
Ibu Mei yang duduk di salah satu kursi di meja luar restoran, memandang ke sekeliling. Suasana yang minimalis nan modern terasa sekali hingga ke luar. Tempatnya juga bersih lagi teduh. Udara tidak sepanas tadi siang membuatnya nyaman berlama-lama di sana.
"Ibu, ini minumnya." Mei membawakan baki berisi segelas teh manis hangat. Ia meletakkan di atas meja.
"Kau bekerja di sini juga?" Wanita itu menghirup minumannya.
"Ngak, Bu. Aku kerja di kantor. Di sini, kalau mampir aja, bantu-bantu." Mei duduk di sampingnya.
"Mmh, selain ini dia punya apa lagi?"
Mei mengerut dahi. "Ibu ...."
"Memangnya kamu tidak tahu? Kan dia sudah ...."
"Ibu ... lamaran itu cuma untuk menutupi pekerjaanku Bu. Gara-gara Ibu dia jadi berbohong."
"Lho kok gara-gara Ibu? Bukankah dia yang minta kamu jadi Bodyguard-nya?"
"Iya, tapi kalau Ibu gak mengiyakan, gak begini jadinya." Mei kesal, Ibunya terdengar seperti mengincar harta Tama padahal ia hanya dipekerjakan sebagai Bodyguard, tidak lebih.
"Mei, Ayahmu sudah menggores mobilnya dan mobil mewah seperti itu untuk memperbaikinya butuh uang yang tidak sedikit. Kita gak mampu bayarnya, Mei."
Mei menghela napas. Memang saat itu mereka ada di pilihan yang sulit. Menolaknya berarti harus membayar perbaikan mobil, mengaminkannya membuat Mei makin berada di posisi yang rumit. Mereka harus berbohong pada Ayahnya yang sedang sakit.
Memang pekerjaannya sebagai Bodyguard membantu perekonomian keluarganya sekarang ini terutama karena bisa membayar biaya rumah sakit, tapi yang ditakutkan adalah bila Ayahnya keluar dari rumah sakit, karena ia takut pekerjaannya menjadi Bodyguard terbongkar dan ini akan menjadi masalah yang panjang dan melelahkan.
Mobil Tama datang dan parkir di depan restoran. Pemuda itu turun dan mendatangi meja mereka. "Maaf ya, lama."
"Oh, tidak apa-apa Nak."
Tama mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya, dan memberikan pada Ibu Mei.
"Terima kasih ya Nak. Maaf Ibu sudah minta lagi."
"Oh tidak apa-apa Bu. Oya, Ibu sudah makan? Ibu mau makan apa, tinggal pesan saja." Tama menawarkan.
"Ibu sudah pesan untuk di bawa pulang saja."
"Oh, gak papa. Silahkan."
Seorang pelayan membawakan sebuah bungkusan dan meletakkannya di atas meja. Pelayan itu kemudian pergi.
"Ok, hanya itu saja?"
"Eh, iya Nak," jawab ibu Mei malu-malu.
"Ok, mau kuantar Bu? Kebetulan kita juga mau keluar."
"Oh, begitu. Kalau begitu, boleh deh."
Mereka bertiga kemudian kembali naik ke mobil Tama. Pemuda itu mengantarkan Ibu Mei kembali ke rumah sakit. Mei memeluk Ibunya sebelum wanita itu keluar. Ia membalas lambaian tangan Ibunya saat mobil itu beranjak pergi.
Mei dan Tama diam untuk sesaat, tapi kemudian Mei memulainya.
"Mau ke mana Kak?"
"Mal. Aku capek belajar. Aku mau cuci mata sebentar."
Namun kemudian mobil menepi di pinggir jalan.
"Kakak mau apa?" tanya Mei terkejut. Tidak ada tempat yang layak dikunjungi di tempat itu karena mereka parkir di hamparan tanah kosong.
"Mau bicara sama kamu."
"Mmh?"
"Kamu jadian sama Tristan?"
__ADS_1
Pertanyaan apa ini? "Kakak kenapa?"
"Aku serius Mei."
Sorot mata pemuda itu juga mengatakan hal yang sama. Ada apa dengannya?
"Aku kan gak mungkin jadian sama dia Kak. Aku kan masih sekolah."
Tama menatap wajah gadis itu dalam, memastikan Mei tak berbohong padanya.
"Bener Kak, kenapa sih?"
"Kok kamu bisa keluar sama Tristan, tadi pagi?"
"Oh, itu kebetulan aja Kak. Pas habis sholat Subuh, dia nelepon aku, ngajak keluar. Aku bilang aku mau jogging, terus dia mau nemenin. Ya udah ...."
