
Makan malam berjalan lancar. Walaupun Mei banyak diam, ia bisa merasakan keramahan keluarga Tama padanya. Di sela derai tawa, dan percakapan akrab di antara anggota keluarga, terlihat sekali keakraban mereka bertiga. Mei yang anak tunggal senang sekali bisa berkenalan dengan Aiko yang ramai seramai Tama dan juga Leka yang sangat keibuan dan ramah, seolah menghangat rasa di dada saat merindukan rumah ketika masih bersama orang tuanya.
Apa kabarmu Ayah? Semoga Ayah cepat sembuh dan pulang ke rumah, doa Mei dalam hati.
---------+++----------
"Tama."
Tama memutar tubuhnya mencari-cari. Itu kan suara Ayah. "Ayah! Ayah kau di mana?"
Dilihatnya sesosok pria yang dia kenal di kejauhan sedang duduk di pinggir jalan. Mata pemuda itu mulai berkaca-kaca. "Ayah!!" Ia berlari ke arah orang itu berada. Saat ia berdiri di hadapan orang itu, pria itu langsung berdiri menghadapnya. Tama langsung memeluknya.
"Ayah ...." Hatinya seketika teduh. Kerinduannya membuat air matanya tak berhenti menangis. "Ayah, kamu dari mana saja. Aku sangat merindukanmu."
Arya hanya diam dan mengusap pucuk kepala Tama.
"Ayah, di rumah sangat kacau. Tak ada Ayah aku ngak tau harus gimana." Tama melonggarkan pelukan dan menatap wajah Arya. "Ayah aku gak tahu bagaimana menjalankan perusahaan Kakek. Aku masih sekolah Yah."
Arya tersenyum dan kembali memeluk Tama. "Sabar ya? Ini hanya sementara. Kerjakan saja yang kau bisa. Kamu pasti bisa kok."
"Tapi Yah ...." Tama mendongakkan kepalanya. seketika Arya menghilang. Ia hanya memeluk angin. Ia mencari ke sekeliling tapi tak ada seorangpun di sana. Hanya ada tanah lapang luas yang dipenuhi oleh pepohonan. Tama ketakutan. "Ayah? Ayah ... Ayah!!!" teriaknya.
Tiba-tiba ia terduduk di atas tempat tidurnya. Ia sadar ia telah terbangun dari mimpi. "Ayah ... ayah." Ia mulai menangis.
Terdengar pintu diketuk. Mei yang sedang asyik memeriksa hp barunya, mengalihkan pandangan ke arah pintu. Apa dia lagi ya? Pasti dia! Sudah yang ke berapa kalinya ia diganggu hari ini. Hah ... Setelah memakai lagi jilbab instannya, ia bangkit mendekati pintu dengan malas dan membukanya. "Apa Kak?"
Tanpa basa-basi Tama menarik tangannya keluar kamar. "Ikut aku."
"Eh, Kak ...."
Tama membawa Mei menuruni tangga dan pergi keluar rumah. Ia mendatangi motornya. "Ini." Ia memberikan helm ektra dan menaiki motornya.
"Kita mau ke mana Kak malam-malam begini." Mei memakai helmnya.
"Sudah naik saja!" perintah Tama.
Mei menurut. Gadis itu baru kali itu melihat Tama begitu serius sehingga ia hanya diam dan melakukan apa yang pemuda itu minta. Pintu dibuka oleh seorang satpam dan motor pun melesat keluar dengan sedikit kencang.
Angin dingin malam ikut mengibarkan baju piyama Mei yang hanya terbuat dari bahan kaos. Ia tidak tahu ke mana mereka akan pergi karena sepertinya sesuatu terjadi pada Tama terlihat dari sikapnya yang berubah serius, tidak seperti biasanya.
Gadis itu sedikit heran saat motor itu akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang luas. Tama parkir di pinggiran taman dan melepas helmnya. Begitu juga Mei. Pemuda itu membawanya masuk ke dalam taman.
Di sebuah lapangan kecil dia berhenti dan duduk di tepian. Mei mengikuti. "Kita mau apa Kak, ke sini?"
__ADS_1
"Oh." Tama seperti tersadar. Ia sedari tadi memang tidak bicara karena pikirannya kembali kalut. Ia mengeluarkan dompetnya. "Tolong belikan aku air mineral satu. Kamu juga, kalau mau." Ia menyodorkan uang berwarna biru.
