Junior CEO And Bodyguard Mei

Junior CEO And Bodyguard Mei
Terikat


__ADS_3

Leka dan Kenzo mengajak yang hadir untuk sarapan. Di samping, di atas meja makan, telah tersedia aneka makanan sarapan yang bisa dipilih sesuai keinginan. Pasangan Rojak-Salwa dan Aska-Monique mencoba lebih dulu.


Kenzo dan Leka melihat heran pada Aska yang sangat melindungi Istrinya. Pria itu mengambilkan Istrinya sarapan.


Lain lagi dengan pasangan Rojak dan Salwa yang tidak terlihat seperti orang sedang berpacaran. Mereka terlihat seperti 2 orang profesional muda yang merupakan kawan dekat. Hubungan keduanya juga saling dukung dengan karir mereka masing-masing.


Di tempat lain, Aiko membujuk Zack sarapan sementara pemuda itu sibuk dengan ponakannya Runi dan Mimi kucingnya.


Para orang tua sibuk berkumpul dan mengobrol bersama. Ayah Mei sangat bersyukur bisa berkenalan dengan Arya dan Chris. Ayah Tiri dan Papa Angkat Tama sangat ramah padanya. Ibu Mei juga sama. Mengobrol dengan Reina dan Mariko membuatnya mengerti peran penting wanita di jaman sekarang.


Ditinggal berdua, Tama bingung harus bagaimana.


Mei melihat Pak Penghulu yang sudah lebih dulu mengambil sarapannya. "Tam, kamu laper gak?"


"Udah kenyang lihat kamu."


"Ih, apaan sih!" Mei mencubit pinggang Tama.


"Eh, aduuh ... aduuh ...." Tama kesakitan.


"Eh, kenapa?" Mei bingung karena Tama terlihat benar-benar kesakitan.


"Ngak papa."


"Eh, kemarin itu ya?" Mei mulai mengingat kejadian kemarin.


"Ngak papa."


"Maaf ...." Mei menyentuh tangan Suaminya.


"Ngak papa Mei."


"Maaf ya? Sakit gak?" Mei mendekatkan wajahnya dengan manja melewati bahu pemuda itu dari samping.


Saat itu jantung Tama berdetak kencang. Ia menelan salivanya karena menginginkan sesuatu. Aduh, gawat nih kalo deket-deket begini, lama-lama gue gak bisa pegang janji. Lagian dienye juga sih gak sadar diri, main gaya manja-manja gitu. Gue kan laki-laki, kalo gue kilaf ntar die marah lagi ma gue. Bonyok gue. "Udah Mei, gak papa." Ia mengangkat tangannya, menghindar.


"Trus, kamu mau sarapan gak?"


"Ya udah, iya."


Tama baru akan berdiri ketika Mei menahannya.


"Aku ambilin Tam. Mau apa?"


"Oh, aku gak tau. Apa aja."


Mei berdiri dan melangkah ke meja makan. Saat ia kembali, Tama sedang bicara dengan Kakak Angkatnya, Aska.


"Oh, makasih Kak." Tama menerima amplop dari Aska.


Pria itu melirik Mei. "Semoga sakinah, mawadah, warohmah."


"Terima kasih Kak."


Walau setengah hati, Aska harus mengakui dunia ini tidak selalu bisa berjalan seperti keinginannya.


Seperti saat ia terlambat jatuh cinta pada mantan Istrinya, menghamili orang yang salah, bahkan adiknya pun akan menikah dengan pria yang tidak ia sukai.


Mei juga bukan pilihan yang buruk, karena Tama di umurnya yang masih sangat muda memilih mempercepat pernikahannya setelah bertemu gadis itu dan perlahan Salwa dan Rojak bersatu.


Pilihan itu memang tidak bisa ia mengerti tapi ia kini coba pahami seperti tuhan memberikan Monique padanya yang ia coba syukuri.


Belajar mengikhlaskan pilihan-pilihan yang orang lain suka, lebih membuat ia merasa tenang sekarang. Lebih bahagia. Seperti ia yang sedang berjuang menghargai pilihan yang tuhan berikan padanya. Monique dan calon bayinya.


Salwa juga mendatangi Mei dengan sebuah kado di tangan. "Semoga bahagia selalu."


"Terima kasih." Wajah Mei berseri.


Setelah mengobrol sebentar, satu persatu mereka pulang.


Aiko yang ingin main ke rumah Zack karena telah ikut libur, dicubit Arya. Chris hanya tertawa.

