua uang yang dibutuhkan. Jadi jangan khawatir. Yang penting aku minta kamu membimbingnya Tama karena anakku belum berpengalaman."

__ADS_1


"Waduh, jangan gitu Om. Cewek secantik ini, nanti khilaf aku Om," canda Tama lagi.


Semua tertawa kecuali Mei. Anjali hanya tersenyum.


"Aku percaya sama kamu, karena kamu diberi perusahaan besar dan kamu mampu menjalankannya. Biar Om jadi pelanggan pertamamu."


"Bisa aja Om ini, tapi tetap aku harus serahkan dulu gambar ini pada stafku di kantor agar bisa direvisi disesuaikan dengan bangunan dan estimasi pembangunan akan kami coba hitung sebab kadang ada desain yang indah tapi tidak bisa di wujudkan sebagai bangunan."


"Oh, itu bener banget Tam." Anjali tiba-tiba ikut bicara. Gadis cantik berambut panjang itu tanpa sadar menjawab ucapan Tama.


"Ya kan?"


"Iya, karena arsitek gak ngerti struktur bangunan jadi orang-orang bangunan biasanya yang betulin lagi desainnya sehingga mudah dibangun."


"Kamu sudah semester berapa?"


"Baru naik semester tiga."


"Oya? Maaf aku cuma anak SMA."


"Tapi pengetahuan kamu luas seperti orang yang sudah kuliah."


"Aku sempat baca buku kuliahan dikasih pinjam Ayah."


"Ayah? Bukannya kamu adanya Papa?" Anjali terlihat heran. Ia sangat kritis dengan pendengarannya.


"Oh, kamu gak tau Anjali. Om Chris ini Ayah Angkat Tama sedang Ayahnya ada lagi," terang Alex.


"Apa? Bukannya Tama tinggal dengan Om Chris?"


"Oh, bukan. Waktu Ibunya sakit, Tama dititipkan pada Om Chris, tapi setelah Ibunya menikah, ia tinggal dengan Ibunya."


"Oh, Ayah Tiri."


Alex hanya tersenyum mendengar keterusterangan Anjali dalam berbicara. Ia bicara mirip dengan Ibunya yang seorang Pengacara keturunan Amerika-India.


"Bagaimana, Tama. Kamu bisa bantu Om kan?"


"Memangnya proyek ini kapan akan dimulai?" Tama menoleh ke arah Alex.


"Secepatnya karena dana sudah siap beserta lahannya. Kalau kamu mau, aku bisa antar sekarang ke tempat lahan yang disediakan untuk itu agar pembangunannya bisa cepat terealisasi."


"Oh, boleh juga."


"Tama, kamu tidak ingin makan dulu?" tanya Chris pada Tama yang mengikuti Alex dan Anjali berdiri.


"Nanti saja Pa." Tama menoleh pada Istrinya. "Yuk, Mei." Ia kemudian berpamitan pada Chris.


Di lahan yang sudah dibebaskan dan ditutup pagar seng, Tama berdiri bersama Alex dan Anjali. Mereka berbicara di sana sambil memikirkan langkah selanjutnya. Pembicaraan mereka terlihat serius hingga sejam kemudian.


Mei hanya menunggu di dalam mobil. Ia menatap Tama yang terlihat antusias bicara dengan Anjali. Ia melihatnya dari balik jendela kaca mobil di keremangan malam dan cahaya dari beberapa lampu gantung sebuah rumah darurat di tepi lahan. Orang-orang cerdas yang bicaranya nyambung. Aku apa ... pikiran itu berlarian di benaknya.


Tak berapa lama mereka berpisah. Tama kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. "Ayo kita pulang."


Dalam perjalanan pulang, Tama menatap Mei dengan wajah letih. "Maaf, aku gak mau ke mana-mana, gak papa kan?"


"Oh, ya udah."


"Tapi aku lapar."


"Mau berhenti makan di restoran?"


"Gak ah."


"Terus?"


"Kamu mau gak masakin aku?"

__ADS_1


"Apa?"


"Apa aja."


"Telur mata sapi mau?"


"Iya."


Setelah sampai di rumah, Mei langsung pergi ke dapur. kedatangannya ke sana cukup mengejutkan pembantu di rumah itu karena baru kali itu, Mei mendatangi dapur dan mereka semua takut, kalau-kalau ada hal penting yang harus dibicarakan. Saat Mei memasak, barulah mereka merasa lega.