"Kenapa gak ngajak aku?"
"Aduh, Kak ... Di sekolah aku tuh cuma punya temen 2. Ida dan Tristan. Ya aku iyain ajalah kalau dia ngajak pergi. Lagian kalau aku pergi sama Kak, serasa nugas. Pekerjaan gitu Kak. Maaf, tapi gak rilek aja."
Bola mata Tama bergerak ke arah lain. "Gitu ya?"
"Iya."
"Walaupun ke Mal?"
"Iya. Aku kan harus jagain Kakak."
Iya juga sih, kata-katanya masuk akal, tapi apa Tristan juga menganggapnya demikian? Kan bukannya kemarin Tristan membawakannya coklat dan bunga mawar? Dia pasti gak akan berhenti sampai di situ aja, dia pasti mencoba untuk mendekati Mei lagi, dengan berbagai cara. Sayangnya Mei hanya punya teman dua itu sih! Kalau menyingkirkan Tristan, kasihan juga. Dia nanti gak punya teman. Lebih baik biarkan saja Tristan berteman dengan Mei, yang penting waspada.
"Memang kalau hari libur begini, kamu ngerasa kerja?" Tama menyandarkan punggungnya menghadap ke depan.
"Bukan harinya tapi dengan siapa."
Tama melirik Mei. "Mmh, padahal aku inginnya tuh kalau lagi istirahat, kamu juga istirahat sama denganku." Ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan memeluk stir. "Bagaimana caranya ya?"
"Oh, gitu. Mmh ...." Tama berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kita lihat Kebun Binatang?"
"Kebun Binatang?"
"Iya. Kamu belum pernah kan? Aku juga belum."
"Kakak juga belum?"
"Ayo Mei kita pergi ke sana saja. Aku cek dulu alamatnya." Tama bersemangat. Ia membuka hp-nya.
Mei tersenyum senang.
Ternyata Kebun Binatang adalah tempat yang menyenangkan untuk mereka berdua. Selain mereka belum pernah ke sana, mereka terhibur dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat berbagai macam binatang di sana. Banyak hal yang mereka lakukan di sana dari memberi makan binatang, melihat atraksi binatang seperti burung dan singa laut, dan juga berfoto bersama binatang favorit di sana. Mei dan Tama sangat menikmati jalan-jalan mereka, bahkan gadis itu terlihat takjub dengan berbagai macam binatang yang dilihatnya. Terakhir mereka pergi ke toko suvenir melihat barang-barang yang dijual di sana.
"Mei, kamu mau beli apa? Kaos, boneka atau yang lainnya?"
"Gak usah Kak. Aku udah diajak ke sini aja udah seneng," jawab Mei merendah. Ia terus teringat bahwa ia belum bekerja lama tapi orang tuanya sudah banyak meminta uang pada Tama. Ia berusaha menempatkan dirinya pada tempatnya, tahu diri.
Tama melihat-lihat barang yang ada. Ada hiasan gantungan kunci yang sekilas langsung menarik hati karena berwarna biru. Itu mengingatkan dengan pertemuan pertamanya dengan Mei. Karena tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, Tama mengambil apa saja yang bisa di raihnya dari tubuh sang penyelamat waktu itu dan itu adalah hiasan gantungan kunci milik Mei yang ia rusak demi menemukan gadis itu kembali.
Tama mendekati hiasan gantungan kunci itu dan mendapati itu adalah miniatur boneka lumba-lumba. Ia juga menambahkan gelas mug bergambar lumba-lumba dan bonekanya. Ia kemudian membayarnya. "Ini Mei, untuk kamu."
"Mmh?" Mei menerimanya. "Apa ini?"
"Lumba-lumba. Kalau di laut katanya lumba-lumba suka mengiringi kapal merapat atau menjauh."
"Oh." Mei mengintip isinya. "Hubungannya denganku apa?"
"Mirip pekerjaanmu kan?"
Mei tersenyum simpul. "Ada aja Kakak."
__ADS_1
Aku suka senyummu Mei. Rasanya lelahku terbayarkan melihat kamu tersenyum seharian ini. Terus tersenyum ya Mei, aku akan membawamu ke tempat-tempat yang kamu suka asal kamu mau tersenyum terus padaku.
"Ayo, kita makan dulu sebelum pulang. Sudah mulai gelap." Tama menarik tangan gadis itu keluar toko. "Kita makan di ... sana aja." Ia menemukan sebuah restoran dekat situ dan melangkah bersama ke sana.
---------+++-----------
Tama keluar dari mobil setelah memarkirnya di halaman rumah Kenzo. Ia dan Mei masuk ke dalam rumah setelah pintu utama di buka.