__ADS_1


"Hei! Sebentar lagi Jum'atan, kamu mau main sampai kapan?"


"Sebentar aja Yah!"


"Gak ada sebentar-sebentar. Main sama cewek kek, nih kamu malah main sama cowok."


"Kan aku tomboy Yah!"


"Gak percaya Ayah!"


Aiko mengerucutkan mulutnya. Chris makin tergelak.


Ayah dan Ibu Mei berpamitan pada kedua pengantin baru. Mei dan Tama mengantar orang tua Mei sampai ke pintu. Arya mengantar kedua orang tua Mei dan Pak Penghulu pulang dengan mobilnya.


Mei mencoba membantu Leka, tapi wanita itu menolaknya.


"Eh, pengantin baru berdua dulu aja."


"Ya ngak begitu Mbak." Mei melirik Tama dengan sedikit malu-malu. Gadis itu sepertinya terbawa suasana pernikahan sehingga ia sedikit berubah.


"Gak papa, di sini sudah ada yang mengurus." Leka hanya memperhatikan saja para pembantunya merapikan karpet dan memindahkan prabot.


Kenzo melingkarkan tangannya di leher Tama. "Kamu mau diajarin apa lagi?"


"Eh, e-enggak kok!" Tama gugup sambil menepis tangan Kenzo dan melirik Mei.


Gadis itu bersama Leka menatapnya.


"Kakak ada-ada aja nih!" Pemuda itu segera menarik Mei ke lantai atas. "Yuk Mei."


"Eh, lho?"


Kenzo dan Leka saling beradu pandang.


"Aku kan cuma membantunya," lanjut Kenzo lagi.


Leka hanya mengangkat bahu.


Di lantai 2 Tama malah kebingungan. "Eh, kamu seharusnya ee ...." Ia hampir membawa Mei ke kamar lamanya. "Eh, kamu harus masuk ke kamarku kan ya?" Ia menunjuk kamarnya sendiri. Sambil menoleh kiri dan kanan, ia memasukkan Mei ke kamarnya.


Kemudian mereka canggung.


Eh, kenapa aku kayak orang takut ketahuan? Aku kan dah nikah sama dia? Tama menepuk dahinya.


Mei terlihat bingung. Tama memang sejak awal punya tempat tidur ukuran besar karena di hampir semua kamar ukuran tempat tidurnya sama, besar. Gadis itu mencoba duduk di tepian tempat tidur.


"Eh, aku mau tidur dulu." Tama salah tingkah dan berjalan memutar mengitari tempat tidur. Ia merebahkan diri di sisi yang satunya.


Karena panik, Mei kembali berdiri. Dilihatnya Tama berbaring dan lalu memunggunginya.


"Aku lelah dan mau nunggu Jum'atan," ucap Tama tanpa berbalik.


Pelan-pelan Mei kembali duduk. Ia sendiri juga tak tahu harus berbuat apa. Ia kemudian ingat ia masih memeluk kado dari Salwa. Dibukanya kado itu dengan merobeknya. "Apa ini?"


Tama menoleh dan terkejut hingga duduk dari tidurnya.


Mei sedang memperlihatkan lingerie yang sangat seksi berwarna merah muda.


"Eh, he he ... itu kan kado." Tama berusaha membuatnya lucu tapi Mei malah mengerut kening.


"Mei, itu bukan aku yang minta. Sumpah!" Ia memperlihatkan dua jarinya membentuk V. "Kakakku Aska juga memberi kado ini." Pemuda itu mengeluarkan dari saku jasnya sebuah amplop yang ketika dibuka berisi voucher menginap di hotel yang mewah.


"Hotel?" Kembali Mei mengerut dahi.


Tama pun semakin panik. Ia tak mengira Aska akan memberinya voucher menginap di Hotel. Ia mengira kakaknya itu akan memberikan tiket jalan-jalan ke luar negeri tapi ternyata tidak.


"Mei, berhenti curiga padaku! Kita kan menikah jadi wajar kan kalo mereka memberi kado itu, bukan aku yang memprovokasi mereka memberikan itu," Tama membela diri.


Mei hanya diam.


Lagian, kenapa aku jadi harus membela diri sih? Kan wajar kalau kita melakukan hubungan suami istri, kenapa aku harus minta maaf? Kilaf pun tidak ada yang marah. Heh! Kalau tidak karena Mei aku tidak akan melakukan kebodohan ini. Tama kembali membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


Seseorang mengetuk pintu. "Hei, Tama! Katanya sunnah berhubungan suami istri sebelum Jum'atan ya," ucap Kenzo dari balik pintu.