Rasanya, yang jualan minuman ada di samping taman deh. "Iya Kak." Mei pun melangkah keluar taman.
Setelah membeli minuman, Mei segera kembali. Di tengah jalan,
"Mei! Mei!!"
Itu kan suara Kak Tama? Gadis itu segera berlari ke tempat Tama berada. Di sana pemuda itu tengah dikelilingi oleh 2 orang preman dan salah satunya sedang memegangi tangan pemuda itu.
"Ketakutan manggil nama cewek? Itu nama Jin penunggu taman ini?" Kedua preman itu tertawa.
"Kalo iya gimana?" Mei yang keluar dari balik semak tinggi, langsung menendang wajahnya saat pria itu menoleh. Kemudian ia meraih lengan Tama untuk tumpuan menendang preman berikutnya.
Kedua pria itu terkapar di tanah, tapi mereka tak mau mengalah. kembali mereka berdiri. Mereka tak menyangka telah dikalahkan oleh seorang wanita. Kali ini mereka mencoba mengeroyok.
Mei mengikat rapat bungkusan plastik berisi air mineral itu dan menghadapi kedua pria itu. Tama mencoba menepi.
Kedua pria itu menyerang bersamaan, tapi Mei punya gerakan tangan cepat yang sempat menipu lawan menggunakan bungkusan plastik itu. Beberapa kali preman itu ingin menghajar Mei tetapi yang di temuinya selalu tempat kosong. Mei pun beberapa kali sempat menghajar mereka dengan kakinya.
Salah satu dari mereka mengeluarkan pisau. Tama terlihat khawatir.
"Mei!"
Gadis itu mengangkat jari telunjuknya ke dekat mulutnya tanpa suara. Ia meminta Tama untuk diam. Saat pria itu menyerang Mei dengan pisaunya, Mei menyodorkan bungkusan plastik berisi air mineral itu. Tentu saja, air menyembur keluar dari bungkusan itu menyiprati tubuh pria itu. Preman itu kerepotan dengan air yang terus mengguyur dirinya sehingga pisau terlepas dari tangan preman itu dan pisau itu di ambil alih Mei.
Kedua preman itu saling berpandangan. Mereka kemudian lari kocar-kacir ke arah berlawanan demi menyelamatkan diri.
"Makasih Mei ...," ucap Tama lirih.
"Lagian kenapa Kakak ...," ucapan gadis itu terhenti saat melihat wajah Tama yang sedikit sembab dan ada sisa-sisa air mata di pipinya. "Kakak nangis?"
Tama segera menghapus air matanya dengan kasar.
"Gara-gara preman tadi?"
"Ha? Ngak." Masih terdengar suara pemuda itu yang parau. Hidungnya sepertinya mulai tersumbat.
Pemuda itu kembali ke tempat ia duduk tadi. "Aku hanya ingin menangis di sini." Ia kembali menitikkan air mata.
"Tapi kan Kakak bisa menangis di rumah kenapa harus nangis di sini? Di tempat ini kan malah berbahaya karena ada preman seperti tadi." Mei mendekat dan duduk di sampingnya.
"Maaf aku merepotkanmu, tapi aku malu menangis di rumah. Apalagi adikku pasti akan meledekku karena cowok seharusnya gak boleh nangis. Dia akan bilang aku cengeng." Ia kembali menangis. "Aku cowok tapi aku gak setegar itu. Aku tahu tempat ini ada premannya makanya aku bawa kamu tapi hanya tempat ini saja yang bisa memberi ketenangan dan membuat aku bisa bernapas saat mengingat Ayah." Isaknya.
__ADS_1
"Memangnya ayahmu ke mana? Maaf, apa sudah meninggal?" tanya Mei lagi.
"Apa kau tidak tahu tentang suami istri pengusaha yang pesawatnya jatuh di Jepang? Mereka itu orang tuaku."
"Oh, itu orang tuamu?" Mei sambil mengingat-ingat. "Lalu, bagaimana kabarnya?"