"Halo Tama."
Tama terperangah. "Ayah!" Ia langsung memeluknya erat. "Ayah kenapa sih bikin geger rumah!"
Arya mengusap punggung Tama pelan. Ia kemudian menyadari keberadaan Mei. "Kamu pasti Mei ya, Bodyguard Tama." Ia menyodorkan tangannya.
Tama melepas pelukan dan membiarkan Mei bersalaman dengan Arya. Gadis itu sedikit menundukkan kepala saat menjabat tangan Arya. Pria itu memindai tubuh gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kesan pertama, gadis yang sederhana.
"Ayah lagi ngobrol di ruang makan. Ayo ke sana."
"Iya, Yah."
"Oh, iya. Kamu juga Mei."
"Eh, aku?" Mei terlihat bingung. Ia melirik Tama yang juga terlihat tanpa penjelasan. "I-iya."
Mereka berdua mengikuti Arya melangkah ke meja makan. Tama sedikit gusar dengan apa yang akan dibicarakan mengingat Ayahnya melibatkan Mei dalam pertemuan. Pasti Kenzo telah menceritakan tentang Mei pada Arya tapi tentang apa yang diceritakannya, itulah yang ia tidak tahu.
Mengelilingi meja makan ada Kenzo, istrinya dan Runi, juga Aiko dan Mariko. Mereka yang sibuk mengobrol, langsung berhenti dan menatap ke arah Tama, Mei dan Arya yang datang menyambangi meja makan. Mariko berdiri menyambut Tama.
"Mama!"
Mereka berpelukan.
"Mama ...." Tama mengangkat kepalanya menatap ibunya. Matanya sudah menggenang dan mulai menetes. "Mama, aku pikir udah gak bisa ketemu Mama lagi." Isaknya.
Mariko tersenyum dan mengusap punggungnya.
Arya mengetuk bahu Tama. "Hei! Kamu gak malu apa? Banyak perempuan di sini, kamu malah cengeng. Paling enggak, malu sama Mei kek!"
"Ayah!" Tama kesal karena momen bahagia dengan ibunya dipatahkan Arya.
Semua tertawa, tak terkecuali Mei. Ia menahan tawanya dengan menutup mulut.
Mereka kemudian bersama-sama duduk mengelilingi meja.
"Aku dengar kamu mengurus perusahaan Kakek setelah ditinggalkan Om Hadi ya?" Arya melirik Tama yang duduk disampingnya.
Tama menelan ludahnya dan melirik Kenzo yang hanya tersenyum padanya. Pasti Kak Jo menceritakan yang baik-baiknya saja kan? Keringat dingin mengalir di dahi Tama. Ia sangat mengenal Ayah yang seperti Joker baginya. Apapun yang diceritakan padanya, jawabannya bisa di luar ekspektasi. Bisa mendukung atau menjatuhkan lawan bicaranya. Itulah yang ditakutkan anak-anaknya saat bicara serius padanya, tapi di luar itu ia adalah Ayah yang penyayang. "Eh, iya Yah."
"Bagaimana cara kamu menjalankannya?"
Untung saja Kenzo mengajarkannya tadi pagi bagaimana cara me-manage sebuah perusahaan yang tips-tipsnya akan coba ia terapkan pada perusahaan milik Kakeknya itu. Tips itu sangat berguna juga ternyata untuk menjawab pertanyaan dari Ayahnya. Ia berusaha menerangkan pada Ayahnya secara ringkas. Arya mengangguk-angguk mendengarkan keterangan Tama.
"Sepertinya kamu mulai bisa mengurus sebuah perusahaan. Apa Kak Jo yang mengajarimu?"
"Eh, iya." Ayah pasti tahu ini. Ah! "Tentu dong, kan ada Kak Jo di rumah yang bantu aku mengajari," Keringat Tama masih belum usai.
"Mmh ... Ayah juga tidak mau mengurus perusahaan itu. Lebih baik Ayah mengurus perusahaan sendiri yang untungnya masih sempat diperiksa Kakakmu Jo."
"Iya Yah, biar Tama saja yang memgurus perusahaan itu. Tama bisa kok Yah!" Tama mulai lega.
"Tapi Ayah kurang setuju kamu mengurus perusahaan itu. Tinggalkan saja, sekolah yang penting karena perusahaan ini butuh perhatian penuh seorang pemimpin yang profesional di bidangnya."
____________________________________________
Author Hesti Rofiah membuat tema cinta dalam diam dalam novel Cinta Untuk Arista. Cekidot!
__ADS_1