"Aduuuh ...." Tama menutup telinganya dengan bantal. "Ada aja lagi yang gangguin!"


Mei menutup mulutnya hampir tertawa. Tama ternyata berusaha memegang janjinya.


Mei menarik tas pakaiannya yang ternyata sudah dimasukkan di kamar Tama. Ia ingin mengganti pakaian. Gadis itu mengambil pakaian dan membawanya ke dalam kamar mandi. Tak lama ia keluar ... dengan pakaian yang sama.


"Tam."


"Mmh?" Tama menoleh.


"Tolong itu ...." Wajah Mei memerah. Rambutnya yang panjang telah tergerai indah karena jilbabnya telah dibuka.


"Apa?" Tama menyorot ke wajah Mei yang cantik.


"Bukain resleting bajuku dong, tanganku gak sampe." Mei memutar tubuhnya memunggungi suaminya.


Tama maju dan menarik resleting itu hingga bawah sehingga tersembullah punggung indah Mei yang mulus itu.


"Makasih Tam." Mei langsung ke kamar mandi tinggal Tama terbengong-bengong melihat godaan punggung yang mulus itu. Walaupun tidak berwarna putih tapi hatinya tiba-tiba berdesir kencang seakan ia tersetrum dan ia tak sanggup untuk sadar dengan cepat. Otaknya mengembara ke nafsu yang paling kotor dan ia tak berdaya.


Oh, Mei ... kenapa kamu sangat menggoda. Tama hanya sanggup duduk lemas di atas tempat tidur.


Saat kembali keluar dari kamar mandi, Mei terkejut. Ia melihat Tama sedang mengikat tangannya dengan selendang Mei ke kepala tempat tidur yang terbuat dari besi.


"Kamu sedang apa?"


"Oh Mei. Aku mengikat diriku agar kamu tidak takut tidur di sampingku. Aku pinjam selendangmu ya?"


"Tapi ...."


"Mmh? Kau masih tak percaya padaku?" Tama telah mengikat satu tangannya dan memastikan itu kuat.


Mei menggeleng. Sambil tersenyum ia naik ke atas tempat tidur. Gadis itu malah tidur di samping Tama sambil menyandarkan kepalanya pada bahu pemuda itu. Tama tentu saja senang karena gadis manisnya mulai percaya padanya lagi. Mereka kemudian tidur bersama.


Waktu sholat Jum'at tiba. Tama telah berganti pakaian dengan pakaian untuk sholat Jum'at. Ia kemudian pergi dengan Kenzo dan Arya sholat di mesjid Al Ahmadin, mesjid terdekat milik Chris. Selepas sholat Jum'at, mereka makan siang bersama di rumah, sedang Arya di rumahnya.


Leka dan Kenzo sangat senang mereka mendapatkan anggota keluarga baru di rumah mereka yang cukup besar itu. Apalagi Runi sangat senang rumahnya ramai kembali. Ia juga mengenal Mei walaupun Mei tidak mengingatnya.


"Beberapa posisi kosong di perusahaanmu sudah terisi. Posisi CEO juga telah ada. Apa kamu mau ke kantor nanti?" tanya Kenzo pada Tama.


Pemuda itu melirik Mei.


Leka menyenggol bahu suaminya. "Pengantin baru masih ingin berduaan lagi Mas," Ia memberi tahu suaminya yang tidak peka.


"Kita kan juga penganti baru."


"Tapi kamu ngak pernah bawa aku ke mana-mana," Leka merengut.


"Lho kemarin kan aku temani kamu belanja?"


"Ih, masa belanja sih? Ngak peka!"


Pertengkaran mereka malah menjadi tontonan Tama dan Mei.


"Lalu maunya bagaimana?"


"Jalan-jalan dong ke luar kota."


"Ke mana?"


"Ke Bali atau ke mana, gitu."


"Ke Jogja," tiba-tiba Tama memberi ide.


"Jogja?" Leka menatap Tama heran.


"Iya, ke rumah kakek. Kan Kakek tidak lihat kita menikah, sekalian Mbak Leka dan Mei berkenalan."


"Wah, bener juga kamu Tama. Kakek kan udah lama gak ketemu dan gak bisa hadir di acara nikahan kita. Apalagi kamu sekarang mengurus perusahaannya." Kenzo menyukai ide adiknya.

__ADS_1


"Ok. Kapan kita berangkat?"


__ADS_2