"Aku tidak tahu tapi kami sudah pasrah dan Kakakku sedang di sana berharap mendapatkan jenazahnya agar bisa dikebumikan di Indonesia. Saat ini, perusahaan Kakekku juga sedang bermasalah karena Omku tiba-tiba kena stroke dan aku satu-satunya anak laki-laki yang sudah dewasa yang ada di dalam keluarga besarku itu yang sekarang jadi harapan. Jadi aku terpaksa mengambil alih perusahaan Om dan Ayah yang memang membutuhkan seorang pemimpin segera, tapi ... aku masih berduka dan hanya seorang anak SMA, apa aku mampu melewati ini semua? Rasanya tidak mungkin ...." Tama mendesah panjang menatap langit. Entah kenapa pada Mei ia bisa mengeluarkan seluruh kegundahan dan resah di dada. Sekarang perasaannya sedikit ringan.
"Tuhan tidak pernah menguji umatnya melebihi kemampuannya. Kalau tuhan mengujimu, berarti kamu bisa. Jalankan saja tanpa harus berpikir. Berdoa saja agar tuhan bisa membantumu melewatinya."
"Mmh." Air mata Tama kembali deras. "Tempat ini mengingatkanku pada Ayah. Ini tempat kami berolah raga dan bercanda setiap hari Minggu."
Mei iba dan merapat. Ia menghapus air mata Tama pelan. Pemuda itu senang. Ia merengkuh Mei dari samping dan menyandarkan kepalanya di punggung gadis itu.
"Eh, Kak!"
"Sebentar saja. Aku hanya butuh sandaran agar tenang."
Terpaksa Mei mendiamkannya. Isaknya pun sudah tak lagi terdengar. Tak lama Tama mengangkat kepalanya dengan mengusap wajahnya ke punggung Mei.
"Eh, ada ingusku di punggungmu."
"Kakak ...."
Kini mereka berkejar-kejaran karena keisengan Tama.
---------+++--------
Aska masuk ke dalam kamarnya dengan ragu-ragu. Istrinya telah menunggu di tempat tidur dengan pakaian tidur yang sangat menggoda. Tipis dan seksi. Aska salah tingkah. Ia bukan takut tergoda tapi ia malah memikirkan bagaimana kalau Leka yang memakainya. Ia takut bagian bawah tubuhnya itu meronta-ronta padahal kenyataannya bukan wanita itu yang sekarang berada di kamarnya tapi wanita lain. Wanita yang tidak ia inginkan hadir dalam hidupnya. Entah kenapa ia merasa tanpa ia sadari, Monique itu selalu ada dalam setiap lembar hidupnya. Masa lalu dan sekarang. Seakan-akan wanita itu membuntutinya.
Monique memang menyukainya, tapi tak pernah secara khusus berusaha untuk mendapatkannya karena wanita itu tahu, Aska selalu berbicara kasar padanya setiap kali diajak bicara. Namun entah kenapa takdir membuat mereka sering bertemu. Sejak SMP sudah satu kelas, Monique pun sahabat saudara kembarnya Salwa, kemudian saat belajar berbisnis bersama Chris, Papanya, kembali mereka dipertemukan. Rasanya dunia ini sempit sekali setiap bertemu wanita itu, apalagi terakhir pria itu mabuk pun masih bertemu wanita ini hingga berakhir dengan tragedi yang menyebabkan mereka menikah. Apa salahku hingga harus bertemu dengan perempuan ini berkali-kali?
Aska berdehem. "Aku sedikit kurang enak badan. Aku ingin cepat tidur ya?" Ia kembali berdehem beberapa kali sambil memegangi tenggorokannya.
"Oh, Sayang. Kamu kenapa?" Monique keluar dari selimutnya dan melangkah dengan lututnya di atas tempat tidur. Lekuk tubuhnya yang seksi dan padat berisi di dalam pakaian tidurnya itu kini terpampang jelas di depan mata Aska. Pria itu tak bisa lagi menghindari padangan matanya itu karena itu akan semakin membuat wanita itu curiga.
"Tidak apa-apa Sayang, mungkin aku hanya butuh istirahat." Aska segera masuk ke dalam selimut. Ia langsung memunggungi istrinya itu.
"Mau flu ya? Aku ambilkan obat dulu ya?" Monique segera turun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. "Ijah ... di mana kamu simpan obat flunya!" teriaknya.
Huh, obat flu saja, dia tidak tahu menyimpannya di mana ....
_____________________________________________
__ADS_1
Halo. Author alhamdulilah masih semangat menulisnya. Jangan lupa titipan author ya, like, komen, vote, dan hadiah atau koin. Ini visual Monique Le Blanc keturunan Indonesia-Prancis istri Aska. Salam, ingflora 💋