"Mau dibantuin Mbak?" tanya salah satu pembantu di dapur.


"Oh, gak usah. Ini pesanan suami saya." Mei kemudian mengambilkan nasi di piring dan meletakkan telur mata sapi yang telah ia goreng di atasnya. Segera ia meletakkannya di atas meja makan.


Mei menunggu di sana. Tak lama Tama turun dari lantai 2 dengan telah berganti baju. Setelah duduk ia segera menyantap masakan Istrinya.


"Aku ke atas dulu ya?" Mei meminta izin.


"Eh, jangan. Temani aku dulu makan. Kamu tidak makan?"


"Aku masih kenyang." Mei menunggui Tama.


Ternyata pemuda itu makan dengan lahapnya. Ia ingin nambah tapi telurnya sudah habis.


"Mau dibikinin lagi?"


"Mmh, gak usah. Aku mau tidur saja."


Keduanya kemudian naik ke lantai 2. Mei langsung ke kamar mandi sedang Tama ke tempat tidur. Setelah mandi, Mei mendapati suaminya telah tertidur pulas.


Ia mendatangi tempat tidur dan berbaring di samping Tama. Sejauh ini Tama tidak pernah melanggar janjinya untuk tidak menyentuhnya. Bahkan saat ia mulai lupa untuk mengikat dirinya di tempat tidur, ia hanya tidur saja tanpa berkeinginan melakukan yang lainnya.


Kini Mei yang malah gemas melihat wajah Tama yang tidur dengan polosnya. Wajahnya itu bikin Mei ingin mengigit pipinya. Hah!


Di tempat lain, Kenzo sedang kebingungan membujuk Runi sebab sudah larut malam gadis kecil itu masih saja ingin di temani main masak-masakan di kamarnya.


"Sudah Runi, di pangku yuk sama Papa?" Kenzo merentangkan tangannya.


Runi yang sibuk dengan mainan panci dan piring segera menyendoki piring dan menyuapkan pada Kenzo. "Aaaa ...."


Kenzo terpaksa menurut. Ia membuka mulutnya dan Runi menyuapkan sendok kosong ke mulut pria itu.


"Good(bagus)," ucap Runi yang membuat Kenzo tertawa.


"Ayo Runi Sayang. Mau tidur sama Papa gak? Kalo enggak, Papa tidur sama Bunda nih!" goda Kenzo.


"Enggg ...." Runi langsung merengut.


"Ayo, kalau mau tidur sama Papa, sekarang!" Kenzo kembali merentangkan tangannya.


Runi mendekati Kenzo yang duduk di lantai dengan melipat kaki. Gadis itu masuk dalam pelukan pria Jepang itu.


"Nah, ayo sekarang kita tidur." Kenzo membawa Runi ke tempat tidur. Mereka merebahkan diri sambil berpelukan.


Kenzo mengumamkan lagu-lagu yang membuat Runi mengantuk. Gadis itu sudah diam tak bergerak. Dengan usapan di punggungnya membuat mata gadis kecil itu pelan-pelan terpejam.


Kenzo tersenyum lebar. Usahanya untuk membuat gadis itu tertidur akhirnya berhasil juga. Tinggal ia berharap Leka tidak lekas tidur karena pertempurannya baru akan di mulai.


---------+++--------


Kita tidak tahu ke mana arah angin akan bertiup. Begitu juga sebuah hubungan. Tama yang tadinya berniat untuk mengurangi waktu pergi ke kantornya terpaksa harus ditunda karena proyek pembangunan yang di tawarkan Alex yang harus segera diwujudkan.


Mei melihat keakraban Tama dan Anjali yang kian hari kian dekat karena pekerjaan. Mereka saling mengisi mengingat Anjali adalah mahasiswa Tehnik Sipil tempat Tama menggali ilmu dan Tama juga tempat Anjali berkeluh kesah tentang keluarganya. Kadang Mei cemburu dengan keakraban keduanya, tapi ia hanya mampu melihat saja.


____________________________________________


Author Lichalika mengusung tema anak sekolahan. Murid yang jatuh cinta pada gurunya dengan judul Bu Guru, Aku Padamu. Cus kepoin yuk!

__ADS_1



__ADS_2